Kaku Mayat

Kaku Mayat
Rencana


__ADS_3

Aku turun dari atap puskesmas tempatku bersembunyi, memanjat turun dan masuk kembali melalui jendela kamar dokter. Kemudian aku menghentak-hentakkan kakiku ke lantai, agar suaranya terdengar hingga ke bawah. Benar saja, sejurus kemudian aku mendengar suara teriakan mayat itu dari bawah, disusul derap langkah kaku yang menaiki tangga. Aku membuka pintu kamar dokter, mengintip ke arah lorong. Setelah menunggu sebentar, Mayat Bapak itu akhirnya sampai di lantai atas. Ia menggerak-gerakan lehernya dengan kaku, pandangannya menjelajah kesana kemari. Darah menetes dari pelipisnya yang berlubang. Ia kemudian mengendus-endus seperti anjing, dan berusaha membuka pintu laboratorium.


Mayat Bapak itu pasti mencium bau darah Mas Joko. Segera aku menendang pintu sekeras-kerasnya, membantingnya hingga menghantam tembok. Suaranya pasti sudah cukup untuk memancing mayat itu kemari. Kemudian dengan cepat aku melompat keluar jendela.


Aku menjatuhkan diriku dari lantai atas menuju area parkir puskesmas. Bahu kanan ku menghantam tanah. Sakit sekali! Aku mengerang ditanah sambil memegangi bahu, sepertinya bahuku memar. Aku menahan nyeri, mengecilkan jeritan sakitku. Kemudian aku menapakkan telapak kakiku ketanah dan bangkit. Aku tidak punya waktu untuk bersakit-sakit saat ini.


Lalu sesaat kemudian, pandanganku tertuju pada tubuh polisi rekan Pak Hendra di rerumputan sedikit jauh dari tempatku jatuh. Ia sudah mati, kondisinya begitu mengerikan. Tubuh Polisi itu membujur kaku dengan bersimbah darah. Banyak luka tusuk di matanya, darah membanjiri muka dan baju coklat polisinya itu... Hey aku tidak punya waktu untuk ini, aku harus bergegas. Sambil terus memegang pundak, aku berlari tertatih dan masuk kedalam puskesmas.


Setelah menyalakan sekring, kegelapan yang tadi menyelimut segera terhapus dengan cahaya terang lampu puskesmas. Suara riuh TV kembali terdengar, sedikit memecah ketegangan malam ini. Perubahan kondisi ini pasti akan membingungkan mayat Bapak itu, mencegahnya turun ke lantai bawah untuk sementara waktu, harapku. Tetapi aku harus tetap waspada, aku belum melihat mayat anak perempuan itu daritadi.


Kemudian aku mengendap-endap hendak masuk kedalam UGD, tentu, untuk mengambil Handphoneku dan menelepon bantuan. Namun tiba-tiba padanganku teralih dengan suara geraman kecil, lebih mirip suara seseorang yang sedang merintih. Aku melihat Pak Hendra tergeletak telungkup, mengerang kesakitan. Pak Hendra masih hidup! Aku bergumam lega. Segera aku menghampirinya. Aku bisa melihat darah menetes ke lantai dari mata kanannya. Tangannya bergerak mencoba meraih pistolnya yang terjatuh dilantai. Brengsek! Bapak itu adalah pembunuh sadis yang suka menusuk-nusuk mata korbannya, dan memory itu pasti terbawa saat ia bangkit dari kematian ini. Malang nasib polisi pemilik mobil ambulan ini... Eh tunggu...


Segera aku meraba kedua saku celananya, mencari kunci mobil ambulan polisi. Ambulan itu bisa aku gunakan untuk kabur. Tetapi, aku sudah mencarinya di saku kanan dan kiri, aku bahkan mebalik badannya untuk menggapai saku celana belakang, tidak ada. Aku juga meraba saku dadanya, hasilnya nihil. Kunci itu pasti dibawa rekan Pak Hendra. Ah... nanti sajalah aku mendengkus kesal. Aku akhirnya mengurungkan niataknku mencari kunci ambulan itu dan bergegas mengambil handphoneku yang ada di atas meja periksa UGD.

