Kaku Mayat

Kaku Mayat
Desa Pendosa


__ADS_3

Desa ini dari dulu adalah desa yang penuh dengan maksiat dan kebejatan. Hampir tidak terhitung lagi, dosa apa saja yang sudah pernah mereka lakukan. Dosa, mungkin sudah menjadi kebutuhan pokok di desa ini. Oleh karena itu, beberapa orang menyebut desa ini sebagai "Desa Pendosa". Melakukan kegiatan maksiat sudah menjadi tradisi turun temurun. Mirisnya adalah, apabila ada orang yang berusaha mengingatkan atau mengubah perilaku desa ini pasti akan dimusuhi bahkan dibunuh oleh seluruh warga.


Siapapun, yang berusaha mengingatkan tentang tabiat mereka akan diserang beramai-ramai. Laki-laki, perempuan, ibu-ibu, bapak-bapak, kakek, anak kecil, bahkan kepala desa sekalipun mereka lawan. Sudah banyak korban desa ini, bahkan pernah ada kades yang dibunuh. Tak terkecuali dukun baik itu.


Tahun 1995, desa ini memiliki dua dukun sakti. Saat akses kesehatan masih belum menjangkau desa, kedua dukun itu menjadi andalan untuk menyembuhkan penyakit warga. Dua dukun itu sama-sama sakti, dan sama-sama tidak mau kalah. Bedanya adalah, salah satu dukun itu tidak mendukung kebiasaan bejat warga desanya. Dukun baik ini berilmu agama, berakhlak mulia, dan suka menolong orang. Namun justru orang baik seperti inilah yang paling dibenci desa ini.


Mengenakan rompi kain lusuh berwarna putih, dengan celana kain putih pendek dibawah lutut, dan sabuk hitam tuanya, dukun baik ini berjalan-jalan mengitari jalanan desa. Hal itu sudah menjadi kegiatan wajibnya setiap sore. Warga desa sudah mengetahui itu, beberapa ada yang menyapa dengan santun karena pernah ditolongnya ketika sakit. Beberapa ada yang mencemoohnya, dan ada juga yang melemparinya dengan sayuran, hingga rompi putihnya itu ternoda. Tetapi, dukun tua itu tetap tersenyum. Jangut putih tipis yang teruntai rapi di dagunya terus diusap-usap, sambil tersenyum kearah warga yang melemparinya itu. Betapa sabarnya dukun ini.


Ia terus berjalan berkeliling desa, hingga akhirnya sebuah teriakan dari rumah kosong memancing perhatianya. Sorot matanya yang sayu tadi tiba-tiba berubah menjadi serius. Alis matanya yang tebal dan memutih itu menajam geram, ketika mengetahui sumber suara tersebut. Seorang perempuan berlari keluar dari rumah kosong itu, dengan kondisi setengah telanjang. Badannya yang putih mulus dipenuhi luka-luka. Kain jarik yang menutupi sebagian dadanya juga robek-robek disana-sini. Dan yang lebih menyedihkan lagi, wajah cantik perempuan muda itu babak belur.


Selang kemudian, seorang laki-laki bertubuh besar, berkulit hitam, keluar dari rumah kosong itu. Dengan wajah yang menggebu-gebu dan nafas yang tidak teratur penuh birahi, ia menghunus parang di tangan kanannya dan berlari mengejar perempuan itu. Melihat sang Dukun berjalan kearahnya, perempuan ini mempercepat langkahnya dan segera berlindung di balik punggung tua itu.


Wajah penuh nafsu itu seketika berubah menjadi amarah membara ketika melihat Dukun baik itu mencoba melindungi sang perempuan. Tanpa buang waktu, tanpa kompromi panjang, laki-laki itu segera melempar parangnya tepat kearah kepala dukun baik itu. Entah sihir apa yang ia gunakan, parang itu justru memantul balik dengan kecepatan tinggi, dan menancap tepat di otak kotor laki-laki itu. Ia seketika meregang nyawa.

__ADS_1


Perempuan itu tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya menangis tersedu-sedu, berterimakasih pada dukun itu karena telah diselamatkan. Dukun itu kemudian menenangkan perempuan yang barusaja dilecehkan ini, dan menyuruhnya segera kembali pulang. Dukun itu mengelus dada, menghela nafas dalam. Ia sungguh tidak habis pikir, tabiat orang-orang desa ini sungguh kelewat batas. Dukun itu meninggalkan mayat laki-laki mesum itu tergeletak ditanah begitu saja, dengan parang miliknya sediri, masih tertancap di dahinya.


Tidak butuh waktu lama untuk warga menemukan mayat itu, dan tidak butuh waktu lama juga mereka tahu mengapa laki-laki itu dibunuh serta siapa pelakunya. Sore itu juga –dimotori oleh dukun jahat saingannya- puluhan warga berkumpul di depan rumah dukun baik itu. Ia diserang beramai-ramai, diseret keluar dari rumahnya. Dukun itu dipukul, disiksa, dan dihakimi massa. Setelah puas, Mereka semua kemudian menyeretnya berkeliling desa, menggesekkan wajah tua itu ke bebatuan jalanan.


Tidak terbayangkan rasa sakit yang ia rasakan saat itu. Terlebih ketika warga desa lain, yang menyaksikannya diarak berkeliling, ikut melemparinya. Sayuran-sayuran itu kini terasa begitu menyakitkan, tidak seperti biasanya. Dukun itu menangis sedih, niat baiknya untuk menolong malah dibalas sedemikian rupa. Dalam rintihannya, ia berdoa pada tuhan, agar menolongnya dalam kesulitan ini. Tetapi sepertinya tuhan memiliki rencananya sendiri.


