
Aku tidak bisa tidur, aku masih tidak bisa terima dengan hal ini. Ya, aku sangat idealis. Ilmu yang diajarkan di forensik dulu tidak seperti ini. Tapi sisi pemalasku justru bersyukur, aku tidak perlu capek-capek melakukan visum. Setiap ada mayat yang dikirim kemari, aku hanya perlu menulis surat kematian sesuai keterangan saksi saja, tidak perlu memeriksa apapun. Polisi dan keluarga juga sudah paham mengenai hal ini, menurut mas Joko, kan? Selama ada kesepakatan antar pihak, pasti tidak akan ada tuntutan. Enak sekali, aku benar-benar makan gaji buta, haha. Aku berusaha menenangkan pikiranku, mencari alasan untuk berdamai dengan idealismeku.
Tetap saja, rasa kantukku belum bangkit. Mataku terus terbuka, tertuju pada jarum jam yang berdetik kearah angka 12. Sudah tengah malam. Aku berharap segera jam tujuh pagi, pasien dipuskesmas ini cukup sepi bila malam. Ya, pasienku daritadi cuma beberapa orang tua di sore hari dan perempuan yang meninggal itu. Meski dia pasienku namun dia tidak bernyawa, aku benci mayat. Aku masih tidak bisa tidur, padahal sudah tepat tengah malam.
'HOOOEEEEEEKKKKK"
Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang muntah dari lantai dasar. Wah, ada pasien malam-malam begini. Aku segera bangun dari kasur dan bergeges turun.
Sesampainya dibawah aku tidak melihat satu orang pun. Aku juga tidak melihat Mas Joko. Namun suara itu masih terdengar beberapa kali. Aku berusaha mengikuti sumber suara itu, sepertinya berasal dari ruang periksa Dokter Denny. Kemana sih Mas Joko?!
Aku bergegas masuk, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan sedikitpun. Justru Suara itu makin jelas terdengar jelas. Aku terkesiap, aku mensiagakan indraku. Nampaknya suara itu berasal dari arah tembok kiri dekat bed periksa, dari ruangan sebelah? Karena penasaran aku naik keatas bed dan menempelkan telingaku ke tembok. Tidak salah lagi, suaranya berasal dari ruangan sebelah... tunggu... ruangan sebelah adalah kamar mayat itu!
Seketika dingin menerkam badanku, darahku mendesir hingga ke ubun-ubun, dan jantungku berdetak begitu kencang. Aku masih tidak percaya, aku menempelkan telingaku sekali lagi, berusaha fokus mendengarkan dengan seksama. Namun suara muntahan bercampur batuk itu semakin keras terdengar. Aku segera berlari keluar dari ruang periksa, mencari Mas Joko. Perempuan itu masih hidup!
Aku menemukan Mas Joko tertidur pulas di UGD. Tidurnya pulas sekali, beberapa kali aku menggoyangkan badannya, tetap tidak membangunkannya. Benar-benar ya... perawatku satu ini... disaat genting begini... ia bahkan tidak dengar suara muntahan yang sangat keras itu.
Tanpa pikir panjang aku meraba sakunya, segera mencari kunci gembok itu. Sakunya kosong, aku mengumpat kesal. Mataku mengedar kesekitar, aku akhirnya menemukannya di atas meja periksa UGD. Segera aku menyambar kunci itu dan berlari keluar pukesmas menuju kamar mayat. Aku berlari sambil sedikit mengigil, udara pegunungan malam itu cukup dingin.
Kemudian aku membuka pintu kaca dengan tergesa-gesa. Lampu ruangan kosong itu masih menyala, meski cahayanya remang. Dengan bantuan cahaya itu juga, aku memilah-milah beberapa kunci yang teruntai jadi satu itu, mencari manakah kunci untuk gembok kamar mayat ini. Aku sedikit gugup karena suara perempuan itu terdengar semakin sering dan keras. Ia seperti berusaha memuntahkan sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya.
Aku mencoba memasukkan, kedalam lubang kunci, beberapa kunci yang menurutku sesuai. Setelah beberapa percobaan akhirnya gembok rantai itu terbuka. Suara besi dari kunci gembok dan rantai yang beradu, membuat suara muntahan wanita itu tiba-tiba berhenti.
"Mbak... sabar yaa... saya bukakan". Ucapku dengan sedikit gugup. Benar kan dugaanku! Seharusnya tadi di cek dahulu apakah benar-benar mati atau tidak. Bisa-bisa kami dituntut keluarganya kalau begini, gawat. Aku berusaha mengabaikan kecemasanku. Sekarang aku harus segera mengeluarkan perempuan itu. Aku bisa membayangkan wajahnya yang marah.
__ADS_1
Dengan terburu-buru, aku melepaskan belenggu rantai dari daun pintu. Setelah pintu dibuka, aku melihat perempuan itu duduk menghadap pintu, menundukkan kepalanya. Aku hanya bisa melihat bayangannya saja sekilas. Baru aku dapat melihat perempuan itu dengan jelas setelah aku menyalakan lampu.
"Mbak..." aku menegurnya pelan.
Perempuan itu tetap saja duduk tertunduk, rambut panjangnya terurai kebawah menutupi mukanya. Baju pink lengan pendek yang ia kenakannya membuatku dapat melihat banyak sekali lebam di lengannya.
"Mbak... maaf... ayo kedalam, tidur di ruang puskesmas saja, disini dingin..." Ucapku merayu dengan sedikit gugup.
Aku memberanikan diri menyentuk tangannya, tangannya kaku keras dan dingin seperti es, seperti may...
"AHHHHHHH!!" Aku melepaskan tanganku darinya.
