Kaku Mayat

Kaku Mayat
Terimakasih


__ADS_3

Aku berhasil mengatasi kutukan ini. Semuanya bersuka cita atas apa yang aku lakukan. Aku tersenyum bahagia, Ternyata kebencianku terhadap mayat, ilmu forensikku yang sebenarnya tidak ingin aku gunakan lagi, kini menyelamatkan banyak orang. Ya, orang-orang desa itu, desa pendosa.


Seusai acara pemakaman massal itu, mereka semua bergegas kembali ke desa dan berpesta, merayakan semua ini, dengan minum-minuman keras dan wanita-wanita cantik tentunya. Banyak warga, polisi, bahkan pegawai dinas pemerintahan yang hanyut dalam alunan tembang jawa yang memabukkan. Ditemani gadis-gadis ******* desa dan alkohol di tangan mereka. Padahal baru saja kemarin malam, aku dan rekan-rekan kerjaku mengalami terror mayat hidup yang mengerikan. Padahal baru saja tadi sore, mereka memakamkan kepala desa mereka sendiri. Padahal baru saja tuhan memberikan peringatan yang begitu keras pada mereka. Tetapi mereka segera kembali pada tabiat mereka. Mereka berpesta dan bermabuk ria, seolah menertawakan kutukan yang baru saja berhasil aku atasi.


Seketika telinga kananku –yang terbalut perban- berdenging keras. Luka-luka dibadanku juga ikut berdenyut nyeri, ketika ada seorang warga yang mengajakku bergabung dalam pesta itu. Aku menolaknya halus, dan pergi berlalu.


Apa yang mereka lakukan malam itu membuatku berpikir kembali, apakah yang sudah aku lakukan ini benar? Nyawa mereka terselamatkan, kutukan teratasi, lalu mereka kembali berbuat dosa. Seolah mereka merasa aman dari bahaya kutukan itu. Dari dulu aku memang tidak suka dengan desa ini dan semua perbuatan dosanya. Jauh di dalam lubuk hatiku, sebenarnya, aku bersyukur ketika mendengar cerita Mas Joko kala itu. Aku senang mereka dikutuk.


Terlebih ketika bercerita tentang dukun baik itu, Ki Bramanthoro, emosiku meluap-luap. Dukun baik itu dibunuh dengan keji, padahal ia melakukan sesuatu yang mulia. Ah... aku juga pasti akan dibunuh mereka bila terus berpikiran seperti ini. Menolak diajak bermaksiat saja, sudah ada beberapa warga yang menatapku sinis. Padahal aku baru saja menolong mereka. Desa apa ini! kehidupan macam apa ini!


Badanku begitu lelah dan letih, setelah dua hari diliputi ketegangan yang teramat sangat. Sebenarnya aku sangat butuh istirahat, tetapi aku tidak ingin pulang kerumah tinggalku. Lebih baik aku jaga saja di puskesmas. Menghindar dari warga desa yang pasti akan mengajakku untuk bermaksiat. Aku kemudian berjalan menuju jalanan pegunungan yang menanjak itu, di bawah senja yang tengah tenggalam, menuju ke puskesmas.


Jalanan curam ini kembali membuatku menghela nafas. Apakah aku terlalu kelelahan? Atau jiwakulah yang sebenarnya lelah? Aku tidak tahu. Aku telah melewati malam-malam yang berat selama di sini. Ini adalah pengalaman terberatku sebagai dokter seumur hidup. Seharusnya saat itu aku resign saja... gumamku penuh kekesalan. Begitu sampai puskesmas aku akan segera tidur saja, menghabiskan malam-malam jagaku sambil beristirahat total.


Kini senja benar-benar sudah tenggelam, kegelapan menyelimuti jalanan ini seperti biasannya. Sekarang aku tidak takut lagi dengan kegelapan itu. Di desa ini, ada yang lebih gelap daripada kegelapan jalanan malam ini, yaitu hati warga-warganya.


Sesampainya di puskesmas aku disambut oleh Pak Badrun dan Dokter Denny.


"Loh Pak? Dok?"

__ADS_1


Mereka berdua berdiri dan menyambutku, sama seperti pertama kali aku datang kemari. Mereka menepuk-nepuk pundakku dengan senyum penuh bangga. Kehadiran mereka di puskesmas petang itu membuatku terheran-heran.


"Ada apa dok? Pak Badrun? kok malam-malam ke puskesmas?" Ucapku heran.


"Loh ya menemani Dokter jaga toh... Masa Dokter Sultan mau jaga sendiri?"


