Kaku Mayat

Kaku Mayat
Dilema


__ADS_3

Kopi Pak Kades ternyata pahit, aku menyesal meminta dibuatkan. Melihatku tidak menikmati kopi buatanya, ia segera meminta Bu Kades untuk membuatkan lagi secangkir kopi susu. Perutku dari dulu memang tidak tahan dengan makanan atau minuman yang terlalu asam atau pedas. Kami pun menikmati senja sore itu dengan tiga gelas kopi untuk dua orang.


"Pak kades... Saya sudah tau semuanya..."


Beliau langsung terkejut setengah mati. Hampir saja ia menjatuhkan gelas kopinya. Padahal aku sudah menunggu momen yang tepat untuk bercerita, agar tidak membuat Pak Kades tersedak lagi seperti kala itu.


"Tapi saya disini tidak berniat menyalahkan siapa-siapa kok pak Kades..." ucapku dengan halus.


"Oh... ya jelas! Nak dokter mau berakhir seperti Dukun itu?!" Tiba-tiba nadanya meninggi.


"BAPAK!!!!" bentak bu Kades menyela pembicaraan kami. Ia sepertinya menguping apa yang aku ucapkan.


"Bapak itu bagaimana! Nak dokter ini orang kota! Jelas saja tidak tahu. Kok ndak diceritakan dari awal tho. Kan semuanya jadi runyam gini! Masih baik nak dokter mau mengerti dan memahami desa ini" ia mengoceh, memarahi suaminya habis-habisan.


"Bapak mau mengulang kesalahan yang sama seperti dulu? Membunuh orang yang tidak bersalah lag..."

__ADS_1


"CUKUP!!!" Gelas kopi yang ada dimeja, dilemparnya ke lantai hingga pecah. Beliau mengamuk, melotot memandang istrinya.


"Pak Kades... Bu Kades... Sudah... saya minta maaf... saya disini ingin berdamai... Pak Kades tidak usah khawatir" ucapku menenangkan.


Ucapanku sepertinya tidak membuat murka diawajahnya hilang. Aku tahu, Pak Kades tidak marah padaku. Ia hanya melampiaskan kekesalannya terhadap dirinya sendiri. Kesal karena perbuataannya yang dulu. Kasihan, ia dikejar-kejar oleh dosanya sendiri, dan dosa warganya, sejak saat itu. Kakek tua yang menyedihkan, gumamku menyindir. Bu Kades, dengan wajah malu, meminta maaf padaku, tetapi Pak Kades justru membuang mukanya. Aku tidak perduli. Kemudian aku berpamitan baik-baik pada mereka dan kembali ke rumah tinggalku.


Nuraniku tentu meronta, menyalahkan desa ini. Dari dulu –sejak pertama kali menginjakkan kaki di desa ini- aku tidak bisa terima dengan semua perbuatan bejat mereka. Hatiku menyalahkan mereka semua, mereka pantas dikutuk! Tetapi aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku hanya orang asing disini.


Lalu aku jadi teringat dengan Pak Badrun, Mas Joko, Dokter Denny dan semua warga lain yang tidak ikut melakukan keburukan. Mereka juga ikut merasakan kutukan ini. Seketika emosiku yang meluap-luap tadi padam. Aku-pun juga termasuk salah satu korban, sama seperti mereka.


Aku melihat sendiri mayat-mayat itu bergerak, dengan kedua mataku. Seolah-olah mereka menertawakan logikaku, ilmu-ilmu kedokteranku, dan menertawakan kehidupan ini. Suara muntahan dan teriakan "Nduuk... Ndukk..." masih terngiang kuat ditelingaku. Seketika bulu kudukku begidik ketika mengingat mereka.


Sudah 1 bulan lebih sejak peristiwa mayat kakek itu. Selama itu sudah ada tiga mayat lain yang dikirim ke puskesmas. Lima kematian dalam waktu satu bulan itu sangat banyak. Terlebih kematian-kematian itu sebagian besar tidak wajar, seperti bunuh diri dan dibunuh. Selain mayat pertamaku itu, ada satu orang lagi yang mati bunuh diri di bulan ini. Seorang laki-laki yang melompat dari tebing pegunungan. Motifnya adalah hutang judi yang tidak mampu ia bayar. Saat mayatnya dikirim ke puskesmas, Tubuhnya dalam kondisi sangat hancur. Badannya remuk dan beberapa tulangnya patah. Bahkan dalam kondisi mengerikan seperti itu, mayat itu tetap bangkit kembali. Meski tidak bisa berdiri dan gerakannya terbatas pada bagian yang tidak patah saja.


Aku masih merekamnya dalam memori otakku, bagaimana mayat itu menggeliat-geliat seperti ular dengan darah yang berceceran disana-sini. Seingatku, butuh waktu lama untuk Mas Joko mengepel kamar mayat keesokan paginya. Mayat itu seolah makin memantapkan hatiku untuk mengajukan resign. Mayat mati saja terkadang masih takut, apalagi mayat hidup yang seperti itu. Jujur aku memaki diriku sendiri yang penakut. Aku sering memukul-mukulkan tanganku ke tembok, berusaha menghilangkan ingatanku tentang mayat-mayat itu.

