Kami Merindukan Kalian Nak

Kami Merindukan Kalian Nak
BAB 11


__ADS_3

Masih Dirumah kediaman keluarga pak Ibnu,, semua anaknya juga terlihat masih berkumpul disana, kecuali Fitri yang memang masih belum pulang dari kerja.


'' Oya Bu biasanya Fitri pulang jam berapa memangnya?'' tanya Hendra yang langsung mendapatkan tatapan tajam oleh Dinda, dan itu tak luput dari penglihatan Deby, kakak iparnya.


'' Oh, biasanya Fitri pulang jam enam sore nak Hendra.'' jawab Bu Tami


'' Kayaknya ada yang perhatian banget sama adik ipar.'' ucap Deby, membuat semua orang menatap kearah nya


'' Maksud mba Deby apa? kenapa bicara seperti itu?'' ucap Dinda dengan tatapan tidak suka


'' Aku gk ada maksud apa-apa kok, kenapa kamu bertanya sambil ngegas gitu Din? tadi kan aku hanya asal bicara saja.'' ucapnya


'' Kamu kenapa sih Din? kok bicara ketus gitu sama kakak iparmu? ingat ya istri Abang sedang hamil, Abang gk mau hanya karna masalah seperti ini menganggu perkembangan calon anak abang, yang ada dalam kandungan.'' sambung Raja memperingati


'' Ya habisnya istri bang Raja bicaranya seperti itu sih? aku kan gk suka dengar nya.'' jawab Dinda


'' Din sudahlah, gk usah diperbesar.'' ucap Hendra, membuat sang istri mendelik kearahnya


'' Semua gara-gara kamu bang, buat apa coba kamu tanya-tanya soal Fitri? bukankah sudah kubilang kalau aku gk suka kamu perhatian sama dia?'' ucapnya dengan suara pelan, terlihat wanita itu menggertakan giginya, sambil menatap tajam pada sang suami.

__ADS_1


'' Jujur aku merasa penasaran, memangnya ada apa sih? apa kamu cemburu ya Din sama Fitri?'' ucap Deby lagi, membuat semua orang langsung menatap kearah Dinda.


'' Mba Deby apaan sih, siapa juga yang cemburu, mana mungkin aku cemburu sama dia, memangnya siapa dia, yang harus aku cemburui.'' ucapnya dengan nada kesal


'' Ya habisnya masa Hendra cuma bertanya tentang Fitri kamu terkesan tidak suka begitu, jadi ya gk salah dong kalau mba curiga.'' ucap Deby


' Sudah-sudah jangan diperpanjang lagi, Oya Deby bagai mana kandungan kamu nak, apakah sehat?'' tanya Bu Tami mengalihkan pembicaraan.


'' Baik bu, tapi dokter bilang aku tidak boleh mengerjakan apapun, karna kandunganku ini masih sangat rentan.'' jelasnya


Mayang yang mendengar ucapan Deby memutar bola matanya jengah.'' Coba kamu dengar bang, lebay banget si Deby, cari perhatian sama ibu,.'' cibirnya pelan, Sultan yang mendengar hanya diam tak ingin ikut berkomentar.


Diruang keluarga terlihat semua orang pada bersantai, ada yang bermain ponsel ada juga juga yang sedang bercanda dengan pasangannya. Sedangkan didapur Bu Utami terlihat sedang mencuci semua peralatan makan, bekas mereka makan siang, wanita paruh baya itu meringis saat merasa tangannya mulai terasa sakit, sepertinya penyakit rematik yang diderita oleh Bu Utami kembali menyerang tubuhnya, membuat wanita paruh baya tersebut harus menyudahi pekerjaannya untuk sementara.


Dari kejauhan pak Ibnu melihat istrinya terduduk diatas kursi sambil memijat tangannya yang terasa sakit, dan dengan jalan tertatih yang hanya dibantu oleh tongkat, pak Ibnu sedikit mempercepat langkahnya agar cepat sampai pada sang istri.'' Bu ibu kenapa? apa rematik ibu kambuh lagi?'' ucap pak Ibnu sambil mencoba duduk disamping sang istri.


'' Pak hati-hati, duduknya! bapak jangan cemas, ibu tidak apa-apa kok, Oya bapak ada apa kesini? bukannya anak-anak ada didepan ya? lalu kenapa bapak kebelakang?'' tanya Bu Utami merasa heran, padahal yang ia tau jika suaminya tersebut sangat merindukan anak-anaknya, bahkan pak Ibnu juga pernah bilang padanya jika nanti anak-anaknya itu datang, maka pak Ibnu akan berada didekat mereka sepanjang hari


'' Mereka lagi istirahat buk, makanya bapak kesini.'' ucap pak Ibnu sambil tersenyum.

__ADS_1


DITEMPAT LAIN


Saat ini terlihat Fitri sedang makan siang di dalam toko tempatnya bekerja, selama ini gadis itu memang selalu membawa bekal dari rumah, dan tak pernah makan diluar seperti temannya yang lain, bukan karna ia tidak mampu hanya untuk sekedar membeli makanan diluar, hanya saja ia berpikir, jika dirinya harus berhemat. lebih baik ia menyimpannya untuk jaga-jaga jika penyakit ibu dan bapaknya kambuh, dan ia tidak ingin merepotkan orang lain lagi. Seperti saat kemarin ia terpaksa menerima bantuan dari Reyhan karna uang nya kurang untuk membayar pengobatan pak Ibnu, bukan karna ia tak meminta bantuan pada kakak-kakaknya, namun saat itu ketiga saudaranya sangat susah untuk dihubungi, sementara pak Ibnu saat itu harus secepatnya dioperasi, maka mau tak mau ia menerima bantuan bosnya itu untuk biaya operasi sang bapak.


'' Fitri!" panggil seseorang membuat Fitri yang saat itu tengah memasukan nasi kedalam mulut langsung mengalihkan pandangannya kearah sumber suara.


'' Pak Rey.'' ucapnya sedikit terkejut.


'' Fit, itu bibir kamu.'' ucap Rey sambil menunjuk kearah bibir Fitri


'' Ada apa pak, dengan bibir saya?'' ucap nya sambil menyentuh bibirnya sendiri.


'' Ada saus di bibir kamu.'' jawab Rey, mendengar ucapan bosnya, dengan cepat Fitri langsung mengambil tisu yang ada diatas meja lalu mengelapnya, namun sayangnya noda dibibirnya itu masih belum hilang seluruhnya.


'' Sudah pak?' tanya gadis itu


'' Masih belum, sini biar saya bantu.'' ucap Rey yang langsung menyentuh bibir Fitri dengan jempol nya, padahal tadi niatnya Fitri ingin memberikan tisu pada Reyhan, namun siapa sangka, kalau bosnya itu akan menggunakan tangannya langsung untuk membersihkannya.


Tubuh Fitri menegang, saat jari milik Rey menyentuh bibir miliknya, seperti ada sengatan aliran listrik bertegangan rendah menyentak tubuhnya, begitu pula dengan yang dirasakan oleh Rey, ada perasaan yang berkecamuk didalam hatinya dan seperti ada yang mendorongnya untuk melakukan hal lebih pada gadis tersebut. Fitri yang melihat wajah bosnya yang kian mendekat reflek memejamkan matanya seolah berpikir jika bosnya itu ingin melakukan sesuatu padanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2