Kami Merindukan Kalian Nak

Kami Merindukan Kalian Nak
Masih Dirumah Sakit


__ADS_3

Dinda dan Raja juga sudah membuka pesan yang ditinggalkan Fitri diponsel mereka.


'' Bapak masuk rumah sakit??'' gumam mereka bersamaan namun ditempat yang berbeda


'' Bagai mana ini, apa aku harus kesana? tapi sepertinya tidak terlalu parah deh, buktinya panggilan tak terjawab dari Fitri hanya sekali saja, itu kan berarti sakitnya tidak terlalu parah.'' ucap seorang wanita yang tak lain adalah Dinda, anak ketiga dari pasangan Bu Tami dan pak Ibnu.


Namun baru ia memikirkan hal tersebut tiba-tiba ponselnya berdering, Dinda melihat itu panggilan dari Sultan


'' Iya bang ada apa?''


'' Apa kamu sudah mendapat pesan dari Fitri, tentang kondisi bapak?''


'' Yang katanya bapak masuk rumah sakit?''


'' Iya, apa kamu akan pulang?''


'' Belum tau bang, lihat besok nanti sajalah.'' jawabnya seolah tak terlalu perduli


'' Dinda kenapa kamu bicara seperti itu? Abang mau kamu pulang dan lihat keadaan bapak dirumah sakit.''


'' Bagai mana dengan bang Sultan? apa hanya aku saja yang mau direpotkan? dengar bang! kalau Abang mau datang ya datang aja, tapi jangan suruh-suruh aku agar segera pulang kesana.''

__ADS_1


klik


Lagi-lagi Dinda mematikan secara sepihak, membuat Sultan menggeram karna merasa tak dihargai oleh adiknya tersebut


'' Dasar adik tak ada akhlak, berani sekali dia marah-marah pada abangnya sendiri.'' gumam Sultan


Sedangkan dirumahnya Dinda terus bergumam membuat Hendra yang saat itu baru keluar dari kamar menatap heran pada sang istri, membuatnya tak tahan untuk tidak bertanya pada nya.'' Kamu kenapa wajahnya cemberut seperti itu?'' tanya Hendra


'' Bang Sultan, dia memintaku untuk pulang melihat keadaan bapak,'' ucapnya


'' Terus? masalahnya dimana? kenapa kamu menekuk wajahmu seperti itu? lagi pula Abang mu tidak salah, dia hanya mengingatkan mu saja.'' ucap Hendra membuat Dinda semangkin merasa kesal


'' Kamu itu aneh ya, pak Ibnu itu bapak kamu loh Din, tapi sepertinya sebagai anak kamu sama sekali tak peduli pada orangtuamu, apa jadinya jika orangtuaku masih hidup dan sakit-sakitan, sepertinya kamu tidak akan perduli dengan mereka.'' ucap Hendar membuat Dinda langsung menatap kearah suaminya itu


'' Bang hendra kok bicara seperti itu sih?''


'' Terus aku harus bicara bagai mana? bahkan dengan bapak mu sendiri saja kamu tega seperti itu, apa lagi dengan orangtuaku, tapi kamu tenang saja, karna itu tidak akan pernah terjadi, kamu tidak akan mengurus kedua orangtuaku, karna mereka sudah tidak ada didunia ini lagi.'' ucapnya dengan suara lirih


'' Bang kok jadi melow gitu sih? aku itu gk mungkin memperlakukan orangtuanya bang Hendra seperti itu, aku gk sejahat itu bang, kalau masalah bapak itu beda, dirumah kan sudah ada Fitri yang mengurus semua kebutuhan mereka, jadi ya biarkan saja dulu gadis itu membalas Budi dengan kedua orangtuaku, untuk menjaga dan merawat mereka.'' ucap Dinda, membuat Hendra hanya bisa menggelengkan kepalanya, yang tak habis pikir dengan sikap istrinya tersebut.


Sedangkan disalah satu rumah yang lumayan besar, terlihat seorang wanita sedang berada dikamar sambil mengusap perutnya, yang sudah mulai terlihat membuncit, dan wanita tersebut tak lain adalah Deby, istri dari Raja, wanita itu menoleh saat melihat pintu kamar mandi terbuka, dan memperlihat kan sang suami yang baru saja selesai mandi.

