
"Kau serius akan pergi menemuinya dengan sehelai handuk?" Reno kembali bertanya dengan nada sedikit menggoda.
Oktavia terdiam, seketika melihat ke tubuhnya dan hanya melihat sehelai handuk yang melingkar di tubuhnya. Dia pun berjalan mundur beberapa langkah.
Dia menghilangkan rasa malunya dan berjalan mendekat ke almari dan mengambil pakaiannya. Oktavia menyimpan dokumen di atas meja lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya.
Reno terkekeh saat melihat tingkah Oktavia yang tadinya ingin mengetahui wanita yang sudah membuatnya kesal itu. Seketika berubah menjadi tawa, dia begitu menikmati apa yang sudah dilihatnya, yaitu wajah memerah Oktavia yang malu karena dia belum mengenakan pakaiannya.
Tidak berapa lama Oktavia keluar dari kamar mandi dan mengambil semua dokumen yang ada di atas meja. Dia berjalan keluar untuk menemui Arga lalu dia akan memarahi asisten yang tidak sadar jika sang tuan sedang terluka.
Oktavia mencari ke sekeliling ruangan apartemen, dia berpikir jika Arga masih ada di dalam apartemennya. Rupanya dia salah karena saat ini Arga sudah berada di apartemennya yang berada di sebelah apartemennya.
Dia pun menyimpan dokumen itu di suatu tempat agar Reno tidak menemukannya. Apabila pria itu menemukannya makan Reno akan kembali bekerja dan bekerja.
Kedua matanya tertuju ke arah pantry, dia mengingat jika Reno belum sarapan begitu pula dengan dirinya. Dia pun berjalan menuju pantry.
Ada almari pendingin, Oktavia membukanya lalu melihat apakah ada bahan-bahan yang bisa dijadikan sarapan untuk dirinya dan Reno. Dia tersenyum ternyata isi almari pendingin itu sudah penuh dengan minuman dan bahan makanan yang bisa diolehnya.
Oktavia pun mulai mengeluarkan beberapa bahan yang akan diolehnya untuk makan pagi ini. Dia tidak tahu apa makanan kesukaan Reno tetapi dia yakin jika pria itu pasti akan menyukai apa yang dimasak olehnya.
"Awas saja jika dia tidak mau!" gumamnya sembari terus mengolah bahan makanan.
Beberapa saat kemudian Oktavia sudah selesai dengan mengolah makannya. Dia pun menatanya dengan rapi di atas piring dan menyimpannya di atas nampan serta segelas jus jeruk.
Dia berjalan menuju kamar dia menyimpan nampan itu di atas meja yang posisinya di dekat kamarnya. Oktavia membuka pintu kamar lalu mengambil nampan tersebut dan mendorong pintu kamarnya perlahan.
Betapa kesalnya Oktavia saat memasuki kamar, dia melihat Reno sedang bekerja dengan netbook-nya. Dia berjalan dengan kesal dan sudah menatap Reno dengan tajam.
"Apa aku harus menghancurkan netbook-nya?" tanya Oktavia sembari berjalan dengan membawa nampan yang berisi menu makan di pagi hari.
"Kau berani melakukan itu?" Reno kembali bertanya pada Oktavia yang terlihat berbeda dengan membawa nampan dan celemek yang masih menempel di tubuhnya.
"Tentu saja aku berani!" timpal Oktavia dengan tegas.
Oktavia menyimpan nampan di atas menjadi lalu dia mengambil sebuah meja lipat yang ada di samping almari kecil dekat jendela. Dia kembali berjalan mendekat pada Reno yang masih memainkan jari-jarinya di atas netbook-nya.
__ADS_1
Dia menyimpan meja lipat di atas tempat tidur lalu mengambil netbook Reno. Meski dia tahu jika pria itu sangat marah padanya tetapi dia tidak peduli dengan apa yang akan dihadapinya nanti.
Karena Oktavia akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah terjadi pada Reno. Meski dia akan dimarahi oleh pria itu Oktavia benar-benar tidak akan peduli.
Disimpannya netbook Reno di atas meja, Oktavia pun kembali berjalan menuju Reno dan menyimpan meja lipat itu tepat di atas pangkuan pria itu. Setelah itu Oktavia kembali mengambil nampan yang sudah berisikan makanan yang harus dimakan oleh Reno.
Reno terus menatap Oktavia, dia berpikir mengapa wanita yang ada di hadapannya itu terlihat garang. Namun, entah mengapa dia tidak bisa berbalik memarahinya.
"Kau harus menghabiskannya! Karena aku sudah bersusah payah memasak semua ini untukmu!" ujar Oktavia dengan tegas dan tidak ingin ada penolakan.
Tanpa banyak bicara Reno pun mulai menyantap semua makanan yang sudah ada di atas nampan. Tidak ada sedikit keraguan untuk menyantap semua makanan yang sudah disiapkan.
