
Ketika kami bertiga sibuk berdiskusi, pandangan kami teralihkan oleh teriakan seorang wanita tua dari atas jendela kamar dokter. Sejurus kemudian wanita tua itu terjungkan jatuh, dan kepalanya remuk menghantam tanah lapangan puskesmas. Pandangan kami semua kemudian mengarah kembali ke jendela, melihat siapa orang yang mendorong Bu Kades hingga jatuh itu. Orang itu... bukan... mayat itu menunjukkan dirinya sambil berteriak kencang, membuat begidik bulu kuduk. Mas Joko bangkit! Tangan kanannya menggenggam sebuah jantung penuh darah, kemudian menelannya mentah-mentah dihadapan kami.
Seluruh warga dan polisi menjengit kaget, terlebih Pak Kades. Ia segera berlari menghampiri istrinya yang kini sudah meregang nyawa itu. Tetapi baru beberapa langkah saja Pak Kades berlari, tiba-tiba terdegar suara tembakan yang begitu keras.
Jantungku serasa berhenti ketika melihat Pak Kades roboh dihadapanku. Tempurung kepala belakangnya pecah seketika ditembus timah panas yang melesat kencang dari arah belakangku. Sontak aku dan Dukun tua itu menoleh kebelakang, betapa terkejutnya kami. Pak Hendra -yang semalam mayatnya aku letakkan di dalam mobil ambulan polisi- berdiri dihadapanku sambil menodongkan pistolnya, yang semalam aku hilangkan. Bagaimana bisa aku lupa... Pak Hendra dan Mas Joko juga warga desa ini...
Mayat Pak Hendra kemudian menembak lagi. Peluru keduanya menembus tepat di jantung dukun itu. Ia jatuh tersungkur ke tanah sambil memutahkan banyak darah. Aku hanya bisa terpaku melihat orang orang disekitarku mati satu persatu, sama seperti tadi malam.
Bidikannya kemudian ditujukan kearahku. Aku yakin sekali, untuk kesekian kalinya dalam hari ini, nyawaku kembali di ujung tanduk. Namun beberapa polisi dan warga segera merespon. Dengan cepat mereka menahan tangan Mayat Pak Hendra, membelokkan pistolnya keatas, dan membuat tembakan ketiganya itu terlontar ke langit.
Keributan terjadi, beberapa warga dan polisi berlarian kesana kemari. Mayat Pak Hendra terus meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari sergapan tiga polisi yang badannya bahkan lebih besar darinya. Wajahnya yang hangat itu kini berubah bengis dan mengerikan karena mata yang hitam.
Aku hanya terdiam, tidak bergeming sedikitpun. Entah karena nyeri yang kembali menusuk-nusuk sekujur saraf tubuhku atau karena ketakutan teramat sangat seperti malam itu, yang membuatku hanya bisa terpaku melihat kekacauan dihadapanku.
Salah satu polisi itu berhasil menjatuhkan pistol Pak Hendra ketanah. Namun usahanya harus dibayar dengan pukulan mentah tepat di mukanya. Seketika Polisi itu jatuh tersungkur. Mayat Pak Hendra kemudian menyikut dua polisi lainnya hingga terpental. Aku bisa membanyangkan sekuat apa Pak Hendra ketika menjadi mayat. Terlebih, Cadaveric spasme juga terjadi padanya.
Pistol itu terjatuh tepat di hadapanku, dan tentu saja, mayat itu berusaha mengambilnya. Ia berteriak keras seperti hewan buas yang hendak menerkam mangsannya, jantungku berdesir tidak karuan. Tetapi polisi-polisi itu tidak menyerah, meski babak belur mereka kembali bangkit dan bergulat lagi dengan Mayat Pak Hendra. Saat itulah aku memanfaatkannya dengan memungut pistol itu. Kali ini dengan berani aku menodongkan pistol itu dan menembak Mayat Pak Hendra. Dua-tiga kali tembakan beruntung yang tepat mengenai wajah. Mayat itu seketika roboh, dan menggeliat kesakitan.
Polisi-polisi itu kemudian merespon dengan mengunci badan Mayat Pak Hendra. Mayat itu kesulitan bangkit ketika beberapa polisi lain akhirnya menghampiri ikut membantu. Salah satu polisi –yang tengah menahan badan Mayat Pak Hendra- itu tiba-tiba berteriak kearahku, tetapi aku tidak bisa mendengarnya. Suara teriakan ricuh warga yang berlarian menghalangi pendengaranku. Ditambah lagi suara letusan mesiu dari pistol yang aku tembakkan barusan membuat telingaku masih berdenging. Polisi itu terus berteriak kearahku, sambil menggerak-gerakkan tangannya kekanan dan kekiri. Aku mengernyit bingung, padahal kami begitu dekat, tetapi aku tidak bisa mendengar apa yang ia teriakkan.
