Kan Kulakukan Demi Kamu

Kan Kulakukan Demi Kamu
BAB 26


__ADS_3

"Kau tahu semuanya? Apa dia yang mengatakannya padamu?" Oktavia bertanya kali pada Kamila.


Jika benar Randy mengatakan semua hal yang dilakukan sewaktu mereka bersama. Itu membuat Oktavia kembali berpikir apakah yang dirasakan Randy itu memang benar-benar cinta atau hanya memanfaatkannya saja.


"Iya. Dia mengatakannya padaku dan menyuruhku untuk tidak berharap lagi padanya," jawab Kamila dengan yakin.


Oktavia terdiam, dia benar-benar kecewa dengan apa yang didengarnya. Dia pun tidak mengira jika Randy mengubah apa yang sudah dia lakukan bersamanya.


"Apa hanya itu yang kau inginkan dariku?" Oktavia bertanya kembali pada Kamila.


Dia merasa sudah cukup baginya berbicara dengan Kamila. Lagi pula apa yang diinginkan Kamila sudah dilakukan olehnya. Dan tidak ada niat dirinya untuk kembali pada pria yang sudah mengumbar-umbar hubungan yang hanya bisa dikatakan privasi.


"Kamu berhati-hatilah. Karena orang-orang itu mulai bergerak," ucap Kamila pada Oktavia lalu dia beranjak dan pergi meninggalkan kafe.


Oktavia kembali berpikir dengan apa yang dikatakan oleh Kamila. Dia tidak tahu siapa orang-orang yang dimaksud, apakah orang-orang itu adalah suruhan dari musuhnya selama ini.


"Bisma, apa kau percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kamila tadi?" tanya Oktavia pada Bisma.


"Kita tidak boleh mengabaikan hal sekecil apa pun karena semuanya bisa saja terjadi. Sebaiknya mulai saat ini kita waspada," jawab Bisma.


Bisma pun merasa jika yang dikatakan oleh Kamila tentang orang-orang itu benar. Dia pun akan mulai menyuruh beberapa orang untuk menjaga Oktavia karena dia tidak ingin orang-orang itu menyerang serta melukai sang nona.


Baginya menjaga keselamatan Oktavia bukan hanya tanggung jawabnya terhadap Tuan Suryana tetapi ada juga rasa tanggung jawab terhadap Casandra dan juga Reno. Dia tidak ingin mereka semua bersedih jika terjadi sesuatu pada Oktavia.


Oktavia beranjak lalu berjalan meninggalkan kafe dan memasuki mobilnya. Dia menyuruh sang sopir untuk mengantarnya ke apartemen. Karena malam ini dia ingin segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Beberapa saat kemudian, dia tiba di apartemen dan menyuruh Bisma untuk tidak perlu khawatir dengannya. Karena dia bisa menjaga dirinya.


Bisma mengangguk lalu melihat sang nona memasuki apartemennya. Namun, dia tidak bisa tenang begitu saja, dalam benaknya dia tidak bisa hanya diam menunggu orang-orang itu bertindak.


Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang dan meminta orang itu untuk mencarikan sebuah apartemen di dekat apartemen sang nona. Bisma berpikir demikian karena jika dirinya berada di dekat Oktavia maka dia bisa dengan cepat melindunginya jika terjadi sesuatu yang berbahaya.


Oktavia berjalan memasuki kamarnya, dia meletakan tas dan ponselnya di atas meja. Dilepaskannya satu per satu kancing kemejanya dan melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.


Dia berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Oktavia berdiri tepat di bawah shower, dia memutar keran shower perlahan dan air pun membasahi kepala hingga tubuh bagian bawah Oktavia.


Dipejamkannya kedua matanya, tiba-tiba muncul kembali potongan puzzle yang mulai terlihat jelas. Oktavia langsung membuka kedua matanya, dia langsung melakukan semua rutinitas membersihkan diri.


Setelah menyelesaikan semua itu, Oktavia mengambil handuk lalu melingkarkan ya di tubuhnya. Dia pun berjalan ke luar dari kamar mandi dan berjalan menuju meja untuk mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Bisakah kau ke Singapura?" tanya Oktavia pada seseorang yang ada di balik telepon.


Oktavia menyuruh orang itu untuk menemuinya di Singapura dan dia tidak ingin ada penolakan dari orang itu. Karena begitu banyak hal yang ingin diketahuinya.


Dia berharap dengan kedatangan orang itu bisa membuatnya mengetahui apa yang sudah terjadi padanya beberapa tahun ke belakang. Sehingga membuatnya kehilangan memorinya dan seseorang yang menurutnya sangat berarti.


Orang itu pun terpaksa menyetujui apa yang diperintahkan oleh Oktavia. Karena baginya mungkin ini semua sudah waktunya untuk diceritakan.


Setelah mengetahui jika orang itu akan ke Singapura, Oktavia pun memutuskan sambungan teleponnya. Dia pun menyimpan kembali ponselnya di atas nakas.


Oktavia berjalan menuju almari lalu dia mengambil pakaian untuk dikenakan dan dia langsung mengenakan pakaian itu. Setelah itu dia berjalan menuju pantry untuk mengambil minuman di dalam almari pendingin.


Dia duduk di atas sofa lalu menyalakan televisi, mencari siaran yang bagus untuk ditontonnya sembari meminum sebotol minuman. Oktavia kembali teringat akan pertemuannya dengan Kamila.


"Aku tidak menyangka Randy akan melakukan semua itu," kata Oktavia sembari mematikan televisi dan menyimpan botol minuman yang belum habis.


