
Dua hari pak Ibnu dirawat di rumah sakit, selama itu pula tak ada satu pun dari ketiga anak mereka yang datang menjenguk pak Ibnu dirumah sakit, kecewa dan sedih itulah yang dirasakan oleh Bu Tami saat itu, hingga mereka kembali kerumah pun tak ada yang datang dan itu tentu saja membuat Fitri marah pada ketiga saudaranya tersebut.
Saat ini Fitri sedang berada didalam kamarnya.'' Keterlaluan sekali mereka, bagai mana bisa mereka sama sekali tidak peduli dengan ibu dan bapak? jangankan melihat keadaan mereka, menghubungi saja tidak.'' monolog Fitri yang merasa geram dengan kelakukan tiga saudaranya.
Tok-tok-tok
'' Fit..Fitri kamu didalam nak?'' ucap Bu Tami sambil memanggil anak bungsunya tersebut dari balik pintu kamar.
Tak lama terlihat pintu kamar terbuka, bersama Fitri yang terlihat dengan wajah yang ditekuk.'' Loh kamu kenapa nak? kok mukanya kelihatan kesal begitu?'' tanya Bu Tami saat melihat wajah anak perawannya tak seperti biasa.
'' Gk apa-apa bu.'' jawabnya bohong
'' Baiklah kalau gk apa-apa, oya didepan ada nak Rey, katanya dia mau jemput kamu, sepertinya bos kamu itu menyukai kamu nak.'' ucap Bu Tami menggoda
'' Apa sih buk, tidak mungkin dia suka sama aku, aku hanya pegawai mini marketnya saja, sedangkan dia bos besar.'' ucap Fitri sambil menggelengkan kepala menyangkal ucapan dari ibunya tersebut, ia tak ingin berharap apapun pada pria tersebut, Fitri tak ingin sakit hati jika memakai perasaan dengan semua kebaikan dan juga perlakukan Rey padanya selama ini
'' Oya Fit, tadi pagi-pagi sekali Abang mu Sultan menghubungi ibu, dan menanyakan kabar bapak.'' ucap Bu Tami membuat Fitri langsung menatap lekat pada sang ibu,
'' Terus, apa bang Sultan akan datang buk?'' tanya gadis tersebut, sambil menutup pintu kamar miliknya
Mendengar perkataan Fitri Bu Tami kembali murung,'' Entahlah, dia tidak bilang apapun nak, ibu juga gk mau berharap lebih, yang penting ibu sudah mendengar suara nya saja ibu sudah puas.'' ucapnya sambil tersenyum, namun Fitri tau jika ibunya itu hanya berusaha untuk tegar, padahal didalam hati nya sangat berharap anak-anaknya pulang.
*
__ADS_1
*
*
Saat ini Sultan, istri dan anak-anaknya sedang dalam perjalanan menuju rumah kedua orangtuanya, begitu pun dengan Raja dan Deby, mereka juga datang dengan mengendarai motor N-max yang baru mereka beli beberapa bulan yang lalu, namun sepertinya Sultan dan keluarganya yang lebih dulu sampai dikediaman orangtua mereka.
Sedangkan didalam rumah terlihat Bu Tami sedang membantu pak Ibnu menuju kamar mandi dengan menggunakan tongkat kayu.'' Sudah Bu ibu tunggu diluar saja, bapak bisa sendiri kok.'' ucapnya
'' Bapak yakin?'' tanya Bu Tami karna merasa sedikit khawatir saat membiarkan suaminya berada didalam kamar mandi sendirian ia takut jika pak Ibnu kembali terjatuh lagi
'' Bapak bisa kok bu, jangan khawatir.'' jawabnya
'' Baiklah, tapi ibu tunggu diluar ya? kalau bapak butuh bantuan, panggil saja ibu.'' ucapnya yang diangguki oleh pak Ibnu.
'' Aduh-aduh cucu nenek,'' ucapnya sambil memeluk tubuh cucu pertamanya, anak dari Sultan tersebut, yang berlarian menuju kearahnya.