__ADS_1
Sesaat kemudian pandanganku pada polisi itu tertutup oleh sebuak bayangan tangan. Pandanganku kemudian gelap seketika dan badanku jatuh tersungkur. Tanpa aku sadari, mayat Mas Joko –setelah melompat turun dari jendela kamar dokter- sudah berada dibelakangku dan melayangkan tamparan keras tepat di telinga kananku. Telingaku berdenging hebat, Sakit sekali... sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaran.
..............................................................................
Aku terbangun lagi dengan nyeri kepala hebat dan telinga yang masih berdenging. Pingsan untuk kedua kalinya dalam sehari, Sial. Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. Entah bagaimana bisa, tetapi aku lagi-lagi selamat, untuk kesekian kalinya. Yang pasti aku sekarang berada di bed UGD. Luka di tangan kiriku dan memar di bahuku sudah tidak sakit lagi. Tetapi telinga kananku meneteskan darah. Brengsek, pukulan mas Joko begitu keras. Ia pasti begitu membenciku –karena aku sering membentaknya- bahkan ketika sudah menjadi mayat.
Hari sudah sore, aku bisa melihatnya dari jendela. Kemudian aku mengintip kesekitar, bagaimana nasib warga dan mayat-mayat tadi. Diluar aku melihat lebih banyak mobil polisi terparkir dengan sirine yang menyala. Terlihat beberapa polisi dan banyak sekali warga berlalu lalang menandu banyak kantung jenazah. Satu, tiga... berapa banyak korban siang tadi?
Tiba-tiba salah satu kantung jenazah jatuh dan menggeliat. Aku bisa melihat tangan mayat berusaha keluar dari kantung. Tangan tua itu terlihat mengenakan kalung emas, itu mayat Bu Kades! Polisi-polisi itu terlihat panik, mereka kemudian mengeluarkan pistol mereka dan mulai menembaki kantung itu. Darah keluar bercucuran, merembes di kantung yang akhirnya berlubang-lubang itu. Aku segera bangkit dan berlari keluar.
"Tunggu!! Berhenti pak!!" Jeritku.
"BERHENTI!!!"
Semua polisi itu menghentikan tembakkannya dan menatapku nanar. Begitu juga warga-warga yang tengah sibuk menggotong beberapa kantung mayat, mereka semua kaget melihatku keluar dari puskesmas dengan kondisi babak belur.
"Dokter Sultan!"
Dari kejahuan aku melihat Dokter Denny dan Pak Badrun datang menyambutku. Mereka berdua langsung membopongku yang masih terhuyung-huyung itu. Kemudian aku mulai mengoceh sambil menangis.
__ADS_1
Mereka berdua hanya mengiyakan ocehhanku, mereka tidak memahaminya. Tetapi aku besyukur, beberapa polisi dan orang-orang yang mengenakan baju dinas pemerintahan –yang daritadi mengikuti Dokter Denny dan Pak Hendra- memahamiku. Aku meminta pada mereka semua untuk berhenti menembaki mayat-mayat itu.
"Tolong Pak, mayat-mayat ini dikumpulkan semua..." Ucapku dengan yakin.
"Tenang dok... semuanya beres... nanti kami yang urus" ucap seorang polisi tua yang mengenakan seragam beratribut lengkap. Polisi tua itu menyalamiku, kemudian memperkenalkan diri sebagai kepala polisi wilayah kabupaten ini.
Aku menjabat tangannya erat-erat dengan penuh penyesalan. Aku tidak bisa menyelamatkan Pak Hendra, aku merasa begitu bersalah. Bapak itu tersenyum hangat padaku, seolah ikut prihatin tentang apa yang telah menimpa kami semalam.
"Tidak pak... Mau bapak urus seperti apa? Sebentar lagi mayat-mayat ini akan bangkit" ucapku sambil melihat mayat Bu Kades yang mulai menggeliat keluar dari kantungnya.
Beberapa warga nampak mencoba menghentikan mayat perempuan tua, yang penuh lubang tembakan di seluruh badannya, itu. Karena fase "bangkitnya" belum penuh atau dengan kata lain kaku mayatnya belum penuh, warga kemudian berhasil memasukkannya kembali kedalam kantung mayat dan mengikatnya.
"Bapak bisa lihat sendiri kan?"
Polisi itu, Pak Badrun, dan Dokter Denny saling bersitatap. Beberapa orang yang mengenakan baju dinas pemerintahan nampak saling mengobrol sendiri satu sama lain sambil melihat kearah kami berempat.
Kepala polisi itu terlihat gugup melihat orang-orang berbaju dinas itu mengawasi kami "Lantas... Dokter Sultan ada ide?" ucapnya sedikit takut.
"Ada pak! percayakan pada saya..."
__ADS_1