Kan Kulakukan Demi Kamu

Kan Kulakukan Demi Kamu
BAB 28


__ADS_3

"Untuk apa lagi dia menghubungi aku?" gumam Oktavia saat melihat nomor yang tertera di layar ponsel.


Dia hendak mengabaikan panggilan tersebut karena baginya sudah tidak ada lagi hal yang harus dibicarakan. Namun, orang itu terus saja menghubunginya dan akhirnya Oktavia bosan mendengar suara teleponnya berdering.


"Halo ... apa yang kau inginkan?" tanya Oktavia pada orang yang berada di seberang telepon.


Oktavia bergegas untuk bersiap setelah itu dia pergi meninggalkan apartemen menuju tempat yang sudah dijanjikan dengan orang yang menghubunginya. Dia tidak membangunkan Casandra karena merasa tidak enak mengangkangi istirahatnya.


Dia mengambil kunci motornya lalu berjalan menuju tempat parkir. Oktavia tidak mengatakan apa-apa pada Bisma karena dia yakin para pengawalnya pasti akan mengikutinya.


Dinyalakannya mesin motor lalu dimakamkan dengan kecepatan sedang untuk keluar dari area parkir. Setelah keluar dari area parkir Oktavia pun menambahkan kecepatan motornya.


Dalam benaknya berkata jika bertemu kembali dengannya dan hanya itu saja yang dikatakannya. Maka dia akan pergi tanpa mau mendengarkan apa-apa lagi.


Seorang pengawal melihat kepergian Oktavia dengan sepeda motor. Dia pun langsung menaiki motornya dan mengejar sang nona.


Pengawal itu langsung menghubungi semua rekan-rekannya untuk mengikuti dirinya yang sedang mengikuti Oktavia. Semua pengawal pun mulai memasuki mobil dan mengikuti ke mana arah rekannya mengikuti sang nona.


Di sisi lain Bisma yang belum tahu kepergian Oktavia bersikap santai. Ditambah lagi dia merasa sedikit lega karena ada beberapa pengawal yang selalu melindungi sang nona.


"Sial! Mengapa aku lupa melupakan satu hal ini. Aku harus meminta tanda tangan Nona Oktavia agar semuanya bisa dijalankan sesuai perintah," ucap Bisma sembari membawa dokumen di tangan dan berjalan menuju apartemen Oktavia.


Semenjak Bisma menelepon seseorang untuk meminta sebuah apartemen di dekat Oktavia. Dia pun langsung mendapatkannya dan bergegas pindah ke apartemen yang jaraknya sangat dekat dengan sang nona.


Dia berjalan menuju apartemen Oktavia dan dia tidak menyadari siapa yang ada di dalam apartemen sang nona. Bisma berhenti tepat di depan pintu apartemen Oktavia lalu menekan bel pintunya.


Casandra yang terbangun karena suara bel pintu yang terasa mengganggu telinganya. Dia pun membuka kedua matanya dan bangun dari posisi tidurnya.


"Siapa yang membunyikan bel pintu? Ke mana Oktavia mengapa dia tidak membukakan pintunya?" Casandra merutuk sembari berjalan menuju pintu.


Dia mencari Oktavia selama perjalanan menuju pintu apartemen. Namun, dia tidak berhasil menemukannya, Casandra pun merasa khawatir karena sahabatnya itu tidak membangunkannya.

__ADS_1


Dalam benaknya berkata mungkin yang ada di balik pintu adalah Oktavia. Dia sengaja membunyikan bel pintu untuk menggoda Casandra dan mengganggunya.


"Apa kau tidak ada pekerjaan lain? Mengapa mengganggu tidurku?!" tukas Casandra setelah membuka pintu apartemen.


Dia tidak melihat dengan saksama siapa yang sedang berdiri di balik pintu apartemen. Casandra berpikir itu adalah Oktavia tetapi apa yang dipikirkannya salah.


"Kau ...," Bisma terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Bisma tidak mengira jika Casandra akan berada di Singapura dan tinggal di apartemen Oktavia. Dan dia pun tidak mendapatkan informasi tentang kedatangan Casandra ke Singapura. Biasanya dia selalu mendapatkan semua informasi tentang wanita yang ada di hadapannya itu.


"Sedang apa kau di sini?" Bisma kembali bertanya dengan nada dinginnya.


"Bukan urusanmu!" timpal Casandra sembari berbalik dan berjalan mendekat pada sofa.


