
Sesampainya di lantai atas aku melihat pintu laboratorium sudah terbuka. Kakiku lemas seketika, aku memegang kedua kepalaku dengan penuh penyesalan. Mas Joko sudah mati, badannya tercabik-cabik, darah berceceran di lantai. Kakiku semakin lemas, hingga membuat lututku menyentuh lantai. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku gagal menyelamatkan Mas Joko. Semua rekanku sudah mati, sekarang tinggal aku sendiri.
Aku merangkak pelan menghampiri mayat Mas Joko. Sambil terus terisak, aku berusaha mencari Handphonenya. Handphone yang nada deringnya begitu menyebalkan itu, berada di saku celananya. Aku mengambil handphone itu dan segera menelepon Pak Kades.
Teleponku tidak diangkat, aku merintih kesal. Aku meneleponnya berkali-kali, tetap tidak ada jawaban. Pasti Pak Kades tertidur pulas, aku harus mencari nomor lain yang bisa dihubungi. Ketika aku sibuk menjelajah nomor kontak di Handphone Mas Joko, aku mendengar suara langkah kaki yang menaiki tangga dengan kaku.
__ADS_1
Aku menoleh kebelakang dan hendak bangkit namun kali ini ayunan pisau itu, berhasil menusuk bahuku. Tanpa aku sadari, mayat itu sudah berada dibelakangku, berhasil menikamku. Seketika aku menjerit kesakitan dan jatuh tersungkur. Kemudian aku merangkak panik kepojok ruangan, sambil terus memegangi pundak kiriku yang tertancap pisau. Ternyata ditusuk itu sakit sekali, darahku menetes membasahi jas dokterku, yang kini berubah warna menjadi merah.
Lalu aku mengeluarkan pistol –milik rekan Pak Hendra yang aku pungut tadi- dan membidik mayat itu. Kali ini aku tidak ragu menarik pelatuknya, meski tanganku bergemetar. Tetapi tidak ada peluru yang keluar. Brengsek! Pistol ini tidak ada pelurunya. Aku melempar pistol itu dengan putus asa, kearah wajah menggantung mayat itu. Mayat itu bergerak semakin mendekat, dengan sedikit limbung. Aku tidak punya senjata lain selain pisau yang ia tancapkan di bahuku ini.
Dari dulu aku benci mayat, aku selalu takut dengan mereka. Terlebih mayat hidup yang bisa berjalan seperti ini. Tetapi kali ini aku mengumpulkan keberanianku untuk melawan. Mayat itu menerjangku. Aku melindungi wajahku dengan tangan kiriku. Aku membiarkan tangan kiriku itu digigit olehnya. Kemudian, aku mencabut pisau itu dari bahu kiriku, lalu kugunakan untuk menusuk bola matanya. Aku menusuk-nusuk kedua mata hitamnya itu, dengan penuh amarah. Aku ingin ia merasakan apa yang anak perempuanya, mas Joko, Pak Hendra dan polisi itu rasakan. Rasa sakit ditusuk tepat di bola mata! Senyum menyeringai tergores diwajahku. Aku begitu puas menancap-nancapkan pisau ke wajahnya. Mungkin perasaan ini juga yang dirasakan Bapak itu saat membunuh korban-korbannya.
__ADS_1
Aku melihatnya tergulung-gulung jatuh hingga ke lantai bawah. Kemudian, tetap saja, ia masih bisa bangkit. Ia berdiri dan berusaha meraba-raba sekitar. Keputusan tepat aku menusuk matanya, indra penglihatannya telah lumpuh. Mayat Bapak itu melangkah tanpa arah, justru akhirnya malah menjauh dari tangga. Dengan kondisi seperti itu, ia tidak akan mungkin lagi bisa naik kesini, aku mengembuskan nafas lega penuh syukur.
Akhirnya aku aman, mayat-mayat itu tidak bisa mengejarku lagi. Malam ini begitu mengerikan, aku kehilangan tiga orang sekaligus. Sungguh Shift malam yang melelahkan. Luka tusuk di bahu kiriku dan memar di bahu kananku kembali berdenyut nyeri. Aku lupa kalau aku pun juga sekarat. Kemudian aku berjalan terseok-seok menuju kamar dokter. Aku menutup pintunya dan menahannya dengan punggungku.
Aku lelah sekali, aku duduk dilantai sambil terus bersandar menahan pintu. Aku meluruskan kaki-kakiku yang lelah, dan meletakkan pisau itu dilantai. Teror ini membuatku kehabisan tenaga. Bahu kananku bengkak dan membiru, bahu kiriku terus mengeluarkan darah, belum lagi bekas gigitan di tangan kiriku. Aku memejamkan mataku, aku lemas sekali, sepertinya aku mulai kehabisan darah. Aku masih bisa mendengar suara mayat itu samar-samar berteriak, memukul-mukul dinding di lantai bawah.
__ADS_1
Aku sudah akan aman kan? Ya, kalau seandainya mayat itu bisa naik kemari, aku akan menikamnya lagi, pikirku. Aku bisa tidur sejenak kan? Aku lelah sekali tuhan. Tidak... aku mulai kehilang kesadaran. Tidak, tidak, tolong jangan tidur. Mata tolong janganlah memejam...