Kan Kulakukan Demi Kamu

Kan Kulakukan Demi Kamu
BAB 22


__ADS_3

"Ada yang mengikuti kita!" ujar Oktavia pada Bisma.


Bisma melihat ke arah belakang melalu kaca spion, dia melihat ada dia mobil yang sedang mengikuti. Dan mencoba untuk menyalip.


Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, Bisma tidak peduli dengan apa yang mereka inginkan. Karena dia yakin orang-orang yang mengejarnya itu menginginkan hal yang buruk pada sang nona.


Salah satu mobil musuh mulai memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, mereka berusaha untuk menyalip mobil yang sedang ditumpangi oleh Oktavia. Tugas mereka adalah membunuh wanita yang ada di dalam mobil itu.


Mereka tergiur dengan gadis uang yang begitu besar jikalau mereka berhasil membunuh Oktavia. Dan membawa mayatnya ke hadapan orang yang menyuruhnya.


Bisma menginjak pedal rem sehingga mobilnya berhenti dengan kecepatan tinggi karena dia melihat ada seekor kucing yang sedang melintas. Seketika mobil murah yang ada di belakang tebang dan berguling-guling di depan mereka.


Mobil musuh akhirnya berhenti berguling dan tidak berapa lama meledak karena ada percikan api yang mengenai tangki bensin yang bocor. Ledakan itu terdengar sangat keras sehingga membuat Oktavia menutup kedua telinganya.


Tidak berapa lama beberapa orang keluar dari mobil dan mendekati mobil Oktavia. Mereka mengelilingi mobil Oktavia sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk lari.


"Cepat keluar!" perintah seorang pria dari luar dengan wajah penuh kemarahan.


Oktavia pun keluar, dia melihat beberapa orang sudah memegang senjata. Ada senjata api dan juga tongkat pemukul yang bisa digunakan untuk membunuh.


Bisma pun segera keluar dia berusaha untuk melindungi sang nona. Dia tidak akan membuat sang nona dalam bahaya karena dia sudah berjanji pada ayahnya Oktavia dan juga pada Casandra.


Dia tahu Casandra sangat menyayangi Oktavia, sehingga jika dia tahu sahabatnya itu dalam bahaya dan mengalami luka. Maka Casandra akan segera terbang dari Jepang menuju Singapura.


"Siapa kalian?!" tanya Oktavia pada musuh yang sudah mengelilinginya.


"Tanyakan saja pada malaikat kematian!" teriak seorang pria lalu menyerang Oktavia.


Serangan yang dilakukan oleh musuh bertubi-tubi pada Oktavia, sehingga tidak bisa melawan balik. Namun, Oktavia tidak menyerah begitu saja, dia masih menunggu kapan waktu yang tepat untuk menyerang musuhnya.


Tidak hanya satu orang yang menyerang Oktavia tetapi semua musuh menyerang Oktavia dan Bisma. Jumlah musuh ada empat orang, mereka begitu sangat dan tidak memiliki hati.


Baku hantam terjadi di antara mereka, Oktavia sudah memiliki salah untuk membalas serangan mereka. Dia pun mulai melayangkan pukulan dan sesekali melayangkan tendangannya.


Mereka tidak mengira jika seorang wanita bisa menerima semua serangan yang dikatakan oleh mereka. Namun, tidak membuat wanita itu terjatuh dan sekarang mereka melihat Oktavia membalas serangannya.

__ADS_1


Satu per satu musuh jatuh tetapi mereka bisa kembali berdiri dan menyerang Alek. Mereka tidak ingin menyerah untuk membunuh wanita yang sudah menjadi targetnya.


Ada seorang musuh yang mengeluarkan sebuah pisau lipat, dia memainkan pisau itu lalu menyerang Oktavia. Pisau itu Mengani lengan Oktavia dan terlihat goresan yang mengeluarkan darah.


"Nona ...," teriak Bisma saat melihat Oktavia terkenal senjata dari musuh.


"Kau hadapi saja aku!" teriak seorang musuh pada Bisma lalu menyerangnya.


Musuh terus menyerang Bisma dan Oktavia, mereka berdua pun tidak membiarkan musuh dengan mudah mengalahkan mereka. Oktavia kembali berdiri dan mulai melayangkan serangannya.


Oktavia terus menyerang mereka tanpa berhenti meski lengannya terluka dia tidak akan memberitakan musuh menang begitu saja. Dia tidak akan membuat orang itu senang dengan apa yang telah dicapainya.


Dia akan mencari siapa orang yang sudah merencanakan semua ini. Namun, dia merasa jika orang yang menginginkan kematiannya bukan musuh dari sang ayah.


Dia yakin ada orang lain yang berada di balik penyerangannya kali ini. Namun,  dia tidak tahu siapa orang itu tetapi Oktavia yakin jika orang itu sedang memperhatikannya saat ini.


