Kami Merindukan Kalian Nak

Kami Merindukan Kalian Nak
BAB 19


__ADS_3

Pagi harinya terlihat Hendra sudah rapi dengan pakaiannya, rencananya pagi ini mereka akan menjenguk pak Ibnu dirumah sakit.'' Dinda cepetan dong, nanti jalanan macet kalau terlalu lama kamu.'' ucap Hendra sedikit berteriak, sebab sudah hampir setengah jam lamanya dirinya menunggu sang istri diruang tamu.


'' Ngapain sih dia, lama sekali.'' gerutu Hendra. Sedangkan dikamar terlihat Dinda sedang duduk didepan meja rias, sambil merapikan rambutnya, setelah selesai, ia pun langsung melangkah keluar dari kamar.


'' Sudah? atau masih ada yang harus aku tunggu lagi setelah ini?'' tanya Hendra dengan nada yang terdengar kesal


'' Is bang Hendra kok bicaranya seperti itu sama istri sendiri, aku kan lagi make'up tadi, kayak gk biasa aja kamu nungguin aku make'up.'' ucap nya


'' Ngapain kamu make'up? kita ini mau kerumah sakit loh, bukan mau kondangan, benar-benar ya kamu.'' ucap Hendra merasa geram dengan tingkah istrinya.


Sedangkan dirumah sakit terlihat Fitri yang baru saja sampai dengan diantar oleh Reyhan.'' Sudah mas kmu berangkat aja kerja, aku bisa sendiri kok.'' ucap Fitri saat Reyhan bersikeras ingin mengantarnya sampai didepan kamar rawat inap pak Ibnu


'' Kamu yakin?''


'' Iya, udah sana berangkat, aku mau masuk dulu.'' sambung Fitri


'' Yasudah kalau gitu aku pergi dulu, kamu hati-hati ya?'' ucap Reyhan membuat Fitri langsung kerkekeh mendengar ucapan kekasihnya itu.


'' Kamu ini ada-ada saja, seharusnya aku yang bilang hati-hati, bukannya mas Rey, lagi pula kan mas Rey yang mau berkendara.'' ucapnya, sedangkan Reyhan hanya tersenyum menanggapi ucapan kekasihnya.


'' Yasudah aku berangkat dulu.'' ucapnya yang langsung mengecup pucuk kepala Fitri secara tiba-tiba, membuat gadis itu terpaku ditempat, sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Reyhan padanya.


'' Kenapa bengong? kamu mau mas cium lagi?'' goda Reyhan membuat Fitri reflek memukul tubuh pria itu


'' Iihh, mas Rey apaan sih? malu kan dilihatin orang.'' ucapnya menggerutu, terlihat rona merah dari wajah gadis itu, menandakan jika dirinya sangat malu, untung saja tidak ada yang memperhatikan saat itu.


***


Setelah kepergian Reyhan, Fitri langsung menuju lantai dua rumah sakit, dimana saat ini pak Ibnu dirawat.

__ADS_1


'' Fitri...!!'' panggil seseorang membuat gadis itu langsung memalingkan wajahnya.


'' Bang Sultan.'' gumamnya pelan, ternyata yang memanggil nya adalah Sultan, anak pertama dari Bu Utami dan pak Ibnu


'' Dimana ruangan bapak?'' tanya pria itu setelah berada didepan Fitri


'' Ada dilantai dua bang. bang Sultan cuma sendiri?'' tanya Fitri karna tak melihat sosok Mayang bersama abangnya tersebut.


'' Abang sendiri, mba Mayang sedang ada urusan yang gk bisa ditinggalkan.'' ucap Sultan yang sebenarnya hanya alasan saja, sebab kenyataannya memang Mayang tak ingin pergi bersama nya.


' Yasudah ayo kita keruangan bapak.'' ajaknya yang diangguki oleh Fitri


'' Sebenar nya apa yang terjadi? kenapa bapak bisa sampai masuk rumah sakit? Abang terkejut tadi malam, saat mba Mayang mengatakan jika bapak kembali masuk rumah sakit.


'' Aku juga gk tau pastinya gimana bang, sebab aku juga saat itu dalam posisi kerja, tapi ibu bilang, kalau bapak jatuh dari kamar mandi, saat itu ibu baru saja pulang dari pasar, dan mendapati bapak sudah jatuh pingsan didalam kamar mandi.'' ucap Fitri, menjelaskan, saat ini keduanya berjalan secara beriringan menuju kamar pak Ibnu.


