Kan Kulakukan Demi Kamu

Kan Kulakukan Demi Kamu
BAB 19


__ADS_3

"Apa kau sudah mulai mencintainya?" tanya Casandra pada Oktavia sembari duduk di samping sahabatnya itu.


Oktavia mendongak lalu dia melihat ke samping, tanpa menjawab pertanyaan Casandra dia langsung memeluk sahabatnya itu. Dia mengeluarkan semua emosinya dan tidak peduli dengan semuanya.


Casandra hanya bisa membalas pelukan Oktavia dan membiarkannya menangis di dalam pelukannya. Dia menyadari jika sahabatnya ini sudah jatuh cinta kembali pada sang kakak.


"Keluarkan semua kesedihanmu. Aku akan selalu ada di sini untukmu," ujar Casandra pada Oktavia.


"Aku begitu jahat padanya. Sehingga dia pergi meninggalkan aku," sambung Oktavia sembari terus menangis.


Casandra hanya mendengarkan semua perkataan Oktavia tetapi dia tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada sahabatnya itu. Karena saat ini Oktavia belum mengingat tentang kebersamaannya dengan Reno.


Namun, dia merasa kesal karena sang kakak yang begitu saja pergi tanpa kabar. Tanpa mengetahui tentang perasaan Oktavia saat ini.


"Aku sungguh bodoh dan juga jahat," Oktavia kembali menyalahkan dirinya atas semua yang sudah terjadi.


"Tidak. Kau tidak bodoh. Kau juga tidak jahat," timpal Casandra.


Dia berusaha untuk menenangkan hati Oktavia tetapi terasa sulit. Karena sahabatnya itu terlihat terpukul karena kepergian Reno.


Oktavia melepaskan diri dari pelukan Casandra dan mulai menyalahkan dirinya atas kepergian Reno. Dia histeris dan merutuki dirinya sendiri.


"Hentikan semua ini Oktavia!" pekik Casandra yang sudah tidak tahan melihat sahabatnya menderita.


Meski Casandra berusaha untuk menghentikan Oktavia agar tidak berteriak dan menyalahkan dirinya sendiri. Dia tetap tidak bisa menenangkan sahabatnya sendiri.


Arga yang mendengar sang nona berteriak langsung masuk ke dalam apartemen. Dia melihat sang nona begitu terpukul dengan kepergian sang tuan.


Dia berusaha untuk mendengarkan sang nona agar tidak membahayakan nyawanya sendiri. Arga memegang kedua tangan sang nona yang berusaha memukul-mukul dadanya dengan sekuat tenaga. Hingga akhirnya Oktavia terjatuh tidak sadarkan diri.


"Bawa dia ke rumah sakit!" perintah Casandra pada Arga.

__ADS_1


Dengan cepat Arga menggendong Oktavia menuju mobilnya dan membawanya ke rumah sakit. Dia merasa khawatir dengan keadaan sang nona yang seperti ini.


Dia berpikir jika sang tuan melihat keadaan sang nona seperti ini pasti sang tuan akan berlari secepat mungkin menemui wanita yang sangat dicintainya itu. Namun, dia tidak mengerti mengapa sang tuan bisa pergi begitu saja.


Arga memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak ingin terjadi hal yang buruk pada sang nona. Meski saat ini sang tuan tidak ada bersama dengannya.


Dia menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah sakit, beberapa orang sudah siap di depan dengan sebuah ranjang dorong. Arga membuka pintu mobil dan menggendong sang nona lalu menidurkannya di atas ranjang.


Dengan cepat sang nona di bawa ke sebuah ruangan untuk ditangani. Seorang dokter bergegas memeriksa Oktavia, dia salah satu dokter yang kemarin memeriksa Oktavia. Sehingga dia tahu apa yang harus dilakukannya.


"Kau tahu di mana dia bukan? Cepat suruh dia kemari dan melihat keadaan wanitanya!" perintah Casandra pada Arga.


"Saya benar-benar tidak tahu di mana Tuan Reno berada. Karena tuan mematikan ponselnya," jawab Arga.


Casandra tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Arga. Sebab dia tahu jika Arga selalu tahu di mana keberadaan Reno.


Sang kakak hanya percaya dengan Arga seorang dan terhadap dirinya pun tidak terlalu percaya. Oleh sebab itu Casandra tidak percaya jika Arga tidak mengetahui keberadaan Reno saat ini.


"Kau menyebalkan. Kau sama dengan tuanmu itu!" tukas Casandra sembari membuah wajahnya.


Arga terdiam, dia benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa menemukan sang tuan di saat sang nona membutuhkannya. Dia pun merasa kesal mengapa sang tuan tidak bisa dihubungi olehnya.


