
Beberapa bulan kemudian, ada seorang warga yang meninggal dunia karena suatu penyakit. Seperti biasa, warga hendak menguburkannya. Mereka semua sepertinya sudah lupa dengan kutukan Ki Bramanthoro, namun tidak dengan Dukun Jahat itu. Dukun jahat yang kini jadi satu-satunya dukun yang ada di desa itu, segera keluar dari gubuknya dan mendatangi rumah warga pertama yang meninggal setelah peristiwa itu. Sesampainya disana, ia mencegah warga untuk memakamkan.
Tanpa banyak menjelaskan pada warga dan keluarga jenazah, Dukun itu segera melakukan ritual. Beberapa dupa dibakar, lalu –dengan sesajen dan bunga-bunga- ia duduk bersila dan mulai melanturkan mantra-mantra jawa pada jenazah itu. Pak Kades dan semua warga bingung melihat tingkahnya yang ketakutan sekali, namun dukun itu tidak menggubris. Hanya ia saja yang tau, betapa mengerikannya sebuah kutukan, terlebih lagi Ki Bramanthoro ini sama saktinya dengannya. Kutukan ini tidak bisa dipandang sebelah mata.
Baru beberapa menit ritual dimulai, tiba-tiba mayat wanita itu membuka matanya. Mata, yang seharusnya sudah tidak bisa membuka lagi, itu terbuka dengan menampakkan warna hitam kelam diseluruh bola matanya. Dukun itu menjengit kaget, ia segera mengakhiri ritualnya dan meminta warga segera memakamkan jenazah ini. Warga tentu ngeri setengah mati, mayat itu membuka matanya dan melirik kesana kemari, mengamati orang-orang yang mengerumuninya. Tetapi karena dukun bersikeras, dengan penuh kekhawatiran, mereka akhirnya membopong mayat itu masuk kedalam keranda dan membawanya ke pemakaman.
Dalam perjalanan menuju pemakaman desa, tangan mayat itu keluar dan bergerak-gerak, berusaha meraih kepala warga yang menggotong kerandanya. Seluruh pengantar jenazah berteriak histeris. Namun dukun itu malah memarahi mereka agar mempercepat langkah menuju pemakaman. Ia terus membaca jampi-jampi, memantrai keranda mayat itu. Sesampainya di pemakaman, tentu, tidak ada yang berani membuka keranda mayat itu. Para penggotong sudah bisa merasakan mayat itu menghentak-hentak, menggeliat didalam. Dukun itu membentak warganya, yang penakut itu, dan menyuruh beberapa laki-laki untuk membuka keranda mayat itu.
Ketika keranda dibuka, mayat itu bergerak menggeliat setengah bangun, berusaha melepaskan diri dari kain pocong yang membalutnya. Matanya melotot kearah sekitar, mayat ini benar-benar hidup! Seorang lelaki, keluarga jenazah itu, menghampirinya dan memeluk erat istrinya, yang ia kira hidup lagi. Tetapi istrinya itu justru mengigit lehernya hingga robek. Lelaki itu menjerit kesakitan. Warga lain berusaha melepaskan gigitan mayat hidup itu, namun sepertinya sudah terlambat. Darahnya mengalir deras dari pembuluh darah lehernya, lelaki itu tewas ditempat.
Semua pengiring jenazah berteriak histeris melihat kejadian itu, beberapa bahkan kabur melarikan diri. Dukun itu segera merespon dengan memantrai mayat itu, namun tidak ada hasil. Segera ia memerintahkan untuk mengubur mayat ini segera. Warga pun dengan terpaksa menuruti, tentu mereka takut sekali menyentuh mayat itu. Mereka kemudian menumpahkan mayat itu dari kerandanya, melemparnya ke liang lahat dan segera menguburnya dengan tanah.
Setelah proses penguburan selesai, dukun itu terus memantrai nisannya. Usaha apapun yang ia lakukan sepertinya sia-sia. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya ia yang paham betul apa yang sedang terjadi. Kutukan Ki Bramanthoro menjadi kenyataan. Warga lain pastinya bingung bercampur panik atas apa yang terjadi. Namun dukun menenangkan mereka, dan menyuruh mereka untuk kembali kerumah masing-masing.
Teror sepertinya tidak berhenti disitu. Tengah malam, Pak Kades dibangunkan oleh beberapa warga yang ketakutan. Mereka mengaku melihat mayat berjalan –dengan terbalut kain kafan yang penuh tanah- di sekitar pemakaman. Pak Kades terperanjat kaget, ia segera pergi membangunkan Dukun itu, dan mengumpulkan beberapa warga. Sepertinya Dukun itu sudah bisa memprediksi hal ini akan terjadi, ia sudah bersiap-siap di gubuknya. Dan mereka semua beramai-ramai menuju pemakaman desa.
