
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, sepanjang perjalanan terdengar pak Ibnu terus merintih menahan rasa sakit dibagian kakinya.'' Bu kenapa kaki bapak bisa bengkak begitu? bukankah tadi pagi tidak apa-apa?'' tanya Fitri pada Bu Tami
'' Tadi pagi saat bapak mencoba kekamar mandi, dia terpeleset nak dan jatuh, membuat kakinya terbentur batu yang ada dipinggir kamar mandi, makanya jadi begini.'' jawab pak Ibnu sambil memegangi kakinya yang terasa nyeri, bahkan kaki tersebut terlihat memar dan membiru
'' Bapak sih udah ibu bilangi juga kalau mau kemana-mana panggil ibu, bukannya sendiri seperti ini, begini kan jadinya.'' ucap Bu Tami
'' Iya bapak minta maaf, tadinya bapak hanya tidak ingin merepotkan ibu, maka itu bapak melakukannya sendiri, toh juga hanya kekamar mandi, masa iya bapak selalu merepotkan ibu.'' ucap pak Ibnu
'' Kenapa bapak berkata seperti itu? bapak tidak pernah merepotkan ibu, dan ibu tidak pernah merasa direpotkan oleh bapak, jadi tolong kalau bapak perlu sesuatu bilang sama ibu.'' ucap Bu Tami, yang hanya diangguki oleh pak Ibnu.
Sedangkan dikursi penumpang bagian depan, Fitri terlihat tersenyum melihat kedua orangtua angkatnya tersebut, gadis itu merasa sangat beruntung karena bisa menjadi anak keduanya, walaupun hanya anak angkat. Rey melirik pada Fitri yang saat itu berada disampingnya.'' Seperti kamu sangat menyayangi kedua orangtua mu?'' ucap Rey tiba-tiba membuat Fitri menoleh kearahnya
'' Iya pak, saya sangat menyayangi mereka, sangat sayang.'' ucapnya sambil tersenyum, membuat Rey juga ikut tersenyum mendengarnya.
Setelah dua puluh menit akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai dirumah sakit yang mereka tuju, Rey langsung menuju pintu darurat rumah sakit tersebut, setelah keluar dari mobil Reh meminta kursi roda pada salah satu suster yang kebetulan ada didepan.
Rey membuka pintu mobil bagian belakang.'' Ayo pak biar saya bantu.'' ucapnya sambil membantu pak Ibnu turun dari dalam mobil.'' Hati-hati pak, pelan saja.'' sambungnya lagi
***
Saat ini terlihat Bu Tami sedang menemani suaminya didalam ruang dokter, tadinya suster meminta nya untuk keluar dengan alasan agar mereka bisa fokus menangani pasien, hanya saja pak Ibnu tak ingin ditinggal oleh sang istri, dan memohon agar dokter mau mengijinkan iatrinya itu untuk berada disisinya, jika tidak pak Ibnu tidak akan mau diperiksa, kekanak-kanakan memang, tapi mau bagai mana lagi, tadi saja dirumah Bu Tami setengah mati membujuk suaminya tersebut agar mau datang kerumah sakit untuk memeriksa keadaan suaminya tersebut, sedangkan pak Ibnu sendiri, paling anti datang kerumah sakit, maka nya selama kakinya terluka dulu ia tak ingin pergi kerumah sakit, hanya pengobatan kampung yang ia pinta pada sang istri.
