
Bila anda tidak suka akhir yang buruk, jangan pernah membaca bagian ini.
..........................................................................................
Setelah beberapa menit berjalan dengan terengah-engah, akhirnya aku melihat mobil roverku dari kejauhan. Aku segera mempercepat langkahku, sambil terus berhati-hati terhadap batu yang tajam. Namun kemudian, pandanganku teralih pada gemericik air sungai. Seketika telinga kananku berdenging.
Padahal sudah sekian lama, telingaku yang seharusnya sudah tidak berfungsi lagi itu, tiba-tiba berdenging kembali. Sudah kesekian kalinya ini telingaku berdenging. Saat berhadapan dengan mayat laki-laki paruh baya itu di rumah sakit, saat tiba di desa ini tadi pagi, dan kali ini. Seolah ia ingin mengingatkanku kembali pada tragedi hari itu. Brengsek... Pandanganku langsung tertuju pada sungai itu. Sungai yang sama tempat dilakukannya metode "Penenggelaman Mayat" pertamakalinya.
Dari kejauhan aku melihat seorang pemuda desa yang sedang berdiri di tengah sungai. Pandangannya terpaku pada aliran sungai itu, ia terlihat bingung. Apa yang sedang dilakukannya sendirian disana? Sebenarnya aku tidak berniat menghampiri, namun ketika aku berjalan mendekat ke mobilku, semakin jelas aku melihat seorang perempuan yang tengah mengapung di hadapannya.
Sesampainya di pinggir sungai aku berteriak kecil kearahnya "Sore!"
Pemuda itu sedikit kaget mendapatiku sudah berada dipinggiran sungai, tepat dibelakangnya. Tetapi ia tetap menyibukkan pandangannya pada mayat perempuan yang tengah ditenggelamkannya itu. Sesekali pemuda 20 tahunan itu bingung antara membalas sapaanku atau memandang mayat itu.
"Siapa mas yang mati?" Ucapku sedikit mendekat.
"Ohh... teman Pak..." akhirnya pemuda itu membuka suaranya. Suaranya cukup tenang, untuk seorang yang terlihat bingung.
Aku menghela nafas kecil, kemudian melepas sepatu pantofelku beserta kaus kakinya. Aku melipat celana panjang dan kemeja lengan panjang yang aku kenakan, kemudian menyembrang sungai, menghampiri pemuda itu. Pemuda itu tersenyum lebar ketika melihatku datang, seolah sudah tahu kalau aku hendak membantunya menenggelamkan mayat temannya itu.
Lalu kami berdua memindahkan mayat itu ke bagian sungai yang lebih dalam. Kami mengatur posisi rantai pemberat dan menenggelamkannya kembali. Kali ini mayat perempuan itu benar-benar tenggelam dan tidak terlihat mengapung di permukaan. Setelah memastikan lagi, akhirnya kami berdua menyudahinya, lalu berjalan menuju pinggiran sungai.
"T-Terimakasih pak..." Ucapnya sedikit gagap.
"Iya... lain kali kalau mau menenggelamkan jangan sendirian..." Pemuda itu hanya tertunduk malu, tidak membalas ucapanku tadi.
Aku lalu memasang muka datar dan menatap kosong aliran sungai yang kini berbuih itu. Entah mengapa, sejak dulu, setiap aku melakukan penenggelaman mayat, hatiku terus saja dilanda rasa penyesalan. Seolah-olah aku menyiksa mereka, seolah-olah aku membunuh seluruh warga desa ini dengan menenggelamkan mereka.
__ADS_1
"Sudah pak tenang saja..." ucapnya sambil menepuk bahuku. Ia mengira aku khawatir dengan mayat itu. Pemuda ini tidak tahu bahwa akulah penemu metode penenggelaman ini. Ia kemudiannampak berusaha membersihkan bajunya yang basah, dan bersiap pergi.
"Iya... kamu awasi ya, nanti malam siapa tau dia naik ke permukaan..." ucapku datar. Aku berharap pemuda ini tidak pergi dan tetap mengawasi disini.
"Siap pak..."
"Kalau mayatnya naik, kamu segera tenggelamkan lagi ya... Aku nggak suka, mayat hidup dibuat mainan sama anak kecil, bagaimanapun juga tetap berbahaya..." ucapku sambil sedikit mengomel.
"Siap pak santai saja..." ucapnya begitu santai.
Aku menghela nafas panjang. Aku sangsi pemuda ini akan menuruti apa yang barusan aku katakan. "Yasudah... duluan dik..."