__ADS_1


Aku ingin sekali membantu mereka –Dokter Denny dan lainnya- tetapi aku tidak bisa mengendalikan ketakutanku ini. Sama seperti dulu ketika melihat mayat pertamakali di stase forensik. Fobia dari masa lalu, yang sebenarnya sudah berhasil aku takhlukkan, kini kembali menyerangku, menggerogoti setiap rongga-rongga hatiku, menenggelamkan keberanianku dalam lautan ketakutan. Aku merasa tidak kuat menjalani kehidupan PTT yang mengerikan ini. Tetapi disisi lain aku tidak tega melihat Dokter Denny, Pak Badrun, Mas Joko serta orang-orang puskesmas lain yang tidak bersalah.


Sebenarnya, sudah beberapa kali Dokter Denny menyemangatiku, saat aku terlihat olehnya sedang melamun sendirian. Semua orang disini –Orang-orang puskesmas dan warga desa- berupaya sekeras mungkin. Sudah 19 tahun lamanya, mereka mempertahankan semua ini. Tidak hanya soal kamar mayat dan kertas-kertas mantranya, tetapi tentang membangun sebuah "sistem". Dan di "sistem" ini, keberadaanku sangat dibutuhkan, tidak hanya sebagai seorang dokter, tetapi juga sebagai anak muda yang bertenaga dengan pemikiran jernih. Mereka sangat membutuhkan personil tambahan, terutama di malam hari. Ditambah lagi, usia sudah mulai menggerogoti Pak Badrun dan Dokter Denny, mereka sangat membutuhkan regenerasi.


Begitulah bagaimana Dokter Denny membujukku. Ia seolah tahu bahwa aku merasa tidak nyaman, seolah sudah memprediksi dikemudian hari aku akan berfikir untuk mengajukan resign. Namun bujuk-rayu itu benar-benar ampuh. Dari dulu aku selalu tidak mau menjadi orang yang tidak berguna dalam tim. Begitu juga saat forensik dulu. Aku yang dipenuhi rasa bersalah, mengerjakan laporan visum hingga subuh demi membayar ketidakbergunaanku. Semenjak saat itu aku selalu berusaha menyemangati hatiku setiap harinya. Aku tidak bisa meninggalkan mereka seperti ini. Tetapi sepertinya semangat itu tidak lagi menyala terang seperti dulu. Dan sore ini pun, ketakutan kembali menyelimuti hatiku.


Kemudian aku teringat obrolan-obrolan singkatku dengan Pak Hendra, polisi yang sering mengantar mayat kemari.


Pak Hendra juga warga asli desa ini. Ia selalu dipercaya divisinya untuk mengantarkan mayat kemari. Semenjak maraknya kasus kematian kriminal, aku jadi sering mengobrol dengannya. Ia menggunakan mobil ambulan polisi yang khusus diletakkan di pos jaganya, di kaki pegunungan ini. Umumnya, Pak Hendra hanya mengantar mayat yang meninggal karena kriminal, tetapi terkadang Pak Kades sering memintanya untuk membantu mengantarkan mayat warga desa yang mati wajar (Non Kriminal). Begitulah, sehingga tidak mungkin bagiku untuk tahu apakah Pak Hendra membawa mayat yang kriminal atau tidak, selain bertanya langsung padanya.


Sebenarnya tidak hanya mobil ambulan polisi Pak Hendra saja yang datang kemari, mobil ambulan atau mobil jenazah lain dari berbagai fasilitas kesehatan di sekitar kabupaten ini pernah singgah kemari. Jujur saja, setiap mobil ambulan yang datang ke puskesmas ini adalah mimpi buruk buat kami.


Semua pegawai puskesmas sudah kenal baik dengan Pak Hendra. Meski seorang penegak hukum, ia tidak bisa berkutik terhadap hukum kebiasaan yang berlaku di desa ini. Pak Hendra hanya pasang kacamata kuda, menutup mata dan telinganya rapat-rapat dari maksiat yang dikerjakan penduduk desa ini. Lucunya lagi, kepolisian juga mendiamkan tabiat desa ini, bahkan beberapa polisi juga ikut berpesta miras, berjudi, dan menyewa ******* disini.


Tetapi tidak dengan Pak Hendra. Ia orangnya baik dan senyumnya hangat, mengingatkanku pada dosen forensikku dulu. Aku ingat Pak Hendra menyemangatiku untuk tetap sabar menghadapi tabiat warga desa, dan menghadapi kutukan ini. Pak Hendra mensupportku dengan mengatakan semuanya akan aman-aman saja. Ia seolah tau aku sedang mengalami konflik batin, dan Pak Hendra selalu berhasil menenangkanku. Seperti saat ia menjelaskan bahwa apabila ada mayat yang berhasil kabur, seluruh polisi unit divisinya akan segera datang membantu kemari. Mengobrol dengan pak hendra meringankan ketakutanku meski sedikit.

__ADS_1


Aku tau, aku masih tidak bisa mengendalikannya.Namun karena ingat bahwa banyak orang yang menyemangatiku seperti Pak Hendradan orang-orang puskesmas lainya, pada akhirnya aku memutuskan mengurungkanniat untuk mengajukan resign. Aku pasti bisa, aku menarik nafasdalam-dalam Tuhan kuatkan diriku ini, gumamkusambil memantapkan langkah kaki memasuki gerbang puskesmas.


__ADS_2