Kan Kulakukan Demi Kamu

Kan Kulakukan Demi Kamu
BAB 17


__ADS_3

"Kau ... untuk apa ada di sini? Bukankah kau ingin mengejar cintamu?" tanya Reno dengan nada dingin pada sang adik.


"Kau berhak marah padaku. Namun, aku berhak bertemu dengan kakak ipar sekaligus sahabatku!" timpal Casandra yang tidak mau kalah dengan sang kakak.


Reno mengabaikan perkataan Casandra lalu dia membuka pintu apartemennya dan masuk. Melihat sang kakak begitu dingin padanya membuat dia merasa semakin bersalah.


"Kamu ada di sini?" Oktavia bertanya pada Casandra yang masih berdiri di depan pintu apartemennya.


"Aku ingin bertemunya dengan dirimu," jawab Casandra sembari merangkul sahabatnya itu.


Oktavia pun menarik tangan Casandra masuk ke dalam apartemen. Dia masih ada yang ingin dibicarakan dengan sahabatnya itu.


Dia berharap kali ini Casandra mau menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Oktavia tidak ingin ada lagi suatu hal yang di sembunyikan.


Casandra sudah duduk di atas sofa, di hadapannya sudah ada Oktavia yang menatapnya penuh dengan harpa. Dia tahu apa yang diinginkan oleh sahabatnya itu.


"Apa, Reno belum mengatakan semuanya padamu?" tanya Casandra pada Oktavia.


"Belum. Karena itu aku ingin tahu apa yang sebenernya sudah terjadi?" jawab Oktavia lalu bertanya kembali pada sahabatnya itu.


Casandra melihat sang kakak yang sudah berdiri di belakang Oktavia. Sang kakak memberikan tanda untuk tidak menceritakan semuanya.


Melihat tanda dari sang kakak akhirnya Casandra pun memutuskan untuk tidak mengatakan pada sahabatnya itu. Namun, dia tidak terima jika sang kakak membawa Oktavia pada pria itu.


Casandra pun mengalihkan pembicaraan agar sang sahabat tidak selalu bertanya tentang masa lalu. Padahal masa lalu sahabatnya itu terlihat sangat indah. Dan dia pun terkadang menginginkan kisah cinta seperti mereka.


"Apa kau serius melakukan semua ini, Kak?" tanya Casandra.


Oktavia langsung berbalik dan melihat pria yang sudah menjadi suaminya itu berada di belakangnya. Dia menatap Reno seraya ingin tahu apa yang sudah disembunyikan oleh pria yang ada di hadapannya itu serta sahabatnya.


"Katakan padaku?" tanya Oktavia pada Reno.

__ADS_1


Reno menghela napasnya, dia menatap Oktavia dengan saksama. Sembari berpikir kembali untuk mengatakan yang sebenarnya atau tidak.


Oktavia pikir Reno akan menjawab pertanyaannya terapi tidak. Pria itu tidak mengatakan apa-apa kecuali menyuruhnya untuk bersiap-siap karena akan pergi ke sebuah acara makan malam.


Reno tidak akan mengatakan sesuatu hal yang bisa membuat kita kesakitan kembali. Dia lebih memilih mengorbankan dirinya daripada melihat Oktavia kesakitan.


Sudah berbagai cara dilakukan oleh Oktavia untuk membuat Reno mengatakan semuanya. Akan tetapi, tidak membuahkan hasil bahkan Reno menyuruh Casandra untuk peri dari apartemennya.


"Sebenarnya ada apa denganmu? Mengapa kau mengusir Casandra? Dia tidak bersalah karena yang bersalah adalah dirimu!" tukas Oktavia yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Reno yang tidak berkata jujur padanya.


"Tidak ada apa-apa denganku. Yang terpenting saat ini adalah mempertemukan dirimu dengan pria yang kau cintai itu!" timpal Reno dengan nada dingin lalu berjalan keluar.


Oktavia terdiam lalu terduduk, dia tidak mengira jika dirinya akan mendapat kembali perkataan seperti itu. Entah mengapa dirinya merasa sakit ketika mendengar Reno mengatakan semuanya padanya.


Tidak begitu lama Arga mengetuk pintu apartemen, Oktavia membukanya lalu melihat asisten dari pria yang sudah membuatnya kesal itu sudah berdiri tegap dengan membawa sebuah gaun. Oktavia tidak bisa mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh Reno.


Apakah pria itu benar-benar tidak bisa menjadikan dirinya sebagai pasangan hidupnya. Apakah baginya Oktavia adalah wanita yang tidak pantas menjadi pendamping seorang Reno Mahardika.


