
"Aku gak ngelakuin itu, yah..." Perempuan yang dituduh sebagai pelacur itu memohon-mohon kepada ayahnya supaya mau membelanya. Matanya sudah merah, pedih karena sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata. Namun perempuan itu berusaha untuk meyakinkan ayahnya.
"Lantas ini buktinya apa!?" Teriak sang ayah perempuan tersebut sambil memperlihatkan secara kasar surat panggilan tersebut.
Di surat itu tertulis bahwa perempuan yang saat itu tengah menjalani pendidikan menengah atas itu ternyata seorang pelacur. Dan pihak sekolah itu harus mengeluarkan perempuan tersebut demi nama baik sekolah.
Melihat surat tersebut, perempuan itu hanya bisa diam. Air matanya tidak mau berhenti mengalir. Sang ayah yang selama ini selalu membela dirinya, selalu menjaga dirinya, kini sudah tidak lagi berada di pihaknya. Ayahnya kini sudah berada di pihak mereka yang sedari dahulu sudah berniat untuk menyingkirkan dirinya.
PLAK
Ayah tersebut yang wajah dan namanya tercoreng itu menampar putrinya satu-satunya. Putrinya yang selama ini sangat disayanginya. Putrinya yang selama ini ia selalu banggakan walaupun mempunyai fisik yang tidak sempurna. Ayahnya sangat kecewa kepada putrinya itu sehingga ia menjadi muak.
"Sekarang kamu pergi dari rumah ini. Aku dan orang-orang di rumah ini sudah tidak mau melihat wajahmu atau mendengar namamu lagi. Jangan panggil aku ayah lagi." Ucap sang ayah dingin.
"Yah..." Pinta perempuan itu dengan suara bergetar. Tangannya masih memegang pipinya yang memerah karena tamparan ayahnya.
"Jangan panggil aku ayah! Enyahlah kamu dari rumah ini sekarang juga!" Bentak kepala rumah tangga itu.
"Cepat kemasi barangmu sekarang! Dan pergi dari rumah ini! Kamu sudah bikin malu keluarga ini dan nama baikku sudah pasti tercoreng karena kamu adalah seorang pelacur!" Teriak Kakak dari perempuan itu. Kebetulan kakaknya perempuan itu juga Kakak kelas di sekolahnya perempuan itu yang sangat disegani oleh para guru dan para siswa.
__ADS_1
Lantas, perempuan itu segera berlari ke kamarnya dan segera membawa barang-barang berharga miliknya.
Dengan air mata yang terus mengalir dan hatinya yang rasanya sudah tidak ada lagi, perempuan itu mengambil seluruh berkas riwayat hidupnya, juga beberapa potong pakaian. Dan semua uang miliknya. Setelah itu, ia menaruh semua barang-barang berharga tersebut di tasnya. Tak lupa ia juga membawa sebuah buku sketsa dan beberapa bolpoin yang diselipkan juga di dalam tasnya.
Lantas, perempuan itu tanpa sepatah kata perpisahan pun pergi meninggalkan rumah tempatnya biasa bernaung itu. Untuk terakhir kalinya. Sedangkan para anggota di rumah tersebut merasa muak dan tidak mau berbicara lagi dengan perempuan yang baru saja mereka usir itu.
Dengan insiden perundungan, dan pengusiran itu, perempuan itu dengan sangat yakin sepenuhnya mengakui kalau dunia ini hanya bersikap adil kepada mereka yang berparas rupawan. Atau mereka yang memang pintar. Tidak ada tempat bagi mereka yang tidak mempunyai paras yang rupawan, tidak mempunyai otak yang pintar, juga tidak mempunyai popularitas.
Bagi perempuan itu, cinta tidak ada yang bisa menerimanya. Memang sudah kodratnya bagi perempuan yang mempunyai hati yang tulus, tidak rupawan, tidak pintar, dan tidak populer, juga tidak kaya raya ini sama sekali tidak mempunyai cinta. Tidak berhak merasa dicintai. Harus terima betapa jahatnya dunia ini.
Kalau memang hanya itu yang ia terima. Ia akan terima. Ia tidak akan mengharapkan untuk menerima cinta itu. Jika cinta itu memang sudah kodratnya tidak akan ia terima. Mulai hari ini, ia akan terima begitu saja rasa kekosongan, rasa kedinginan, rasa yang tidak akan hidup karena tidak ada kehangatan cinta di dalamnya, dan juga rasa kesendirian karena tidak ada seorangpun yang akan Sudi menerima dirinya.
