Karenamu Dan Teh Manis Hangat

Karenamu Dan Teh Manis Hangat
Lamaran Pernikahan


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu, kini acara pameran lukisan perempuan itu kembali diselenggarakan. Perempuan itu yang sebenarnya sangat malas untuk menghadiri acaranya itu sebenarnya lebih memilih bersantai saja di dalam rumah, atau mungkin akan jalan-jalan ke berbagai situs-situs bersejarah demi mencari inspirasi baru.


Namun sayangnya kebiasaan yang bagi perempuan itu cukup menyenangkan menjadi agak terusik ketika Mara dan Delon kembali mengusik kesendiriannya. Mereka berdua justru bersikeras supaya perempuan itu mau menghadiri pameran dan pelelangan karya lukisnya.


"Halo Nona Manis. Kamu hari ini tidak kemana-mana, kan? Hari ini hari penting buat kamu, lho." Ucap Mara dalam pesan di handphone perempuan itu.


"Aku rencananya mau ke luar rumah buat cari inspirasi lukisanku berikutnya. Memangnya ada apa? Biasanya aku yang slalu chat duluan kalau ada perlu." Balas perempuan itu .


"Aih! Jangan bilang kalau kamu lupa akan hari ini. Harusnya hari ini adalah hari yang cukup spesial buat kamu."


"Aku tidak ingat. Memangnya ada apa hari ini?"


"Nona. Hari ini itu hari pameran dan pelelangan lukisan kamu. Pokoknya kamu harus datang! Bersiap-siap pakai baju formal dan jangan lupakan topengmu! Satu jam lagi aku sama Delon akan sampai di rumahmu."


"Tapi, kan aku biasanya tidak datang ke acara seperti itu."


"Jangan membantah dan bersiap-siap sekarang! Pokoknya kamu harus datang. Kami lagi jalan ke rumahmu."


Membaca chat itu, perempuan itu hanya bisa menghela nafas. Mau tidak mau ia haru menurut permintaan sepasang sejoli itu.


Dengan ogah-ogahan, perempuan itu pun mulai mempersiapkan diri untuk menghadiri acara pameran dan pelelangan itu. Lantas benar saja, satu jam berlalu, mobilnya Delon sudah sampai di depan rumahnya, dan mereka bertiga pun akhirnya pergi menuju tempat pameran dan pelelangan itu.


---


Sebelum acara pelelangan dimulai, biasanya para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati berbagai lukisan yang terpajang di setiap dinding pameran. Yang nantinya lukisan-lukisan itu akan dilelang.


Perempuan itu sedari tadi terus menempel kepada Mara dan Delon. Terkadang Mara dan Delon tidak terlalu fokus pada lukisan yang dilihat, dan justru kebanyakan memandang para tamu undangan yang hadir di acara tersebut. Sangat berbeda dengan perempuan itu yang sangat memperhatikan detail lukisan yang akan dilelangkannya.


Lantas pada suatu lukisan, Mara dan Delon seperti biasa memperhatikan para tamu undangan, sembari menemani perempuan itu yang sedari tadi memperhatikan lukisan didepannya. Namun ketika sepasang sejoli itu tengah menyisir pemandangan, mereka berdua pun tersenyum senang dengan apa yang mereka lihat.

__ADS_1


Mara dan Delon itu melihat kalau pria investor itu berdiri di sebelah seorang pria paruh baya namun terlihat berwibawa. Siapapun pasti mengenal pria itu yang kini namanya tengah naik daun karena sahamnya yang sedang melejit. Tidak hanya itu, pria investor itu juga mengayunkan tangannya memanggil Mara dan Delon supaya bergabung dengan pria itu.


"Hei, apa kabar. Apakah nona itu kita panggil juga?" Tanya Delon ketika mereka berempat akhirnya berkumpul.


"Jangan dipanggil. nanti kejutannya hilang. Kami tidak mau nona manisku menyadari kalau kami ada di sini." Ucap pria itu yang disertai anggukan pria paruh baya itu.


"Tapi aku ingin kamu memberikan alamat ini." Lantas pria itu pun memberikan secarik kertas yang berisi sebuah alamat, lengkap dengan negaranya. "Katakan padanya, kalau dia sudah sangat muak dengan lingkungan tempat tinggalnya saat ini,   jual saja rumahnya, dan segera pindah ke alamat ini." Lantas pria itu pun tersenyum sumringah.


"Jadi ini alamat tempat tinggalnya sekarang?" Tanya Delon.


"Ya, ini alamat tempat tinggal ku sekarang. Dan lagi pula tempat tinggal nona manisku memang sangat tidak baik untuk kesehatan mentalnya. Para tetangganya terlalu bersikap sinis dan selalu ingin tahu akan kehidupan pribadi nona manisku."


"Baiklah, nanti kamu sampaikan." Ucap Mara.


"Oh, iya. Nanti kita duduk jangan satu meja, ya. Biar nona manisku tidak menyadari keberadaan kami. Kalau begitu kami ke lukisan lain dulu, ya. Nanti undangan pernikahannya aku sebar ke kalian." Ucap pria itu lalu mereka berempat pun berpisah.


"Nona, ini ada seseorang yang memberikan alamat ini kepadamu." Ucap Mara ketika mereka berdua sampai di sebelah perempuan itu.


