
Tok tok tok
Tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamar dokter diketuk. Dengan malas aku bangun, membuka mataku yang berat ini, merentangkan kaki dan tanganku. Lalu aku duduk di pinggir kasur dan melirik jam tangan. Oh sudah jam 6 sore, aku tertidur pulas sekali. Meski hawa kamar ini kurang begitu sejuk, tapi tidak begitu panas juga. Ditambah lagi kasur yang empuk. Kalau seperti ini, bisa sampai pagi aku tidur. Aku sangat puas dengan tempat kerja PTT ku ini, jobdesknya ringan, fasilitasnya cukup lengkap dan nyaman. Sepertinya, aku betah setahun disini.
"Dok maaf dok ada pasien." Seorang laki-laki muda membuka pintu kamarku, memecah lamunanku tadi.
"Oh... iya mas..." ucapku sedikit kaget
Karena terlalu asik melamun aku sampai lupa membukakan pintu. Laki-laki ini adalah perawat Shift malam, menggantikan Pak Badrun yang bekerja Shift pagi tadi. Namanya Joko, dia memperkenalkan diri dengan sopan. Sorot matanya bulat polos, dengan hidung landai dan bibir kecil melengkapi wajah lugunya. Rambutnya pendek tersisir rapi, dengan badan yang kecil kurus. Ia menjulurkan tanganya, dengan malu-malu.
Aku memanggilnya mas Joko karena menurutku dia sedikit lebih tua dariku. Dan sama seperti Dokter Denny dan Pak Badrun, ia juga orang asli desa ini. Kami berdua kemudian keluar kamar dan turun menuju lantai bawah.
Sepertinya Dokter Denny dan pegawai pagi lainnya sudah pulang sejak jam 2 siang. Memang, mereka sudah terlalu tua untuk berjaga 12jam, aku juga sudah memperkirakan ini. Mas Joko -sebagai perawat malam- ditugaskan dari jam 3sore hingga esok pagi setiap harinya. Mengingat fasilitas laboratorium hanya tersedia saat pagi hari, –menurut penjelasan Dokter Denny- hal ini berarti hanya kita berdua saja yang ada dipuskesmas ini hingga esok pagi.
Aku tidak kaget, memang begitulah fasilitas kesehatan didaerah terpencil yang kurang SDM seperti ini, terkadang tidak ada dokter yang melayani. Sesampainya di lantai bawah aku disambut oleh beberapa pasien. Segera aku masuk ke ruang periksa Dokter Denny, dan memulai pelayanan. Tidak apa-apa meski sebenarnya jam jagaku belum dimulai, pasien yang datang tetap aku layani, karena memang itu sumpah dokter kami. Lagipula nanti malam aku bisa bersantai-santai sampai pagi bila tidak ada pasien.
Mas Joko orangnya kikuk sekali. Berkali-kali aku melihatnya gugup saat membantuku memeriksa pasien. Mungkin ia baru saja lulus sekolah perawat? Tidak mungkin, aku merasa usianya 5-6 tahun lebih tua dariku. Agaknya, memang Mas Joko kikuk dari lahir. Ia sesekali terlihat salah tingkah saat memberikan obat pada pasien, atau melakukan suntikan. Karena gemas, terkadang beberapa pasien aku suntik sendiri.
Setelah pasien berakhir, Mas Joko menghembuskan nafas lega, sambil mengucapkan Alhamdullillah. Aku tertawa kecil sambil mengikuti ucapannya. Lalu ia tiba-tiba mengajakku ngobrol akrab, seolah-olah dia sudah mengenalku sejak lama. Aku tidak keberatan, mungkin itu cara orang-orang kikuk untuk berinteraksi. Lagipula ia adalah partner jagaku semalam ini, dan selama satu tahun kedepan, jadi aku harus terbiasa. Aku menerima ajakannya untuk duduk-duduk dan menonton TV di kursi tunggu pasien.