Tapi ijinkan untuk beberapa saat, hanya beberapa saat, ia memanusiakan hatinya ini. Biarkan ia mengeluarkan sakit hatinya, rasa pedihnya ini karena semua orang yang sangat dicintai dan mencintainya telah direbut oleh dunia ini. Orang-orang yang sangat ia cintai itu kini menjadi orang-orang yang sangat membencinya dan tidak akan sudi melihat wajahnya lagi.
Dan malam itu, di sebuah bangku taman, perempuan itu menangis. Sendirian.
---
"Dapatkah lukisan itu mengekspresikan dirinya? Mengapa ada begitu banyak perasaan yang bercampur aduk di dalam lukisan ini?" Tanya perempuan yang semalam habis menangis di bangku taman itu. Dan kini ia sedang berada di sebuah galeri seni.
__ADS_1
"Itulah gunanya seni. Asal kamu tahu, mereka, para pelukis di dunia ini, menggunakan lukisan untuk mengekspresikan rasa mereka di saat itu." Ucap seorang pria yang nampaknya sudah berkeluarga, pria tersebut ternyata juga sedang menikmati lukisan yang dilihat oleh perempuan itu.
"Bagaimana bisa seorang pelukis dapat menumpahkan seluruh perasaannya di dalam bentuk lukisan? Bagaimana caranya para penikmat seni bisa menyadari apa yang saat itu pelukis itu rasakan ketika menciptakan karya seni ini?" Tanya perempuan itu lagi. Sedangkan perempuan itu yang sangat terpukau akan lukisan di depannya seakan enggan untuk melihat orang yang sedang mengobrol dengannya.
"Orang-orang penikmat lukisan itu tahu perasaan pelukis saat itu, karena pelukis itu benar-benar mencurahkan isi hatinya ketika seluruh goretan kuas tengah mewarnai kanvas tersebut. Mereka tidak akan bermain-main."
"Oleh sebab itu, terutama dengan karya abstrak atau sedang merasakan sebuah fenomena emosional, para penikmat karya seni itu dapat mengetahui perasaan pelukis. Dan kamu tahu, banyak para pelukis yang akhirnya menjadi seorang pelukis terkenal karena mereka mampu meluapkan seluruh ekpresinya. Sehingga bisa mendapatkan ciri khasnya tersendiri. Tapi, tentu saja mereka juga mempunyai jati diri tersendiri. Dan juga dengan ditambah beberapa pengetahuan lainnya."
Mendengar penjelasan tersebut, perempuan itu pun menjadi penasaran dengan siapa yang baru saja diajak mengobrol. Kalau dilihat dari penampilannya, bisa jadi ia adalah salah satu dari penikmat karya lukis yang memang sudah pemain lama sehingga bisa mengetahui teori tersebut.
Atau bisa juga pria tersebut adalah salah satu pelukis yang sudah begitu lama berkecimpung dengan dunia seni ini.
"Maaf sebelumnya, pak. Bukan maksud untuk merendahkan diri. Tapi apakah bapak sudah berkeluarga? Dan di mana keluarga bapak?" Tanya perempuan itu kepada bapak di sebelahnya.
"Oh, ya. Aku sudah berkeluarga, dan mereka" ucap bapak sambil menunjuk seorang ibu dan anak yang sedang menikmati karya lukis yang lainnya di ruangan itu "mereka adalah keluargaku. Dan mereka sudah kudoktrin untuk juga menikmati karya lukis" ucap pria itu terkekeh.
"Ternyata bapak adalah penikmat karya lukis, ya. Wajar saja kalau bapak bisa begitu mengetahui psikologi para pelukis dan penikmat karya lukis"
"Lalu nona sendiri? Apakah nona juga penikmat karya lukis? Atau nona adalah seorang pelukis? Lantas kenapa nona datang ke galeri ini dengan tas yang besar?"
__ADS_1
"Aku hanya senang menggambar, pak. Kalau bapak mau lihat karya saya, saya bawa, kok." Ucap perempuan itu sambil memperlihatkan buku sketsanya. Dan menyerahkan buku sketsa itu ketika bapak tersebut ingin melihat hasil karya seninya. "Dan saya baru saja diusir dari rumah dan dibuang selama-lamanya karena gosip yang mengatakan kalau saya pelacur." Ucap perempuan itu tersenyum pasrah.
"Nona, gambar-gambar buatanmu sangat indah namun dipenuhi harapan yang kosong. Rumahku sangat besar dan mampu memuat banyak orang. Kalau nona memang tidak punya tempat untuk berlindung, aku dan keluargaku sangat senang menampungmu." Ucap bapak tersebut. Dan mendengar perkataan itu perempuan itu tanpa sadar kembali meneteskan air mata.