"Nanti kamu juga tahu. Yang jelas, orang itu bilang kalau kamu sudah muak dengan tempat tinggal mu yang sekarang, kamu jual saja rumahmu, dan pindah ke alamat ini.


---


Beberapa bulan kemudian, perempuan yang muak dengan lingkungan tempat tinggalnya saat ini telah menjual rumahnya. Perempuan itu pun masih ingat dengan alamat yang diberikan Mara dan Delon.


Lantas, didorong dengan rasa penasarannya, setelah sampai di negara itu, perempuan itu dan barang-barang miliknya ia bawa ke tempat yang tertera di alamat itu. Dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat kalau rumah yang dimaksud adalah salah satu rumah termewah yang berada di kawasan elit itu.


Rumah itu memiliki luas dua hektar dengan pagar tinggi yang melindungi pintu masuk rumah itu. Dikelilingi taman yang begitu luas, di ujung halaman itu terlihat sebuah rumah besar dengan bangunan yang begitu kokoh dengan dua lantai.


"Ah, Nona akhirnya sampai juga. Tuan  sudah lama menunggu nona." Ucap satpam di rumah tersebut yang lalu membukakan pintu gerbang untuknya. Lantas, perempuan itu pun menurut dan masuk ke dalam area taman rumah tersebut.

__ADS_1


"Nona, kalau boleh tahu nona langsung ke sini, ya setelah sampai bandara?" Tanya satpam itu lagi. Yang dijawab dengan anggukan oleh perempuan itu. Sedangkan barang-barang yang dibawa oleh perempuan itu dibawa oleh satpamnya.


"Di sini, nona. Silahkan masuk dan beristirahat." Ketika perempuan itu masuk ke dalam rumah mewah tersebut, perempuan itu pun terpukau dengan gaya interior rumah tersebut yang sangat klasik dan elegan.


"Nona manis. Akhirnya kamu sampai juga." Ucap seseorang yang turun dari tangga sambil memakai pakaian tuksedo.


Alangkah terkejutnya perempuan itu ketika melihat secara jelas sosok tersebut. Ternyata sosok itu adalah pria misterius yang selama satu tahun telah mengisi kehidupannya. Sosok pria yang ia kita sudah meninggalkan dirinya.


"Nona, apakah kamu masih mengingat diriku?" Tanya pria itu saat sudah berada di sebelah perempuan pujaannya itu. Namun perempuan itu hanya diam terpaku tidak percaya melihat sosok pria dihadapannya.


"Sudah kuduga, kamu pasti sudah melupakanku." Ucap pria itu mengeluh, pria itu pun kini meremas sesuatu di dalam kantong tuksedonya.


"Aku tidak melupakanmu. Tapi bagaimana bisa kamu hadir lagi di hadapanku?" Pertanyaan perempuan itu membuat pria itu kembali menatap wajah perempuan dihadapannya. Dan tangannya kini berhenti meremas.


"Aku sudah bilang kepadamu. Suatu saat nanti kita akan bertemu kembali. Ah iya. Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu. Jadi tinggalkan dulu barang-barangmu di sini, dan ikut aku." Lantas sambil memegang pinggang perempuan itu, pria itu mengajak nona manisnya menuju sebuah ruangan.


Di ruangan itu, terlihat sebuah lukisan besar yang menggambarkan potret wajah nona manis milik pria itu. Perempuan itu pun terkejut dan terharu melihat betapa indahnya potret wajah tersebut yang sedang tersenyum. Sedangkan di sisi lain, ia juga melihat lukisan pelelangan waktu itu yang menunjukkan suasana ruangan kosong.


"Jadi kamu sebenarnya datang ke acara pelelangan itu. Dan kamu juga yang menitipkan alamat itu ke Mara dan Delon?" Tanya perempuan itu tidak percaya.


"Iya, nona manisku. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Dan aku juga berkata kalau suatu saat nanti kita akan bertemu lagi." Ucap pria itu tersenyum manis.


"Dan kamu masih ingat apa janjiku ketika kita sudah bertemu kembali?" Tanya pria itu sambil mengambil sikap berlutut di hadapan perempuan itu.


Lantas perempuan itu berpikir sejenak dan ia pun terkejut "tidak mungkin, kan dia beneran ngelamar aku" ucapnya dalam batin.


"Nona manisku, maukah kamu menikah denganku, dan menghabiskan sisa waktu kita untuk selamanya bersama?" Pinta pria dengan wajah memohon itu sambil menyodorkan cincin pernikahan kepada perempuan pujaannya.


Perempuan itu pun hanya terdiam beberapa saat. Wajahnya kini kembali memerah sedangkan kedua tangannya menutup mulutnya. Matanya pun memerah berkaca-kaca. Ia sangat tidak percaya kalau pria yang selama ini hadir di kehidupannya sama sekali tidak melupakannya. Dan justru meminta dirinya sebagai pendamping hidup pria yang selama ini ia kira tidak dapat ia raih.

__ADS_1


"Iya, aku mau" lantas cincin pria itu pun bangkit berdiri dan memakaikan cincin itu ke salah satu jari manis perempuan itu. Dan kini mereka pun berpelukan.


__ADS_2