
Fitri masih diruangan bosnya Reyhan, saat ini gadis itu sedang duduk berhadapan dengan pria tampan itu, dan jarak mereka hanya terhalang oleh meja yang ada didepan saja saat ini. Fitri benar-benar merasa bingung dengan pria yang ada didepannya saat ini, karna memanggilnya hanya karna urusan sepele
'' Dengar Fitri! bukankah sudah pernah saya bilang kalau bekerja itu tidak boleh saling ngobrol dengan sesama pegawai lain, tapi kenapa kamu melakukannya?'' ucap Rey dengan wajah kesal.
'' Pak, sebenarnya saya bukan bermaksud ngobrol saat itu, tapi saya hanya me--,,'' Fitri yang belum selesai menyelesaikan kalimatnya, Rey kembali memotong ucapan Fitri
'' Sebaiknya kamu kembali bekerja sekarang! dan ingat Fit, saya tidak mau lagi melihat kamu atau siapa pun itu ngobrol saat bekerja, karna semua ada jamnya.'' ucapnya datar membuat Fitri hanya bisa menghela nafas
'' Baik pak, apa saya sudah bisa keluar?'' ucapnya lagi, karna menurutnya sudah tidak ada lagi yang akan mereka bicarakan.
'' Apa sebegitunya kamu gk mau lihat wajah saya, sampai kamu ingin cepat-crpat keluar dari ruangan ini?'' ucapnya dengan nada sinis
'' Hah? maksud pak Rey apa? saya benar-benar tidak mengerti.' ucapnya
Ada apa sih dengan pak Rey, bukannya tadi dia menyuruhku keluar, lalu kenapa sekarang saat aku mau keluar, dia jadi marah.
Batin Fitri bingung, lain Fitri lain pula Reyhan, ia juga merutuki dirinya, kenapa dia harus marah pada gadis itu, pikirnya, toh mereka juga selam ini tidak ada hubungan apa-apa.
Ada apa denganku? kenapa aku malah marah pada Fitri? hanya karna melihatnya tertawa bersama pria lain? apa aku secemburu itu? sepertinya aku memang tidak bisa melihatnya dengan lelaki lain.
Batinnya larut dalam lamunan,
Pak Rey kenapa sih sikapnya aneh banget? masa hanya karna ngobrol sampai dipanggil seperti ini, aneh banget, atau jangan-jangan dia cemburu kali ya melihat aku bersama pria lain? ah tidak mungkin jangan mikir yang aneh-aneh kamu Fit, jangan berandai-andai hal yang tidak mungkin terjadi.
Batin Fitri
***
Sedangkan dirumah kediaman pak Ibnu dan Bu Utami terlihat dirumahnya Bu Utami sedang memasak didapurnya, wanita paruh baya tersebut terlihat sedang memasak semur ayam kecap, udang crispy, sup iga sapi dan masih ada beberapa makanan yang akan ia masak, terlihat wanita paruh baya itu sibuk dengan kegiatannya didapur dan beliau hanya seorang diri, tak ada satu menantu pun yang membantunya.
__ADS_1
'' Buk ibu mau masak semua ini?'' tanya Sultan, pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, namun saat melihat sang ibu sibuk didapur, ia pun akhirnya mendekatinya
'' Iya, ini makanan kesukaan kalian, jarang-jarang kita kumpul seperti ini, jadi apa salahnya kalau ibu memasaknya.'' jawabnya sambil tersenyum, Sultan hanya mengangguk, setelahnya ia pun kembali keruang depan meninggalkan sang ibu yang masih terlihat sibuk dengan aktivitasnya.
Sultan kembali duduk disamping istrinya yang saat itu terlihat sibuk dengan ponselnya, sedangkan Raja terlihat sedang bermanja dengan sang istri, sementara pak Ibnu sedang duduk diruang tv bersama cucu-cucunya, bermain untuk melepas rindu bersama kedua sang cucu, dan itu membuat lelaki paruh baya tersebut sangat lah bahagia.
