
"Bagaimana keadaanmu, Nona?" tanya Bisma saat melihat Oktavia terbangun.
"Di mana aku?" Oktavia bertanya sembari menyentuh keningnya.
Bisma menjelaskan pada Oktavia apa yang sudah terjadi, setelah itu dia meminta izin untuk pergi. Karena ada yang harus dilakukan olehnya untuk mengurus dan mencari tahu siapa yang sudah menyerangnya kemarin.
Oktavia terduduk di atas ranjang rumah sakit, sembari memikirkan apa yang sudah terjadi. Ada sekelebat potongan puzzle yang muncul dan itu membuatnya kembali merasa pusing.
Ada bayangan punggung pria yang hendak diraihnya tetapi tidak bisa. Tubuh pria itu seperti menjauh tatkala dirinya berniat untuk menyentuhnya.
Hingga akhirnya bayangan itu menghilang dan Oktavia berusaha menenangkan dirinya agar tidak terlalu sakit kepalanya. Dia pun sudah bisa bersikap tenang, perlahan rasa sakit di kepalanya pun berangsur-angsur menghilang.
Dia mengingat dengan perlahan punggung pria yang baru muncul itu. Oktavia membayangkan Randy apakah sama dengan pria yang ada di dalam memorinya itu. Namun, dia tidak menemukan kesamaan antara Randy dan pria itu.
"Apakah pria itu adalah dia?" gumam Oktavia sembari berusaha mengingat pria itu.
Apabila pria itu benar-benar dia maka Oktavia akan berusaha mengingat semuanya. Sehingga dia bisa mengejar pria itu dan memenuhi semua janji yang sudah dia ucapkan.
Ponselnya berdering, Oktavia berusaha mengambil ponsel yang tersimpan di atas nakas. Dia melihat nomor yang tertera adalah nama sang ayah.
Dia mengangkatnya lalu berusaha bersikap tidak terjadi apa-apa. Sang ayah bertanya tentang keadaannya dan Oktavia menjawab jika dirinya tidak apa-apa.
Padahal kenyataannya Oktavia saat ini sedang berada di rumah sakit karena penyerangan kemarin. Namun, dia tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui kejadian itu.
"Aku tidak apa-apa, Ayah. Lebih baik kalian di sana jaga kesehatan," ucap Oktavia pada sang ayah yang berada di sambungan teleponnya.
Setelah mengatakan itu Oktavia pun memutuskan sambungan teleponnya. Dia tidak ingin bicara terlalu panjang lebar karena dia takut sang ayah menyadari apa yang terjadi padanya.
Beberapa saat kemudian Bisma tiba dengan sebuah tab di tangannya. Dia ingin memperlihatkan sebuah Vidio pada Oktavia, di mana Vidio tersebut adalah rekaman pengakuan musuh yang menyerang kemarin.
"Apa ini?" tanya Oktavia setelah Bisma menyerahkan tabnya.
"Nona, bisa melihatnya sendiri," jawab Bisma sembari menekan sebuah Vidio yang berada di tabnya itu.
Oktavia menonton semua pengakuan penjahat yang menyerang dirinya. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan penjahat itu di awal pemeriksaan.
Namun, setelah penjahat itu menjelaskan siapa yang menyuruh mereka. Pikiran Oktavia tertuju pada orang itu. Ya. Orang yang pernah ada sedikit masalah dengannya.
"Mengapa dia melakukan semua ini? Apakah dia masih dendam padaku?" gumam Oktavia.
"Nona, apakah Anda mengenal orang itu?" Bisma bertanya pada Oktavia yang masih terduduk dan menatap Vidio pengakuan penjahat yang menyerangnya kemarin.
Oktavia mengangguk, dia mengenal ciri-ciri orang yang menyuruh penjahat itu menyerangnya. Namun, dia tidak bisa langsung menuduh orang itu karena dirinya tidak ingin salah mengenali orang itu.
"Kita biarkan saja orang itu. Aku ingin lihat sejauh mana dia akan mencelakai aku," ujar Oktavia pada Bisma.
Bisma masih belum bisa tenang dengan apa yang dikatakan oleh sang nona. Dia berpikir untuk memberikan beberapa penjaga untuk Oktavia.
Dia pun tidak bisa memaksakan kehendaknya pada sang nona untuk mengatakan siapa sebenarnya orang itu. Agar dia bisa mencari di mana keberadaan orang itu saat ini.
__ADS_1
Oktavia duduk dan terdiam, dia kembali mengingat satu per satu perkataan pria yang menyerangnya. Yang mengatakan ciri-ciri dari orang yang menginginkan kematiannya.