Seketika perempuan itu bangkit dan menunjukkan wajahnya padaku. Wajahnya biru pucat, matanya hitam kelam, dan dari mulutnya menetes cairan putih. Ia berjalan menghampiriku sambil terus memuntahkan cairan putih dari mulutnya. Gerakannya patah-patah aneh, seperti boneka yang dipaksa digerakkan. Aku menjengit kaget. Tangannya yang penuh lebam itu berusaha meraihku, aku refleks, menampis uluran tangannya dengan kuat.
.....................................................................
Cahaya matahari bersinar terang dari jendela lantai dua itu. Panasnya menyorot kelopak mataku. Aku berusaha membuka mata, namun cahaya itu menyilaukan sekali. Aku hanya bisa memicingkan mata sambil merubah posisi tidurku ketempat yang tidak kena cahaya. Seketia dahiku nyeri seperti tersambar petir. Aku memicing, menahan nyeri, sebelum akhirnya mataku terbelalak kaget... loh aku di kamar?
Aku terbangun di kamar tidur dokter di lantai atas, apa yang terjadi? Aku mendongak kearah jam dinding, sudah pukul delapan pagi. Seketika Aku langsung ingat kejadian mengerikan semalam. Aku segera keluar dari kamar dokter dan turun kebawah.
Perempuan itu tidak mungkin hidup! Lebam mayat, kaku mayat, dan suhu tubuh yang sudah turun, itu jelas-jelas mayat! mayat hidup! Aku tidak salah lihat kan? Apakah aku berkhayal? Jantungku berdegup kencang seperti rombongan kuda yang tengah berlarian.
"Lho sudah bangun dok?"
__ADS_1
Aku terkesiap, seketika menghentikan langkahku "Eh sudah bu... hehe..." ucapku terbata-bata. Aku masih sedikit mengantuk.
Di bawah tangga ramp aku disambut oleh ibu laboran yang hendak naik ke lantai atas. Setelah bertegur sapa sebentar aku segera pergi dari hadapannya dan menuju keluar puskesmas.
Diluar aku disuguhkan pemandangan menyedihkan. Pak Badrun, Dokter Denny, dan seorang polisi sedang berdiri menyaksikan jenazah perempuan itu dimasukkan kedalam ambulan oleh Mas Joko dan beberapa orang laki-laki. Mayat itu terbungkus beberapa kain putih, dan ditandu menggunakan brankar UGD menuju ke sebuah mobil ambulan, yang sudah menanti di gerbang puskesmas.
Tanpa menghiraukan yang sedang terjadi aku berlari menghampiri. Mereka berempat terkejut melihatku berlari menuju ambulan itu, dan menghampiri mayat itu. Mas Joko dan beberapa orang -yang ternyata keluarga dari perempuan itu- terkaget-kaget ketika aku berusaha membuka kain penutup wajahnya. Aku benar-benar harus memastikan apakah benar yang aku lihat semalam itu nyata. Pucat di wajahnya persis seperti semalam, hanya tidak ada lagi carian putih yang menetes. Aku tidak puas, aku membuka kain penutup yang menutupi badannya. Aku mengamati lengan mayat itu, sebelum akhirnya Mas Joko menghentikanku.
"Dok maaf... jangan dibuka dok... sudah mau disemayamkan" ucapnya sambil menahan tanganku.
Aku menatap Mas Joko dengan penuh ketakutan. Keluarga lain, yang tidak ikut mengangkat mayat itu, melotot melihat perbuatanku tadi.
"Dokter Sultan... ada apa dok?" Pak Badrun, Dokter Denny dan polisi itu datang mendekat, setelah melihat perbuatanku tadi Aku sudah mengagetkan semua orang.
"Emm... N-nggak papa dok... hehe... maaf pak... bu..." akupun kembali menutup badan dan muka mayat itu dengan kain, kemudian pergi menjauh dari kerumunan.
Aku tidak bisa membendung rasa takutku, wajahku pucat pasi. Takut, cemas, dan bingung semuanya menyergap secara tiba-tiba. Aku berlari masuk kembali ke puskesmas dan duduk di kursi tunggu pasien. Tak berapa lama, Dokter Denny dan Mas Joko datang menghampiriku. Mereka nampak khawatir, aku hanya menatap mereka sambil terus menahan gemetar di badanku.
Dokter Denny kemudian menjelaskan padaku mengenai prosedur puskesmas ini dalam penanganan jenazah. Memang seperti itu adanya, mayat yang datang segera dimasukkan kedalam kamar jenazah dan dikunci. Kemudian satu hari atau setengah hari berikutnya baru dilanjutkan proses pengurusan jenazahnya dengan polisi. Dan kamar mayat yang terkunci rantai besi itu dikhususkan untuk warga desa ini saja, mayat yang bukan dari desa ini tidak diperkenankan menggunakan fasilitas kamar mayat. Dokter Denny membenarkan cerita aneh mas Joko semalam. Aku hanya tertunduk pucat. Mereka terus menjelaskan padaku dengan wajah takut dan khawatir, meyakinkanku bahwa prosedur itu tidak salah. Polisi bahkan sudah menerima dan membaca laporan kematian yang aku tulis semalam. Menurut mereka polisi sama sekali tidak butuh laporan itu.
Aku hanya bisa mengangguk. Aku begitu ketakutan, darahku berdesir hebat dari ujung ke ujung, jantungku berdegup kencang sekali. Apa aku masih mengantuk ya? Aku bukannya tidak bisa menerima penjelasan mereka, aku hanya tidak bisa menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa aku melihat bekas genggaman tanganku di lengan mayat perempuan itu.
__ADS_1