__ADS_1


Baru saja aku menyambar handphoneku, tiba-tiba aku mendengar suara derap langkah menghentak persis dari atas kepalaku. Aku bisa membayangkan kemarahan mayat itu. Meski derap langkah itu berjeda-jeda, seperti derap langkah robot, aku yakin sebentar lagi ia pasti akan memutuskan untuk turun kemari, aku harus cepat Aku memasukkan handphoneku kedalam saku dan bergegas keluar dari ruang UGD.


Sebenarnya aku hendak keluar mencari kunci yang ada di badan Polisi itu, namun aku tidak tega meninggalkan Pak Hendra terkapar disini, aku harus mengamankannya dulu. Dengan perlahan aku mengambil pistol milih Pak Hendra yang tergeletak di lantai dekat pintu utama, lalu kumasukkan kedalam saku jas dokterku. Kumatikan sekring puskesmas itu lagi, kemudian membopong badan Pak Hendra yang besar itu perlahan, keluar menuju ambulan polisi.


Setelah bersusah payah akhirnya aku berhasil memasukkan badan Pak hendra ke dalam ambulan polisi. Aku cukup beruntung, padahal awalnya aku mengira mobil itu akan terkunci rapat, dan aku sebenarnya hanya berencana akan meletakkan Pak Hendra di dekat ambulan –agar ketika aku menemukan kunci itu, aku bisa segera memasukkan Pak Hendra. Tunggu... ambulanya nggak dikunci...


Aku kemudian berlari menuju kursi supir, berharap kunci mobil itu tergantung di lubang kuncinya. Aku turun dari kap belakang mobil ambulan dan memutar kearah pintu pengemudi -karena kursi pengemudi dan kap dibatasi oleh dinding layaknya ambulan pada umumnya. Aku membuka pintu kursi supir dan mulai meraba dalam gelap. Tidak ada, kuncinya tidak tergantung disitu. Ah sial! Aku mendengkus kesal. Kemudian aku merogoh saku celanaku dan mengambil handphone. Aku menyalakan senter dari handphoneku dan mulai mencari kunci itu.


Tiba-tiba aku dikagetkan dengan seekor ayam yang melompat ke kaca depan. Ayam itu menghantam kaca kemudian jatuh lagi ketanah dan mulai berlari. Aku juga baru menyadari ada beberapa ayam berlarian di kakiku. Apa yang dilakukan ayam-ayam puskesmas ini malam-malam begini? Pandanganku kemudian kembali ke kaca mobil, yang kini basah oleh darah. Ayam itu berdarah?


Dengan cepat ia menjatuhkan ayam itu dan melompat kearahku, namun refleksku lebih cepat. Aku segera masuk kedalam mobil dan menutup pintu dan kaca kursi pengemudi itu. Mayat anak itu kemudian mencakar-cakar, menggores pintu mobil ambulan. Suara kuku yang beradu dengan besi pintu, menimbulkan suara yang memekakan telinga. Lalu aku membuka pintu kursi penumpang –disebrang kursi pengemudi- dengan tendangan kakiku, kemudian aku kembali menoleh kearah mayat itu.


Tidak, aku tidak berniat kabur, justru aku segera membuka pintu supir yang tertutup tadi dengan keras, menghantamkannya ke muka mayat perempuan itu. Mayat itu terpental, tersungkur ketanah. Namun sejurus kemudian ia segera bangkit lagi dan kembali menghampiriku dengan penuh amarah. Karena pintu di kursi pengemudi aku biarkan terbuka, mayat itu dengan mudahnya masuk kedalam mobil. Moment ini yang aku tunggu. Segera aku keluar dari pintu kursi penumpang dan menutup pintunya. Mayat perempuan itu dengan bodohnya mengejarku, melompat ke kursi penumpang. Disaat itulah aku bergegas berlari memutari ambulan, menuju ke pintu kursi pengemudi dan menutupnya. Alhasil, aku berhasil menjebaknya didalam ambulan polisi.