Beberapa saat kemudian sang dokter keluar, dia mengatakan jika Oktavia tidak boleh mengalami guncangan kembali. Apabila itu terjadi lagi maka akan membahayakan nyawanya dan bisa mengakibatkan kegilaan.


Sekarang dokter sudah memberikan obat penenang agar Oktavia tidak melukai dirinya sendiri. Dokter pun mengatakan untuk beberapa hari ini Oktavia harus tinggal di rumah sakit dan akan dilakukan observasi mengenai kesehatannya.


Casandra mengikuti apa yang dikatakan oleh sang dokter, dia akan menemani dan menjaga Oktavia hingga sahabatnya itu pulih kembali. Dia tidak akan pernah meninggalkan Oktavia sendirian.


Setelah berbicara dengan dokter, Casandra pun berjalan menuju sebuah ruangan. Dia mana Oktavia sedang tertidur karena pengaruh obat penenang.


"Kau begitu menderita? Kapan semuanya akan berakhir? Aku ingin melihat senyum kebahagiaan dari wajahmu itu," ucap Casandra sembari duduk di samping Oktavia yang sedang terbaring di atas ranjang.

__ADS_1


Disentuhnya tangan sahabatnya itu dengan lembut, dia berharap jika Oktavia bisa kembali seperti dulu. Wanita yang tangguh dan ceria, wanita yang tidak pernah menyerah atas keadaan yang dialaminya.


"Kau haru sembuh dan kembali kuat. Temukan pria bodoh itu dan buat dia kembali bertekuk lutut di hadapanmu!" tukas Casandra seraya ingin membuat sahabatnya itu memiliki tujuan hidup.


Dia tidak peduli jika sang kakak nantinya akan menderita karena rasa cintanya pada Oktavia. Karena semua itu adalah hukuman bagi sang kakak karena sudah berani pergi begitu saja.


Arga hanya bisa melihat sang nona tertidur di atas ranjang, dia tidak bisa berbuat apa-apa kali ini. Namun, dia akan berusaha mencari keberadaan sang tuan dan akan berusaha membawanya untuk menemui sang nona.


Ponsel Arga berdering, dia mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celana. Matanya terbelalak saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.


Dia pun berjalan keluar dan berniat menerima telepon tersebut. Saat dia mengangkat teleponnya, terdengar suara yang tuan.


Reno mengatakan pada Arga untuk segera menyusulnya ke Austria karena dirinya sudah tidak berada di Jepang lagi. Dia pun mengatakan untuk mengusir semuanya dan bergegas meninggalkan Jepang.


Dia sama sekali tidak ingin mendengar apa pun tentang Oktavia. Sebab dia yakin jika Oktavia sudah bersama dengan Randy dan bahagia.


Semua tugasnya sudah selesai jadi baginya sudah tidak penting mengetahui apakah Oktavia mencarinya atau tidak. Dia pun tidak memberikan kesempatan bagi Arga untuk menjelaskan semuanya.


Dia pun menekankan pada Arga untuk tidak mengatakan keberadaannya pada sang adik. Karena dia yakin Casandra akan mencarinya hingga ke Austria. Dia tidak ingin sang adik pergi ke sana karena banyak hal yang bisa membuat Casandra semakin terpukul.


Setalah mengatakan semuanya Reno pun memutuskan sambungan teleponnya. Dia kembali termenung memikirkan Oktavia yang sudah pasti bahagia bersatu dengan Randy.


"Apakah takdir kita hanya sebatas ini? Apakah cinta kita tidak bisa terikat hingga kematian? Janji yang pernah kita ucapkan tidak bisa terpenuhi karena kau melupakan aku," gumam Reno sembari menghela napasnya.


Arga kembali memasuki ruang rawat sang nona, dia masih melihat sang nona belum terbangun dan di sisinya masih ada Casandra. Sebenarnya dia ingin mengatakan pada Casandra tentang keberadaan sang tuan.


Namun, semua keinginannya itu tidak bisa dilakukan karena dia mengingat kata-kata sang tuan yang tidak ingin sang adik mengetahui di mana keberadaan. Semua keinginan sang tuan membuat Arga merasa serba salah.


Sudah tiga hari Oktavia berada di rumah sakit, dia terlihat tenang saat ini. Casandra pun sudah tidak terlalu khawatir dengan kesehatan Oktavia sehingga dia bisa keluar sejenak dari rumah sakit menuju hotel.


"Aku tahu dia sudah menghubungimu. Pergilah dan jaga dia untukku. Jangan katakan apa-apa padanya karena aku akan mengejarnya!" ucap Oktavia pada Arga yang tengah berdiri tegap di sampingnya.

__ADS_1


"Tapi, Nona ...,"


__ADS_2