Aku meninggalkannya begitu saja sambil menenteng sepatu dan kaus kakiku. Aku berjalan perlahan tanpa alas kaki, kemudian masuk kedalam mobilku. Setelah menutup pintu, aku kembali menoleh kearah pemuda itu yang kini tengah merapikan rambutnya. Kemudian segera aku melaju roverku menuruni pegunungan.
Kutukan ini benar-benar teratasi kan? Entah mengapa aku merasa janggal. Tidak seperti saat aku meninggalkan desa ini dulu. Hari ini aku merasa ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang terlewatkan, tapi apa? Aku melaju mobilku dengan malas menuruni jalanan pegunungan ini, sambil melamun. Hingga aku tidak menyadari ada seorang petani tua yang tiba-tiba melintas.
"Ngaputen pak... maaf... saya ngelamun" ucapku sambil memohon. Seketika emosi petani tua itu mereda ketika melihatku, wajahnya berubah tersenyum ramah. Sepertinya ia mengenaliku.
"Oalah... Nak Dokter... nak dokter... Mbok kalau nyetir itu hati-hati, bedakan tho manusia hidup sama mayat hidup... hehehe..." ucapnya menyindir sambil terkikik. Ia kemudian menyapaku balik dan pergi berlalu. Mataku terbelalak mendengar kata-kata petani itu, segera aku memutar setirku dan melaju mobilku kembali menaiki jalanan pegunungan ini.
Aku mengemudikan mobilku sekencang-kencangnya, dengan penuh amarah. Aku sudah tertipu. Tentu, banyak sekali yang aneh dari pemuda itu. Pertama dia tidak sedih sama sekali, dia menenggelamkan temannya sambil tersenyum? Temannya? Teman perempuan? Pacar? Kemudian setelah kami menenggelamkan mayat itu tiba-tiba muncul buih dari genangan airnya. Awalnya aku mengira mayat itu sudah bangkit, tetapi setelah kupikir-pikir lagi tidak mungkin kaku mayatnya muncul begitu cepat. Memangnya perempuan itu meninggal sejak kapan? Bodohnya aku, matanya tidak terbuka sama sekali ketika kami memindahkannya ke tempat yang lebih dalam. Tidak ada alasan lain yang lebih logis selain buih itu berasal dari hembusan nafas perempuan itu. Perempuan itu masih hidup saat aku menenggelamkannya.
Aku melaju mobilku semakin kencang. Senja semakin tenggelam, kegelapan malam hendak menyelimut. Padahal Aku sudah hampir keluar dari wilayah desa ini, tetapi kini aku berbalik. Akan membutuhkan waktu lama untukku kembali ke lokasi itu. Aku harap aku tidak terlambat.
Sesampainya di jalanan curam, aku memelankan mobilku. Sambil membuka kaca, aku menerawang kesekitar sungai, mencari lokasi penenggelaman tadi. Mataku kemudian memandang aliran sungai yang penuh dengan buih air, seolah ada yang bergerak-gerak dikedalamannya. Segera aku keluar dari mobil dan berlari menuju sungai itu.
Aku tidak menyingsingkan lengan dan celanaku, aku dengan terburu-buru berlari melintas ketengah sungai. Ketika melihat tangan yang bergerak-gerak dibawah air, aku segera meraihnya. Aku menggendong perempuan itu dibahuku dan melepas ikatan rantainya. Aku bergegas membawanya ke pinggiran sungai.
__ADS_1
Hatiku remuk berkeping-keping. Setelah sekian lama ditenggelamkan bagaimana mungkin aku masih berharap perempuan itu masih hidup. Namun aku tetap berharap seperti itu, aku berlari sekuat tenagaku untuk menolonnya. Namun harapanku pupus, jantungku serasa ditusuk dengan belati. Aku memukul-mukulkan tinjuku ke tanah pinggran sungai, ketika aku melihat mata hitam mayat perempuan itu sudah terbelalak. Aku berteriak sejadi-jadinya, Aku sudah membunuh seseorang.
Bagaimana bisa aku tertipu. Obat tidur? Racun? Atau Narkoba? Apa yang pemuda itu gunakan? Perempuan ini pasti dibuat pingsan sesaat, kemudian segera ditenggelamkan di sungai ini. Tidak akan ada orang yang curiga apabila perempuan ini kemudian bangun dan berusaha naik ke permukaan, karena memang seperti itulah mayat-mayat warga desa yang ditenggelamkan. Tapi perempuan ini bukan mayat, ia masih hidup ketika ditenggelamkan. Mereka menggunakan celah dari metodeku ini untuk membunuh seseorang tanpa ketahuan.