'' Sultan, kok datang gk kasih kabar sama ibu nak?'' ucapnya sambil tersenyum, wanita paruh baya tersebut menyodorkan tangannya untuk disalim oleh anak-anaknya tersebut, dan disambut oleh sultan dan istrinya bergantian.
'' Ibu ini aneh deh, datang salah, gk datang nantinya juga disalahkan.'' jawab Mayang langsung.
'' Iya nih ibu, ini juga kami sempati bu, karna Sultan tidak ingin disebut anak durhaka sama ibu dan bapak nantinya.'' sambung sang istri, kata-kata yang membuat Bu Utami hanya bisa mengelus dada, meskipun begitu Bu Utami tetap tersenyum, menanggapinya.'' Maksud ibu bukan begitu nak.
'' Udah buk nanti saja bicaranya, yuk kita masuk dulu, panas ini diluar.'' ucap Mayang menyela ucapan ibu mertuanya tersebut,
__ADS_1
'' Iya, ayo masuk.'' ajaknya sambil menggendong cucu nya yang paling kecil, namun saat mereka hendak masuk, terdengar suara sepeda motor, sambil membunyikan klaksonnya, membuat mereka langsung menoleh.
'' Raja, Deby?'' gumam Bu Utami, yang langsung berbalik menuju motor yang kini berhenti didepan rumahnya tersebut, sangkin bahagianya Bu Tami melihat putra nya datang, ia pun langsung melangkah menuju kearah Raja dan langsung memeluknya dengan Fio yang masih dalam gendongannya
''Nak kamu apa kabar?'' ucap Bu Tami setelah melerai pelukannya, lalu tatapannya beralih pada menantunya yang berdiri tak jauh darinya.'' Deby perut kamu sudah mau kelihatan ya nak?'' ucap nya yang hendak mengelus perut buncit menantu nya tersebut, namun dengan cepat Deby langsung menghindar dari tangan sang ibu mertua.
'' Eh buk jangan pegang sembarangan, nanti kalau anakku kenapa-napa bagai mana!" ucapnya sambil menjauh dari Bu Tami, wanita paruh baya tersebut hanya bisa tersenyum getir, tadinya niatnya hanya ingin mengelus perut sang menantu
'' Baik bu, kabarku dan Deby baik, Oya bapak mana buk? bagai mana kalau kita kedalam saja temui bapak sekarang? ayo buk.''' ucap Raja yang langsung mencoba mencairkan ketegangan yang terjadi diantara istri dan ibunya tersebut.
'' Iya ayo, bapak ada didalam, ayo masuk! abangmu dan istrinya juga sudah berada didalam.'' ucap Bu Tami pada anak dan mantunya, ia tak akan marah ataupun dendam atas perlakukan menantunya tersebut pada nya, yang terpenting bagi nya adalah kedatangan anak-anaknya itu sudah cukup.
Sedangkan didalam terlihat Mayang tengah menggerutu, entah apa yang dikatakan wanita tersebut, yang pasti sangat terlihat ketidak sukaannya pada istri dari adik iparnya tersebut.
'' Sayang kamu kenapa wajahnya ditekuk kayak gitu?'' tanya Sultan saat melihat wajah istrinya tak enak dipandang
'' Lihat aja tuh istri dari adik kamu, nyebelin banget gk sih? gayanya sok orang kaya.'' cibir Mayang, membuat suaminya sultan hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan istrinya tersebut.
'' Sudahlah Mayang, kita ini dirumah ibu, jadi aku harap kamu jangan membuat keributan.
''Maksud Abang apa??'' ucap Mayang, membuat Bu Tami yang baru masuk bersama Raja dan Deby menatap kearah Mayang dan Sultan .'' Sultan ada apa nak?'' ucap Bu Utami sambil melangkah mendekati Sultan dan istrinya yang saat itu duduk disofa ruang tamu.
Next
__ADS_1