Kaku Mayat

Kaku Mayat
Prosedur Penanganan Jenazah


__ADS_3

"Mas! Maksudnya apa ini? Kok..."


"Iya dok... dokter santai dulu..." ucapnya menenangkan. Tapi hatiku sama sekali tidak tenang, ini janggal sekali. Semua pertanyaan dikepalaku hendak mencuat, menyembur ke wajah lugunya itu. Mas Joko menyuruhku untuk duduk. Ia kemudian menyodorkan padaku borang lain yang bertuliskan "Surat Kematian".


Mataku terbelalak kaget "Loh mas, kan belum diperiksa..." Ucapku terheran-heran.


"Ndak usah diperiksa dok, diisi saja sebisanya... nggak penting juga..."


Dahiku menekuk "Mas ini kemungkinan kasus kriminal loh..."


Sungguh tidak wajar. Mayatnya tidak di cek tanda kematiannya, langsung dinyatakan meninggal, tidak di periksa dahulu, langsung dimasukkan ke dalam kamar mayat, kamar mayatnya dikunci dengan rantai dan gembok, kemudian saksi yang membawa mayat kemari dipulangkan, dan terakhir aku diuruh mengarang surat kematian. Jangan-jangan puskesmas ini yang kriminal.


Mas Joko menatapku kebingungan, bibirnya berkecumik, hendak mengucapkan sesuatu. Aku menunggunya, menjelaskan semua ini, tetapi tidak ada kata yang keluar sedikitpun. Alih-alih, ia justru mengambil kembali borang itu dan menulisnya sendiri.


"Begini dok... untuk pemeriksaan bisa dilakukan besok pagi"


"Loh kok besok mas? Kenapa nggak sekarang? Ayo saya periksa... keluarganya dipanggil saja, kemungkinan ini kasus kriminal mas" Ocehku bertubi-tubi.


Aku tidak sabaran. apakah Mas Joko ini tidak paham mengenai visum? atau mungkin ada yang berusaha diembunyikan dariku? Ketika aku mengutarakan niat untuk memeriksa mayat itu sekarang juga, wajahnya nampak ketakutan.


"Loh dokter nggak tau kah?"

__ADS_1


"Nggak tau apa mas? Saya paham kok tentang visum, prosedurnya tidak seperti ini" Ucapku setengah mengejek.


"Ohh... iya sih dokter masih baru ya..."


"Iya saya memang dokter baru lulus, tapi saya juga paham mas soal ini, saya juga sudah sering melakukan visum dan berpengalaman!" Bentakku.


"Jangan tersinggung dok... S-santai saja... haha..." ucap Mas Joko tertawa kecil. Tawanya lebih seperti orang yang sedang ketakutan, mengalihkan sesuatu. Aku bisa melihat keringat bercucuran dari wajahnya, Mas Joko gugup.


"Begini dokter... besok pagi polisi dan keluarganya datang... Nanti kita periksa besok pagi saja bersama polisi... Keluarga juga datang besok pagi, kok..." Tambah Mas Joko.


"Loh... nanti keburu tanda kematiannya berubah semua, saya nanti bagaimana mengisi surat kematian kalau nggak tau perkiraan jam meninggalnya mas?"


"MAS! Ini orang bunuh diri mas! Ini kasus pidana!" Mas Joko langsung tertunduk takut ketika aku membentaknya.


"Saya juga ndak paham dok maaf..." ucapnya lirih. "Pak Badrun yang mengajarkannya seperti ini kepada saya... saya juga baru satu tahun disini dok..." Mas Joko memelas.


Mendengar nada bicara Mas Joko yang ketakutan itu, hatiku sedikit melunak. Tidak seharusnya aku membentak rekan kerjaku seperti ini. Mas Joko, agaknya, hanya mengikuti kebiasaan saja. Mungkin memang prosedur penanganan jenazah di puskesmas ini seperti ini adanya, aneh.


"Jadi saya isi saja asal surat kematian ini?" ucapku menurunkan nada. Aku menarik nafas panjang, berusaha bersabar.


"I-Iya dok... asal dulu saja... kalau memang dokter tidak berkenan besok pagi saja di isinya sekalian periksa"

__ADS_1


Sebenarnya aku ingin membentaknya sekali lagi. Bagaimana bisa tanda kematian orang yang mati sore hari diperiksa keesokan paginya. Kaku mayatnya pasti sudah penuh seluruh tubuh. Kemudian jika benar mayat itu meninggal karena keracuanan maka racunya pasti sudah tidak bersisa dimulut. Kalau begini, sebab kematiannya dan perkiraan jam meninggalnya tidak bisa dipastikan karena tidak ada bukti klinis. Lantas apa yang harus aku isi di borang ini besok pagi.


