Kaku Mayat

Kaku Mayat
Puskesmas


__ADS_3

Nafasku terengah-engah, tidak kuat lagi melangkah. Jalanan pegunungan ini cukup curam, dengan bebatuan kecil bercampur tanah sebagai dasarnya, cukup menyakitkan kaki. Sial, besok aku bawa motor saja kemari, desisku kesal. Aku sesekali berhenti dan menarik nafas dalam-dalam, sambil terus mengumpat. Udara pegunungan ini tidak begitu sejuk, aneh sekali. Padahal banyak sekali pepohonan, rerumputan rindang, sungai dan sekarang juga masih pagi. Mungkin aku saja yang kurang bugar? padahal aku masih 25 tahun, memalukan. Ya, sejak Dokter Muda hingga satu tahun ini aku jarang sekali berolah raga. Siapa sangka aku akan mendapatkan tempat kerja PTT di pegunungan sejauh ini, setinggi ini.


Puskesmasku ini terletak di pegunungan wilayah kabupaten, jauh sekali dari kota. Lokasinya sangat terpencil menurutku, jauh dari fasilitas umum, jauh dari keramaian. Namun ada desa kecil beberapa kilo dari sini. Di desa itulah rumah tinggalku sementara, Sampai akhirnya aku menuntaskan masa PTT ku ini, satu tahun. Satu tahun, ya, selama itulah aku harus melewati jalan ini setiap harinya. Mungkin selepas PTT ini badanku akan sixpack.


Beberapa menit berjalan akhirnya aku sampai. Dari depan aku disambut oleh dinding tembok putih yang kotor berdebu. Di badan tembok itu tertempel plakat yang bertuliskan "Puskesmas" -lengkap dengan alamat dan kode posnya- dengan warna hitam yang mulai memudar. Mataku kemudian menjelajah sungai yang ada di sebelah kiriku. Sungai lebar itu mengalir sepanjang jalanan curam tadi, dan terus mengikutiku hingga kemari. Ia kemudian mengalir ke sisi kiri tembok puskesmas.


Setelah puas melihat sekitaran, aku melanjutkan masuk ke dalam area puskesmas. Tidak ada gerbang atau pagar yang menghubungkan tembok putih itu. Hal itu membuatku masuk dengan sedikit mengendap. Puskesmas ini memiliki lapangan yang luas. Meski cukup banyak motor parkir di depan gedung puskesmas, lapangan puskesmas itu terlihat masih sangat luas. Bodohnya aku, pasien saja kemari menggunakan motor, sedangkan aku berjalan kaki. Sepertinya aku benar-benar harus bawa motor dari rumah.


Aku terus berjalan memasuki lapangan puskesmas. Tembok putih yang menghadangku didepan tadi, kini mengitariku, mengitari area puskesmas keseluruhan dalam bentuk bujur sangkar. Apabila dilihat dari dalam, temboknya bersih, tidak sekotor tampak luarnya. Di sisi kanan aku dapat melihat ambulan terparkir jauh di sudut tembok depan. Terlihat ada lahan untuk parkir mobil disebelah kanan ambulan. Mataku terus menjelajah tembok sisi kanan, hingga aku mendapati sebuah bangunan kecil bertuliskan gudang. Gudang itu terlihat lebih kotor dan kumuh, akses masuknya tidak berpintu, dan atapnya hampir rubuh sepertinya. Anehnya lagi, disekitar gudang itu berkeliaran ayam-ayam putih (ayam jenis broiler) beserta anak-anak ayamnya. Aku terus melihat kesana-kemari, tanpa aku sadari, aku sudah cukup dekat dengan bangunan utama puskesmas.


Arsitektur bangunan ini sedikit aneh, bangunan sederhana dua lantai berbentuk persegi panjang yang memanjang ke belakang, dengan akses masuk kecil ditengah. Sama seperti gerbangnya yang tidak berpagar, akses masuk itu pun juga tidak ada pintunya. Terlihat beberapa orang berlalu-lalang, masuk ke puskesmas dengan bergantian, karena pintu masuk itu sangat kecil. Hanya ada satu akses masuk tak berpintu itu saja di sisi depan puskesmas, sisanya adalah dinding yang membentang pendek kesamping, tanpa jendela. Di dinding lantai atasnya barulah aku menemukan dua jendela yang terbuka miring.


Anehnya lagi, di sisi kiri bangunan, ada pintu kaca dua daun yang jauh lebih besar daripada pintu depan ini. Diatas pintu kaca itu tertulis UGD. Aku tidak enak apabila masuk melalui jalur kecil yang dilalui pasien itu, aku takut orang mengira aku pasien. Lagipula aku butuh untuk bertemu langsung kepala puskesmas. Tanpa pikir panjang aku langsung melangkah menuju sisi kiri puskesmas, memutuskan masuk melalui pintu kaca tersebut.