Helaan napas terdengar darinya, dia benar-benar yakin dengan apa yang sudah dipikirkannya. Bahwa orang itu adalah benar-benar dia.
Tiga hari berlalu dengan sangat cepat, Oktavia pun sudah ke luar dari rumah sakit dan sekarang dia kembali bekerja seperti biasanya. Dia pun meminta semua hasil pekerjaan yang belum diperiksanya selama dia masih di rumah sakit.
"Aku ingin semua informasi tentang penggantian rugi penduduk di sekitar hotel yang sedang di bangun!" Oktavia berkata pada Bisma.
"Baik akan saya siapkan," jawab Bisma sembari berjalan meninggalkan ruangan Oktavia.
Oktavia kembali membuka dokumen yang sudah berada di atas meja. Dia berusaha memfokuskan semua pikirannya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.
Namun, dia kembali teralih dengan mengingat bayangan pria yang sedang memunggunginya. Dia benar-benar yakin jika pria itu adalah Reno.
Bayangan pria yang selalu ada di dalam puzzel ingatannya. Entah mengapa dia yakin kalau itu adalah Reno karena ada sesuatu keterikatan antara semua itu.
Ponsel Oktavia berdering, dia melihat nomor yang tertera di layar ponselnya. Dia mengerutkan keningnya karena yang menghubunginya adalah Arga.
"Ada apa dia menghubungiku?" gumam Oktavia sembari mengangkat teleponnya.
Oktavia hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Arga. Dia sama sekali tidak banyak bicara, Arga menginginkan Oktavia untuk menemui tuannya yaitu Tuan Reno.
"Tidak. Belum saatnya aku bertemu dengannya. Kau jaga dia untukku apabila sudah tiba saatnya aku akan ke sana," jelas Oktavia pada Arga lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Oktavia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya. Dia sebenarnya ingin bertemu dengan Reno dan menanyakan semuanya pada pria itu.
Namun, baginya belum saatnya untuk bertemu dengan Reno. Karena masih banyak yang harus diselesaikan olehnya dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Terdengar suara ketukan pintu, Oktavia menyuruhnya untuk masuk. Terlihat bosan yang membuka pintu lalu berjalan memasuki ruang kerja. Dia membawa map yang berisikan semua laporan yang diinginkan oleh Oktavia.
"Silakan, Nona membacanya," ucap Bisma sembari menyodorkan map yang ada di tangannya ke Oktavia.
Oktavia menerima map yang diberikan oleh Bisma, dia membukanya lalu membacanya dengan saksama. Dia tidak ingin melewatkan satu kejadian pun yang bisa membuatnya salah mengambil keputusan.
"Semua warga sudah mendapatkan ganti rugi. Aku berharap tidak ada lagi yang mengatakan bahwa mereka tidak mendapatkan ganti rugi," Oktavia berkata sembari menutup map yang ada di tangannya itu.
"Nona, siang ini kita akan ke tempat pembangunan hotel," ujar Bisma pada Oktavia.
"Siapkan semuanya, aku ingin melihat perkembangan dari pembangunan hotel," timpal Oktavia.
Bisma mengangguk lalu dia pamit untuk kembali ke ruang kerjanya. Sebelum siang ini beberapa pekerjaan harus diselesaikan olehnya.
Oktavia pun kali membaca semua dokumen yang sudah ada di atas mejanya. Dia memeriksa semuanya dengan saksama hingga waktu pun tidak terasa sudah menunjukkan jam makan siang.
Dia pun merapikan mejanya lalu berjalan ke luar ruang kerjanya. Oktavia melihat Bisma yang berjalan mendekat kepadanya.
"Kau sudah siap? Ayo kita pergi!" ujar Oktavia pada Bisma sembari berjalan menuju mobilnya.
Bisma berjalan mengikuti Oktavia, dia tidak banyak bicara meskipun sebelum bertemu dengan sang nona ada seseorang yang menghubunginya.
__ADS_1
Orang itu tidak lain adalah Arga yang memintanya untuk menjaga Oktavia. Namun, sebenarnya Arga meminta Bisma untuk memberikan masukan pada Oktavia agar mau bertemu dengan Reno.
Akan tetapi, Bisma tidak bisa mencampuri urusan pribadi sang nona. Karena hingga saat ini Oktavia pun tidak mencampuri urusannya dengan Casandra.
Oktavia memasuki mobil begitu pula dengan Bisma, kali ini mereka menggunakan sopir. Selama dalam perjalanan menuju lokasi pembangunan hotel Oktavia hanya diam sembari memikirkan tentang orang itu.
