
Saat ini diruang tamu, Sultan dan saudara-saudaranya terlihat sedang bicara serius.'' Jadi gimana, apa sebaiknya kita bawa ibu tinggal bersama kita seperti rencana awal?'' tanya pria itu pada adik-adiknya.
'' Tidak usah nak, ibu tidak ingin kemana-mana, ibu mau dirumah ini saja bersama Fitri.'' ucap Bu Utami yang tiba-tiba datang, dan beliau mendengar semua pembicaraan tersebut
'' Ibu, kenapa begitu? apa menurut ibu tinggal bersama kami membuat ibu merasa tidak nyaman, begitu?'' ucap Dinda, karna ibu nya lebih memilih untuk tinggal bersama anak angkat dari pada anak-anak kandungnya.
'' Bukan begitu nak, ibu hanya ingin tinggal bersama kenangan bapak kalian, dan dirumah ini semua kenangan itu berada, ibu hanya minta satu pada kalian, sering-sering datang untuk menjenguk ibu disini.'' ucap Bu Utami
'' Tapi buk---,,
'' Bang biarin aja kenapa sih, kalau ibu mau tinggal disini, mungkin disini ibu merasa lebih nyaman, benarkan buk?'' ucap Mayang menyela suaminya, Bu Utami hanya mengangguk sebagai jawaban, dan tentu saja dalam hati Mayang sangat senang melihatnya, sebab yang sebenarnya ia tidak suka jika ibu mertuanya itu tinggal bersama mereka, karna akan merepotkan pikirnya
Sedangkan Fitri sendiri sedang berada didapur untuk membuat teh untuk saudara-saudaranya.
'' Bu, bukankah sebelum bapak meninggal beliau ingin ibu tinggal bersama anak-anaknya? dan sekarang kami ingin mengabulkan nya buk.'' ucap Sultan, yang diangguki oleh Raja, sedangkan istri-istri mereka hanya diam, walaupun dalam hati mereka keberatan, namun baik Mayang ataupun Deby, tak berani menyuarakannya.
'' Sudahlah nak, ibu tidak apa-apa. lagian mungkin maksud bapak kalian saat itu, beliau ingin kalian selalu melihat keadaan ibu, ibu tidak masalah kalau harus tinggal disini, asal kalian selalu mengunjungi ibu disini nak, itu sudah cukup bagi ibu.'' ucap Bu Utami, dari arah pintu dapur Fitri bisa mendengar semua ucapan sang ibu.
__ADS_1
( Bu, ibu tenang saja, aku pasti akan menjaga ibu dan merawat ibu, jadi ibu tidak perlu khawatir.)
Batin Fitri
Bu Utami pamit pada anak-anaknya untuk beristirahat dikamarnya, dan tinggallah Fitri, Sultan, Raja, Hendra dan Dinda, sedangkan Mayang dan Deby sudah masuk kekamar mereka, walaupun rumah tersebut sangat sederhana, namun kamar dirumah itu cukup untuk menampung mereka semua, sebab waktu mereka masih remaja dulu, pak Ibnu yang memang bekerja sebagai kuli bangunan, bisa membangun kamar satu persatu untuk anak-anaknya, jadi walaupun mereka sudah tidak tinggal bersama kedua orangtua nya lagi, mereka masih bisa menempati kamar tersebut.
'' Fitri Abang mau bicara dengan mu.'' ucap Sultan serius
'' Mau bicara apa bang?'' tanya Fitri penasaran
'' Begini, kamu kan tau jika ibu tidak mau tinggal bersama kami secara bergantian dan dia lebih memilih untuk tinggal dirumah ini, bersama denganmu, jadi Abang mau tanya sama kamu, apa kamu tidak keberatan? dan apa kamu bisa menjaga ibu dengan baik?'' ucap Sultan
'' Abang tidak bilang kalau kamu gk bisa menjaga ibu dengan baik. tapi--,
'' Tapi kenyataannya bapak meninggal karna keteledoranmu sebagai anak.'' sambung Dinda, memotong ucapan Sultan, jangan lupakan kata-kata pedas yang selalu keluar dari mulut nya itu
'' Dinda, tidak baik bicara seperti itu.'' ucap Hendra yang merasa tidak enak pada Fitri karna ucapan istrinya
__ADS_1
'' Loh, bukankah itu benar? ya mba tau kamu itu bekerja, tapi setidaknya jika hari minggu itu kamu harus ambil cuti dong , dengar ya Fit, orangtua kita hanya tinggal ibu, dan kami tidak ingin terjadi sesuatu pada ibu karna keteledoranmu, mengerti kamu!'' ucap Dinda
'' Dinda, kamu jangan bicara seperti itu pada Fitri, kamu jangan menyalahkannya atas meningalkan bapak, Abang yakin Fitri juga tidak ingin semua itu terjadi, ini takdir dari yang maha kuasa, Abang yakin Fitri pasti bisa menjaga ibu dengan baik.'' benarkan Fitri?'' ucap Raja, Fitri hanya mengangguk sebagai jawaban. sejujurnya ia merasa sangat sedih karna ucapan Dinda yang mengatakan jika karna dirinya nya lah pak Ibnu meninggal, walaupun secara tidak langsung, namun semua ucapan sang kakak mengarah jika dialah penyebab semuanya.
'' Oya mulai bulan depan, Abang dan yang lainnya akan mengirim uang untuk biaya hidup kalian berdua.'' ucap Sultan, yang diangguki oleh Raja dan Hendra, namun sepertinya Dinda masih sedikit keberatan untuk menyanggupinya, maka itu dia diam saja.
'' Gk perlu bang, aku masih bekerja, dan bisa menghidupi ibu, jadi jangan khawatir, dan kalian tidak perlu mengirimkan kami uang, aku tau kalian pasti lebih butuh.'' ucap Fitri.
'' Jadi kamu menolak uang dari kami? sombong sekali, memang kamu merasa cukup untuk menghidupi ibu hah? jadi pegawai toko paling juga gajinya dua juta. sok-soa'an mau nolak uang kami.'' ucap Dinda yang kembali berbicara yang menyakitkan, padahal Fitri sama sekali tak ada niat sedikitpun menolak mereka, bukan karna ia sombong, namun ia juga tau kebutuhan abang-abang nya lebih banyak dari pada dirinya, namun siapa sangka niat baiknya itu malah membuat Dinda merasa direndahkan olehnya.
'' Dinda kamu itu punya masalah apa sih sama Fitri? sejak tadi Abang perhatikan kamu terus berprasangka buruk dengannya, kamu jangan begitu dong, gk baik berpikiran begitu pada saudara sendiri.'' ucap Sultan yang akhirnya menegur sang adik.
'' Tau ah, tapi yang pasti kamu sudah menawarkan bantuan ya Fit, namun kamu secara terang-terangan menolak kami, jadi misalkan suatu saat nanti kamu meminta nya pada kami, khususnya padaku, maka aku gk akan memberikannya padamu, kecuali untuk kebutuhan ibu.'' ucapnya yang langsung bangkit dari duduknya, dan melangkah menuju kamar nya yang ada dirumah tersebut.
'' Fitri maafkan mba Dinda ya? Abang tau mungkin kamu merasa tersakiti dengan ucapannya, tapi percayalah, dia gk bermaksud untuk bicara seperti itu, mungkin dia hanya masih sedih karna kematian bapaknya.'' ucap Hendra
'' Iya bang aku ngerti.'' jawab Fitri
__ADS_1
Next