Kaku Mayat

Kaku Mayat
Yang Belum Pernah Terjadi


__ADS_3

Aku ingin menarik kata-kataku kembali. Aku tidak tahan lagi. Dari dulu aku benci mayat, aku berharap tidak pernah bertemu mayat lagi sepanjang karirku. Tetapi justru aku berhadapan dengan kondisi dimana aku akan terus berinteraksi dengan mayat. Memang "Prosedur" itu sudah berahasil selama 19 tahun lebih, tetapi mayat-mayat itu tidak selamanya bisa "dikendalikan" seperti ini. Siapa sangka, akan ada kejadian yang seperti ini. Kejadian yang belum pernah terjadi selama 19 tahun.


Sore itu kami dikagetkan dengan kedatangan mobil ambulan polisi milik Pak Hendra. Mayat seorang anak perempuan, yang terbungkus kantung mayat berwarna kuning, dibawa keluar dari dalam mobil itu. Pak Hendra nampak terburu-buru membawanya masuk kedalam kamar mayat, apakah sudah mati lama? Pak Badrun, yang masih belum pulang saat itu, bersamaku dan Mas Joko, membantunya memindahkan mayat.


Setelah mendorong brankar yang membawa kantung itu masuk kedalam kamar mayat, Pak Hendra segera menghampiri Pak Badrun. Ia mengajak Pak Badrun berbicara diluar kamar mayat, meninggalkanku berdua dengan Mas Joko mengurus kantung itu. Wajah hangatnya terlihat panik sekali.


Saat itu aku berusaha memeriksa mayat anak perempuan itu. Aku membuka kantung mayatnya sedikit. Usia anak itu sekitar 8 atau 9 tahun, masih sangat kecil untuk seseorang yang dibunuh dengan ditusuk bola matanya oleh pisau. Bahkan pisau itu masih menancap tepat di mata kirinya. Tulang-belulangku seperti habis merasakan gempa, badanku bergetar tidak karuan setelah melihat kondisi mayat itu. Iblis mana yang tega melakukan perbuatan keji seperti ini.


"Langsung ditutup dok... ayo!" ucap Pak Badrun setelah mendapatiku membuka kantung mayat. Aku tidak melihat Pak Hendra disampingnya.


Pak Badrun berusaha menghalangiku memeriksa mayat itu. Aku tidak tahu apa yang dibicarakannya dengan Pak Hendra, sepertinya beliau panik, akupun juga ikut panik jadinya. Aku dan Mas Joko berlari kecil keluar kamar mayat, dan kemudian Pak Badrun segera menutup pintu kayu. Saat itu aku bisa mendengar suara mobil ambulan polisi Pak Hendra menjauh keluar Puskesmas.


"Ada apa sih pak?" ucapku Mengernyit. Aku masih belum bisa menghilangkan gemetarku.


"Mas Hendra tadi bilang katanya nggak tau jam kematianya... T-takut "bangun" dok"


"O-Oh begitu..." Aku menelan ludah "Ngeri juga ya pak."


"Tolong bantu dok... dirantai lagi" Mas Joko menyela pembicaraan kami.


Setelah selesai merantai pintu, kami bertiga kembali ke dalam puskesmas. Mas Joko segera menyalakan TV, berusaha menghilangkan kepanikan barusan, mencairkan suasana. Sedangkan Pak Badrun berpamitan pulang karena hari sudah semakin petang. Ia berlari terbirit-birit pulang seolah begitu takut melihat kondisi mayat tadi. Meski sudah 19 tahun mengalami semua ini, bahkan seorang Pak Badrun pun juga tidak pernah terbiasa. Aku memejamkan mata, berusaha mengatur nafasku. Dan jaga malam kesekianku di puskesmas ini dimulai, dimulai.


Beberapa menit berlalu, mendadak kami mendengar suara teriakan anak kecil dari dalam kamar mayat. Aku yang mulai terfokus pada acara lawak di TV sontak menjengit kaget, begitu juga Mas Joko. Kami berdua bersitatap tegang, huft, hampir saja kami terlambat. Aku mendengkus lega, penuh rasa syukur.