Oktavia pun mengambil gaun yang disodorkan oleh Arga lalu menutup kembali pintu apartemennya. Dia masih merasa kesal dengan apa yang sudah dilakukan oleh Reno pada dirinya.


Dia sudah mulai lelah dengan semua rahasia yang disembunyikan darinya. Oktavia berpikir untuk menghubungi ayah atau ibunya untuk bertanya akan hal itu.


Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas nakas, Oktavia langsung menghubungi sang ibu untuk bertanya akan hal itu. Namun, apa yang didapat adalah hal uang sama dikatakan oleh Casandra.


Sang ibu mengatakan jika semuanya tentang masa lalu Oktavia hanya Reno yang berhak untuk mengatakannya. Oktavia kesal lalu bertanya pada sang ibu sebenarnya dia itu adalah putrinya atau bukan.


Mendengar perkataan sang putri yang seperti itu membuatnya merasa sedih. Sebelum memutuskan sambungan teleponnya, sang ibu mengatakan jika Oktavia adalah wanita yang sudah ditakdirkan untuk Reno.


"Bu, katakan sejujurnya!" pekik Oktavia tetapi sang ibu tidak mendengar teriakan Oktavia karena sudah menutup sambungan teleponnya.


Oktavia sangat kesal hingga menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamar apartemennya sembari mengingat kembali apa yang terjadi.

__ADS_1


Yang membuatnya tidak habis pikir mengapa sang ibu pun mengatakan jika yang berhak mengatakan semua itu hanya Reno. Lantas mengatakan jika dirinya sudah menjadi takdir pria yang menjadi suaminya itu.


Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, Oktavia pun mulai bersiap untuk makan malam hari ini. Meski dirinya masih belum bisa tenang karena tidak mengetahui semua hal yang terjadi.


Reno menunggu Oktavia di ruang tamu, dia pun sudah bersiap dengan setelan jas berwarna hitam. Senada dengan gaun yang dikenakan oleh Oktavia malam ini.


"Aku sudah siap," ucap Oktavia yang menyadarkan Reno dari lamunannya.


Kedua mata Reno membola, dia begitu terkesima dengan kecantikan Oktavia. Ini adalah wanita yang sedari dulu selalu menemaninya.


Namun, sekarang semuanya tidak akan sama karena Oktavia akan pergi ke pelukan pria lain. Pria yang sangat dicintai oleh Oktavia, meski dirinya belum tahu sepenuhnya tentang masa lalu antara Oktavia dan Reno.


"Ayo kita pergi," ucap Reno pada Oktavia.


Mereka pun berjalan ke luar apartemen menuju Arga memarkirkan mobilnya. Di sana Arga sudah siap tetapi hatinya merasa tidak rela dengan apa yang akan dilakukan oleh sang tuan.


Arga melihat sang tuan dan nona sedang berjalan mendekat padanya. Dia membukakan pintu mobil lalu membungkuk sedikit seraya mempersilakan mereka berdua untuk masuk ke dalam mobil.


Dia pun menjalankan mobilnya perlahan ke luar dari apartemen. Arga menjalankan mobilnya perlahan seraya tidak ingin sosial di tujuan dengan cepat.


"Apa kau sakit? Mengapa kau seperti kura-kura?!" tukas Reno pada Arga yang menjalankan mobilnya sangat lambat.


Arga mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang tuan, yang menginginkan dirinya untuk mempercepat laju mobilnya. Dia pun menambah laju mobilnya sehingga tidak begitu lama mereka pun tiba di sebuah hotel.


Hotel itu adalah tempat di mana Reno mengatakan pada Randy untuk bertemu. Dia sudah berniat untuk melepaskan wanita yang sangat disayanginya itu.


Oktavia memandang Reno dengan saksama, dia melihat ada guratan kesedihan di wajah pria yang selalu bersikap dingin padanya. Dia hendak bertanya sekali lagi pada


Dia berjalan mengikuti Reno dari belakang, pikirannya masih melayang. Apakah semua ini memang benar-benar harus dilakukan dan dirinya kembali pada Randy.


Entah mengapa hatinya merasakan hal yang berbeda, dia seraya tidak ingin jauh dari pria yang ada di depannya itu. Sikap dinginnya, sikap gila kerjanya selalu membuat dia merasa kesal tetapi dia menyukainya.

__ADS_1


Dirinya pun kembali teringat akan kejadian kemarin yang di mana dia melihat Reno mengorbankan dirinya untuk melindungi Oktavia dari pisau lipat yang dilayangkan oleh para preman kecil itu. Oktavia benar-benar memikirkan semuanya.


__ADS_2