Kan Kulakukan Demi Kamu

Kan Kulakukan Demi Kamu
BAB 14


__ADS_3

"Tidak. Maka dari itu bawa dia dari sini," jawab Casandra yang sudah tidak tahu harus menolak sang sahabat lagi.


Reno pun berjalan mendekat pada Oktavia yang masih terlelap di atas tempat tidur. Dia menatap wanita yang sangat diinginkannya itu tetapi wanita itu sama sekali tidak mengingatnya serta tidak menginginkannya.


Dia menggendong Oktavia perjalanan lalu berjalan keluar dari kamar hotel. Hanya ini yang bisa dilakukan oleh Reno pada Oktavia, dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada wanita yang berada digendongnya itu.


"Sebaiknya kau ceritakan semuanya pada dia. Oktavia perlu mengetahui semuanya," ujar Casandra pada Reno yang terus berjalan ke luar dari kamar hotel.


Casandra melihat sang kakak pergi begitu saja, dia tahu jika Reno sangat mencintai Oktavia. Sehingga berani melakukan semua ini. Andaikan dirinya bisa melakukan apa yang dilakukan sang kakak mungkin saat ini dirinya sedang berada di Singapura bersama dengan Bisma.


Arga melihat Casandra sekilas, dia merasa jika wanita itu sangat menderita. Dia seperti melihat sang tuan saat tahu bahwa sang nona tidak bisa mengenalinya dan mahal berhubungan dengan pria lain.


Dia berharap suatu saat nanti kedua tuan dan nonanya bisa bahagia dan bersatu dengan pasangan yang dicintainya. Sedangkan dia sendiri tidak memikirkan akan hidup dengan wanita yang kelak akan menjadi istrinya.


Reno berjalan menuju lift, Arga menekan tombol lift dan tidak berapa lama pintu lift terbuka. Mereka pun memasuki lift, Reno hanya memandangi wanita yang ada di dalam pangkuannya itu.


Dia merasa jika sudah saatnya untuk melepaskannya dan mempertemukan sang istri dengan pria yang dicintai oleh istrinya itu. Meski dirinya akan merasakan kesedihan yang tidak bisa hilang dengan mudah.


"Suruh dia untuk mencari pria itu secepatnya!" Reno memerintahkan pada Arga untuk menghubungi orang yang sedang mencari keberadaan Randy.


Arga hanya menganggukkan kepalanya sembari memberikan pesan pada orang yang sedang ditugaskan untuk mencari keberadaan Randy. Dia sebenarnya tidak ingin melakukan semua itu tetapi sang tuan sudah memutuskan akan hal ini. Sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Pintu lift terbuka, Reno berjalan perlahan menuju mobil yang sudah siap. Oktavia sama sekali tidak terbangun dari tidurnya. Sehingga memudahkan bagi Reno untuk menggendongnya hingga masuk ke dalam mobil.


Arga memberikan pesan pada sopir yang masih menunggu Oktavia untuk segera kembali ke apartemen. Karena saat ini sang nona sudah berada bersama dengan sang tuan. Sang sopir pun bergegas menjalankan mobilnya untuk kembali ke apartemen.


Dalam perjalanan menuju apartemen Oktavia masih berada di atas pangkuan Reno. Pria itu tidak menginginkan Oktavia duduk di atas kursi mobil.


Arga hanya melihat apa yang dilakukan oleh sang tuan pada sang nona. Dia benar-benar berharap jika kedua pasangan di belakang bisa selaku bersama dan hidup bahagia.

__ADS_1


Arga menghentikan mobilnya tepat di depan apartemen, dia bergegas membukakan pintu mobil. Agar sang tuan bisa dengan mudah keluar dengan menggendong sang nona yang masih terlelap.


Reno berjalan menuju apartemennya, terkadang sesekali melihat wajah Oktavia yang masih tertidur. Dia merasa aneh dengan wanita yang ada di dalam gendongannya itu, mengapa tidak terbangun dari hotel hingga ke apartemen.


Apakah pelayannya begitu nyaman sehingga Oktavia tidak merasakan ada yang aneh. Dia tersenyum saat kedua tangan Oktavia melingkar di lehernya.


Arga melihat sang tuan tersenyum, dia merasa senang melihat semua itu. Dia membukakan pintu apartemen sehingga sang tuan bisa masuk dengan mudah karena sedang menggendong sang nona.


