Kaku Mayat

Kaku Mayat
Kaku Mayat


__ADS_3

"Sekarang saya ingin bertanya pada adik-adik. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk muncul kaku mayat?"


"Dua jam dok!"


"Bagus sekali dokter Sultan. Bisa diterangkan ke teman-temanmu, apa saja yang kamu ketahui tentang kaku mayat?"


"Emm... setahu saya kaku mayat dimulai dua jam setelah kematian, diawali dengan kelopak mata terlebih dahulu sebagai otot terkecil di tubuh, kemudian keseluruhan otot tubuh akan kaku setelah 6 jam, dan selama 12 jam kemudian kaku mayat akan dipertahankan, lalu kemudian pembusukan dimulai"


"Sempurna haha... memang kaku mayat akan selalu muncul, sebagai salah satu dari tiga tanda pasti kematian. Namun adik-adik, kadang ada mayat yang tidak menujukkan kaku mayat... Itu adalah mayat yang menga..."


"Dok... Dok... Nak Dokter... bangun nak..."

__ADS_1


Cahaya matahari menyorot mataku. Aku membuka mataku dengan berat, silau sekali. Eh siapa yang membangunkanku? Aku melihat samar-samar wajah seorang ibu tua yang menatapku cemas. Oh Bu Kades!


Aku mendapati diriku tertidur di kamar dokter. Terlihat Bu kades memperhatikanku dengan khawatir, bersama dengan beberapa pemuda desa yang tengah merawat lukaku. Aku selamat!


Aku berusaha bangun, namun kepalaku pusing sekali. Aku hanya bisa terkapar pasrah ketika bu Kades merawat lukaku. Saat itu pagi menjelang siang, cahaya matahari cukup menyilaukanku, menyorot dari jendela kamar dokter, berapa lama aku sudah tertidur? Yang aku ingat terakhir aku bersembunyi di kamar dokter. Oh bagaimana dengan mayat-mayat itu?


Kali ini aku menguatkan diriku untuk bangkit. Meski nyeri, –Bu Kades juga menghalangiku- aku tetap bangkit dari kasur dan menuju jendela. Aku menoleh kebawah, kearah lapangan puskesmas. Disana aku melihat beberapa warga yang tengah memeganggi mayat bapak itu dengan tali tambang. Mayat itu sudah tidak berkepala lagi, seseorang pasti sudah memenggalnya. Meski puluhan warga mengikat kedua tangan-kakinya dengan tali –lalu menjatuhkan badannya ke tanah beramai-ramai- mayat itu terus melawan dan meronta-ronta, meski gerakannya kini begitu lemah. Tentu saja, sudah hampir lewat 12 jam dari kematiannya. Sepertinya mayat itu sudah teratasi. Oh bagaimana dengan mayat anak perempuannya?


Dugaanku tepat... Semua ini berhubungan dengan kaku mayat. Kutukan ini bekerja saat rigor mortis terjadi di tubuh jenazah. Kaku mayat diawali di otot kelopak mata yang kaku, oleh karena itu setiap ada mayat yang mati selalu ditutup kedua matanya. Hal ini sesuai dengan cerita mas Joko tentang kejadian mayat hidup pertama di desa ini. Mata mayat ibu itu terbuka, dan tidak bisa ditutup. Kemudian kekakuan mayat dimulai 2 jam sejak kematian, ini sesuai dengan semua mayat yang pernah aku temui dan aku ceritakan. Mayat Perempuan bunuh diri, mayat Kakek tua yang menelepon, mayat Bapak ini dan anaknya, serta Mayat-mayat lain yang diceritakan Mas Joko, mereka semua bangkit setelah kurang lebih 2 jam setelah mati. Semua ini berhubungan!


