Kaku Mayat

Kaku Mayat
Kenangan


__ADS_3

Aku berjalan pelan, sambil memandang kesekitar. Udara pegunungan ini dari dulu memang tidak segar. Seolah gunung ini menolak memberikan hembusan sejuknya pada manusia-manusia pendosa di desa ini. Rumah-rumah pedesaan sederhana yang dulu berdiri tegak, kini terganti dengan rumah-rumah modern yang cukup padat. Entah sudah berapa tahun berlalu sejak terakhir aku kemari.


Aku berjalan menuju mobil rover hitam kebanggaanku, yang aku parkir pinggir jalanan curam ini. Jalanan curam yang sama, yang sering aku lewati untuk menuju puskesmas saat PTT dulu. Aku sedikit mengaduh, ketika sepatu pantofel hitamku menapak pada batuan yang tajam. Jalanan ini masih saja berbatu... ucapku mendengkus kesal. Padahal masih cukup jauh jarak untuk sampai ke mobilku. Sudah lama sekali, aku sudah tidak lagi terbiasa dengan jalanan curam ini.


Tetapi sekarang, warga desa sudah dengan leluasa menggunakan cara yang aku ajarkan itu. Menurut Pak Badrun, mereka sudah bisa melakukan "Penenggelaman Mayat" dengan mandiri. Metode itu bahkan sudah menjadi tradisi desa ini, apabila ada yang meninggal. Batu kali besar yang kami gunakan dulu kini sudah diperbanyak dan bahkan dibentuk kubus agar memudahkan saat diangkat.


Yang lebih mencengangkan lagi, anak kecil desa ini berani bermain-main dengan mayat hidup, yang berhasil merangkak keluar dari sungai setelah ditenggelamkan. Padahal dulu, kami beramai-ramai melakukan penenggelaman, bahkan sampai berjaga 24 jam dengan penuh ketakutan. Warga desa ini sepertinya sudah mulai berkembang. Tetapi ketika aku menyinggung tentang tabiat warga desa ini, wajah Pak Kades itu seketika menekuk sedih. Tabiat desa ini tidak berubah sama sekali.


Begitulah obrolan singkatku dengan Pak Badrun, seusai menemaniku memakamkan mayat tadi. Mayat laki-laki paruh baya –warga desa ini- yang meninggal di rumah sakit tempatku bekerja di kota. Mayat laki-laki itu bangkit dan sempat membuat keributan. Sebagai dokter Spesialis Forensik di rumah sakit itu, mau tidak mau aku harus terlibat. Dan memang, hanya aku saja, yang tahu, bagaimana cara mengatasi mayat hidup.

__ADS_1


Aku berhasil menyuntikkan obat pelemas otot, tepat ketika kaku mayatnya belum sempurna. Seandainya saja puskesmas desa ini bisa membeli obat pelemas otot dalam jumlah besar, maka tidak perlu lagi memakai metodeku itu. Tentu saja, Kemudian aku mengirim mayat itu kembali kemari, bersama dengan tim khusus –beberapa perawat dan polisi- yang sudah aku persiapkan.


Butuh waktu 6 jam perjalanan darat dari kota tempat kerjaku hingga kemari, dan banyak sekali ampoule obat penenang yang kami suntikkan pada mayat itu selama perjalanan. Sungguh perjalanan yang memelahkan. Sesampainya disini Pak Badrun -yang kini sudah begitu tua itu- menyambutku dan sudah mempersiapkan segalanya. Aku bersyukur, ketika sampai di desa ini, kaku mayatnya sudah berakhir, sehingga kami memutuskan untuk langsung memakamkannya saja.


Setelah prosesi pemakaman selesai, timku segera kembali ke kota, begitu juga aku, yang sedang berjalan menuju mobilku. Pak Badrun sebenarnya ingin menghantarkanku pulang, tetapi kaki-kaki tuanya sudah tidak sanggup lagi berjalan di jalanan curam berbatu ini. Ia juga sudah tidak lagi bekerja di puskesmas. Ah... bagaimana kabar puskesmasku itu sekarang.


Metode "Penenggelaman Mayat" dirasa efektif oleh warga desa dan pemerintah, dan mereka belajar untuk menerapkannya sendiri. Jadi mereka tidak lagi butuh dokter atau tenaga medis selain untuk pelayanan kesehatan biasa. Lagipula, dari dulu aku sudah curiga, desa itu terlalu kecil untuk dibangunkan puskesmas sendiri oleh pemerintah. Tentu saja, puskesmas "buatan" itu berdiri atas alasan tertentu.


Mendengar cerita tentang puskesmasku itu, aku mengurungkan niat untuk berkunjung kesana. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana bangunan puskesmas itu kini, pasti sangat terbengkalai dan mengerikan. Sebaiknya aku segera pulang saja... aku tidak mau berlama-lama disini. Kemudian aku mempercepat langkahku

__ADS_1


Selama berjalan menyusuri jalanan curam itu, pikiranku menjelajah liar. Dulu mereka mengatasi kutukan ini dengan membangun sebuah ruangan khusus yang dilapisi kertas mantra, dibungkus dengan label "Kamar mayat". 19 tahun kemudian, kami semua menyaksikan sendiri kamar mayat itu tidak selamanya mampu menahan kekuatan kutukan itu. "Tragedi Puskesmas" terjadi, tragedi yang hampir merenggut nyawaku. Kemudian, saat itu juga, aku menemukan metode ini. Aku hanya bisa berandai, sampai kapan caraku ini akan bertahan?


Aku jadi teringat perkataan Dokter Denny dulu, kebaikan dan keburukan akan menemukan caranya kembali pada yang berbuat. Kutukan ini, seolah mencari jalannya kembali pada warga desa ini. Akankah suatu saat metodeku ini akan terpatahkan? Agaknya memang seperti itu.


Sebenarnya desa ini tidak membutuhkan dokter atau dukun, tidak membutuhkan kamar mayat yang dipenuhi kertas mantra, tidak membutuhkan cara-cara ampuh lainnya. Yang mereka butuhkan adalah kesadaran. Kesadaraan untuk berubah, menjadi lebih baik. Namun sepertinya, penduduk desa pendosa ini masih ingin tetap dijalan mereka.


Desa ini mengajarkanku banyak pelajaran berharga. Apa itu perbuatan keji, dosa, kutukan dan apa yang disebut sebagai karma. Meski mereka tidak menyadarinya, karma yang berwujud kutukan itu akan terus menghantui mereka. Memang, aku berhasil menolong mereka saat itu, aku membantu mereka mengatasi karma ini. Dan karena itulah, mereka merasa aman. Mereka kemudian memilih untuk terus melanjutkan kehidupan maksiat mereka hingga sekarang. Namun biarlah, kebaikan dan keburukan akan menemukan caranya kembali. Dan ketika keburukan itu kembali pada mereka, aku hanya bisa berharap aku tidak berada ditengah-tengah mereka, seperti hari itu. Benar juga... aku harus bergegas pergi dari desa ini...


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2