Reno berjalan memasuki apartemennya, dia melangkahkan kedua kakinya menuju kamar dan merebahkan Oktavia di atas tempat tidurnya. Dia tersenyum saat melihat wanita yang sangat diinginkannya itu tidak terbangun meski di pangkuannya.


"Kau kembalilah ke kamarmu," perintah Reno pada Arga.


Arga mengangguk lalu dia berjalan meninggalkan apartemen Reno. Setelah melihat Arga pergi Reno kembali berjalan memasuki kamar dan duduk di atas sofa sembari menatap wajah Oktavia yang masih terlelap.


Satu jam berlalu, Oktavia perlahan membuka kedua matanya. Dia mengerjapkan kedua matanya lagi seraya tidak percaya dirinya saat ini sudah berada di kamarnya.


Sedangkan seingatnya dia berada di kamar hotel bersama dengan Casandra. Dia masih belum bangun sepenuhnya sehingga dia berpikir jika dirinya sedang bermimpi.


"Kenapa kau datang dalam mimpiku, Reno?" tanya Oktavia sembari menutup kedua matanya dan berharap jika semua ini adalah mimpi.


Reno tersenyum lalu dia beranjak dan berjalan mendekat pada Oktavia. Dia ingin menunjukkan pada wanita yang berpikir jika dirinya sedang bermimpi.


"Apa ini sebuah mimpi?" bisik Reno sembari mencium daun telinga Oktavia.


Seketika Oktavia membuka kedua bola matanya lalu dia melihat ke arah Reno yang berada tepat di atasnya. Tanpa banyak kata, dia langsung mendorong tubuh pria yang ada di dekatnya.


"Kenapa aku ada di sini?" tanya Oktavia pada Reno.


"Kau seperti putri tidur yang tidak sadar jika ada yang memindahkan tubuhmu," jawab Reno sembari berdiri.

__ADS_1


"Kau menghinaku?!" pekik Oktavia yang tidak pernah suka jika disebut seperti putri tidur.


Oktavia langsung beranjak dan berjalan mendekat pada Reno. Dia tidak rela jika disebut seperti putri tidur karena baginya itu sangat menyedihkan.


Dia berjalan cepat mendekat pada Reno yang sudah berada di depannya. Oktavia tidak akan membiarkan pria yang sudah menghinanya dengan menyebut dirinya seperti putri tidur.


"Jangan sekali-kali kau menyebutku seperti putri tidur!" tukas Oktavia sembari menarik kerah kemeja Reno.


Reno hanya menatap wajah Oktavia dan sekarang dia menatap kedua bola mata wanita yang terlihat sangat geram itu. Dia hanya tersenyum melihat Oktavia marah karena dirinya menyebutnya seperti putri tidur.


"Kau memang seperti putri tidur—terima saja kenyataannya!" ujar Reno dengan sedikit nada menggoda.


"Kau ...,"


"Ya. Aku ...," sela Reno sebelum Oktavia melanjutkan kalimatnya.


Oktavia terdiam, dia merasakan ada hal yang aneh dengan situasi seperti ini. Dia merasa pernah merasakan situasi yang sedang dialaminya saat ini.


Reno terus menatap Oktavia dengan lembut tetapi ada rasa ingin menggodanya lagi. Namun, diurungkannya karena sudah cukup untuk hari ini. Sebab dia mendengar suara perut Oktavia yang mulai membutuhkan makanan.


"Aku akan menyiapkan makanan untukmu," ujar Reno sembari berusaha melepaskan cengkeraman Oktavia pada kerah kemejanya.


Oktavia perlahan melepaskan cengkeramannya, dia kembali berpikir tentang perasaan itu. Perasaan yang pernah dirasakan olehnya dan entah kapan itu.


Dia kembali duduk di atas sofa untuk berpikir apakah hal yang baru saja terjadi. Benar-benar pernah terjadi sebelum ini tetapi dia tidak bisa mengingat semuanya.


Kepalanya merasa sakit tatkala dia berusaha dengan keras untuk mengingat semuanya. Dia terus memegang kepalanya berusaha untuk menghilangkan rasa sakit itu.


Reno yang sudah selesai dengan menyiapkan makanan untuk Oktavia berjalan memasuki kamar. Dia hendak menyusu Oktavia untuk ke pantry dan menyantap makannya.

__ADS_1


__ADS_2