Kan Kulakukan Demi Kamu

Kan Kulakukan Demi Kamu
BAB 18


__ADS_3

"Reno, apa kau serius mau melakukan semua ini untukku? Apakah tidak ada penyesalan nantinya?" Oktavia bertanya pada Reno sembari menyentuh tangannya.


Reno menghentikan langkahan lalu berbalik dan berkata, "Aku tidak akan menyesalinya karena kau akan bahagia."


Oktavia kembali terdiam setelah menerima jawaban dari Reno, dia masih mencerna dari setiap kata-kata yang dilontarkan oleh Reno padanya.


"Pergilah. Dia sudah menunggumu di sana," ujar Reno pada Oktavia sembari menunjukkan sebuah panggung.


Di atas panggung itu terlihat sebuah piano dan seorang pria yang sudah duduk di kursi. Orang itu sudah bersiap untuk memainkan beberapa musik dengan pianonya itu.


Oktavia berjalan perlahan mendekat pada pria itu yang tidak lain adalah Randy. Suara tepuk tangan mulai mengisi semua ruangan. Ini adalah hal yang sudah dinanti-nanti oleh Randy.


Dia tersenyum melihat Randy akhirnya bisa memenuhi semua impiannya. Bermain di tengah-tengah para penikmat musik. Karena Randy selalu mengatakan semua cita-cita dan impiannya itu pada Oktavia.


"Akhirnya kau bisa berdiri di sana. Apakah kau menyukainya, Randy?" gumam Oktavia sembari terus menatap pria yang diinginkannya.


Reno menatap sang istri yang berjalan mendekat pada pria yang diinginkannya itu. Dia pun memutuskan untuk berjalan ke luar hotel. Karena tugasnya sudah selesai yaitu mempersatukan kembali Oktavia dengan Randy.


"Sudah cukup bagiku mengejar cintamu, Oktavia Suryana." Reno bergumam lalu berjalan tanpa menggunakan mobil ke luar dari hotel.


Oktavia tidak menyadari kepergian Reno, matanya hanya tertuju pada Randy yang tengah duduk di atas panggung. Dia merasa jika pria yang ada di depan matanya itu sudah mencapai impiannya.


Jari-jemari Randy mulai menekan tuts piano, terdengar lantunan musik yang begitu indahnya. Sehingga membuat orang terpana saat mendengarnya.


Tidak ada satu orang pun yang berbicara saat mendengarkan permainan piano Randy. Mereka semua benar-benar menikmati permainan piano pria yang ada di atas panggung.


Tanpa di sadari kedua kakinya melangkah ke depan, dia sangat ingin meraih dan memeluk pria yang berada di depannya itu. Rasa rindu yang sudah dipendamnya selama ini begitu banyak dan bisa meledak begitu saja.


Terdengar suara tepuk tangan dan ucapan yang mengatakan jika permainan Randy sangat bagus. Terlihat senyum di ujung kedua bibir pria yang baru saja menyelesaikan permainan pianonya.


Kedua mata Randy menyapu seluruh ruangan, dua sangat senang dengan apa yang diterimanya dari para penonton. Matanya terhenti pada sosok wanita yang berdiri menatapnya dengan rasa penuh kerinduan.

__ADS_1


Randy tersenyum, dia langsung berjalan mendekat pada Oktavia. Dia langsung menarik tangan Oktavia dan membawanya ke sebuah ruangan.


"Aku sangat merindukanmu, Sayang," ucap Randy sembari memeluk Oktavia.


Oktavia membalas pelukan Randy tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya merasakan ada yang berbeda dalam hatinya.


Dia berusaha memahami yang ada di dalam hatinya, apakah semua ini yang diinginkannya. Oktavia berkata dalam hatinya bukankah semua ini adalah harapan yang sudah tercapai.


Pria yang dicintainya ada di depan matanya dan sedang memeluknya. Namun, entah mengapa dia merasakan hal yang sangat berbeda dari biasanya saat dirinya berada di dekat Randy.


"Ada apa denganmu, Sayang?" tanya Randy setelah melepaskan pelukannya.


Randy menatap Oktavia dengan saksama, dia merasa jika wanita yang ada di depannya sudah berubah. Dia tidak mengerti dengan ekspresi Oktavia saat bersama dengannya.


"Tidak. Bukan ini yang aku mau! Maafkan aku," Oktavia berkata sembari menyentuh kedua pipi Randy lalu dia berbalik dan melangkah meninggalkan pria yang dulu sangat diinginkannya.


Oktavia berlari mencari seseorang yang selama beberapa bulan ini menjadi suaminya itu. Namun, dia tidak bisa menemukannya hingga akhirnya dia berdiri di depan hotel.


