
"Nona, ada di dalam. Apakah, Tuan mau menemuinya?" jawab Arga lalu melayangkan pertanyaan pada sang tuan.
"Siapa yang menyuruhmu untuk ke sini?" Reno bertanya dengan nada menekan.
Namun, dia membuka pintu mobil lalu berjalan memasuki restoran itu. Arga hanya tersenyum melihat tingkah sang tuan yang terlihat tidak mau peduli padahal peduli.
Arga pun berjalan mengikuti sang tuan memasuki restoran, dia ingin melihat bagaimana reaksi sang tuan saat melihat sang nona. Apakah akan terlihat cemburu dan menarik sang nona untuk pergi dari restoran ini atau berdiam diri saja.
Seorang pelayan wanita menyambut kedatangan Reno dan Arga. Dia bertanya layaknya seorang pelayan pada biasanya dan mencarikan tempat yang diinginkan oleh tamunya.
Kedua mata Reno menyapu seluruh ruangan di restoran itu, dia mencari seseorang yang ingin dilihatnya. Siapa lagi jika bukan Oktavia yang sedang bertemu dengan seseorang.
Reno melihat Oktavia yang tengah duduk dan berbincang-bincang dengan seseorang. Terlihat jelas ada senyum yang tidak pernah ditunjukkan pada dirinya.
Arga melihat sang tuan fokus dengan satu titik, dia pun melihat ke arah itu dan terlihatlah sang nona. Dia pun mengatakan pada sang pelayan untuk mencari tempat yang posisinya dekat dengan sang nona.
Melihat senyum dan tawa Oktavia yang begitu lepas membuat Reno ingin mendekatinya. Melihat siapa yang ada di hadapannya Oktavia karena dia tidak bisa melihat dengan jelas lawan bicara sang istri.
Kedua kaki Reno melangkah mendekat pada Oktavia tanpa di sadari olehnya. Dia melihat senyum wanita yang selalu memperlihatkan kemarahan atau kesedihan jika berada di dekatnya.
"Kak ... kau ada di sini?" tanya seorang wanita pada Reno saat dia melihatnya berdiri tegak di belakang Oktavia.
Reno terdiam karena dia melihat sang adik yang sedang berbicara dengan Oktavia. Ya. Dia tidak lain adalah Casandra yang baru saja tiba di Jepang dan ingin bertemu dengan sahabatnya itu sekaligus kakak iparnya.
"Hai, Kak. Mengapa kau melamun?" Casandra kembali bertanya pada Reno yang masih terdiam.
Cassandra beranjak lalu berjalan mendekat pada sang kakak. Dia menarik tangan Reno lalu menyuruhnya duduk tepat di samping Oktavia.
Arga membungkukkan tubuhnya sedikit pada Casandra seraya memberi hormat pada adik dari tuannya itu. Setelah itu dia pun berjalan mendekat pada sang tuan lalu berdiri tepat di belakang tuannya itu.
"Kau jangan berdiri saja! Duduklah di sini," ujar Casandra pada Arga.
__ADS_1
"Tidak, Nona. Ini memang sudah menjadi tugas saya," jawab Arga dengan penuh hormat.
"Kalau kau tidak mau duduk di sampingku, kau carilah tempat duduk lain. Aku tidak terbiasa melihat orang yang selalu berdiri di hadapanku!" timpal Casandra dengan nada memerintah.
Reno memberikan tanda pada Arga untuk duduk di tempat lain. Dia menatap sang adik yang tidak mengabarinya jika ingin pergi ke Jepang.
"Aku tahu kau pasti ingin menginterogasiku bukan, Kak?" Casandra bertanya pada Reno.
Karena dia melihat sorot kedua mata sang kakak yang sangat tajam. Serta penuh dengan banyak pertanyaan padanya, meski dia tidak ingin mengatakan semuanya pada sang kakak. Namun, dia tidak akan bisa berkutik jika sang kakak sudah bertindak.
Oktavia menatap Reno yang ada di sampingnya, dia merasa ada yang aneh dengan pria itu. Dalam benaknya berkata bukankah tadi Reno terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Kenapa pula sekarang tiba-tiba sudah ada di restoran ini.
"Kau mengikuti aku hingga kemari?" bisik Oktavia pada Reno.
"Kau jangan terlalu percaya diri," timpal Reno dengan berbisik pula.