Oh, ya, aku sampai lupa, Mas Joko sudah tiada. Teman jagaku yang selalu setia menemani itu, sudah kutenggelamkan dan kumakamkan sendiri tadi sore. Seketika badanku melemas, aku kemudian dengan terhuyung-huyung duduk di bangku tunggu pasien. Aku menangis sejadi-jadinya, sambil membenamkan wajahku diantara dua telapak tangan. Setelah apa yang aku usahakan malam itu, tetap saja, aku tidak bisa menyelamatkan mereka, Mas Joko... Pak Hendra...


Seolah mengetahui apa yang sedang aku rasakan, Dokter Denny menghampiriku. Pak Badrun juga menatapku sedih. Ia kemudian menyalakan TV yang mungkin dapat menenangkan hatiku, menurutnya.


"Dok... apa yang saya lakukan ini sudah benar?" ucapku sambil terisak


"Mereka kembali bermaksiat Dok... setelah apa yang terjadi malam kemarin, setelah warga-warganya mati, setelah kejadian 19 tahun yang lalu terulang kembali..." Mataku berkaca-kaca menatap Dokter Denny.


"Mereka tidak jera! Mereka justru berterimakasih... Bukanya memperbaiki diri! apa mereka tidak tahu... Mereka itu layak DIKUTUK! " ucapku sedikit membentak. Emosi didadaku begitu meluap-luap saat itu, hingga membuat tangisku sedikit tersesak.


Dokter Denny kemudian duduk disamping kiriku, sambil tersenyum hangat. Entah apakah ia paham maksud ucapanku, atau ia mendekat karena tidak dengar apa yang barusan aku utarakan. Tangan tuanya memegang bahu kananku yang memar. Aku bisa merasakan keriput-keriput dari telapaknya.


"Apa yang dokter lakukan tidak salah... Dokter hanya berusaha membantu..."

__ADS_1


"Tapi bantuan saya malah membuat mereka lupa..."


"Itu pilihan mereka..." ucapnya menyela.


Aku tertegun, Dokter Denny memahami semua perkataanku. Padahal biasanya aku sangat sulit berbicara dengannya. Ia lalu menatapku.


"Dokter Sultan orang baik... Dan setiap perbuatan yang berlandaskan kebaikan, tidak akan mungkin tidak berguna..." Tangan tuanya dengan lembut mencengkram bahuku, seolah-olah ingin memberiku semangat.


"Dokter Sultan tidak usah khawatir... kebaikan dan keburukan akan menemukan jalannya sendiri untuk kembali... Kembali pada yang berbuat... Suatu saat... semuanya akan kembali pada diri mereka masing-masing... begitu juga kebaikan yang Dokter Sultan lakukan saat ini"


Seketika isak tangisku berhenti. Kesedihan yang berkecamuk di hatiku seolah terangkat. Emosiku yang meluap-luap juga akhirnya padam, ketika mendengar ucapan itu. Benar kata Dokter Denny, kebaikan dan keburukan akan menemukan jalannya sendiri. Suatu saat kebaikanku ini akan dibalas oleh tuhan.


Aku segera mengusap air mataku dan tersenyum. Aku tidak boleh bersedih, apa yang telah terjadi harus aku relakan. Aku menyemangati diriku sendiri saat itu. PTT ini masih belum berakhir, masih banyak yang harus aku lakukan.


Kami bertiga kemudian melanjutkan jaga malam itu. Jaga malam di puskesmas desa pendosa, yang kini tidak seseram dulu lagi. Tentu, karena tidak ada lagi mayat yang dikirim kemari. Begitu ada warga desa ini yang meninggal, mereka akan otomatis memanggilku, Dokter Denny, atau Pak badrun, untuk segera memandu proses "Penenggelaman Mayat". Dan dari bulan ke bulan, warga desa pendosa ini sudah semakin terbiasa dengan metode ciptaanku itu.


..............................................................


Begitu juga saat ini, ketika kami menenggelamkan mayat wanita paruh baya yang baru saja meninggal itu. Pengantar jenazah dan keluarga mayat itu segera membubarkan diri begitu cepat. Tidak terdengar isak tangis keluarga saat mayat itu ditenggelamkan bahkan ada beberapa keluarga yang tidak ikut menenggelamkan jenazah. Lebih-lebih, mereka tidak mengirim seseorang untuk menunggu disini selama 24 jam. Mereka semua sudah sangat terbiasa dengan metode ini. Tinggalah aku sendirian disini yang masih menatap kosong sungai itu.

__ADS_1


Semilir angin pegunungan tiba-tiba berhembus, menganggu aliran sungai yang tenang. Cahaya matahari yang hangat siang itu, menyorot menembus beningnya air. Terlihat wajah wanita paruh baya itu melotot dengan matanya yang menghitam. Melihat peristiwa itu aku tersenyum simpul. Aku baru sadar bahwa kini aku tidak takut lagi dengan mayat. Terimakasih.


__ADS_2