Dia merasa kebingungan ke mana lagi dirinya harus mencari Reno. Mengapa pria itu pergi tanpa mengucapkan apa-apa padanya. Apakah dia tidak ingin menunggunya hingga menyelesaikan semuanya.


"Di mana dia? Di mana Reno?" Oktavia balik bertanya pada Arga.


Arga menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu di mana sang tuan. Karena dia berpikir tuannya itu berada di dalam dengan sang nona.


"Saya akan membawa mobil. Nona, tunggu sebentar di sini," ucap Arga pada Oktavia dan dia langsung berlari menuju mobilnya.


Oktavia tidak menuruti apa yang dikatakan oleh Arga, dia ingin segera bertemu dengan Reno. Entah mengapa dia ingin berlari dan memeluk pria itu, meski banyak hal yang disembunyikan darinya.


Entah mengapa kedua kakinya menyuruhnya untuk berlari dan dia tidak mengerti apakah jalan yang ditempuhnya itu akan mempertemukan dirinya dengan Reno. Namun, dia tidak akan menyerah begitu saja sebelum menemukan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Setelah dia berlari sejauh yang dia mampu, Oktavia menghentikan langkahnya. Dia tidak bisa menemukan Reno, dia berjongkok dan meratapi semuanya.

__ADS_1


"Mengapa kau tidak menunggu aku?" kata Oktavia sembari menundukkan kepalanya.


Dia merutuki dirinya sendiri, mengapa dirinya bisa terlambat menyadari semuanya. Mengapa dia tidak bisa membuat keputusan yang pada akhirnya bisa membuatnya bahagia.


Arga melihat sang nona sedang berjongkok di tengah jalan, dia langsung menghentikan mobilnya. Dia berusaha untuk membawa sang nona pergi dari tempat itu.


"Nona, lebih baik kita kembali ke apartemen." Arga berkata pada Oktavia dan membantunya untuk berdiri.


"Semua salahku. Mengapa aku tidak menyadari siapa yang aku inginkan," ucap Oktavia yang terdengar sangat jelas oleh Arga.


Arga tidak bisa berkata apa-apa lagi karena dia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dia juga tidak mengerti dengan sikap sang tuan yang pergi begitu saja.


Dia memapah Oktavia menuju mobil lalu mendudukkannya di dalam mobil. Arga menjalankan mobilnya kembali ke apartemen dan berharap sang tuan ada di sana.


Selama dalam perjalanan Oktavia hanya terdiam, dia merasa semuanya sudah berakhir. Dia kembali teringat akan perkataan sang ibu tentang pernikahannya dengan Reno.


Ponsel Oktavia berdering terus-menerus tetapi dia mengabaikannya saat dia melihat nomor yang tertera di layar ponsel. Dia sedang tidak ingin bicara dengan orang lain selain Reno.


Dia pun memutuskan untuk menghubungi Reno tetapi ponsel Reno tidak dapat di hubungi. Oktavia terus berusaha untuk menghubungi suaminya itu tetapi tetap saja tidak bisa.


Beberapa saat kemudian Oktavia tiba di apartemen, dia berlari dari bawah hingga dia tiba di apartemennya. Dia membuka pintu apartemennya berharap Reno ada di sana.


"Reno ...," terikat Oktavia sembari mencari suaminya itu dan beraktivitas ke setiap ruangan.


Namun, dia tidak bisa menemukan pria yang diinginkannya itu. Oktavia terduduk di atas sofa, tidak terasa air matanya menetes dan membasahi kedua pipinya.


Oktavia tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya untuk menemukan Reno. Dia berpikir jika dirinya tidak akan pernah bertemu kembali dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu.


"Mengapa? Mengapa kau pergi begitu saja?" gumam Oktavia sembari menangis.


Arga yang tidak tahu harus berbuat apa, dia menghubungi Casandra dan menceritakan semuanya. Setelah mendengar apa yang diajarkan oleh Arga, wanita itu bergegas meninggalkan hotel dan menuju apartemen untuk bertemu dengan Oktavia.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan menuju apartemen Casandra begitu kesal pada sang kakak yang bertindak sesuka hatinya itu. Apakah sang kakak tidak tahu apa yang dirasakan oleh Oktavia sehingga pergi begitu saja.


Beberapa saat kemudian Casandra tiba di apartemen, dia melihat wanita yang biasanya selalu ceria mendadak penuh dengan kesedihan. Dan dia merasakan jika kesedihan Oktavia sangat berbeda dengan kesedihan sahabatnya itu tatkala berpisah dengan Randy.


__ADS_2