Hanya mayat bapak ini saja yang mengalami fase "bangkit" lebih awal. Itu disebabkan oleh Cadaveric spasme, yaitu kondisi dimana kaku mayat berlangsung lebih cepat dari biasanya. Biasanya Cadaveric spasme terjadi pada kematian yang didahului aktifitas fisik berat atau suhu yang tinggi. Mayat Bapak itu, setelah membunuh anaknya, ia kabur ke hutan dan kejar-kejaran dengan polisi. Bisa terbayang seberat apa aktifitas fisik yang diterima otot-ototnya. Proses Cadaveric spasme juga akhirnya mempercepat durasi kaku otot itu sendiri. Otot-otot mayat akan melemas lebih cepat daripada biasanya. Hal itulah yang menyebabkan aku bisa melawan balik Mayat Bapak itu semalam. Beruntungnya aku, kaku otonya berakhir dengan cepat karena Cadaveric spasme.

__ADS_1


Kaku otot ini didorong oleh semacam kekuatan hitam, sehingga mayat-mayat di desa ini dapat bergerak, ini adalah prinsip kutukan itu, menurutku. Pantas saja gerakan mereka kaku, dan kekuatan mereka berkali-kali lipat daripada saat hidup. Ya, tidak ada penjelasan yang lebih masuk akal daripada ini.


Dengan tertatih aku keluar dari kamar dokter dan bergegas menuruni tangga. Aku begitu tergesa-gesa karena di lapangan tadi aku melihat ada kakek-kakek tua yang mengenakan baju serba hitam, lengkap dengan kalung tengkorang dan keris di pinggangnya. Kakek itu tengah berbincang serius dengan Pak Kades. Aku harus menemui Dukun itu dan Pak Kades, aku harus ceritakan tentang teori kutukan ini pada keduanya.


Ketika sampai di mulut tangga, aku masih menyempatkan diri untuk menoleh kearah laboratorium. Wajahku meneku sedih, aku masih melihat mayat Mas Joko tergeletak disana. Sepertinya pemuda-pemuda desa itu belum memindahkannya.


Sesampainya diluar aku begitu kaget. Tidak hanya karena lebih banyak warga yang terlihat berdatangan, tetapi kehadiran polisi-polisi rekan Pak Hendra yang lain, ikut membantu mengamankan keadaan. Terlihat beberapa polisi bahu-membahu dengan warga mengikat seluruh badan mayat Bapak itu. Terlihat juga beberapa polisi yang memungut kepala mayat Bapak itu. Aku berani sumpah aku masih melihat kepala itu menggeram ketika dimasukkan kedalam kantung mayat. Kerumunan yang lain terlihat tengah sibuk memindahkan mayat anak perempuan itu kedalam kantung mayat lainnya.


Aku terus berjalan menghampiri mereka berdua, meski dengan terseok-seok. Sepertinya mereka mengobrol begitu serius sehingga tidak menyadari kehadiranku. Padahal warga lain begitu terkejut melihat kondisiku yang penuh luka, berjalan di tengah lapangan. Aku memberanikan diri menyapa, memotong obrolan serius mereka. Sontak mereka berdua terkaget, melihat orang yang sesekarat ini mampu berjalan dari puskesmas hingga mendekat ke depan mobil ambulan polisi, tempat mereka berdua mengobrol.


Dukun tua itu, dengan wajah penuh luka akibat kejadian 19 tahun yang lalu, menyapaku ramah. Dukun itu juga termasuk salah satu orang yang menyelamatkanku. Melalui penerawangannya, ia merasakan hal gaib terjadi tadi malam. Dukun itu kemudian menghampiri Pak Kades, yang juga sudah khawatir mendapat miscall singkat dari handphoneku dini hari. Kemudian ditemani beberapa warga, mereka pergi menuju puskesmas saat subuh. Mereka kemudian memanggil lebih banyak warga, setelah mencium bau darah dari puskesmas.

__ADS_1


Mereka semua telah menyelamatkanku, warga desa pendosa, yang 19 tahun lalu membunuh dukun baik itu, dan memulai kutukan ini. Aku tahu mereka orang jahat, tetapi mereka sudah menyelamatkanku kali ini. Aku kemudian mulai menjelaskan pada Dukun itu dan Pak kades, pandanganku tentang prinsip kutukan ini, tentang kaku mayat, dan beberapa ide untuk mengatasinya.


__ADS_2