Dia tidak peduli dengan pria yang sudah membuatnya kesal. Casandra sudah berusaha keras untuk mempertahankan rasa cintanya pada Bisma. Namun, yang dilakukan Bisma hanya menghindarinya.


Yang diinginkan Casandra adalah Bisma selaku ada di sisinya untuk mempertahankan rasa cinta mereka. Namun, semua itu tidak dilakukan oleh Bisma dan malah menjauh.


Dia sudah menahan semua rasa rindu itu dan akhirnya tidak bisa tertahankan lagi. Tanpa banyak bicara dia langsung memeluk Casandra dari belakang.


"Aku sangat merindukanmu," bisik Bisma sembari terus memeluk Casandra.


Casandra hanya diam, dia tidak bisa berkutik dengan apa yang dilakukan oleh Bisma. Karena dia pun sangat merindukan pria yang sedang memeluknya itu.


"Lantas mengapa kau menjauh dariku?" tanya Casandra.


Bisma tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Casandra. Dia hanya ingin memeluknya sebentar lagi, untuk menghilangkan semua kerinduan yang ada di dalam hatinya.


"Izinkan aku untuk memelukmu," ujar Bisma.


Casandra ingin sekali menimpali apa yang dikatakan oleh Bisma. Akan tetapi, dia mengurungkannya karena dia pun tidak ingin pelukan itu lepas.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Bisma melepaskan pelukannya, dia membalikkan tubuh Casandra. Ditatapnya dengan lembutnya wanita yang sangat dicintainya itu. Wanita yang selalu ada di dalam hatinya dan tidak bisa tergantikan.


"Sejak kapan kau ada di sini?" Bisma bertanya dengan lembut pada Casandra.


Casandra tidak menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh Bisma. Dia hanya menatap kedua mata pria yang ada di hadapannya itu. Pria yang tidak pernah bisa dilupakannya, pria yang akan selalu ada di dalam hatinya hingga maut menjemputnya.


Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Bisma lalu mencium bibirnya dengan lembut. Bisma tidak bisa menolak apa yang dilakukan oleh Casandra.


Ciuman lembut Casandra membuat Bisma kehilangan kendali akan dirinya. Dan akhirnya Bisma pun membalas ciuman Casandra.


Mereka pun saling berciuman dan melupakan apa yang sudah terjadi. Perdebatan yang pernah terjadi dengan mereka beberapa hari yang lalu sama sekali tidak teringat di dalam benak mereka berdua.


Bisma melepaskan bibinya dari bibir Casandra, dia kembali menatap Casandra. Dia pun bertanya kembali dan ingin jawaban yang pasti.


"Aku baru tiba kemarin karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan, Oktavia." Casandra menjelaskan kedatangannya pada Bisma.


Dia pun mengatakan jika Oktavia sudah mengingat tentang kecelakaan itu sedikit. Sehingga Oktavia memintanya untuk menceritakan semuanya tanpa ada yang disembunyikan.


Bisma hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Casandra. Dia sudah bisa memprediksi akan semua hal itu karena melihat sikap Oktavia yang berbeda.


"Ke mana Nona Oktavia?" tanya Bisma pada Casandra karena dia teringat tentang dokumen yang harus di tandatangani oleh Oktavia.


"Aku tidak tahu karena dia sudah tidak ada saat aku bangun tadi," jawab Casandra yang kebingungan juga tentang sahabatnya itu.


Casandra pun mengatakan akan menghubungi Oktavia untuk mencari tahu di mana keberadaannya. Dia pun berjalan menuju kamar untuk mengambil ponselnya yang tadi disimpan di atas nakas.


Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Oktavia sembari berjalan mendekat pada Bisma. Namun, Oktavia tidak mengangkat teleponnya dan itu sedikit membuatnya khawatir.


"Dia tidak mengangkat teleponku," ucap Casandra pada Bisma dengan nada khawatir.


Bisma pun kembali khawatir karena melihat sikap Casandra, dia mengambil ponselnya lalu menghubungi salah satu pengawal yang ditugaskan untuk melindungi Oktavia.

__ADS_1


Nada sambung terdengar tetapi dia tidak mendengar pengawalnya mengangkat teleponnya. Dan akhirnya terputus, Bisma semakin khawatir lalu dia menghubungi nomor telepon pengawalnya yang lain.


__ADS_2