__ADS_1
Kedua kakiku aku selonjorkan di kursi tunggu pasien, kemudian aku merebahkan pungguku di salah satu pilar ruangan ini yang berdepentan dengan kursi panjang silver itu. Lalu dengan penuh kegirangan aku membuka handphoneku dan memainkan game. Aku mengacuhkan Mas Joko yang daritadi berceloteh kesana-kemari tidak jelas, menceritakan tentang dirinya dan desa ini. Benar-benar asyik, kalau "aman" dari pasien seperti ini terus, aku bisa main game hingga pagi.
Tapi sepertinya itu hanya angan-angan. Sekitar pukul 7 malam, tiba-tiba aku mendengar suara beberapa motor dari depan. Aku dan Mas Joko yang masih menonton TV, terbirit-birit keluar. Ada enam orang yang datang, beberapa muda-mudi laki-laki dan perempuan dengan wajah ketakutan. Mereka tampak panik, wajah mereka disergap ketakutan seperti habis melihat setan. Salah satu pemuda terlihat menangis sambil menggendong teman perempuannya yang terbujur kaku dengan busa putih dimulutnya.
"Sudah nggak ada pak..." Ucap pemuda itu terisak.
Tanpa pikir panjang aku berbalik badan, berniat menuju ke UGD, untuk mengambil bed. Namun tangan mas Joko menahan pundakku.
"S-Sudah mati dari jam berapa?!" ucap mas Joko sedikit gugup.
Anak-anak muda itu tampak bingung. Begitu juga aku, kenapa tidak langsung dilakukan penanganan? Aku berusaha berbicara pada mas Joko tapi sepertinya dia tidak menggubris.
"Hasshh kalian itu...Sudah ayo dibawa kebelakang" Mas Joko mendengkus kesal.
Ia kemudian mengarahkan mereka semua menuju sisi kiri puskesmas. Aku hanya melongo kebingungan, melihat mereka semua pergi meninggalkanku sendiri dipintu depan. Aku bingung, apakah aku harus mengambil bed UGD atau mengikuti mereka. Kok pasien langsung dinyatakan meninggal? Kok tidak diperiksa dulu? Terus mau dibawa kemana? Terlalu banyak pertanyaan berkecamuk di kepalaku. Ah sebaiknya aku ikuti saja mereka.
Mereka semua menuju sisi kiri bangunan puskesmas, tepatnya menuju ke ruangan kosong dengan pintu kaca yang tadi pagi aku datangi. Dengan cepat Mas Joko segera membuka pintu kaca dan menyuruh mereka semua masuk, termasuk aku. Kemudian ia langsung menghadap pintu kayu berantai besi itu. Mas Joko mengeluarkan sekumpulan kunci dari sakunya, lalu membuka gembok besi. Setelah gembok terlepas, ia mulai melepas rantai besi yang membelenggu dua daun pintu kayu itu. Setelah rantai lepas, ia buru-buru membuka pintu kayu. Seketika bau aneh menusuk hidungku, aroma aneh yang aku kenal dengan baik, aroma yang pernah aku rasakan dulu ketika Dokter Muda, ini kamar mayat!
Setelah Mas Joko menyalakan lampu kamar itu, barulah aku benar-benar yakin. Puskesmas ini punya kamar mayat sendiri? Disana aku melihat ada tiga bed besi jenazah lengkap dengan saluran drainase cairan, untuk memandikan jenazah, di sudut bawah bed. Segera mas Joko dan pemuda itu menidurkan mayat temanya di salah satu bed itu. Sepertinya teman yang lain tidak berani masuk ruangan, dan mereka menatapku heran ketika aku masuk.
__ADS_1
Aku bingung, aku hendak membantu mas Joko, tetapi aku sendiri masih terheran-heran. Aku tidak menyangka bahwa ruangan yang tadi pagi hendak aku masuki adalah kamar mayat. Lalu apa alasan ruangan ini dirantai? Mataku menjelajah ruangan itu, aku melihat sekotak Handscoen di sebuah lemari kayu tua. Aku segera mengambil dan memakainya, aku hendak melakukan Visum Jenazah. Sial, Visum lagi... Visum lagi...