Lalu bagaimana bila perempuan itu masih hidup? Aku kan tidak benar-benar melihat tanda kematiannya. Kami berdua tidak benar-benar melihatnya mati. Bayangkan saja bila perempuan itu tersadar dan mendapati dirinya terkunci di kamar mayat yang gelap itu. Terkunci dengan rantai dan gembok besi. Bisa-bisa dituntut puskesmas ini oleh keluarganya. Benar-benar kelewat aneh.


Aku mendengkus kesal, sambil menarik nafas panjang. Aku berusaha memadamkan api kemarahanku. Ya kalau memang seperti ini adanya, prosedur penanganan jenazah di puskesmas ini, apa boleh buat. Aku tidak bisa mengedepankan idealisku, aku disini orang baru. Aku tidak bisa serta-merta melawan sistem yang sudah ada dan menjadi kebiasaan seperti ini, meski sebenarnya salah kaprah. Aku harus bersabar, besok mungkin akan aku diskusikan dengan Dokter Denny saja, ini benar-benar ngawur. Aku hanya takut polisi mempertanyakan isi surat kematian yang aku karang ini. Namun mendengar penjelasan Mas Joko tadi, aku hanya bisa menurutinya. Biar dia yang tanggung jawab besok pagi.


Aku mulai mengisi surat kematian itu. Beberapa kali aku bertanya pada Mas Joko, meyakinkan bahwa aku bebas mengisi sesuai penangkapanku di mayat tadi. Tentu saja, aku menulis tidak ada bukti medis sama sekali.


Saat aku menulis, pelan-pelan mas Joko menceritakan padaku mengenai prosedur aneh ini. Memang, di desa sering sekali ada kematian, terutama kematian yang berpotensi kriminal. Setiap ada mayat yang dikirim ke puskesmas, baik sebab kriminal atau bukan, selalu diletakkan di kamar mayat dibelakang dan di kunci. Jadi mayat yang meninggal wajar (tidak berpotensi kriminal) pun juga diletakkan disana, aneh sekali. Mas Joko mengaku ia juga tidak tahu dan tidak bertanya pada Pak Badrun mengenai alasan penguncian itu.


Setelah itu, proses pengurusan jenazah akan dilakukan setengah hingga satu hari setelah mayat ditaruh di puskesmas. Jadi apabila meninggalnya di pagi hari, maka malam atau pagi hari keesokannya, keluarga baru datang ke puskesmas. Apabila mayat itu berpotensi kriminal, maka polisi juga akan datang besok paginya.


Mas Joko terus bercerita panjang lebar, dengan logat bahasannya yang khas. Ia berusaha meyakinkanku. Kamar mayat itu hanya digunakan untuk mayat warga desa ini saja. Menurut Mas Joko, desa ini memang banyak sekali kasus kriminal. Bukan itu saja, desa ini juga terkenal dengan kegiatan maksiatnya, minum, berjudi, dan prostitusi. Seperti perempuan yang mati ini, Mas Joko mengenalinya sebagai seorang ******* di desa. Aku terbelakak kaget, desa tempat tinggalku itu ternyata memiliki tabiat seburuk itu. Kasus mayat seperti ini memang kerap terjadi, dan pegawai puskesmas sudah paham betul. Polisi pun juga paham dengan prosedur ini. Mas Joko menjamin tidak akan ada salah paham.


Aku terus menulis sambil mendengarkan ceritanya. Pantas saja di puskesmas terpencil seperti ini, ada kamar mayat dengan peralatan cukup lengkap. Sebagian rasa penasaranku terjawab, sepertinya aku bisa percaya sedikit pada Mas Joko. Ia sepertinya masih ketakutan setelah aku membentak tadi. Seteleah selesai menulis, aku meminta maaf padanya. Meski aku seorang dokter, tidak boleh aku membentak tenaga medis lain hanya karena jabatan dan profesiku yang lebih tinggi. Harus ada toleransi antar aku dan dia.


Ketakutan diwajahnya perlahan menghilang, Mas Joko kemudian mempersilahkanku istirahat di lantai atas. Oh ya ampun sudah jam 9 malam.


 


 

__ADS_1


__ADS_2