Suara teriakan itu bercampur dengan rintihan tangis. Sepertinya mayat itu mengingat memori-memori terakhir kehidupannya sebelum dibunuh. Ya, sama seperti mayat kakek yang memanggil-manggil anaknya dan mayat perempuan memuntahkah-muntahkan cairan serangga dulu. Namun bila didekati, tentu mereka akan menyerang seperti hewan buas, sama seperti mayat hidup pertamaku dan cerita Mas Joko. Bagaimana bisa seperti itu? Sebenarnya apa yang ada dipikiran mereka, apakah otak mereka masih berfiungsi? Tidak mungkin. Tetapi mayat kakek itu bisa mengangkat teleponku. Imajinasiku semakin liar, aku tidak berfokus lagi pada acara TV itu.


Beberapa menit kemudian, suara teriakan itu semakin menjadi, memekakan telinga, ditambah dengan suara-suara seperti benda yang digesek-gesek ke kayu. Acara lawak di TV jadi tidak lucu lagi rasanya. Mas Joko bahkan duduk dilantai dan membesarkan suara TV itu, agar perhatiannya tidak terfokus pada raungan mayat itu. Aku pun berusaha mengalihkan perhatianku, dengan memainkan handphone, berselancar di internet, berharap ada sesuatu yang menarik.


Sekitar satu jam kemudian, ketenangan kami semakin terusik. Kali ini dari suara sirine mobil ambulan polisi, yang lagi-lagi datang.


TIIN TIIINN


"JOKO! PAK DOKTER!"


Aku dan Mas Joko segera berlari menghampiri suara itu. Terlihat pak Hendra bersama seorang polisi lain turun dari pintu depan ambulan.


"Kenapa lagi pak?" ucapku sambil terkaget.


"M-Mayat dok... satu lagi..." ucap Pak Hendra yang terlihat amat panik, lebih panik daripada sore tadi.


Aku melirik Mas Joko. Aku bisa melihat ketegangan tergambar jelas diwajahnya.


"D-Di dalem... Kan s-sudah ada satu pak?" ucap Mas Joko gemetaran.

__ADS_1


"Y-Ya.. bagaimana lagi jok.." Pak Hendra juga gemetaran. Begitu juga teman polisinya itu. Kami semua ketakutan. Kemudian keheningan tiba-tiba menyelimut. Kami berempat bersitatap satu sama lain tanpa bergeming sedikitpun, untuk beberapa saat.


"Y-Yasudah dimasukkan saja mas..." ucapku berusaha memecah keheningan.


"D-Dok didalam mayatnya lagi hidupp!!" Ketakutan mas Joko kini tidak terbendung lagi.


"B-Bertiga bisa kan?!" ucapku santai.


Mas Joko melirik Pak Hendra dengan penuh ketakutan. Pak Hendra juga nampak sangat tegang. Mataku menoleh kearah mereka bergantian, bingung dengan situasi ini. Ketakutan menerkam masing-masing jantung kami.


"Meninggalnya jam berapa pak?"


"Barusan dok... belum ada sejam... anak ini yang nembak..." ucapnya sambil memperkenalkan rekan polisinya tadi. Polisi itu, wajahnya lebih lugu dari Mas Joko. Ia tampak lebih ketakutan daripada kami bertiga. Sepertinya, ini adalah pengalaman pertamanya menghadapi mayat hidup.


"Di... Ditembak? Kenapa?"


"Iya ini mayat bapak yang bunuh anak kecil didalem itu dok..."


Seketika bulu kudukku merinding sejadi-jadinya. Rasanya seperti ada aliran listrik yang merambat ke punggungku, menjalar hingga kaki. Sudah beberapa lama sejak mayat ini mati? Aku bisa mengira-ngira ingatannya sebelum mati seperti apa. Mayat ini berbahaya bila tidak segera dimasukkan.


"K-Kalau... Kalau berempat bisa kan?" Sela Mas Joko. Kembali, kami saling bersitatap tegang.


Ini adalah kejadian pertama selama 19 tahun di puskesmas ini menurut Mas Joko. Dimana mereka harus memasukkan mayat kedalam kamar mayat yang sudah berisi mayat juga. Apalagi mayat yang didalam sudah "bangkit". Terakhir kali, ada mayat yang dimasukan kedalam ruangan yang berisi mayat yang sudah bangkit, terjadi 19 tahun lalu di rumah Dukun jahat itu. Merekapun melakukanya dengan beramai-ramai, tidak dengan empat orang saja. Dari kami semua yang ada disini, hanya Mas Joko yang ada disana saat itu, itupun ia masih berusia 7 tahun. Tidak ada dari kami yang berpengalaman. Kami tidak tahu harus melakukan apa.