"Nanti saja dok diperiksannya..." ucap Mas Joko menyela, ketika aku hendak mengecek bola mata mayat itu.
Aku mengernyit menatap Mas Joko yang sibuk memposisikan badan mayat itu. Wajah Mas Joko terlihat serius dan tegang. Aku sendiri terlihat kebingungan, masih tidak percaya bahwa perempuan ini sudah meninggal. Sebenarnya aku hendak mengecek kondisi pupil matanya, dan mungkin lebam mayat atau tanda kematian lain. Namun mas Joko keburu mengusir kami keluar.
Aku terpaksa mengikuti apa yang ia suruh, aku tidak paham sama sekali. Dan keanehan ini bertambah ketika aku berjalan keluar. Dibalik dua pintu kayu tadi terdapat kertas-kertas coklat tua bertuliskan aksara jawa. Kertas itu menempel di keseluruhan pintu, bakhan ada yang menutupi daun pintunya, apa-apaan ini. Tangan ku tidak dapat menahan rasa penasaran untuk menyentuh kertas-kertas itu, namun mas Joko, lagi-lagi menggagalkannya. Ia menahan tanganku, menarikku keluar ruangan dan segera menutup dan merantai kembali kamar mayat itu.
Kami kemudian kembali masuk kedalam puskesmas dari pintu depan. Aku ingin bertanya banyak hal pada Mas Joko, namun tidak didepan mereka. Anak-anak muda ini terlihat terima-terima saja ketika mayat temannya dimasukkan kedalam kamar mayat, kemudian dikunci rapat dengan rantai. Mereka justru nampak lega daripada sebelumnya. Kami semua lalu masuk kedalam ruang periksa Dokter Denny. Kemudian Mas Joko segera mengambil sebuah kertas borang dari laci, dan mulai bertanya kronologis kematian perempuan muda itu. Mas Joko sepertinya sudah terbiasa dengan hal ini. Ia justru tidak terlihat gugup sama sekali, tidak seperti tadi. Aku hanya bisa bersandar di pintu ruang periksa itu sambil mendengarkan keterangan pemuda-pemudi desa ini.
Perempuan itu mati sekitar pukul enam sore tadi karena keracuan, itu yang bisa aku simpulkan dengan jelas. Bukan Overdosis obat, melainkan minum cairan serangga, menurut teman-temannya. Sepertinya ada permasalahan asmara, sehingga perempuan itu nekat menenggak satu botol obat nyamuk di depan mereka ketika nongkrong, gila. Namun tetap saja, untuk memastikan semua ini harus dilakukan visum dan analisa cairan dari mulut mayat. Memastikan apakah benar cairan itu obat nyamuk atau bukan. Kemudian polisi harus dilibatkan, kita tidak tahu apakah cerita mereka benar, bagaimana jika perempuan itu dipaksa minum, atau diminumkan secara sengaja. Itulah ide-ide yang ada dipikiranku, namun sepertinya pemikiran Mas Joko berbeda.
Setelah selesai mengisi borang itu, ia mempersilahkan mereka semua pulang. Aku dan Mas Joko mengantarkan mereka hingga pintu depan. Mataku mengernyit heran menatap pemuda-pemudi desa ini. Aku heran mengapa anak semuda mereka bisa melakukan hal mengerikan seperti ini. Ditambah lagi bau alkohol tercium pekat dari kaus mereka, bahkan yang perempuan juga.
Seusai mengamati mereka keluar puskesmas, aku segera mengarahkan pandanganku ke Mas Joko. Mataku melotot tajam, aku tidak lagi bisa membendung rasa penasaranku.
"Tenang dok... masuk dulu... saya jelaskan semuanya..."
__ADS_1