__ADS_1
Belum saja mereka sampai area pemakaman, mayat itu sudah menghadang mereka secara tiba-tiba dalam perjalanan. Mayat itu keluar dari salah satu rumah warga –yang penghuninya sudah dihabisi- lalu menyerang rombongan itu.
Beberapa warga tertusuk tepat di dada. Seharusnya tangan seorang wanita paruh baya tidak sekuat itu, terlebih lag seharusnya ia sudah tidak bisa bergerak sejak beberapa jam yang lalu. Warga lainnya berlarian kabur. Pak kades dan beberapa warga berhasil menyelamatkan diri, dan hanya Dukun itu yang berani menghadapinya. Ia melempar beberapa mantra jawa yang sepertinya efektif melumpuhkan mayat itu, mengikatnya dengan semacam kekuatan hitam. Mayat itu meronta-ronta dengan tenaga yang cukup kuat, tetapi Dukun itu terus menghujaninya dengan mantra-mantra yang sama. Setelah benar-benar tersungkur ke tanah, warga baru berani mengamankan mayat itu, mengikatnya, dan membawanya menuju ke rumah dukun, sesuai perintah.
Disana warga segera memasukkan mayat itu kedalam rumah gubuk milik Dukun itu. Seolah sudah tahu apa yang akan dilakukan, Dukun itu segera menuliskan mantra dalam aksara jawa dengan darah dari jarinya sendiri, di beberapa kertas buram coklat, dan menempelkannya diseluruh tubuh mayat itu. Ia juga menempelkan kertas itu di balik pintu gubuknya, lalu menguncinya rapat-rapat. Rencana Dukun itu adalah dengan mengurung mayat hidup itu didalam rumahnya sendiri yang telah dimantrai. Ketakutan di wajah mereka sedikit berkurang, sepertinya rencana ini berhasil. Mayat itu terkurung di dalam rumah, tidak bisa melarikan diri. Bahkan dari ikatan tali tambang dan tempelan kertas mantra itu saja tidak bisa. Meskipun begitu, mereka masih bisa mendengar suara geraman mayat itu, berteriak kesakitan, menghentak hentak lantai kayu gubuk tua itu.
Baru saja mereka menghela nafas, beberapa warga lain tiba-tiba datang menghampiri dengan terbirit-birit. Mereka melapor bahwa penduduk desa yang mati dibunuh mayat hidup itu mulai membuka matanya, bahkan beberapa ada yang sudah bergerak-gerak menggeliat. Sepertinya segera setelah mayat perempuan paruh baya itu bangkit dari kuburnya, ia sudah membunuh beberapa warga di sekitar pemakaman. Dan kini, korban-korban itu mulai bangkit juga karena kutukan Ki Bramanthoro. Benar saja, mereka juga warga desa ini, kutukan itu juga berlaku untuk mereka.
Dukun itu menggeram emosi, ia segera memerintahkan warga untuk membawa semua warga desa yang meninggal malam itu untuk dibawa dan dimasukkan kedalam rumahnya. Malam itu jumlah korban mencapai 20 orang lebih. Itu adalah malam berdarah yang tidak akan pernah dilupakan seluruh warga, termasuk Mas Joko kecil. Padahal ia hanya berniat untuk mengikuti kerumunan warga yang berlarian malam-malam. Namun karena itu juga, ia nyaris jadi korban.
Keesokan paginya, Dukun itu memberanikan diri mengecek rumahnya, yang kini berisi oleh puluhan mayat hidup. Wajahnya pucat kelelahan, dicekam ketakutan karena terror puluhan mayat hidup itu. Begitu juga wajah Pak Kades dan beberapa warga yang ikut berjaga semalaman, menjaga rumah Dukun itu, memastikan agar tidak ada mayat yang meloloskan diri. Tentu saja mereka semalaman tidak bisa tidur. Suara teriakan menjerit mayat-mayat itu –akibat terkena kertas mantra- menggema di otak mereka hingga pagi ini. Namun, suara-suara itu sudah tidak terdengar lagi ketika dukun itu membuka pintu rumahnya.
Mayat wanita itu sudah tidak bergerak lagi. Namun beberapa mayat warga masih ada yang bergerak, bahkan masih ada yang mencoba berlari menyerang segera setelah Dukun itu membuka pintu rumahnya. Dukun itu refleks segera menutup lagi pintunya rapat-rapat. Sepertinya mantra yang ada dibalik pintu itu mujarab untuk menahan mereka -meski ia kekurangan kertas dan darah lagi untuk mengikat beberapa mayat hidup itu. Kemudian mereka semua kembali menunggu seharian lagi. Dan keesokan harinya, tidak ada lagi mayat yang bergerak.
