Kaku Mayat

Kaku Mayat
Melawan!


__ADS_3

Aku tidak tau sudah berapa lama aku bersembunyi. Disekitarku masih gelap gulita, udara pegunungan malam semakin dingin. Belum ada tanda-tanda atau suara mayat-mayat itu naik ke lantai atas. Sepertinya aku masih aman. Ya aman, tapi sampai kapan? Kalau aku bertahan disini hingga pagi aku mungkin sanggup, tapi bagaimana dengan Mas Joko? Lukanya Masih terbuka, darah pasti masih mengalir meski aku sudah menyuruh untuk membebat-tekan luka dengan bajunya. Darahnya akan habis semua bila dibiarkan terus. Sial, sudah berapa jam aku disini. Aku tidak pernah mengenakan jam tangan dan –aku baru teringat- Handphoneku kuletakkan di UGD ketika menjahit Pak Hendra tadi. Oh iya, bagaimana nasib Pak Hendra? Tiba-tiba air mataku menetes.


Aku menahan isak tangisku, mengecilkan suaranya. Namun justru hatiku semakin menjerit. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak berani turun dan mengecek Mas Joko, apa lagi turun ke lantai bawah. Aku memukul-mukul kepalaku sendiri sambil menangis. Dari dulu aku memang pengecut, penakut! Aku selalu mementingkan diriku sendiri. Sama seperti visum pertamaku dulu, aku kabur keluar dan tidak membantu teman-teman. Aku kemudian menjilat mereka dengan mengerjakan laporan ketiknya. Aku menyelamatkan diriku sendiri. Betapa rendahnya diriku, aku benci diriku yang tidak berguna ini.

__ADS_1


Takut itu wajar, tidak salah, yang salah adalah menjadi penakut. Maka dari itu kalian harus melawan rasa takut itu. Jangan pernah kalah dengan rasa takut.


Tiba-tiba kata-kata penyemangat dari dosen forensikku terlintas di pikiranku. Kata-kata yang aku pegang betul-betul saat Dokter Muda dulu, terutama ketika aku takut menghadapi mayat. Aku masih ingat, setelah hari itu aku selalu berusaha memberanikan diriku melakukan visum, dengan terus mengulang-ulang kata-kata itu didalam hatiku. Seolah-olah beliau ada disana, sedang menyemangatiku untuk melawan rasa takut ini. Aku kemudian teringat senyum hangatnya, yang selalu menemaniku selama stase forensik.

__ADS_1


Aku mencoba berfikir kembali, apa yang harus aku lakukan sekarang? Kata-kata dari dosenku itu membuat Pikiranku mengedar liar. Mayat yang bangun lagi setelah beberapa jam, itu diluar ilmu-ilmu forensik, ilmu Tanatologi yang beliau ajarkan. Mungkin aku memang sedang sial saja. Ada dua mayat yang dikirim polisi kemari, dan mayat Bapak itu bangun jauh lebih cepat daripada yang seharusnya. Seharunya mayat itu menggeliat-geliat dulu, tidak langsung berdiri dalam waktu beberapa menit saja. Tetapi mayat Bapak ini langsung berdiri, bahkan mampu mendobrak pintu yang dirantai, tidak seperti mayat-mayat lain.


Aku ingat cerita teman Pak Hendra yang kejar-kejaran dengan Bapak itu di hutan sebelum akhirnya ditembak mati, mungkin sesaat sebelum mati ototnya... T-tunggu dulu, Otot? Kekuatan mayat itu dua kali lipat lebih kuat daripada ketika hidup... Otot? Apakah semua ini Berhubungan dengan otot? Mayat yang bangkit setelah beberapa jam setelah kematian... bangkit perlahan dari tangan-kaki dahulu... ditunggu setengah hingga satu hari... Tanatology... OH!!

__ADS_1


Aku takut, ya aku sedang sangat amat takut saat ini, pikiranku melantur kesana kemari. Tetapi benar, aku tidak boleh menjadi seorang yang penakut. Meski setakut apapun aku harus tetap melawan, aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Mas Joko setidaknya. Seketika tangisku berhenti, aku memejamkan mata, memikirkan sebuah rencana. Tanganku mengepal kuat, Aku harus bertindak. Masih ada sesuatu yang bisa aku lakukan! Aku harus bertahan hidup


__ADS_2