Setelah membuka pintu kaca itu, aku dihadapkan pada sebuah ruangan kosong yang cukup luas. Lho? Mana UGD nya? Ruangan itu benar-benar kosong, tidak ada perabot, meja, atau kursi sedikitpun. Dindingnya tercat putih, tanpa jendela, dan ada satu lampu kecil ditengah langit-langitnya yang tidak menyala, membuat ruangan itu cukup gelam meski di pagi hari. Mataku mengedar kearah kiri, ada sebuah pintu kayu tua, dengan dua daun, berwarna coklat. Aku berusaha membuka pintu tua itu, karena memang tidak ada jalan lagi –selain pintu kaca dibelakangku. Aneh sekali, padahal pintu depanya kaca, namun didalamnya hanya ruang kosong dan pintu tua. Aku bergumam beberapa menit, sampai aku tidak menyadari bahwa kedua daun pintu tua itu dililit oleh rantai besi yang bergembok.


"Mas!! Mau ngapain?!"


Aku terperanjat kaget. Seorang laki-laki tua tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang. Wajahnya mengernyit ketakutan melihatku memegangi rantai besi itu.


"Emm... A-anu pak... saya Dokter Sultan..."

__ADS_1


"Oh dokter baru tho... jalannya bukan kesini mas, mari ikut saya" Seketika nada bicaranya melembut.


Bapak tua ini memakai baju coklat khas pegawai negeri sipil, sepertinya dia pegawai puskesmas ini. Dengan muka kotak yang gemuk, alis tebal dan kumis yang juga tebal, dilengkapi peci hitam yang menutupi rambutnya, bapak ini cocok kerja di kantor kecamatan. Tetapi tadi, wajahnya terlihat begitu panik, aneh. Segera aku dibawanya keluar dari ruangan UGD palsu itu, kembali kedepan menuju ke pintu utama, dan masuk kedalam puskesmas.


Ruangan didalam puskesmas itu cukup sempit dan memanjang kebelakang, menurutku. Lantainya terbuat dari keramik tua berwarna kehitaman, dindingnya berwarna coklat muda, dan ada beberapa meja dan kursi kayu yang juga di cat coklat. Tapi udaranya tidak panas meski jendelanya, yang ada di dinding samping kanan, kecil-kecil. Tentu saja, angin masuk dengan bebas dari pintu depan –karena tidak ada pintu. Ketika masuk, aku disambut oleh empat baris kursi panjang tempat tunggu pasien yang berwarna silver di sisi kananku. Nampak beberapa pasien duduk dan fokus melihat TV layar datar yang menempel di dinding, lengkap dengan antenna kecilnya -Benda modern kedua yang aku dapati setelah kursi panjang silver mirip di rumah sakit itu. Terlihat juga beberapa pasien sedang berbincang dengan petugas loket yang ada di dinding sisi kanan. Dan di pojok kanan ruangan ini terdapat tangga ramp –bentuk landai tanpa anak tangga- menuju lantai dua. Cukup ramai dan padat untuk ruangan yang sempit.


Pandanganku kemudian mengarah ke sebuah ruangan yang berada di sisi kiriku. Nah! Ini baru ruangan UGD! Aku meninggalkan bapak tua itu dan berbelok masuk ke ruangan pertama di sebelah kiriku itu. Disana, aku melihat peralatan UGD cukup lengkap. Bed, Oksigen, alat-alat suntik dan tindakan, meja dan kursi konseling, serta lemari yang berisi penuh obat dan perban, cukup lengkap untuk ukuran puskesmas terpencil seperti ini.


"Ini UGD nya mas..." Ucap bapak tua itu lembut.


Dia menjemputku kemari setelah aku meninggalkanya tiba-tiba. Nada bicaranya lembut, tidak seperti pertama bertemu tadi.


"Iya pak... lumayan lengkap ya..." ucapku sambil melihat kesekitar


Namanya Pak Badrun, beliau adalah perawat senior disini. Beliau asli orang desa ini, desa yang tempat tinggalku itu. Beliau memang sudah menungguku dari pagi, untuk mengantarkanku bertemu Dokter Denny, kepala puskesmas. Kemudian aku diajak menuju ruangan periksa pasien. Ruangan ini terletak persis lurus dari pintu utama.