Mayat ini adalah seorang bapak-bapak berusia 40 tahun, pembunuh dari mayat anak perempuan itu. Dialah iblis yang menacapkan pisau ke bola matanya. Mirisnya lagi, orang ini adalah ayah kandung anak perempuan tersebut. Betapa teganya seorang bapak, membunuh darah dagingnya sendiri yang masih kecil. Desa ini sungguh laknat.


Menurut cerita Pak Hendra, setelah membunuh anaknya itu, ia kabur menuju hutan. Mendapat laporan warga, polisi segera membawa mayat anaknya terlebih dahulu ke puskesmas –melalui Pak Hendra- kemudian melakukan pengejaran terhadap bapak ini. Beberapa jam pengejaran, mereka menemukannya sedang berusaha menyerang seorang warga. Tanpa pikir panjang mereka menghujani bapak ini dengan timah panas, hingga mati ditempat.


Bila "bangkit", mayat bapak ini akan sangat merepotkan. Tidak seperti anaknya yang masih kecil, bapak ini bertenaga dan berstamina. Saat hidupnya saja dia bisa berlari dari kejaran polisi, bahkan melukai warga dewasa, apalagi saat "bangkit". Itu yang membuatku begitu takut. Apa lagi, ini adalah peristiwa pertama sejak 19 tahun. Aku tidak bisa lagi menahan gemetarku, kami semua ketakutan. Tetapi kami tetap memantapkan langkah kami mendorong mayat ini –dengan bed UGD- menuju kamar mayat.


Rencana kami adalah mendorongnya dengan cepat bersama dengan bed UGD ini sekaligus, –Sengaja kami menukar brankar milik ambulan polisi dengan bed UGD- begitu pintu kamar mayat kami buka.


Suara teriakan mayat anak itu semakin terdengar jelas, ketika kami sampai di depan kamar mayat. Seolah-olah anak itu tau, kami datang membawa ayahnya. Suara gesekan dari pintu kayu itu sempat membuat kami ragu untuk membukannya. Namun Mas Joko dan Pak Hendra memberanikan diri untuk mulai melepas rantai. Secara mengejutkan, saat rantai mulai dibuka, suara gesekan itu berhenti. Aku tahu, mayat anak itu sedang bersiap-siap, menanti kami. Aku dan polisi itu juga sudah siap untuk segera mendorong bed UGD itu dengan cepat begitu pintu dibuka.


"Hitungan ke tiga ya Jok... pegang kuat-kuat daunya..." ucap Pak Hendra mengaba-aba


"I-iya mas... Dok langsung didorong aja ya... yang kenceng..."


"S-Siap... siap mas..." aku menelan ludah. Perasaanku tidak enak sekali.


"Siap... satu... dua... TIGA!"


Segera setelah pintu terbuka, aku memasang kuda-kuda untuk menendang. Namun sepertinya aku kalah cepat dengan mayat itu. Mayat perempuan itu melompat dari kegelapan kamar mayat, merangkak begitu cepat dengan menggenggam pisau ditanganya.

__ADS_1


"PAKKKK!!!! AWASSSSSS!!!"


"AAAAAAAHHHHHHH"


Peringatanku terlambat, mayat anak itu menusukkan pisaunya ke kaki Pak Hendra. Pak Hendra jatuh tersungkur, mengerang kesakitan. Kami semua sempat terpaku beberapa saat sebelum akhirnya teman Pak Hendra menembakkan pistol kearah mayat itu. Tetapi tembakannya meleset, aku bisa melihat tangannya gemetar ketakutan, sehingga tidak bisa membidik dengan tepat.


Dengan cepat aku merespon, kuarahkan bed itu kearah mayat anak itu, kemudian dengan keras aku menghentakkan kakiku ke bed. Dengan cepat bed itu meluncur dan menghantam mayat anak itu, mendorongnya masuk bersama mayat ayahnya. Aku bisa melihat jelas luka tusuk pisau yang tergores jelas di sebelah matanya dan roda bed ku menghantam tepat di wajahnya. Terdengar suara tulang yang remuk bersambut suara besi yang membentur lantai keramik ketika bed itu meluncur masuk dalam kegelapan kamar mayat. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan bed atau mayat-mayat itu, aku menghiraukan. Dan dengan sigap aku langsung menutup pintu kayu kamar mayat.