Mendengar perkataan itu membuat Oktavia kembali kesal dan memilih untuk diam. Dia mengerutkan bibirnya seraya memperlihatkan kekesalannya itu.
"Apa alasanmu ke Jepang?" tanya Reno pada Casandra.
Reno bertanya pada sang adik karena dia tahun bahwa Casandra sedang dihukum oleh ayah. Cassandra tidak diperbolehkan pergi ke luar negeri untuk waktu tiga bulan.
"Apa kau ingin menemui orang itu?" Reno kembali bertanya pada sang adik.
"Kak, bisakah kau bantu aku?" Casandra bertanya pada Reno dengan nada memohon.
Dia sudah tidak bisa lagi menahan semuanya, baginya sudah cukup mengorbankan semua apa yang diinginkannya. Selama ini Casandra selaku mengalah pada ayah dan ibunya serta menuruti apa yang diinginkan oleh mereka.
"Mereka melakukan semua ini untuk kebaikanmu. Apakah kau tidak bisa melihat semuanya?" ujar Reno sembari menatap sang adik.
"Apakah aku tidak bisa sepertimu? Memilih siapa yang ingin dinikahi? Apakah aku selalu harus mengorbankan semuanya?" Casandra berkata dengan memandang ke arah luar.
__ADS_1
Oktavia masih mencerna apa yang diajarkan oleh Casandra yang mengatakan jika Reno memilih sendiri yang ingin dinikahinya. Karena setahu dirinya, Reno menikah dengannya karena keinginan orang tua.
Dia menyapa Reno seraya ingin tahu sebenarnya apa yang sudah terjadi. Mengapa semuanya terasa aneh baginya, dia merasa ada sesuatu yang masih tersembunyi rapat darinya.
Reno mengabaikan Oktavia untuk saat ini karena dia sedang fokus dengan sang adik. Dia merasa jika saat ini adiknya itu sudah berada di suatu titik untuk memberontak.
"Apa yang akan kau lakukan? Memberontak hanya untuk mengejar cintamu?" tanya Reno pada Casandra.
Cassandra terdiam, dia tidak mengira sang kakak bisa mengatakan semua itu padanya. Meski terbersit di dalam benaknya untuk memberontak tetapi dia tidak tahu apakah semua itu diperlukan.
"Kau pun masih mengejar cintamu bukan, Kak? Apakah itu terasa sakit?" timpal Casandra yang melupakan kehadiran Oktavia di sana.
"Semua itu tergantung padamu saja! Aku tidak bisa membantumu. Sebab semuanya itu tergantung dirimu sendiri. Namun, yang perlu aku tekankan adalah kau harus tahu apakah pria itu pantas kau kejar atau tidak?" imbuh Reno.
Apa yang dikatakan oleh kedua orang itu membuat Oktavia berpikir keras. Dia tidak memahami mengapa Casandra bisa mengajak semua itu.
"Lebih baik aku pergi," ucap Casandra sembari beranjak.
Oktavia tidak bisa membiarkan sahabatnya pergi begitu saja, dia berusaha menghentikan kepergian Casandra. Namun, Reno melarangnya karena saat ini sang adik memerlukan waktu untuk berpikir.
"Apa kau tidak khawatir dengannya?" tanya Oktavia pada Reno dengan nada menekan.
"Dia tidak akan apa-apa," timpal Reno dengan santainya.
Oktavia kembali terduduk laku memikirkan apa yang sudah terjadi pada sahabatnya itu. Dia pun kembali mengingat semua yang sudah terjadi sebelum dia menikah dengan Reno.
Dia mengingat kembali apa yang terjadi saat dirinya harus ke Singapura. Oktavia teringat jika Casandra meminta satu hal untuk mencari tahu tentang seorang pria.
"Apa pria itu, Bisma?" tanya Oktavia pada Reno.
"Kau sudah tahu tentang dia?" Reno balik bertanya pada wanita yang ada di sampingnya itu.
__ADS_1
"Dia adalah asistenku di Singapura. Bukankah kau pernah bertemu dengannya," Oktavia menjawab lalu disertai dengan pertanyaan kembali.
Oktavia melihat ada noda darah di kemeja Reno, dia melihat dengan saksama. Dalam hatinya berkata mungkinkah lukanya kembali terbuka.