Kaku Mayat

Kaku Mayat
Mayat Hidup!


__ADS_3

"Sudah 19 tahun dok sejak saat itu. Sampai sekarang, kadang saya juga merinding kalau melihat mayat dari desa ini"


Aku memperhatikan Mas Joko yang serius bercerita dengan mulut ternganga. Aku tidak habis pikir, hal seperti ini mungkin terjadi di zaman yang sudah modern ini. Kutukan? Ini diluar akal sehat, diluar logika manusia. Bukanya aku tidak percaya mistik atau hal yang gaib, namun aku tidak pernah membayangkan akan seperti ini. Tuhan... aku benci sekali mayat, tetapi sekarang aku menghadapi sesuatu yang lebih buruk daripada itu.


Aku menundudukkan wajahku, aku tidak menghiraukan Mas Joko yang sekarang makin melantur tidak jelas, bercerita tentang aku yang pingsan sehabis melihat mayat perempuan kemarin itu. Tak terasa, jas dokter yang aku kenakan basah dengan keringat, aku ketakutan sekali. Mas joko lalu pergi berlalu dari hadapanku, keluar ruang periksa. Badanku gemetaran, sekujur tubuhku serasa lemas tidak mampu berdiri. Aku akhirnya memilih untuk duduk di lantai. Berarti mayat perempuan yang saat itu aku lihat benar-benar hidup kembali. Begitu juga mayat kakek ini, semuanya sama persis seperti yang diceritakan Mas Joko. Semua ini diluar akal sehat ku, diluar semua teori-teori kedokteran yang pernah aku pelajari.


Aku masih bisa mendengar samar-samar suara "Nduuk... Nduuk.,." erangan mayat itu. Suaranya semakin pelan dan jarang, mayat itu mulai melemah. Sesekali suara itu tertutup oleh suara gemericik rantai besi yang saling bergesekan. Lho?

__ADS_1


"MAS! Yang bener aja?!" Aku bergegas berlari keluar puskesmas menuju kamar mayat. Mas Joko terlihat sedang berusaha melepaskan rantai besi kamar mayat itu.


"Ngambil hape dok..." ucapnya santai.


"B-Besok pagi aja lah mas!" Ucapku tergagap.


Ucapan Mas Joko itu membuat mataku terbelalak kaget. Aku tidak percaya ia akan melakukan hal senekat itu, seorang diri. Mas joko lalu membuka pintu kayu itu sebagian. Setelah mengintip sedikit kedalam ruangan ia bergegas masuk. Aku sebenarnya penasaran bagaimana rupa mayat itu, sehingga aku memutuskan untuk mengikutinya masuk. Setelah lampu dinyalakan aku melihat mayat kakek itu duduk memojok di lantai sambil menggenggam handpone dan menempelkannya ke telinga.

__ADS_1


Tak kehabisan akal, Mas Joko kemudian merobek salah satu kertas mantra jawa, yang menempel di balik pintu, lalu menggunakannya sebagai penjepit untuk mengambil handpone dari tangan mayat itu. Mayat itu hanya mengeram lemah tanpa bisa memberikan perlawanan. Mas joko menerangkan bahwa selama pintu tidak dibuka penuh, mayat tidak akan bisa kabur. Aku ingat malam itu aku membuka lebar pintu kamar mayat, sehingga mayat perempuan itu dapat bangun dan hampir mencekikku.


Aku mengamati dengan seksama mayat kakek itu. Matanya hitam, persis seperti mayat perempuan malam itu. Bedanya, dia tidak bertenaga, bahkan beberapa anggota geraknya sudah tidak bisa bergerak. Mungkin mayat ini sudah bangkit beberapa waktu lalu, sebelum datang ke puskesmas. Berarti anak perempuan yang menangis disebelanhya saat di ambulan tadi bukan menangisi kematiannya, tetapi menangisi kutukan desa pendosa yang menimpa kakek ini. Oh tuhan, bahkan mayat ini juga bisa mengangkat telepon.


 


 

__ADS_1


__ADS_2