
Sultan dan Bu Utami masih berada dikantin rumah sakit, terlihat pria itu masih berusaha membujuk sang ibu agar mau menerima usulan nya, namun seperti nya sang ibu tetap menolak, dengan alasan lebih enak tinggal dirumah sendiri. Saat keduanya asik bicara, tiba-tina Dinda datang, dan langsung duduk disamping sang ibu.
'' Dinda, kok kamu tinggalin bapak sih?'' ucap Sultan sedikit terkejut karna kedatangan sang adik
'' Ada bang Hendra yang jaga.'' jawabnya dengan nada datar
'' Kalau gitu biar ibu kembali kekamar rawat inap bapak, biar ibu yang jaga.'' ucap Bu Utami yang hendak bangkit, namun Dinda langsung mencegahnya
'' Bu nanti saja, biar bang Hendra yang jaga bapak sebenar.'' ucap nya, membuat Bu Utami terpaksa duduk kembali dikursinya.
'' Bu jadi benar ibu akan tinggal dirumah kami secara bergilir? bu, ibu tau kan kalau aku dan bang Hendra kerja? jadi kalau misalkan ibu dan bapak tinggal dirumah kami, yan pasti gk akan ada orang dari pagi sampai sore, bahkan terkadang sampai malam buk, ya kalau ibu mau seperti itu sih gk apa-apa.'' ucap Dinda, wanita itu belum tau jika Sebenarnya Bu Utami sudah menolak keinginan Sultan, karna ini lah salah satu alasan nya, ia tau jika anaknya tidak semua ingin dirinya dan suaminya tinggal bersama anak-anaknya, Bu Utami tidak ingin nantinya mereka menjadi beban disana, walaupun mungkin tidak semuanya, lalu bagai mana dengan pasangan mereka? maka dari itulah Bu Utami lebih memilih untuk tinggal dirumah mereka sendiri.
" Ibu tau, maka itu ibu menolaknya." ucap Bu Utami
" Benarkah ibu menolaknya?" ucap Dinda yang terlihat senang dengan ucapan sang ibu, sementara Bu Utami yang melihat ekspresi wajah sang anak hanya bisa tersenyum hambar, ternyata keputusannya tidak salah, karna tidak semua anak-anaknya suka, jika kedua orangtuanya tinggal bersama mereka.
" Dinda! kamu ini kayaknya seneng banget kalau ibu gk mau ikut tinggal bareng kita." ucap Sultan kesal melihat adiknya berbicara seperti itu, tanpa memikirkan perasaan sang ibu, yang nampak kecewa
__ADS_1
" Apa sih bang Sultan, maksud ku bukan seperti itu, lagian kan memang ibu yang menolaknya, aku hanya tanya untuk memastikan." jawabnya beralasan
" Ya kan tetap sa--,,
" Sultan sudah lah, jangan bertengkar, kalau gitu ibu kembali dulu keruangan bapak." potong Bu Utami yang langsung meninggalkan kedua anak-anaknya.
Setelah kepergian Bu Utami, Sultan kembali menegur Dinda." Kamu ini apa-apaan sih Din? kenapa kamu harus berkata seperti itu pada ibu? kamu sadar gk sih? kalau ibu sangat kecewa dengan ucapanmu barusan." ucap Sultan dengan nada kesal.
" Ya terus aku harus bilang apa sama ibu bang? lagian ya aku rasa bukan cuma aku yang akan bicara seperti itu, jika ibu dan bapak tinggal secara bergilir dirumah kita, pasti mba Mayang tidak akan mau, atau pun mba Deby, mending ibu dan bapak tinggal dirumah mereka aja, kan masih ada Fitri, dan dia harus berbakti sama ibu dan bapak, sebab dari kecil ibu dan bapak lah yang merawatnya hingga jadi orang saat ini." ucapnya membuat Sultan hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap adik nya tersebut.
SATU BULAN KEMUDIAN
Terlihat bendera berwarna kuning terpasang didepan rumah, menandakan seseorang yang ada didalam rumah tersebut sedang berduka.Terlihat wanita paruh baya sedang berada dikamar sambil memeluk pakaian suaminya yang baru saja meninggal kannya beberapa jam yang lalu, untuk selama-lamanya, dan dia adalah Bu Utami
'' Bu.'' panggil seorang gadis yang tak lain adalah Fitri. Seminggu yang lalu pak Ibnu dinyatakan meninggal dunia karna pendarahan dibagian otaknya, sebelumnya memang pak Ibnu sudah dirawat dirumah sakit selama beberapa hari, bahkan pak Ibnu sempat mengalami koma selama dua minggu, namun pada akhirnya dokter menyatakan jika nyawanya tak bisa diselamatkan.
Wanita paruh baya itu menoleh kearah pintu kamar, dimana saat ini Fitri sedang berdiri sambil menatapnya dengan tatapan sendu, Bu Utami yang melihat tatapan sedih sang anak langsung menghapus dengan cepat air matanya, setelah itu menepuk kasur yang ada disampingnya, menyuruh Fitri untuk duduk disana.
__ADS_1
'' Ada apa nak?'' ucap nya sambil memaksakan senyum, walaupun sangat terlihat raut wajah kesedihan dimatanya.
'' Bu, ibu makan dulu ya? sejak pagi ibu belum makan, kalau ibu gk makan nanti ibu sakit, jadi ibu makan ya? biar aku ambilkan dan bawa kesini.'' ucap Fitri yang langsung bangkit dari duduknya, namun Bu Utami langsung mencegahnya.
'' Nanti saja nak, ibu masih belum lapar, Oya dimana saudara-saudaramu?'' tanya Bu Utami dengan suara pelan
'' Ada didepan, bang Sultan sedang bicara dengan pak RT, sedangkan bang Raja sedang bersama pak Jamal dan pak Ikbal disamping rumah, merka sedang ngobrol.'' jelas Fitri pak Jamal dan pak Ikbal adalah tetangga Bu Utami dan pak Ibnu
'' Nak ibu kangen dengan bapakmu, rasanya ibu ingin ikut saja dengannya.'' ucap Bu Utami, sambil pandangannya lurus kedepan.
'' Ya Allah buk, kenapa ibu bicara seperti itu? bagai mana denganku? apa ibu gk sayang sama aku buk?'' ucapnya yang sudah berlinang air mata. Bu Utami menoleh kesamping, dan mendapati Fitri yang sudah berderai air mata
'' Maaf kan ibu nak, ibu tidak bermaksud seperti itu, ibu hanya merasa kesepian tanpa bapakmu.'' sambungnya lagi
'' Aku tau buk, aku juga sama seperti ibu, merasa kehilangan bapak, tapi ibu masih ada aku, bang Sultan, bang Raja dan mba Dinda, dan kita semua sayang sama ibu, jadi jangan pernah ibu berpikir kalau ibu itu sendiri.'' ucap Fitri, Bu Utami tak menjawab, ia hanya hanya tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya, setelah itu Fitri langsung memeluknya, tanpa mereka sadari ada Dinda yang sejak tadi mendengarkan ucapan keduanya.
Next
__ADS_1