Kaku Mayat

Kaku Mayat
Mayat Kedua


__ADS_3

Setelah mandi dan berberes, aku segera berangkat menuju puskesmas. Berbeda saat pertama kali berangkat ke pusksmas dulu, aku berangkat ke puskesmas saat sore menjelang malam hari. Jalanan gunung penuh batu yang menanjak itu, hanya diterangi lampu buatan masyarakat desa, yang ternyata kurang terang ketika petang menjelang. Kegelapan menyelimuti perjalananku setiap hari. Sebenarnya aku bukan orang yang penakut dengan hal-hal mistis. Namun semenjak peristiwa mengerikan itu, aku selalu berjalan cepat agar segera sampai. Tentu rasanya melelahkan, berjalan biasa saja sudah membuat nafas terengah-engah. Namun sore ini, sepertinya aku sudah mulai terbiasa.


Sesampainya di gerbang puskesmas aku melihat sebuah mobil ambulan asing dengan sirine yang menyala terparkir asal di samping pintu utama. Pintu supirnya dibiarkan terbuka dan tidak ada orang di kursi depan ambulan itu. Namun di bagian kap belakang yang terbuka, aku melihat ada seorang kakek tua terbaring lemas dan seorang perempuan muda yang sedang memegang tangannya sambil menangis. Beberapa kali kakek itu mengerang "Nduuk... Nduuk..." (Panggilan pada anak perempuan dalam bahasa jawa) dan berusaha menarik tangan perempuan itu mendekat. Isak tangis perempuan itu semakin menjadi. Aku tidak enak memandangi mereka, aku bergegas masuk kedalam puskesmas untuk mempersiapkan diri.


Di dekat ruang UGD, aku melihat Mas Joko sedang berdiskusi dengan supir ambulan. Sepertinya pasien ini bukan berasal dari desa ini. Melihatku baru datang, Mas Joko mempersilahkanku masuk. Aku menyapanya singkat dan segera naik ke lantai atas untuk berisap-siap.


Setelah menaruh tas di kamar tidur dokter aku bergegas turun dan menuju UGD. Namun aku sudah tidak melihat dua orang itu. Kemudian aku menoleh keluar, ambulan itu juga sudah tidak ada. Aku keluar puskesmas dan menoleh kesekitar, lho mana pasien tadi?


"Ada apa dok?" mas Joko tiba-tiba muncul ada disebelahku, membuatku kaget. Jantungku rasanya mau copot.


"Aduh, bikin kaget saja mas... Lho, pasien gawat tadi mana? Dibawa pergi lagi?"


"Pasienya sudah saya taruh belakang dok... barusan"


Jantungku rasanya berhenti sejenak. Badanku kaku sesaat, bulu kudukku bergidik ngeri. Aku menatap kosong mas Joko yang kini menyodorkan sebuah kertas berisi "Surat Kematian".


"Ini data-datanya semua dok... seperti biasa..."


Aku terkesiap menelan ludah "Oh... s-sudah... mati?" ucapku dengan terbata-bata.


"Iya... D-dok..." ucap mas Joko sedikit takut.


Namun aku lebih takut. Aku berani sumpah tadi kakek itu masih mengerang. Apa Mas Joko tidak melihatnya? Tanganku gemetar ketika meraih surat kematian itu. Aku dan mas Joko kemudian masuk kedalam puskesmas.


Aku masuk ke ruang periksa Dokter Denny dan mulai membaca kertas itu. Disitu tertulis data-data: nama Mbah Ngaminto, usia 67 tahun, asal desa... desa ini? Namun yang unik adalah tempat dia meninggal jauh di kota, aneh sekali. Dan di surat itu tertulis "Meninggal karena sakit jantung". Dibalik kertas itu terlampir juga foto kopi EKG (Electrocardiogram) atau rekaman jantung pasien.


Kakek ini benar-benar mati karena serangan jantung, ini bukan kasus kriminal. Aku lalu ingat kata-kata Mas Joko dan Dokter Denny, bahwa mayat yang kriminal maupun tidak, selama masih warga desa ini atau ber-KTP di desa ini, akan diletakkan di kamar mayat puskesmas kita, dan mendapatkan "Perlakukan" yang sama. Sepertinya kakek ini adalah warga asli desa ini yang tinggal di kota hingga akhir hayatnya. Mungkin kakek itu hendak dimakamkan disini oleh keluarga.


"Dok... nitip makan dok?"

__ADS_1


"Ha?"


"Dok... nitip gak? Saya mau beli makan ini..."


"Eh... Iya... Iya mas nitip mas... Nasigoreng biasanya ya..."


"Pedes yah?"


"Oh... iya mas..."


Aku mengacuhkan Mas Joko. Aku terlalu sibuk membolak-balik surat kematian itu. Sampai dimana aku tadi ya...oh keluarga! Ya, aneh sekali, biasanya ketika sanak sodara meninggal, kita pasti akan selalu disamping jenazahnya, mengurusinya, memandikannya hingga pemakaman. Tapi di desa ini tidak, mereka malah meningalkannya di kamar mayat ini, menengkoknya saja tidak. Mereka malah menunggu satu hari, baru kemudian dibawa pulang. Bila meninggal di pagi hari maka keluarga baru akan datang malam atau keeokan hari. Dan sebaliknya, bila meninggal di sore hari maka pagi atau siang keesoan harinya, baru diambil. Mengapa mereka melakukan itu, apa fungsinya menunggu satu hari? Dan kenapa harus kamar mayat puskesmas ini? Kenapa tidak dirumah mereka masing-masing saja?