Benar-benar brengsek penduduk desa ini. Sudah sejak kapan mereka melakukan ini, menenggelamkan orang hidup. Aku sangat yakin tidak hanya pemuda itu saja yang melakukan perbuatan keji ini. Pemuda itu masih belia, tetapi ia cukup tenang dalam menenggelamkan tadi. Bahkan ketika aku datang membantu, ia sama sekali tidak terlihat panik, seolah sudah biasa sekali ia melakukan perbuatan ini Aku yakin sekali ia pasti mencontoh dari orang yang lebih dewasa, yang sudah sering melakukan ini. Brengsek!!! Dasar manusia-manusia pendosa!!!
Malam akhirnya datang, rembulan menampakkan sinarnya yang memantul pada air sungai, menyinari kami berdua. Aku duduk tersungkur sambil berusaha menahan emosiku. Sedangkan mayat perempuan itu terus menggeliat, berusaha merangkak menjauhiku. Aku bisa melihat perut yang membuncit, padahal badan perempuan itu kurus. Aku semakin mengerti apa alasan pemuda itu melakukan semua ini.
Amarahku semakin berkecamuk, seolah mencambuk jantungku yang berdetak semakin kencang. Mungkin ini yang dirasakan Ki Bramanthoro kala itu. Amarah yang meluap-luap dan akhirnya menghasilkan sebuah kutukan mematikan. Akupun juga begitu, seandainya saja aku bisa mengutuk seperti KI Bramanthoro, aku sudah pasti mengutuk keras perbuatan mereka kali ini.
Pikiranku terlalu sibuk meladeni api amarah yang membara dihatiku, sehingga tanpa aku sadari, mayat perempuan itu sudah merangkak cukup jauh, bahkan hampir menyentuh jalanan bebatuan. Segera aku mengejar dan menghalanginya merangkak lebih jauh lagi. Mayat itu mengerang kecil ketika aku mencengkram tangannya. Ia menatapku dengan tatapan yang sedih, aku bisa merasakannya. Mayat perempuan ini pasti mengingat memori terakhir sebelum ia meninggal. Ia pasti sedang mengingat perbuatan bejat apa saja yang sudah dilakukan pemuda itu padanya. Seketika air mataku menetes. Mungkin bila ia masih hidup perempuan juga akan ikut menangis. Tetapi aku tidak bisa membiarkannya seperti ini.
Aku kemudian beranjak, meninggalkan mayat itu yang akhirnya merangkak kembali -memanfaatkan kesempatan ketika aku melepaskan cengkramanku darinya-, dan berjalan menuju mobilku. Aku kemudian membuka pintu garasi, dan mengambil sebuah kunci inggris besar. Mbak... maafkan aku... tuhan maafkan aku...
.....................................................................
Beberapa hari setelah itu, aku sudah kembali pada rutinitasku sebagai dokter forensik di rumah sakit. Siang itu aku tengah sibuk menulis laporan di meja kerjaku sebelum akhirnya seorang petugas cleaning service menyodorkanku sebuah Koran. Aku menepuk-nepuk pundaknya, teman ngopi-ku itu, berterimakasih atas Koran harian yang selalu ia antar ke mejaku, meski aku tidak memintanya. Lalu aku menyingkirkan laporanku sejenak untuk membaca Koran itu.
Seorang perempuan gila membunuh beberapa warga desa di kabupaten...
Aku tertawa terbahak-bahak. Aku tidak bisa membendung kebahagiaanku. Aku tersenyum sinis sambil terus melotot antusias membaca headline salah satu artikel di Koran itu.
Malam itu aku membawa kunci inggris besar milik Roverku dan menghampiri mayat perempuan itu. Alih-alih memukulnya, aku justru menyodorkan kunci inggris itu dihadapannya. Mayat itu merangkak dan meraih kunci inggris itu. Setelah itu aku tidak perduli apa yang terjadi, aku segera masuk kedalam mobil dan melaju pulang. Meninggalkan mayat itu, yang kaku kuduknya mulai penuh, dengan kunci inggrisku, HAHAHAHA...
Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, aku harus memberikannya kesempatan. Kesempatan untuknya mengembalikan semua perbuatan keji yang ia terima, pada yang berbuat. Kebaikan dan keburukan akan mencari caranya sendiri untuk kembali pada yang berbuat. Aku hanya membantunya mencarikan jalan itu, tidak ada salahnya kan?
ALTERNATE ENDING
__ADS_1
TAMAT