Helaan napas terdengar begitu berat Oktavia pun beranjak dan berjalan menuju kamarnya. Dia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Oktavia mencoba memejamkan kedua matanya tetapi tidak bisa. Karena dia masih terpikirkan oleh kelakuan Randy yang menceritakan hubungan intim mereka pada wanita lain.


Menurutnya semua itu tidak etis karena itu adalah privasinya. Dia kembali memikirkan tentang Randy apakah pria itu benar-benar mencintainya atau hanya memanfaatkan dirinya saja.


"Mengapa aku begitu bodoh!" ujar Oktavia lalu berusaha memejamkan kedua matanya.


***


Oktavia terbangun saat mendengar alarm dari ponselnya, dia mengambil ponselnya lalu mematikan alarm tersebut. Dia membuka kedua matanya lalu melihat ke arah langit-langit kamarnya.


"Bukankah hari ini adalah hari minggu? Aku ingin tidur lagi," ucapnya lalu kembali menutupi wajahnya dengan selimut.


Namun, alarm ponselnya kembali berbunyi dan itu merupakan alarm penanda bahwa dirinya harus berolah raga. Oktavia pun membuka selimutnya dan mengambil ponselnya lalu duduk di atas tempat tidur.


Dia menghela napasnya lalu beranjak dan berjalan menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga. Oktavia sudah siap dengan semua perlengkapan olahraganya.


Hari ini dia hanya akan berlari mengitari taman yang ada di depan apartemen. Setelah itu dirinya akan kembali ke apartemen dan kembali bersantai.


Oktavia berjalan ke luar apartemen dan memasuki lift untuk turun ke bawah. Tidak berapa lama lift pun terhenti di bawah, dia berjalan keluar dari lift menuju taman.


Dia berlari mengelilingi taman sembari menyalakan musik dari ponselnya dan memasang earphone. Oktavia tidak menyadari jika dirinya sedang diawasi oleh beberapa orang.

__ADS_1


Orang-orang itu terlihat berniat tidak baik tetapi ada juga beberapa orang yang selalu mengawasi Oktavia. Orang yang mengawasinya itu adalah pengawal yang diperintahkan oleh Bisma untuk melindungi Oktavia.


Para pengawal yang sedang melindungi Oktavia melihat orang-orang yang sedang mengintai sang nona. Mereka pun mendekat pada orang-orang yang hendak bertindak jahat itu.


"Lebih baik kalian pergi—sebelum kalian menyesal!" ucap seorang pengawal pada orang-orang yang sedari tadi mengawasi Oktavia.


"Kami akan pergi tetapi kalian tidak bisa mencegah kami untuk membunuh wanita itu!" timpal seorang penjahat pada para pengawal.


Setelah mengatakan semua itu mereka pun pergi meninggalkan taman. Dan para pengawal kembali pada posisi mereka masing-masing. Mereka sudah mendapatkan perintah dari Bisma untuk tidak terlihat oleh Oktavia.


Karena Bisma tidak ingin sang nona merasa terganggu dengan kehadiran para pengawal. Dan semua itu juga bisa membuat Oktavia menyuruhnya untuk menarik kembali semua pengawal yang ada di sekelilingnya.


Oktavia pun terus berlari mengelilingi taman dan akhirnya dia menyadari jika dirinya sedang diawasi. Dia ingin tahu siapa yang mengawasinya sedari tadi.


Dia duduk di sebuah kursi lalu meminum air yang ada di dalam botol yang dibawa dari apartemennya. Setelah sedikit beristirahat, Oktavia memberikan sebuah tanda pada seseorang untuk mendekat padanya.


Orang itu mengangguk lalu berjalan mendekat pada Oktavia, di dalam benak pria itu berkata pasti dirinya sudah diketahui oleh sang nona.


"Apa, Bisma yang menyuruh kalian?" tanya Oktavia pada pria yang baru saja berdiri tegap di hadapannya.


"Iya, Nona. Tuan Bisma, yang menyuruh kami," jawab pria itu dengan penuh hormat.


"Suruh mereka semua mendekat!" perintah Oktavia pada pria itu.


Pria itu pun memberikan sebuah tanda dengan jarinya dan tidak begitu lama mereka semua berkumpul di depan Oktavia. Mereka merasa gagal karena sudah ketahuan sang nona tentang keberadaan mereka.


Mereka sedikit khawatir jika sang nona akan menyuruh mereka untuk berhenti melindunginya. Karena mereka tahu jika saat ini sang nona dalam bahaya.


"Saya harap Nona tidak menghentikan kami untuk melindungi, Anda," ucap salah seorang pria pada Oktavia.


"Aku tahu apa yang sudah kalian lakukan. Apakah mereka ingin membunuhku?" Oktavia kembali bertanya.


"Iya. Mereka ingin membunuh Anda. Jadi saya harap Anda tidak menghentikan kami semua untuk melindungi Anda," jawab pria itu dengan serius.


Oktavia terdiam, dia juga merasa apa yang dilakukan oleh mereka sudah benar. Dia pun merasa jika dengan adanya mereka dirinya merasa sedikit tenang.


"Aku tidak akan menghentikan kalian. Namun, aku ingin kalian lebih menjaga jarak dariku karena aku ingin membacanya mereka agar keluar menyerangku," jelas Oktavia pada para pengawalnya.


Semua pengawal mengangguk dan terlihat ada kelegaan dari wajah mereka. Sebab mereka benar-benar merasa khawatir dengan keselamatan sang nona.

__ADS_1


__ADS_2