__ADS_1


Mayat itu berteriak meronta-ronta, sambil memukul kaca ambulan. Anak ini tidak bisa membuka pintu mobil kah? Gumamku sambil melangkah mundur dengan waspada. Harusnya insting manusianya masih terbawa, tetapi kenapa anak ini tidak? Kemudian aku juga heran, mayat anak perempuan ini bergerak lebih lincah daripada bapaknya, lebih gesit daripada mayat-mayat lainnya. Eh... apa yang sedang aku lakukan... aku harus bergegas sebelum mayat itu bisa melepaskan diri.


Harapanku memang menggunakan ambulan polisi ini untuk kabur dari sini dengan membawa Pak Hendra dan Mas Joko yang sekarat. Namun karena aku menjebak mayat perempuan itu di kursi depan, aku sepertinya tidak bisa menggunakan ambulan itu lagi ini. Aku Masih punya banyak rencana, seperti menelepon bantuan... Tunggu... OH TUHAN!


Sial sial sial!! Aku memaki diriku sendiri, aku menjatuhkan handphoneku di dalam ambulan. Entah mengapa aku begitu bodoh. Terlalu berharap bahwa kunci ambulan itu disana, dan terlalu memprioritaskan mencari kunci. Padahal rencana awalku adalah menelepon bantuan, tetapi malah menggunakannya sebagai senter. Dan saat menjebak mayat anak itu, aku dengan ceroboh menjatuhkannya, sama seperti aku menjatuhkan pistol Pak Hendra entah dimana. Sial! Sekarang aku tidak bisa menelepon bantuan lagi, apa yang harus aku lakukan. Aku melamun sesaat sambil memandang ayam-ayam yang berlarian disekitarku.


Tiba-tiba lamunanku pecah. Aku mendengar suara teriakan dari arah jendela kamar dokter di lantai atas. Mayat Bapak itu meneriakkiku dari atas. Sepertinya ia terpacing suara teriakan mayat anaknya. Sesaat kemudian mayat itu melompat. Seperti yang aku lakukan tadi, mayat itu melompat dari jendela lantai atas, menjatuhkan diri ke lapangan puskesmas. Kepala mayat itu jatuh menghantam tanah terlebih dahulu. Aku berani sumpah mendengar bunyi "Krek" tulang leher yang patah saat itu. Mayat itu tersungkur dan tidak bergerak lagi.


Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari menghampiri mayat rekan Pak Hendra di rerumputan. Dengan panik aku mencari, beruntung aku segera menemukan kunci ambulan itu. Tidak hanya kunci, aku juga menemukan pistolnya yang tergeletak disekitar. Setelah memungut keduanya, segera aku kembali ke mobil ambulan dan mengunci pintunya dari luar. Saat itu aku melihat mayat anak itu mulai mengutak-atik gagang pintu. Sepertinya instingnya mulai muncul huft... Hampir saja.


Melihatku kembali mendekat ke ambulan, perhatian mayat itu kembali teralih padaku. Tetapi aku tidak meghiraukan teriakan dan tingkahnya -mencakar-cakar kaca ambulan hingga tangannya sendiri berdarah- aku justru menatap miris handphoneku yang tergeletak di kursi penumpang. Pandanganku kemudian mengarah pada handphone lain yang berada di dekat dashboard penumpang. Oh benar juga... bukan aku saja yang membawa handphone disini.


Handphone Mas Joko! Itulah yang ada didalam benakku pertama kali. Aku sudah meraba saku baik Pak Hendra maupun rekanya dan aku tidak menemukan Handphone sama sekali. Handphone Mas Joko adalah harapan terakhirku. Aku harus kembali ke laboratorium.

__ADS_1


Baru saja aku akan menoleh kearah puskesmas, mayat Bapak itu tiba-tiba sudah berada disampingku. Jantungku membeku ketakutan ketika melihat wujudnya. Lehernya patah, kepalanya menggantung kearah kiri –tertahan oleh bahu kirinya- dengan mulut terus memuntahkan darah. Bahkan dalam kondisi seperti itu, mata hitamnya masih menatapku tajam. Tiba-tiba pisaunya sudah terayun kearahku. Beruntung karena kepalanya yang berubah posisi itu, tikamannya meleset. Aku bisa menghindar dengan mudah. Segera aku menyelinap, dan berlari kearah puskesmas. Setelah masuk aku bergegas menuju tangga dan naik ke lantai atas.


__ADS_2