Sepertinya masing-masing mereka hidup kembali hanya sekitar setengah hari, begitu kesimpulan dari Dukun itu setelah memastikan semua mayat didalam rumahnya benar-benar sudah mati. Benar-benar mengerikan, kutukan itu sungguh terjadi. Mereka, warga desa yang mati, bangkit kembali untuk kemudian mati lagi kedua kalinya. Iblis mana yang mampu melakukan hal semengerikan ini.
__ADS_1
Semenjak saat itu, setiap ada warga yang meninggal, karena sebab apapun dan dimanapun di bagian dunia ini, mereka akan mengalami nasib sama, seperti perempuan paruh baya itu dan warga-warga yang mati malam itu. Dan semenjak itu pula, Dukun jahat itu melakukan "Prosedur" itu. Mengunci mereka yang meninggal didalam rumahnya sendiri yang sudah dimantrai hingga mereka mati kembali, dan kemudian dikubur dengan layak.
.....................................................................
Tahun 1998 adalah awal pembangunan puskesmas di desa ini. Dokter Denny yang semula bertugas di luar pulau, dipindah-tugaskan di desa ini. Dokter Denny memang orang asli desa ini, ia menganggap pemerintah daerah baik sekali mau memindahkannya di desa kelahirannya. Tentu, pemerintah daerah punya maksud tersendiri.
Selama tiga tahun, peristiwa puluhan mayat yang hidup kembali, di desa ini, sudah terdengar hingga ke telinga mereka, pemerintah daerah (pemda) dan kepolisian. Penyebabnya adalah muncul peristiwa-peristiwa mayat warga yang bangkit lagi, tetapi diluar wilayah desa ini. Itu terjadi karena banyak warga desa yang merantau, tinggal di luar desa ini. Kemudian mereka meninggal dan kutukan itu terjadi di tempat tinggal mereka masing-masing. Hal ini menimbulkan masalah besar, menghebohkan penduduk di luar desa, bahkan hingga perkotaan. Beruntung, warga desa itu tidak banyak, dan wilayah rantauannya tidak terlalu jauh juga, sehingga isu kutukan itu tidak menyebar terlalu luas.
Awalanya pemerintah daerah dan polisi tidak percaya, namun ketika Dukun itu dan Pak Kades itu menunjukkan bukti –Seorang warga desa meninggal, lalu perwakilan Pemda mengunjunginya dan melihat sendiri warga itu hidup lagi- mereka berlarian ketakutan. Mereka lalu memasrahkan masalah ini pada Pak Kades dan Dukun itu. Karena tidak bisa terus menerus mengandalkan rumah kayu tua, Dukun itu dan Pak Kades kemudian mengusulkan agar dibangun sebuah bangunan khusus untuk menampung mayat-mayat itu. Pemda mengusulkan pembangunan sebuah puskesmas, karena mereka tidak mungkin membangun sebuah bangunan dengan alasan mengerikan dan aneh seperti itu. Tentu, Pemda juga berusaha menutupi masalah ini dari sorotan publik.
Setelah mengetahui kenyataan mengerikan ini, Dokter Denny mau tidak mau ikut membantu. Ia tidak bisa membiarkan kutukan irrasional, tidak logis, dan diluar ilmu kedokteran ini menghantui desa kelahirannya. Bersama pak Kades dan Dukun itu, mereka membuat sebuah ruangan khusus untuk menampung mayat-mayat desa itu. Tidak lupa mereka memantrai, dibalik pintunya, dan menguncinya rapat-rapat dengan rantai besi Mereka menamai ruangan itu "Kamar Mayat" agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dan bangunan itupun dijadikan sebuah puskesmas.
Dengan bantuan Pak Badrun, mereka berdua adalah tenaga medis pertama yang melakukan "prosedur" itu. "Prosedur" itu pertama kali dilakukan di puskesmas tahun 2000 setelah bangunan puskesmas jadi. Pemerintah setempat dan kepolisian mau tidak mau mengikuti, karena cara itu dianggap paling mudah dan aman. Cukup mengirim mayat yang diindentifikasi sebagai penduduk warga desa itu ke puskesmas "buatan" milik Dokter Denny, dan semuanya akan beres. Mereka tidak mau ambil repot, mereka juga takut dengan kekuatan gaib kutukan itu.
Sudah 19 tahun lebih sejak saat itu, dan hingga saat ini "Prosedur penanganan jenazah" itu masih terus dilakukan. Kutukan itu pun belum patah, dan masih berlanjut meneror warga desa ini.
__ADS_1