Sedangkan diruang tunggu, terlihat Fitri dan Rey sedang menunggu dengan harap-harap cemas, lebih tepat nya Fitri, sangat terlihat raut wajah nya yang tampak khawatir, bahkan gadis itu tidak bisa diam, ia terus mondar-mandir didepan pintu ruangan tersebut
__ADS_1
'' Fitri duduklah, kamu jangan cemas dan jangan terlalu panik begitu, pasti dokter akan melakukan yang terbaik untuk pak Ibnu.'' ucap Rey mencoba menenangkan
'' Iya pak.'' jawabnya sambil melangkah dan duduk disamping bosnya tersebut
'' Mmm, pak Rey sekali lagi terimakasih karna sudah mau repot-repot untuk membantu saya dan keluarga saya.'' ucap Fitri sekali lagi, entah kenapa ia merasa jika bosnya tersebut memiliki perasaan padanya, karna dari sikap dan perhatiannya yang menunjukan jika bosnya itu seperti memiliki hati padanya,atau kah itu hanya perasaannya saja? entah lah
'' Sama-sama Fit, mungkin jika pegawai yang lain juga mengalami hal yang sama saya juga akan melakukan hal yang sama, bukankah sesama manusia kita harus saling membantu?' ucapnya sambil tersenyum
'' Iya pak, anda benar.'' jawab Fitri sambil tersenyum, entah kenapa ia sedikit kecewa dengan jawaban bosnya tersebut
Huh, mikir apa sih aku, mana mungkin pak Rey memiliki perasaan padaku, Fitri kamu jangan terlalu baper hanya karna pak Rey pehatian pada keluargamu, memangnya kamu gk dengar tadi, kalau dial bilang dia melakukannya atas dasar kemanusiaan? jadi sebaiknya kamu jangan terlalu berharap padanya, ingat kalian itu beda, dia punya segalanya, sangat jauh dengan dirimu yang hanya pegawai rendahan dan bukan apa-apa dibanding dirinya
Ucap Fitri berperang dengan batinnya
'' Apa kamu sudah memberitahu saudara-saudaramu kalau bapak mu sedang dirawat dirumah sakit?'' ucap Rey, yang langsung membuyarkan lamunan gadis itu.
Fitri mulai menghubungi satu persatu nomor saudaranya, dari mulai Sultan, Raja dan juga Dinda, namun tak satu pun panggilannya direspon oleh ketiganya.'' Gk diangkat, apa mereka masih sibuk kerja? sebaiknya aku tinggalkan saja pesan suara.'' gumamnya sambil menekan rekaman lalu mengirimkannya pada ketiga saudaranya.
'' Sudah?'' tanya Rey saat melihat Fitri melangkah kearahnya
'' Gk diangkat pak, mungkin mereka masih kerja.'' ucap Fitri yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Reyhan
Fitri kembali duduk disampingnya, sambil menyimpan ponsel miliknya didalam tas selempang nya.'' Pak Rey kalau mau pulang juga gk apa-apa kok, mana tau masih ada urusan ditoko.'' ucap Fitri membuat pria itu langsung menatap kearah wanita yang ada disampingnya.
__ADS_1
'' Kamu ngusir saya?'' tanya Rey dengan tatapan kesal
'' Hah? bu-bukan begitu maksud saya pak, saya tidak berniat untuk mengusir pak Rey, saya hanya merasa tidak enak jika bapak meninggalkan pekerjaan hanya untuk menemani saya disini '' ucapnya dengan suara pelan
'' Saya merasa tidak keberatan kok kalau harus menemani kamu disini,'' ucap Rey
'' Tapi pak...,,
'' Fit, bisa tidak kamu jangan memanggil saya lagi dengan sebutan pak? kepala saya sakit rasanya mendengar kamu terus-terusan memanggil saya dengan sebutan pak, atau bapak.'' ucapnya
'' Terus saya harus panggil apa kalau bukan bapak? bukankah anda itu atasan saya? maka sudah sepantasnya saya memanggil seperti itu, sama seperti pegawai yang lain. '' ucap Fitri.
'' Terserahlah.' ucapnya yang tak ingin berdebat, ia tak mau membuat keributan dirumah sakit hanya karna hal sepele, sedangkan Fitri merasa bingung dengan sikap bosnya tersebut.
Jadi kalau bukan dipanggil bapak dia mau dipanggil apa? apa mau dipanggil sayang? dasar bos aneh
Batin Fitri
Sedangkan ditempat lain, terlihat Sultan baru saja membuka pesan suara dari adik bungsunya tersebut.'' Kenapa Fitri mengirimiku pesan suara? apa ada hal yang penting?'' gumamnya, sambil membuka pesan tersebut.
Bang, bapak masuk rumah sakit, kaki bapak membengkak karna terjatuh, aku harap Abang bisa datang buat lihat keadaan nya.
Begitulah isi pesan suara yang ditinggalkan Fitri untuk semua saudaranya
__ADS_1
'' Bapak masuk rumah sakit??
Next