Setelah perkelahian tadi ruapnya para musuh sudah mulai kelelahan. Mereka tidak mengira jika Oktavia dan Bisma adalah orang yang sangat sulit di kalahkan.


Mereka berpikir jika Oktavia adalah wanita lemah yang tidak memiliki kemampuan seni bela diri. Namun, semua informasi yang mereka dapatkan tidak benar.


Dia mengarahkan senjata itu pada Oktavia dan hendak menarik pelatuknya. Namun, dengan cepat Bisma melepaskan sebuah tongkat pemukul sehingga senjata api itu terlempar sebelum meletupkan perlunya.


Dengan cepat Bisma beraliran dan menuju pria itu lalu menghajarnya. Dia tidak bisa membiarkan musuh yang sudah berniat membunuh sang nona.


Di sisi lain Reno yang sedang dalam keadaan sakit merasa hatinya tidak enak. Dia memikirkan Oktavia terus menerus dan dia merasa bingung dengan hatinya itu.


"Mengapa aku berpikir dia dalam bahaya?" gumam Reno saat terbangun dari tidurnya.


Reno mengambil ponselnya lalu dia berniat untuk menghubungi Oktavia tetapi dia merasa ragu. Karena yang dia tahu saat ini pasti Oktavia sedang bersama dengan Randy.


Dia masih berpikir seperti itu padahal dia tidak pernah mengetahui apa yang sudah terjadi. Semua pikirannya menyatakan jika Oktavia sudah hidup bahagia.


Padahal semua yang dipikirkannya tidak benar, Oktavia tidak bahagia. Dia merasa menderita karena terpisah dari Reno.


Reno pun tidak bisa melupakan begitu saja wanita yang sangat dicintainya itu bahkan dia tidak akan bisa mencintai wanita lain. Baginya hanya Oktavia wanita pertama dan terakhir baginya.

__ADS_1


"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanya Arga pada Reno yang terlihat sangat tidak tenang.


"Aku tidak apa-apa," jawab Reno pada Arga meski dalam hatinya masih merasa khawatir dengan keadaan Oktavia.


Reno menyembunyikan semua kegelisahannya di hadapan Arga, dia tidak ingin asistennya itu menghubungi Alek dan bertanya apa yang terjadi. Dia tidak ingin jika Oktavia berpikir bahwa dirinya membutuhkannya.


Arga merasa ada yang aneh dengan sang tuan, dia berpikir tentang sang nona. Dia yakin sang tuan merasa khawatir atau sedang teringat akan sang nona.


Dia berniat untuk menghubungi sang nona untuk menanyakan keadaannya. Arga berjalan meninggalkan Reno menuju sebuah ruangan.


Di mana ruangan itu biasa digunakan Arga untuk mengumpulkan semua informasi mengenai apa saja yang dibutuhkan oleh sang tuan. Arga mengeluarkan ponselnya lalu dia berusaha menghubungi sang nona.


Nada sambung terdengar tetapi sang nona tidak mengangkatnya. Dia terus menghubungi sang nona tetapi tetap saja tidak dijawab.


Arga semakin khawatir dia merasa telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada sang nona. Karena firasatnya tidak pernah salah.


Dia pun menghubungi nomor ponsel Bisma, dia selalu berhubungan dengan Bisma untuk mengetahui keadaan sang nona. Bisma pun tidak mengajar teleponnya karena dia sedang mengajari musuh yang mau menebak Oktavia.


Bisma tidak menyadari jika saat ini Arga sedang menghubungi. Dia masih terus memukuli wajah musuh yang sudah berniat membunuh sang nona.


"Hentikan Bisma! Dia sudah tidak berdaya!" tukas Oktavia pada Bisma.


"Tidak, Nona. Dia pantas mati!" timpal Bisma yang tidak mau menuruti sang nona.


Oktavia berusaha menghentikan Bisma yang tidak mau menghentikan pukulannya. Dia tidak ingin melihat Bisma membunuh mereka yang tidak penting itu.


Bisma pun akhirnya menghentikan pukulannya, dia teringat jika sang nona terluka. Dia kembali melihat lengan sang nona dan berniat membawanya ke rumah sakit.


Saat Bisma sedang melihat luka sang nona dari belakang ada seorang musuh yang hendak menyerang Bisma dengan tongkat pemukul. Oktavia yang melihat semua itu mending tubuh Bisma.


Sehingga yang terkena  pukulan itu adalah Oktavia, pukulan itu mengenai keningnya. Perlahan pandangannya mulai kabur dan akhirnya dia jatuh tidak sadarkan diri.


"Nona ...," pekik Bisma sembari menangkap tubuh Oktavia yang hendak terjatuh ke atas jalanan beraspal.


Tidak berapa lama tiba beberapa polisi mereka datang karena mendapatkan laporan dari beberapa orang yang melihat kejadian itu. Para musuh di tangkap dan dibawa ke kantor polisi, sedangkan Oktavia dan Bisma di bawa ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


__ADS_2