"AYO RANTAINYA!!!" teriakku kepada mas Joko yang berdiri mematung penuh ketakutan.


Mas Joko hanya terpaku ketakutan melihat pisau yang menancap di kaki pak Hendra. Aku terus menerikannya, karena aku tidak lagi dapat menahan pintu ini. Mayat anak itu meronta-ronta, memukul-mukul dari dalam. Ia berusaha keluar, tenaganya kuat sekali. Padahal baru saja, tulang wajahnya remuk karena dihantam roda bed. Beruntung teman Pak Hendra segera merespon dengan membawakan aku rantai besi itu. Kami berdua lalu merantai pintu itu dengan cepat.


Keringatku bercucuran, nafasku terengah-engah. Rasanya seperti lari puluhan kilometer tanpa berhenti. Aku sekarang merasakannya sendiri bagaimana kekuatan mayat hidup itu. Beruntung aku cepat bertindak dengan menghantamkan bed itu sekalian. Aku tidak tahu bagaimana kondisi mayat bapak itu, aku langsung menutup pintunya tadi. Sepertinya mayat itu jatuh ke lantai? Ah... aku tidak ada waktu untuk memikirkan itu, sekarang sebaiknya aku merawat luka pak Hendra.


Kami berempat kembali kedalam puskesmas. Aku dan polisi itu membopong pak Hendra menuju UGD. Lagi-lagi aku harus membentak mas Joko untuk segera membantuku merawat luka Pak Hendra, mencabut pisau yang menancap di pahanya itu. Nampaknya mas Joko masih trauma, ketakutan setelah kejadian itu. Dengan gemetaran ia menyiapkan benang jahit, obat antiseptic, dan obat bius. Karena terlalu lama, aku menyiapkan beberapa alat sendiri dengan sedikit menahan amarah.


Luka Pak Hendra harus segera ditangani, pendarahannya harus segera dihentikan, bisa-bisa nyawa Pak Hendra terancam, begitu yang ada dibenakku sambil menatap sedih kondisi Pak Hendra yang terbaring lemas penuh keringan menahan sakit.


"Pak Hendra Tarik nafas ya... ini saya mau cabut pisaunya pelan-pelan"


Dengan mantab aku memegang gagang pisau itu, dengan kedua tanganku, lalu menarikknya. Tentu tarikan nafas itu tidak berguna menghilangkan nyerinya sama sekali, ia tetap menjerit sekeras-kerasnnya. Aku hanya berusaha menenangkan Pak Hendra agar darahnya tidak lagi keluar terlalu banyak.


"ADUUUH! aduh! nyeri dok..." ucap Pak Hendra meringis setelah melihat pisau di pahanya sudah tercabut.


"Sabar ya Pak... sebentar lagi saya jahit lukanya.."


"D-dddok... dok..." Tiba-tiba Mas Joko, yang daritadi hanya diam, mengeluarkan suaranya.


"Mas Joko tenang dong! Sudah nggak usah takut gitu!!"


"Kita... K-kkita... Pergi... dari sini saja dok... Puskesmasnya ditutup saja dok... P-pak Hendra..." Mata Mas Joko melotot mengedar kesana-kemari.


"Hah?" Aku dan Pak Hendra bingung melihat tingkah anehnya.


"Tadi... Tadii dilantai dok... Dilantai kamar mayat saya lihat..."


"Yang jelas Jok ceritanya... lihat apa kamu?" ucap pak Hendra menyela.


"I-itu pakk... k-kertass berceceran di lantai..."


BRAAAAAKKK......... KRESSSSSS.........


Tiba- tiba kami dikagetkan oleh suara kayu yang patah, disusul dengan suara seperti rantai besi yang jatuh berhamburan menghantam lantai keramik. Jantungku berhenti sesaat, kami semua diam membisu.

__ADS_1


Kemudian Mas Joko melanjutkan kata-katanya "K-kertas mantranya pak.... sobek semua..."


__ADS_2