Begitu juga perempuan tadi yang sepertinya adalah anak (atau cucu?) kakek ini. Mengapa dia ikut pergi dengan ambulan? Mengapa tidak menunggu disini? Ataukah dia sudah tau "Perlakukan" mayat-mayat disini? Apakah dia orang desa ini juga? Ahhh... aku lelah dengan semua pertanyaan dikepalaku.


Aku melempar kertas kematian itu ke atas meja. Aku capek berpikir terus! aku lapar! Seandanya saja mas Joko mau membelikan nasi... OH! Mas Joko sudah berangkat! Aku terlalu fokus tadi, aku baru ingat bahwa mas Joko keluar membelikanku nasi goreng. Aku bergegas berlari keluar, ah sial, dia sudah berangkat. Aku baru ingat bahwa aku mengiyakan tawaran nasi goreng pedas, padahal aku sama sekali tidak tahan pedas.


Aku kembali ke ruang periksa dan segera meraih handphoneku di meja. Segera aku menelepon handphone Mas Joko. Teleponku tersambung, namun aku bisa mendengar suara dering jadul khas handphonenya disekitar sini. Wah sial, Mas Joko lupa bawa handphone. Malam ini sepertinya aku akan sakit perut. Aku mengehela nafas kesal dan menaruh hapeku kembali di meja.


Teleponku tetap kubiarkan tersambung. Dan sama seperti malam mengerikan itu, aku kembali naik ke bed periksa, menempelkan telingaku ke tembok, dan mendengarkan dengan seksama. Aku mendengar dengan jelas suara dering handphone Mas Joko dari sana. Astaga! dia pasti meninggalkan handphonenya saat memindahkan mayat kakek itu.


Tiba-tiba suara dering handpone Mas joko mati. Aku segera turun dari bed dan meraih handphoneku. Anehnya panggilanku ke handphone mas Joko justru tersambung.


"Nduukk... Nduuukk..."


Sontak aku melempar handponeku ke lantai. Jantungku serasa dicengkram ketakutan, aku gemetaran sejadi-jadinya. Kemudian aku menoleh kearah tembok, dan dengan penuh ketakutan aku naik keatas bed lagi dan kembali menempelkan telingaku ke tembok. Kini aku bisa mendengar suara kakek itu dari dua arah, dari ruangan kamar mayat, dan dari handphoneku yang masih tersambung. Seketika Hawa dingin merambati seluruh saraf ditubuhku, jantungku berdetak semakin cepat, dan keringatku mulai bercucuran. Aku memejamkan mata, Tuhan aku takut sekali.


"Nduukk... Nduuukk... Kowe neng ndi (Kamu dimana?) Nduukk... Nduukk... NDDUUUUUKKK!!!!! KOWEE NENG NDIIIII!!!!!!!"


Aku berlari sekencang kencangnya keluar dari ruangan, sambil berteriak ketakutan. Benarkan apa yang aku duga, MAYAT ITU HIDUP LAGI!! Aku berlari hingga keluar puskesmas.

__ADS_1


Ditengah gelapnya malam saat itu, aku terus berlari ketakutan, melewati tembok puskesmas hingga hampir ditabrak motor Mas Joko yang melintas. Ia datang membawa nasi goreng.


"Dok? ada apa?" Ucapnya panik.


"KAKEKNYA MASIH HIDUP MAS!!!!" Aku membentaknya dengan keras.


Mas Joko tidak tampak bingung, justru wajahnya berubah ketakutan.


"M... Mati dok... Sudah mati..."


"KALAU MATI KOK BISA NGOMONG MAS??!!"


Aku segera menarik tangan mas Joko –meninggalkan motornya yang masih menyala, terparkir di depan gerbang puskesmas- membawanya masuk ke dalam ruangan periksa. Saat masuk, teleponku masih tersambung, dan teriakan mayat itu masih bisa didengar jelas. Mas Joko langsung berubah pucat pasi ketika aku menyodorkan handponeku kearahnya.


"NIH... DENGAR SENDIRI??"


Mas Joko hanya tertunduk lesu dengan keringat bercucuran semakin banyak membanjiri wajahnya.


"BERARTI WAKTU MALAM ITU, MAYAT PEREMPUAN ITU JUGA HIDUP LAGI KAN?" Aku terus membentakknya. Aku begitu panik saat itu.


"S-Saya bisa jelaskan dok..."


Aku dan mas Joko bersitatap tegang. Ketakutan di wajah kami tidak bisa dibohongi lagi. Mayat itu terus berteriak histeris, mencari putrinya di telepon, sungguh mengerikan. Kali ini semuanya begitu jelas, aku menyaksikan, mendengarkan sendiri, dan Mas Joko juga tidak bisa menyangkalnya. MAYAT HIDUP!! Aku butuh penjelasan saat ini, penjelasan yang logis, yang dapat membunuh ketakutanku.


Mas Joko menelan ludahnya dalam-dalam. Mulutnya bergetar, ia hendak mengucapkan sesuatu.


"Kutukan dok... Kutukan!"


 

__ADS_1


 


__ADS_2