'' Mayang.'' panggil Sultan pada sang istri
' Ada apa bang?'' jawabnya sambil terus memainkan ponsel miliknya
'' Kamu sedang apa?'' tanya nya membuat Mayang langsung menoleh kearah suaminya
'' Kamu kenapa sih bang? memangnya gk lihat kalau aku sedang main ponsel?'' ucap nya sambil menggelengkan kepalanya
'' Maksud abang, kalau gk penting-penting kali, mending kamu bantu ibu didapur, dia lagi masak, dan gk ada yang bantuin May.'' ucap Sultan membuat Mayang menatap tajam pada suaminya tersebut
'' Bang bukannya dari awal Abang ngajak aku kesini perjanjiannya aku gk akan mela--,''
Satu jam sudah Bu Utami berkutat didapur, namun tak ada satu menantunya pun yang mau membantunya saat ini, meskipun begitu, Bu Tami tak mempermasalahkannya, bagi nya adalah, yang terpenting saat ini dirinya dan suaminya bisa berkumpul bersama dengan anak-anak mereka. Dua puluh menit kemudian, terlihat Bu Utami sudah selesai dengan aktivitas memasak nya, dan saat ini wanita paruh baya tersebut sedang menata makanan diatas meja.
'' Akhirnya selesai juga.'' gumam nya pelan, setelah itu Bu Tami langsung menuju keruang tamu untuk mengajak anak-anaknya untuk makan siang, namun baru saja Bu Tami melangkah, tiba-tiba matanya melihat sebuah mobil yang tidak asing dipandangan nya.
'' Dinda? bukankah itu dinda?' ucapnya membuat semua orang menatap kearah, dengan langkah lebar, wanita paruh baya tersebut keluar untuk menyusul putrinya tersebut menuju halaman rumah.
'' Dinda kamu datang nak?'' ucapnya, sedangkan sang putri hanya tersenyum simpul menanggapinya.
'' Bu apa kabar?'' sambung Hendra yang langsung melangkah menuju Bu Tami mertuanya.
'' Baik nak Hendra, kamu apa kabar?''
__ADS_1
'' Baik Bu.' jawabnya
'' Yasudah ayo masuk! abang-abang kalian sudah ada didalam." ucap Bu Tami. Dan mereka pun langsung masuk kedalam rumah.
'' Wah tenyata abang-abang ku sudah pada sampai duluan ya?'' ucap Dinda begitu masuk kedalam rumah, dan melihat saudara-saudaranya sudah duduk santai didalam rumah kedua orangtua mereka.
'' Wah kebetulan yang tak terduga ya?'' sambung Deby pada sang adik ipar, Dinda hanya menanggapinya dengan senyuman.
'' Bagus dong, sini Din duduk disamping mba!" sambung Mayang yang sengaja membuat Deby merasa dongkol karna kedekatan keduanya.
'' Benar yang dikatakan Mayang, dan ibu sangat senang melihat kalian datang secara bersamaan benarkan pak?'' ucapnya pada sang suami, yang hanya ditanggapi pak Ibnu dengan anggukan kepala, sambil tersenyum.
'' Yasudah, sebaiknya kita makan siang dulu, ibu sudah masak banyak hari ini.'' ucapnya mengajak anak-anaknya untuk makan bersama.
'' Ibu masak apa?'' tanya Dinda
'' Kamu lihat saja sendiri, ibu yakin kamu pasti juga suka.' jawab Bu Tami, lalu ia pun segera menghampiri sang suami untuk membantunya menuju meja makan yang berada didapur.
'' Sudah Bu biar Sultan saja yang bantu bapak.''
'' Tidak usah biar ibu saja.'' tolak Bu Tami halus
'' Sudahlah bang, ibu masih bisa mengurus bapak, jangan buat mereka bergantung dengan kita dong, cukup bantu seperlunya saja.'' ucap Mayang dengan suara berbisik pada sang suami, membuat Sultan hanya bisa menggelengkan kepala.
***
Satu jam kemudian terlihat semuanya kembali berkumpul didepan ruang tamu.'' Bapak sangat senang melihat kalian semua datang kerumah ini, terimakasih ya, anak-anak bapak, karna kalian mau meluangkan waktu untuk melihat keadaan kami?'' ucap pak Ibnu
'' Ya sebagai anak yang baik tentu aku akan mengunjungi bapak dan ibu, iyakan bang Hendra?'' ucap Dinda, dan sang suami hanya menanggapi nya dengan anggukan kepala.
__ADS_1
'' Iya pak, bapak tenang saja, aku dan bang Sultan juga tidak mau dibilang sebagai anak yang durhaka, karna menyia-nyiakan orang tua.'' sambung Mayang
next