Rombongan warga yang mengikuti arakan itu semakin banyak. Mereka yang baru bergabung juga menaruh benci pada perbuatan dukun baik itu. Namun ada beberapa warga yang khawatir, dan hanya ingin melihat-lihat saja apa yang terjadi selanjutnya, termasuk Pak Badrun muda dan Joko kecil. Mereka berdua tidak berani menghalangi niat jahat warga desa itu. Mereka tidak berdaya dengan tradisi desa ini.


Rombongan itu terus berjalan –sambil terus menyiksa dukun itu- hingga sampai ke lapangan desa. Beberapa warga terlihat menyiapkan sebuah tiang kayu jati, menancapkanya di tanah, dan dengan keji menggantung dukun baik itu disana. Kemudian secara bergantian mereka mencambuk, menyiksa badan lemah dan kurus itu. Mereka tertawa terbahak-bahak, mereka terlihat menikmati sekali perbuatan biadab itu. Sedangkan dukun itu, kesadaranya makin melemah. Mungkin ia memang sakti, namun dengan puluhan luka fisik yang diterima tubuh tuanya itu, bahkan kesaktiannya-pun tidak berguna.


"DENGAR WAHAI PENDUDUK DESA PENDOSA!! AKU KI BRAMANTHORO!! BERSUMPAH!! AKAN MENGUTUK KALIAN SEMUA!!"


"Kutuk saja dirimu sendiri kiii!! HAHAHAHAA... DASAR PEMBUNUH!!" Ucap dukun jahat itu membakar emosi warga. Warga merespon dengan berteriak bergemuruh, memaki dukun itu.

__ADS_1


"KALIAN ITU YANG PEMBUNUH, PEMERKOSA, PENZINA, PENDOSAAA!!" ucapnya sambil terus membatukkan darah.


"AKU MENGUTUK KALIAN, SELAMA KALIAN TERUS BERBUAT DOSA, KALIAN TIDAK AKAN PERNAH MERASAKAN MATI TENANG!!, KALIAN AKAN MATI, LALU HIDUP LAGI, UNTUK MATI KEDUA KALINYA!! SETIAP KETURUNAN DAN DARAH DAGING KALIAN DIMANAPUN DIMUKA BUMI INI!! AKAN TERKUTUK!!"


DOR!


Tiba tiba terdengar suara tembakan dari tengah kerumunan. Peluru itu melesat cepat menembus dahi, memecahkan tengkorak tua itu. Darah, serpihan tulang tengkorak, dan otaknya mengucur deras membanjiri wajahnya. Dukun sekarat itu kini mengembuskan nafas terakhirnya, mati ditangan pistol Pak Kades. Ya Kades muda, yang juga kadesku saat ini, menembak mati dukun baik itu. Entah iblis apa yang mendorongnya menembak terlalu cepat, padahal warga masih belum selesai menyiksanya.


Seketika keheningan menyelimut. Dukun jahat dan semua warga hanya menatap kosong pak Kades, yang masih mengacungkan pistolnya dengan gemetar. Wajah mereka ketakutan, jantung mereka berdebar kencang. Bukan karena keputusan pak Kades menembak, melainkan kutukan yang diucapkan Ki Bramanthoro tadi. Entah mengapa, ketika dukun itu mengucapkan kutukanya, semua hanya bisa diam mematung, tidak bergeming sedikitpun. Padahal ucapan itu harusnya hanya teriakan memaki tak berarti, namun mereka takut setengah mati. Sepertinya dukun itu mengerahkan seluruh kesaktian terakhirnya untuk itu.


Sore itu langit begitu mendung. Gemuruh halilintar bercampur rintik air mulai menghujani lapangan desa. Terlihat banyak sekali warga yang sudah berkumpul disana. Baik yang tua, muda, laki-laki, perempuan, bapak-ibu, bahkan anak kecil. Wajah mereka mengeryit ngeri. Ketakutan yang teramat mengerikan berkecamuk di tiap-tiap hati mereka ketika menyaksian mayat yang digantung di tiang itu. Ini adalah hari bersejarah. Sejarah kelam yang akan terukir di desa yang mereka cintai ini, selama-lamanya.


Beberapa warga kemudian melepaskan diri dari kebisuan. Mereka bergerak –dengan sedikit gugup- menurunkan mayat dukun itu. Wajah mereka tampak sedih sekali, padahal beberapa menit yang lalu mereka seperti dirasuki setan, menyiksanya dengan terbahak-bahak. Tetapi hati mereka seolah berbalik kali ini. Mereka lalu membawa mayat dukun itu menjauh dari lapangan dan menuju ke pemakaman desa. Beberapa warga lain, yang berhasil melapaskan diri dari keheningan itu, ikut mengikuti. Mereka kemudian memakamkan mayat dukun baik itu, dengan layak. Nampak ketakutan bercampur penyesalan yang amat dalam tergambar dari wajah beberapa warga itu.

__ADS_1


Warga yang lain, termasuk Dukun Jahat dan Pak Kades masih diam membeku di lapangan yang kini turun hujan lebat. Mereka saling bersitatap satu sama lain. Kutukan itu sepertinya benar-benar menusuk hati mereka. Dukun jahat itu kemudian mulai beraksi, ia berusaha menenangkan mereka dengan mengolok-olok kutukan itu. Namun semua usahanya itu tetap tidak bisa menghilangkan awan mendung yang terlanjur menyelimuti hati mereka. Bahkan dukun jahat itu sendiri juga terlihat panik, bagaimana jika kutukan itu benar-benar terjadi?


Tetapi setelah peristiwa itu, mereka kembalimelakukan kebiasaan bejat mereka seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.


__ADS_2