__ADS_1


'' Bang ku mohon jangan tinggalkan aku dirumah sendirian.'' ucapnya memelas, ia yakin jika suaminya tersebut pasti akan pergi kerumah sakit setelah dapat kabar dari Fitri tadi tentang kesehatan bapaknya yang menurun.


'' Abang hanya sebentar Deby, untuk memastikan saja.'' ucapnya, sambil mengambil pakaian ganti didalam lemari


'' Abang tega ninggalin aku dan anak kita? aku hamil loh bang, dirumah juga gk ada orang, kalau terjadi sesuatu dengan kami bagai mana? pokoknya aku gk mau Abang pergi titik.'' ucapnya dengan drama seolah akan terjadi sesuatu yang nantinya akan membuat sang suami menyesalinya seumur hidup.


Raja menghembuskan nafas panjang, kalau sudah begini bagai mana mungkin ia akan meninggalkan sang istri, ia tak ingin menyesal nantinya kalau sampai terjadi sesuatu dengan istri dan bayinya.'' Baiklah abang tidak akan pergi.'' ucapnya, membuat Deby tersenyum senang.


'' Terimakasih bang, aku tau kamu itu sayang banget sama kami berdua.'' ucapnya


***


Dirumah sakit terlihat Fitri dan Bu Tami sedang berada di depan ruang operasi, bahkan Rey juga masih ada disana untuk menemani keduanya.'' Ibu dan Fitri tenanglah, saya yakin semuanya akan baik-baik saja, keputusan yang kalian ambil sudah benar, walaupun nantinya pak Ibnu tidak bisa berjalan normal, setidaknya beliau tidak akan merasakan sakit lagi dibagian kakinya.'' ucap Rey memberikan semangat, terkadang kenyataan sangat lah pahit, dan tak seindah yang kita impikan, namun meskipun begitu kita tetap harus menghadapinya. Bu Tami hanya mengangguk tanpa berniat untuk menjawab Rey, untuk saat ini tak ada kata yang bisa wanita paruh baya itu katakan, semenjak suaminya disarankan oleh dokter untuk melakukan amputasi dibagian kakinya karna infeksi, dan terjadi pembusukan dibagian kaki suaminya, Bu Tami hanya bisa pasrah, ia menyesal kenapa waktu itu ia tak membawa suaminya langsung kerumah sakit setelah terjadi musibah yang terjadi menimpa suaminya saat itu, memang bukan salah nya, karna saat Bu Tami menyarankan untuk suaminya dibawa kerumah sakit, pak Ibnu menolaknya keras, saat itu suaminya itu meyakinkan istrinya jika luka yang dideranya tidak terlalu berat, jadi pak Ibnu meminta untuk dipanggilkan saja tukang urut, namun siapa sangka jika itu akan menjadi awal dari nasip kaki suaminya yang ternyata perlahan harus mengalami nasip buruk.


'' Bu, sudah tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, lagi pula aku yakin setelah ini bapak tidak akan kesakitan lagi, walaupun nantinya bapak akan kehilangan satu kakinya, jadi ibu jangan sedih,'' ucap Fitri pada sang ibu angkat.


'' Iya, kamu benar Fit, ibu harus kuat dan gk boleh sedih, Oya apa kamu sudah menghubungi saudara-saudara mu yang lain?


'' Tadi sudah bu, tapi mereka tidak mengangkat nya, mungkin masih sibuk dengan pekerjaan mereka.'' ucap Fitri mencoba untuk membuat sang ibu tidak bersedih, karna sampai saat ini ketiga anaknya tersebut masih belum menghubungi nya, beruntung Bu Tami masih ada Fitri yang selalu menemaninya dan tak pernah mengeluh sedikitpun seperti ketiga anaknya, yang setiap kali Bu Tami meminta mereka pulang kerumah untuk bertemu karna rindu, maka ketiganya selalu beralasan, membuat Bu Tami terkadang sangat sedih, menyadari jika anak-anaknya tidak lagi perduli pada mereka, namun Bu Tami tak pernah menunjukan kesedihannya itu pada sang suaminya.


next

__ADS_1


__ADS_2