
Terlihat Fitri masih menutup matanya, entah apa yang dipikirkan gadis itu saat ini, sedangkan dihadapannya terlihat Rey tersenyum melihat tingkah gadis yang ada didepannya itu, Rey bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Fitri saat ini. Rey meniup wajah Fitri membuat gadis itu langsung membuka matanya saat merasakan aroma mint yang menyeruak diindra penciumannya
'' Pak Rey.'' ucapnya dengan suara pelan, saat melihat Reyhan yang masih berada dihadapannya dengan senyum yang terukir dibibir pria itu . Fitri merasa salah tingkah, lalu ia pun langsung menarik diri untuk sedikit menjauh dari hadapan bosnya tersebut, ia merutuki dirinya sendiri merasa bodoh dengan apa yang barusan ia lakukan.
Haduh apa sih yang ada dalam otakku, kenapa aku mikirnya terlalu jauh, dasar bodoh kamu Fit, bagai mana mungkin kamu bisa berpikiran jika pak Rey akan mencium kamu saat itu
Batinnya
'' Kamu mikir apa? kenapa sampai memejamkan mata hem? apa kamu mengharapkan sesuatu dari ku?'' ucap Rey yang sengaja menggoda gadis yang ada dihadapannya tersebut.
'' Hah? ma-mana mungkin saya berani berharap sesuatu dari pak Rey, selain kenaikan gajih.'' ucapnya polos, membuat Reyhan yang mendengar langsung tergelak.
'' Hahaha,, ternyata kamu lucu juga ya Fit.'' ucapnya dengan tawa yang masih terdengar dibibirnya.
'' Memang benar kan pak? mana mungkin saya mengharapkan sesuatu pada pak Rey, selain kenaikan gaji.'' ucapnya, yang sebenarnya hanya sebuah candaan saja, untuk mengalihkan rasa malunya didepan bosnya tersebut, berbeda halnya dengan Reyhan yang terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh Fitri.
'' Kamu benar Fit, dan mulai bulan depan saya akan menaikan gajimu.'' ucapnya membuat Fitri sedikit terkejut mendengar nya
'' Apa pak? apa saya tidak salah dengar?
__ADS_1
'' Kamu tidak salah dengar, yasudah sebaiknya kamu segera habiskan makananmu itu, atau apa harus saya yang menyuapkannya untukmu?'' ucap Reyhan kembali menggoda
'' Ah tidak pak, terimakasih saya bisa sendiri.'' ucapnya yang kembali melanjutkan acara makannya.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul enam sore, Fitri yang baru pulang dari tempat kerjanya, menatap heran saat melihat banyak kendaraan yang terparkir dihalaman rumah kedua orangtuanya.'' Kok banyak kendaraan disini, ini,, bukankah ini mobil nya bang Sultan? apa mereka semua datang kesini untuk melihat keadaan bapak?'' gumamnya, sambil terus memperhatikan kendaraan tersebut, namun setelah itu senyum nya mengembang, lantas Fitri pun langsung melangkah masuk kedalam rumah, dan gadis itu langsung mendapati semua keluarganya yang sedang berkumpul diruang keluarga.
'' Assalamu'alaikum.'' ucap nya memberikan salam, membuat semua orang yang berada disana langsung menoleh kearah sumber suara.
'' Wa'alaikum salam, wah nih dia orangnya, baru juga diomongi udah nongol aja.'' ucap Deby sambil melirik kearah Dinda.
'' Ada apa mba Deby? apa ada masalah?'' tanya Fitri sambil menatap Deby meminta penjelasan
'' Aku senang kalian semua datang, pasti bapak bahagia melihat anak-anaknya.'' ucap Fitri, lalu duduk disamping keponakannya yang terlihat baru selesai mandi.
'' Yaialah, nama nya juga anaknya, anak kandung.'' sambung Dinda sambil menekankan kalimatnya
'' Dinda kamu kok gitu sih ngomongnya? gk enak lah sama Fitri.'' ucap Hendra pelan, membuat Dinda semangkin kesal, rasa benci pun semangkin bersarang dihatinya pada sang adik angkat, padahal Hendra juga tidak bermaksud untuk membela Fitri, ia hanya merasa kasihan jika sang istri terus menyudutkan adik iparnya itu.
'' Kamu itu lama-lama nyebelin ya bang.'' ucapnya pada sang suami.'' Terus aja bela adik angkatku itu.'' ucapnya marah, namun dengan nada yang pelan, ia tak ingin yang lain mendengar ucapannya hingga nantinya dirinya akan kembali diolok oleh kakak iparnya Deby.
__ADS_1
'' Din aku gk ada maksud apapun, kamu jangan salah faham gitu dong, aku bukanya membelanya, hanya saja kalau menurut ku kamu jangan terlalu kejam sama adik sendiri, kasihan dia.'' ucap Hendra yang semangkin membuat Dinda berang.
'' Sudahlah, lama-lama aku merasa muak ada disini.'' ucapnya yang langsung bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar rumah, membuat Bu Tami yang baru keluar dari dapur bertanya-tanya.
'' Dinda kenapa nak Hendra? kok sepertinya dia marah?'' ucap sang ibu mertua
'' Biasalah buk, sebaiknya aku lihat dulu dia, ibu jangan terlalu memikirkan Dinda ya? ngambeknya juga gk akan lama kok, jadi ibu gk usah memikirkannya.'' ucap Hendra, sedangkan Bu Tami hanya menganggukan kepala tanda mengerti.
***
Saat ini terlihat Dinda sedang duduk di gazebo yang ada disamping rumah, terlihat wajahnya masih memberengut, wanita itu terlihat sangat kesal, karna menurutnya suaminya tersebut terus membela sang adik angkat.
'' Sayang kamu disini? masuk yuk, ini sudah hampir magrib loh.'' ucap Hendra yang kini sudah berada disamping sang istri.
' Kamu saja yang masuk, aku gk mau.'' rajuknya membuat Hendra hanya bisa menghela nafas panjang, memang istrinya itu memiliki sifat yang sangat pecemburu, hingga membuatnya harus ekstra sabar menghadapi nya.
'' Dinda ayolah, gk enak sama yang lain, lagi pula tadi ibu lihat kamu loh, beliau khawatir takut kamu kenapa-napa, soalnya tadi ibu lihat saat kamu keluar dengan keadaan marah.'' jelas Hendra
'' Biarin ajalah, lagian kan masih ada Fitri, anak kesayangan ibu.'' jawabnya membuat Hendra hanya bisa menggelengkan kepala melihat sifat istrinya yang menurutnya sangat kekanak-kanankan.
__ADS_1
Next