SATU JAM KEMUDIAN


'' Sabar kenapa sih bang, buru-buru amat, aku mau lihat riasan aku dulu sebentar.'' ucap Dinda sambil membuka tas miliknya untuk mengambil liptint lalu memoleskan benda tersebut pada bibir nya. Sedangkan Hendra hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakukan istrinya


'' Yasudah ayo bang!" ajak nya pada Hendra, sambil membuka pintu mobil lalu segera turun


'' Abang ingat kan yang aku bilang tadi?'' tanya Dinda, saat ini keduanya sedang melangkah menuju pintu utama rumah sakit


'' Apa?'' ucap nya heran, ia melirik kearah sang istri yang berada disampingnya


'' Jangan keganjenan sama Fitri.'' ucapnya, membuat Hendra hanya bisa pasrah dengan kelakukan istrinya tersebut, padahal dulu Dinda bukan tipe wanita yang pecemburu, tapi kenapa sekarang dia begitu posesif terhadap suaminya? dan itu membuat Hendra merasa terkekang.


Setelah keduanya bertanya pada resepsionis ruangan pak Ibnu, mereka pun langsung naik menuju lantai dua.'' Kira-kira bang Sultan dan bang Raja sudah diberitahu belum ya?'' gumamnya pelan, namun Hendra masih bisa mendengar nya

__ADS_1


'' Mungkin sudah, ini menyangkut orangtua yang sakit, tidak mungkin Fitri tidak menghubungi mereka.'' jawab nya


Dan akhirnya keduanya sampai didepan pintu ruangan pak Ibnu, yang saat itu terbuka sedikit, sehingga Dinda dan Hendra bisa melihat siapa saja yang ada dalam ruangan.'' Assalamu'alaikum.' ucap Hendra mengucapkan salam, yang disusul oleh sang istri


'' Wa'alaikum salam.'' jawab mereka berbarengan, lalu mengalihkan pandangan pada sepasang suami istri yang baru saja datang.


'' Kalian. baru datang?'' Raja mana?'' ucap Sultan yang bertanya pada Dinda


'' Ya mana aku tau bang, kan gk bareng kami.'' jawab Dinda sambil melangkah mendekati ranjang pasien. dimana saat ini pak Ibnu tengah terbaring lemah


'' Gimana keadaan bapak? dan kenapa bisa masuk rumah sakit lagi sih? buk ada apa sebenarnya?'' ucap Dinda bertanya pada Bu Utami yang saat itu duduk disamping ranjang pasien


'' Mba Dinda tolong jangan bertanya seperti itu, saat itu ibu juga tidak tau, karna tiba-tiba saat ibu pulang dari pasar bapak sudah pingsan dikamar mandi.'' jelas Fitri


'' Kok bisa? lagian kenapa juga bapak ditinggal sendirian dirumah sih buk?''


'' Dinda sudah! jangan menyalahkan ibu, ini musibah.'' ucap Sultan.


'' Bukan menyalahkan bang, aku hanya tidak menyangka ibu bisa seteledor ini, hingga bapak kembali masuk rumah sakit.'' sambungnya sambil melirik kearah Bu Utami yang saat itu masih diam


'' Mba Dinda jangan terus menyalahkan ibu dong mba.'' sambung Fitri tak suka Dinda terus memojokkan sang ibu


'' Kamu juga, gimana sih jagain orang tua, bisa sampai sakit seperti ini, kamu niat gk sih fit, buat jagain bapak?'' ucap Dinda yang semangkin menyalahkan orang lain atas musibah yang menimpa pak Ibnu


'' Dinda cukup! kita disini untuk menjenguk bapak, untuk melihat keadaannya, bukan untuk saling menyalahkan.' sambung Hendra dengan suara pelan, namun terdengar sangat tegas, hingga membuat Dinda yang mendengar langsung mengantup bibirnya rapat-rapat.


'' Bagai man kondisi bapak? apa sudah ada perubahan?'' ucap Hendra


'' Belum bang, dokter bilang bapak mengalami gagar otak, karna benturan dikepalanya saat jatuh.'' jelas Fitri, membuat semua yang mendengar menjadi sedih, apa lagi Bu Utami, ia sangat sedih dengan apa yang tejadi pada suaminya, andai saat itu dirinya tak meninggalkan sang suami, mungkin kejadian nya tak akan seperti ini. Begitulah yang ada dipikiran Bu Utami saat itu

__ADS_1


Next


__ADS_2