Oktavia melihatnya dengan saksama, dia merasa penasaran apakah masakan yang sudah dibuatnya itu enak. Karena dia tidak tahu makanan yang disukai oleh Reno dan dia juga takut jika makanannya itu tidak enak.
"Bolehkah aku mengerjakan sedikit pekerjaan setelah memakan semua ini?" tanya Reno pada Oktavia.
"Tidak. Hari ini kau harus banyak istirahat!" jawabnya dengan tegas.
Terdengar suara dari luar yang menandakan jika ada seseorang yang meminta izin untuk masuk ke apartemennya. Oktavia berjalan keluar, dia berniat melihat siapa yang berkunjung di pagi hari.
Dia menghela napasnya lalu membuka pintu apartemennya, dia melihat sorot mata penuh dengan kebencian terhadap dirinya. Wanita itu tidak mengeluarkan sepatah kata dan langsung masuk begitu saja.
Wanita itu pun langsung berjalan menuju kamar Reno tanpa mengucapkan sepatah kata. Oktavia tidak suka dengan sikap wanita itu karena menurutnya itu tidak sopan.
"Apa ini temanmu, Reno Mahardika?!" tanya Oktavia pada Reno saat wanita itu sudah berada di samping Reno.
"Apa maumu?" wanita itu berbalik bertanya.
"Apa maju? Seharusnya kau tahu diri!" ujar Oktavia pada wanita itu.
Oktavia mengapa tajam wanita itu lalu menatap Reno, dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh pria yang sudah menjadi suaminya itu. Meski dia menyadari jika dirinya sudah berlaku tidak adil.
Wanita itu menimpali Oktavia dengan nada kesal, Oktavia tidak suka dengan semua kalimat yang keluar dari wanita itu. Semua kalimat yang keluar dari wanita itu membuatnya sangat kesal.
"Kau benar-benar tidak tahu diri," Oktavia berujar sembari menghela napasnya.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa yang tidak tahu diri? Aku atau kau?" wanita itu kembali bertanya pada Oktavia.
"Sebenarnya tanpa aku menjawab semua itu seharunya kau sudah tahu jawabnya. Siapa yang tidak tahu diri itu!" timpal Oktavia dengan nada menghina.
Wanita itu semakin kesal dan hendak menimpali apa yang sudah dikatakan oleh Oktavia. Dia tidak terima dengan semuanya karena dia sudah membantu Reno untuk mengobati luka tusuk di pundaknya.
"Sudah cukup hentikan, Kimiko!" Reno berkata dengan nada dingin tetapi dengan penekanan.
Reno sudah lelah dengan perdebatan kedua wanita yang ada di hadapannya itu. Entah mengapa Kimiko menjadi seperti ini setelah bertemu dengan Oktavia. Dia tidak menyadari ada sesuatu yang aneh dengan sahabatnya itu.
"Tapi dia ...,"
"Dia adalah istriku. Seharusnya kau mulai membiasakan itu," sela Reno sebelum Kimiko menyelesaikan kalimatnya.
Kimiko pun terdiam, dia merasa jika Reno benar-benar sudah berubah terhadap dirinya. Karena selama dua tahun ini pria itu tidak pernah berkata seperti itu padanya.
"Aku tahu," Kimiko berkata sembari berjalan ke luar dari kamar.
Dia sudah tidak berniat untuk ada di dekat Reno yang sudah membela istrinya dari pada sahabatnya sendiri. Padahal dirinya selalu berusaha ada untuk Reno. Namun, semua saat ini sudah berbeda.
"Mengapa kau tidak mengerti aku, Reno?" gumamnya sembari membuka pintu apartemen lalu menutupnya.
Di dalam kamar Oktavia masih berdiri menatap Reno, dia tidak mengerti dengan sikapnya itu. Mengapa dia kembali terpancing emosinya saat wanita itu datang dan langsung mendekat pada pria yang ada di hadapannya itu.
"Dia adalah sahabatku. Namanya, Kimiko," Reno berkata pada Oktavia yang masih berdiri tegap dan menatapnya dengan tajam.
"Kau tidak perlu menjelaskan semua itu padaku!" timpal Oktavia sembari berjalan mendekat pada Reno.
Dia mengambil meja lipat yang masih berisi piring dan gelas yang sudah bersih. Rupanya Reno melahap habis semua makanan yang telah dibuatkan olehnya.
Reno hanya menatap Oktavia, dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi pada wanita yang terlihat sedang marah padanya. Tidak berapa lama dia tersenyum karena Reno yakin jika Oktavia cemburuan.
"Kau cemburu padanya, apakah aku benar?" tanya Reno pada Oktavia.
Pertanyaan Reno itu menghentikan langkahnya yang hendak membuka pintu kamar. Oktavia tidak habis pikir mengapa Reno bisa berpikir jika dirinya cemburu dengan wanita yang ada di dekatnya.
__ADS_1