Disana aku melihat seorang dokter tua sedang duduk dan memainkan Handphonenya. Rambutnya yang membotak di depan memantulkan cahaya matahari dari jendela ruangan itu. Sisa rambut lainnya mulai memutih, dan kacamata tebal tergantung di hidungnya yang besar, dokter ini pasti sudah sangat senior gumamku. Kaca mata yang ia kenakan sepertinya sudah tidak berfungi lagi, ia melihat layar Handphonenya dari jarak cukup dekat. Agaknya, pegawai disini sudah tua-tua.


"Pak... ini Dokter Sultan sudah sampai..." ucap pak Badrun memperkenalkanku dengan nada tinggi.


Dokter itu menoleh dan langsung berdiri tersenyum. Bibir tebalnya itu menggoreskan senyum yang ternyata hangat. Jujur aku kadang takut bila berhadapan dengan dokter yang lebih senior dariku. Lantas, akupun datang dan menyalaminya.

__ADS_1


"Siapa ya..." Ucapnya sambil kebingungan


"Ehm... Saya Dokter Sultan dok... Dokter PTT baru..." Aku mengernyit heran, apa beliau tidak mendengar ucapan Pak Badrun tadi?


"Dok kalau ngomong agak dikeraskan, Pak Denny sudah usia..."


"Saya dokter Sultan Dok! dari kota!" aku mengeraskan suaraku.


"Oohhh... Dokter PTT baru itu ya... mari-mari silahkan duduk"


Sepertinya selain rabun, dokter tua ini juga mulai tuli. Meski begitu, ia menyapaku dengan ramah. Dokter Denny ini adalah dokter fungsional sekaligus kepala puskesmas desa ini, tak heran pegawai lain memanggilnya "Pak". Seperti Pak Badrun, beliau juga orang asli desa sini, dan sudah dikenal baik di masyarkat sebagai dokter pribadi desa. Meski asli desa ini, tetapi rumahnya sedikit turun di kaki gunung, tidak masuk bagian desa tempat tinggalku. Kami bertiga kemudian mengobrol banyak.


Aku diberi penjelasan mengenai tugasku disini. Di puskesmas ini, aku diberi jam kerja hanya malam hari, yaitu pukul tujuh malam hingga tujuh pagi keesokan harinya. Menurutku itu tidak berat, dan sangat menguntungkan, karena jarang sekali orang desa ini yang berobat di malam hari. Dengan begitu aku bisa tidur semalaman penuh tanpa terganggu, lamunku. Aku bahkan terheran-heran awalnya, karena puskesmas di tempat sepi seperti ini dibuka hingga 24jam. Hari kerjaku hanya sampai jumat, untuk sabtu dan minggu hanya on call. Artinya aku akan dihubungi perawat puskesmas apabila ada yang membutuhkan pelayanan dokter.


Setelah selesai mengobrol, mereka berdua mengajakku berkeliling, memperkenalkanku pada pegawai puskesmas lain dan menunjukkan ruangan-ruangan yang ada dipuskesmas.


Di lantai dasar ini hanya ada ruang periksa Dokter Denny dan ruang UGD asli itu saja, yang dapat diakses dari pintu utama kecil itu. Sedangkan ruangan gelap berpintu kaca dan ruangan yang dirantai besi tadi sepertinya terpisah, dan hanya bisa diakses dari pintu kaca itu -meski sebenarnya masih bagian dari lantai dasar ini. Mereka tidak mengajakku kesana. Di lantai ini, aku berkenalan dengan dua ibu-ibu tua petugas loket, yang juga orang desa sini.


Selanjutnya Pak Badrun mengajakku ke lantai atas. Dokter Denny tidak ikut. Sepertinya tulang-tulangnya tidak sanggup lagi untuk menaiki tangga ramp itu. Di lantai atas terdapat 5 ruangan, yaitu 3 ruangan rawat inap, 1 ruangan laboratorium sederhana, dan 1 kamar tidur dokter yang terletak paling pojok. Seperti yang aku kira, petugas laboratorium juga seorang ibu-ibu tua orang asli desa sini. Puskesmas ini sudah seperti klinik pribadi milik desa ini, esklusif sekali.


Tidak banyak yang aku tanyakan pada Pak Badrun. Aku sudah cukup puas dengan Jobdesk dan fasilitas puskesmas ini. Ruangan rawat inapnya pun juga standart dan tidak pengap. Hari itu tidak ada pasien yang menginap sehingga aku leluasa mengecek satu persatu, tiga kamar inap itu. Pak Badrun kemudian mengijinkanku pulang terlebih dahulu, karena saat ini masih pukul 10 pagi, tetapi aku memilih tidur di kamar tidur dokter saja hingga jam 7 malam nanti. Aku tidak sanggup untuk naik-turun jalanan curam itu lagi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2