Kan Kulakukan Demi Kamu

Kan Kulakukan Demi Kamu
BAB 24


__ADS_3

"Siapa orang itu? Mengapa dia begitu berani melakukan semua itu di depan banyak orang?" tanya Oktavia pada Bisma.


 "Dia adalah anak buah dari, Tuan Urvil ...," jawab Bisma.


"Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan tadi?" Oktavia kembali bertanya untuk memastikannya kembali.


Karena dia tidak ingin salah mengenali lalu semua tindakannya akan membawanya ke masalah yang lebih besar lagi. Meski dirinya tahu saat ini sudah terseret dalam permusuhan sang ayah dengan Tuan Urvil.


"Saya yakin dengan apa yang saya katakan tadi," jawab Bisma dengan penuh keyakinan.


Oktavia pun terdiam, dia menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya sembari terus melihat ke dalam Vidio itu. Entah apa yang ada di dalam otak pria itu sehingga melakukan semua kejahatan di tengah umum tanpa adanya rasa takut.


Dia terperanjat saat melihat sekilas seseorang yang dikenalnya dalam Vidio itu. Dia kembali memutar mundur Vidio itu lalu melihat kembali orang yang dikenalnya.


Benar saja dia melihat orang yang tadi dilihatnya sewaktu dalam kerjakan menuju perusahaan. Dia tidak mengerti mengapa orang itu ada di sana dan menyaksikan semua kejahatan itu tanpa berbuat apa-apa.


"Anda mengenalnya, Nona?" tanya bidan saat Oktavia memutar balik Vidionya dan menghentikannya.


"Aku mengenalnya. Namun, aku tidak mengerti apa yang dilakukan olehnya di sini," jawab Oktavia sembari terus menatap wajah orang itu dengan saksama.


Bisma tidak bertanya lagi, dia yakin sang nona tidak akan mengatakan semuanya untuk saat ini. Sebelum yakin dengan apa yang dilihatnya tadi.


"Selidiki semuanya! Aku ingin semua laporan dan informasi tentang Tuan Urvil besok pagi," perintah Oktavia pada Bisma.


Bisma mengangguk lalu dia pamit untuk melakukan semua pekerjaan yang diperintahkan oleh Oktavia. Dia pun harus menyelesaikan semua pekerjaan yang menjadi tugasnya.


Oktavia mengangguk dan mengizinkan Bisma untuk pergi, dia pun akan menyelesaikan semua pekerjaannya. Dan juga dia masih terpikirkan dengan orang yang ada di dalam Vidio tersebut.


Dia masih merasa bingung mengapa seorang anak kecil bisa memiliki tekanan itu. Menurutnya tidak mungkin jika seorang anak merekam semua itu dan memasukkannya ke dalam USB. Pasti ada seseorang di balik anak kecil itu untuk menyerahkan USB itu padanya.


Kepalanya kembali terasa pusing tatkala banyak hal yang dipikirkannya. Oktavia pun beranjak dan berjalan menuju sebuah almari dan membukanya lalu mengambil sebotol air mineral.


Oktavia kembali berjalan mendekat pada mejanya dan mengambil obat dari dalam tasnya. Dia meminum obat tersebut lalu merebahkan dirinya di atas sofa sejenak.


Dipejamkan kedua matanya untuk agar sakit yang dirasakannya hilang. Dalam tidurnya kembali muncul bayangan pria yang selalu ada di dekatnya dan pria itu bukanlah Randy.


"Siapa kau? Mengapa kau selalu membelakangi aku?" tanya Oktavia pada orang yang ada di depannya.

__ADS_1


Namun, orang itu sama sekali menghiraukan apa yang ditanyakan oleh Oktavia. Dia masih saja diam dan membelakangi Oktavia.


Oktavia terus bertanya pada pria itu tetapi pria itu masih tetap diam dan membelakanginya. Dia melangkahkan kedua kakinya untuk mendekati pria itu.


Akan tetapi, semakin Oktavia mendekati pria itu maka pria itu akan semakin jauh darinya dan akhirnya menghilang. Oktavia berteriak memanggil pria itu.


"Nona, apa Anda tidak apa-apa?" tanya seorang wanita pada Oktavia.


Wanita itu tidak lain adalah sekretarisnya, dia merasa khawatir karena mendengar suara teriakan sang nona. Sehingga dirinya memutuskan untuk masuk ke ruangan sang nona.


Ternyata benar saja sekretarisnya itu melihat nonanya sedang tertidur tetapi terus berteriak memanggil seseorang. Karena khawatir dia pun akhirnya memutuskan untuk membangunkan Oktavia.


Oktavia terbangun saat sekretarisnya menggoyangkan tubuhnya serta memanggilnya. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya dan sekretaris itu mengambil sebuah gelas dan memasukkan air mineral ke dalam gelas itu.


"Nona ...," sekretaris itu berkata sembari menyodorkan gelas yang sudah berisikan air mineral.


"Panggil, Bisma ke mari!" perintah Oktavia pada sekretarisnya itu.


"Baik, Nona saya akan memanggilnya dan menyuruhnya untuk menemui Anda," jawab sekretaris sembari membungkukkan tubuhnya sedikit lalu berjalan meninggalkan ruangan Oktavia.


Oktavia beranjak dan berjalan menuju jendela untuk melihat pemandangan di luar. Dia merasakan ada yang aneh dengan mimpinya karena mimpinya selalu saja hal yang sama.


Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu, Oktavia pun menurutnya untuk masuk. Pintu ruangan pun terbuka, dia melihat Bisma yang berjalan memasuki ruangan.


Bisma melihat sang nona dengan saksama karena dia merasa khawatir. Sekretaris yang memanggilnya mengatakan apa yang sudah terjadi.


"Apa Anda membutuhkan bantuan saya, Nona?" tanya Bisma pada Oktavia dengan nada menyelidiki.


"Kau tahu bagaimana keadaannya?" jawab Oktavia dengan pertanyaan.


"Siapa yang Nona maksud?" Bisma balik bertanya karena dia tidak tahu siapa orang yang di maksud oleh nonanya itu.


Bisma kembali bertanya siapa orang yang dimaksud oleh Oktavia. Karena banyak orang yang ingin diketahui informasinya oleh sang nona.


"Aku yakin kau tahu siapa yang aku maksud. Dia adalah Reno," Oktavia menjawab apa yang ditanyakan oleh Bisma.


Bisma terdiam sejenak, dia sedikit terkejut karena sang nona bertanya padanya tentang Reno. Padahal selama di Singapura Oktavia tidak pernah ingin tahu bagaimana kabar suaminya itu.

__ADS_1


Sepengetahuan Bisma Oktavia sengaja tidak ingin tahu apa pun tentang Reno saat ini. Karena Oktavia masih ingin menemukan dirinya dan memastikan sesuatu. Dan bidan tidak tahu apa yang ingin dipastikan itu.


"Saya tidak mencari tahu tentang, Tuan Reno. Apakah, Nona ingin saya mencari tahu tentang keadaannya?" jawab Bisma sembari balik bertanya pada Oktavia.


"Tidak. Tidak perlu kau mencari tahu tentang dia. Abaikan saja yang aku tanyakan tadi. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu," jawab Oktavia yang tidak ingin tahu dulu tentang Reno.


Dalam benak Oktavia berkata jika masalah di Singapura ini sudah selesai maka dia bisa bernapas lega. Dan dia pun masih harus menata semua puzzel yang ada di dalam dirinya. Dia ingin mengingat semua kenangan yang sudah hilang itu.


Bisma pun mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan, dia berniat menghubungi Arga. Dia akan bertanya tentang keadaan Reno karena dirinya merasa khawatir. Karena tidak biasanya sang nona bertanya tentang suaminya itu.


Oktavia melihat kepergian Bisma dan sebenarnya dia masih belum bisa menghilangkan rasa ingin tahunya tentang keadaan Reno. Meski mulutnya berkata tidak ingin mencari tahu tentang suaminya itu.


"Sebaiknya aku mulai bekerja," Oktavia berkata sembari duduk dan mulai mengerjakan semua pekerjaannya.


Dia pun berhasil menghempaskan pemikirannya tentang Reno dan tidak terasa matahari sudah hampir terbenam. Terdengar suara ketukan pintu ruangan, Oktavia pun menyuruh orang yang mengetuk pintunya untuk masuk.


"Nona, apakah masih ada yang Anda perlukan?" tanya sekretaris itu pada Oktavia.


Oktavia melihat ke jam yang melingkar dia pergelangan tangannya. Dia melihat sudah waktunya sekretaris itu pulang dan dirinya pun harus pulang ke apartemennya.


"Tidak ada. Kau boleh pulang dan katakan pada Bisma aku akan pulang sekarang," jawab Oktavia lalu menyuruh sekretarisnya untuk memberi pesan pada Bisma.


"Baik, Nona." Sekretaris itu menjawab lalu dia pergi menuju ruangan Bisma.


Oktavia mulai merapikan semua dokumen yang berada di atas meja kerjanya. Dia beranjak mengambil tas dan ponselnya lalu berjalan keluar. Oktavia melihat Bisma yang baru saja ke luar dari ruang kerjanya.


"Apakah, Nona akan langsung pulang atau mau pergi ke suatu tempat?" tanya Bisma pada Oktavia.


"Langsung ke apartemen," jawab Oktavia sembari terus berjalan menuju mobilnya.


Bisma pun mengikuti sang nona dari belakang, dia tidak banyak bicara lagi. Ponselnya bergetar, dia mengambil ponselnya dari dalam saku celana.


Dia melihat nomor yang tertera di layar ponsel lalu memasukkannya kembali ke dalam saku celana. Bidan mengabaikan panggilan tersebut. Karena saat ini bukan waktu yang tepat untuk urusan pribadi.


Seorang sopir sudah siap dan membukakan pintu mobil untuk Oktavia. Dengan senyum lembutnya Oktavia pun masuk ke dalam mobil dan duduk dengan santai.


Bisma pun membuka pintu mobil depan dan dia duduk di samping sopir. Oktavia melihat ada yang aneh dengan Bisma tetapi dirinya tidak ingin ikut campur dalam urusan pribadi asistennya itu.

__ADS_1


Sang sopir pun memasuki mobil, dia menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankan mobilnya menuju apartemen Oktavia. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan sedang karena tidak sedang dikejar waktu.


Beberapa saat kemudian sang sopir menghentikan mobilnya. Dia melihat di depan ada seseorang yang menghalangi jalannya mobil. Padahal sebentar lagi sudah akan tiba di apartemen sang nona.


__ADS_2