Orang yang menginginkan dirinya gagal dalam membangun hotel kali ini. Dia tidak habis pikir dengan orang itu padahal selama ini baik dia atau ayahnya tidak pernah mencari masalah dengan orang itu.
Mobil terhenti tepat di depan sebuah area pembangunan hotel. Di sana semua para pekerja sedang beristirahat dan ada beberapa yang masih melakukan pekerjaannya.
Pintu mobil dibuka oleh Bisma, tanpa mengucapkan sepatah kata Oktavia ke luar dari mobil. Dia berdiri dan langsung melihat keadaan lokasi pembangunan.
Tidak berapa lama ada seseorang yang mendekat dan memberikan beberapa perlengkapan untuk melindungi diri. Oktavia langsung menggunakan helm dan mulai berjalan di lokasi pembangunan hotel.
Oktavia berjalan-jalan untuk memeriksa semua hal yang menjadi kendala. Dia melihat dari kejauhan ada seorang anak kecil yang melihat ke arahnya.
Dia pun berjalan mendekat pada anak kecil itu karena dia merasa jika anak kecil itu ingin bertemu dengannya. Entah mengapa Oktavia bisa semakin itu dengan penilaiannya terhadap anak kecil itu.
"Kau ingin bertemu denganku?" tanya Oktavia pada anak kecil yang masih menatapnya dengan serius.
Oktavia menunggu anak kecil itu untuk memulai pembicaraan. Terlihat jelas jika anak kecil itu masih berpikir apakah Oktavia adalah orang yang tepat atau tidak.
Bisma pun memperhatikan dengan saksama anak kecil itu, dia merasa jika a akan kecil itu sedang menilai sang nona. Dia pun berdiri tegap dan menyapu sekeliling untuk melihat apakah ada orang lain yang sengaja menyuruh anak kecil itu.
Namun, tidak ada seorang pun yang berlalu-lalang kecuali para pekerja bangunan. Mungkin anak kecil itu sengaja datang ke tempat ini untuk memberikan informasi.
"Kalau kau tidak ada perlu denganku—aku akan pergi," ucap Oktavia sembari menyentuh kepala anak kecil itu lalu tersenyum.
"Tunggu. Aku ingin menyerahkan ini pada Anda, Nona," ujar anak kecil itu sembari menyerahkan sebuah USB pada Oktavia. Setelah itu dia berlari meninggalkan Oktavia.
Oktavia menerima sebuah USB dari seorang anak kecil, dia tidak tahu apa isi dari USB tersebut. Namun, yang pasti dia tahu itu bisa membantunya untuk menyelesaikan semua ancaman dari musuh ayahnya yang sudah mulai bergerak.
Setelah mendapatkan USB itu Oktavia dan Bisma memutuskan untuk kembali ke perusahaan. Dia ingin segera melihat apa isi dari USB tersebut begitu pula dengan Bisma.
Dalam perjalanan menuju perusahaan Oktavia melihat seseorang yang dikenalnya. Namun, dia menghempaskan semua itu karena tidak mungkin orang itu ada di sini.
Dia pun kembali menatap ke arah depan lalu memejamkan kedua matanya sejenak. Oktavia kembali teringat dengan orang itu kembali, sudah lama dirinya tidak mengetahui kabar tentang orang itu.
"Nona, kita sudah sampai," ucap Bisma yang menyadarkan Oktavia laku membuka kedua matanya.
Oktavia pun mengambil tasnya lalu ke luar dari mobil setelah Bisma membukakan pintu mobilnya. Dia berjalan menuju ruangannya untuk melihat apakah isi dari USB tersebut.
Karena dia sangat penasaran dengan isinya dan mengapa anak kecil itu menyerahkan USB itu pada dirinya. Oktavia langsung membuka laptopnya dan menyalakannya.
Bisma hanya berdiri dan menunggu sang nona untuk memeriksa USB tersebut. Dia juga penasaran dengan isi USB tersebut.
"Kemarilah dan lihat bersama denganku!" perintah Oktavia pada Bisma.
"Baik, Nona." Bisma menjawab lalu berjalan ke arah Oktavia dan berdiri tepat di belakangnya.
__ADS_1
Mereka berdua pun mulai melihat isi dari USB tersebut hanya ada satu buah Vidio saja di dalam USB itu. Oktavia pun mulai mengeklik Vidio tersebut.
Oktavia melihat dengan jelas isi dari Vidio tersebut dan dia sangat geram dengan apa yang dilakukan orang itu. Orang yang ada di dalam Vidio itu terlihat sangat kejam dan tidak memiliki perasaan sama sekali.