
"Nona, waktuku di sini hanya tinggal dua Minggu. Aku boleh minta sesuatu kepadamu?" Tanya pria itu ketika mereka berdua sedang tidur-tiduran di ranjang. Karena lelah akan aktivitas hari ini.
"Permintaan?" Tanya perempuan itu yang saat ini sedang rebahan dengan lengan pria yang dipeluknya sebagai alas kepalanya. Sedangkan kini salah satu jemarinya tengah bermain-main di atas dada bidang milik pria itu.
"Ada sesuatu yang ingin aku pinta. Bagi ku dan bagi mu ini adalah hal yang penting. Sudah saatnya kamu harus memperbaiki hubungan." Ucap Pria itu yang kini melihat kepala perempuan di sebelahnya. "Aku meminta ini demi kebaikanmu juga."
"Perbaiki hubungan dengan siapa? Aku rasa aku tidak mempunyai hubungan yang buruk dengan siapapun." Jawab perempuan itu sambil memamerkan wajah malasnya. Entah mengapa ia saat ini sangat ingin berduaan di atas ranjang ini bersama pria di sebelahnya. Hanya menghabiskan waktu seperti ini
"Aku hanya ingin seperti ini menghabiskan waktu dua Minggu bersamamu. Sebab mungkin di rumah ini kembali lagi hanya tinggal aku seorang."
"Tapi memangnya kamu tidak merasa ada hubungan yang sedang tidak baik dengan orang lain? Aku merasa agak kurang enak kalau kamu tidak menjalin hubungan baik dengan mereka. Setelah itu, aku janji aku akan membiarkan tubuhku diperlakukan seperti ini olehmu."
"Kamu, kan tahu. Dunia ku selama ini hanya dipenuhi dengan cat air, kanvas, dan karya lukis. Bahkan aku semenjak menekuni dunia lukis sebagai profesiku, aku sama sekali hampir tidak pernah berhubungan dengan orang lain. Ya paling aku berhubungan dengan pihak penyelenggara dan para penjual alat-alat lukis. Lantas, aku harus memperbaiki hubungan dengan siapa?" Lalu perempuan itu pun melingkarkan lengannya dan memeluk bagian atas tubuh pria itu.
"Aku ngantuk sekali. Aku mau tidur" ucap perempuan itu sambil memeluk erat rusuk pria itu.
__ADS_1
"Kamu tahu, aku ingin sekali melihat kamu kini bergaul dengan akrab dan memaafkan apa yang sebelumnya telah terjadi. Hingga membuatmu menutup diri seperti ini." Ucap pria itu yang setelah itu mencium ujung kepala perempuan yang kini memeluk dirinya sambil memejamkan mata karena ingin tidur.
"Aku penasaran, siapa orang yang kamu maksud. Dan memangnya salah kalau kehidupan ku seperti ini?"
"Tidak, sama sekali tidak salah. Tapi aku hanya ingin kamu berlapang dada menerima masa lalu. Dan memaafkan tentang apa yang dulu pernah terjadi. Aku ingin kamu memaafkan Mara dan Delon, juga menerima permintaan mereka untuk memperbaiki hubungan denganmu." Lalu pria itu pun kembali mengelus kepala perempuan di sebelahnya itu dengan lengan yang kini menjadi alas tidur perempuan itu.
"Pasti karena acara pameran waktu itu, ya?" Lalu perempuan itu mendongakkan kepalanya dan menatap wajah pria yang saat ini dipeluknya. "Aku meninggalkan kalian semata-mata hanya tidak mengerti apa yang kalian bicarakan."
"Aku tidak yakin kalau kamu meninggalkan kami bertiga hanya karena tidak mengerti apa yang kami bicarakan. Tapi ada hal lain, kan?" Lantas perempuan itu pun terdiam. Ia bingung ingin menjawab apa.
"Nona. Ceritakan kepadaku, apa yang sebenarnya saat itu kamu rasa? Apa benar katamu waktu itu kalau kamu berpikir Mara dan Delon akan merebutku dari genggamanmu?" Lalu lengan pria itu yang tidak menjadi alas kepala perempuan itu meraih ponselnya dan mengirim sebuah pesan. Lantas beberapa saat kemudian ia mendapatkan pesan balasan dan wajah pria itu pun tersenyum. Setelah itu ia menaruh kembali ponselnya.
"Kamu habis berbalas pesan sama siapa?" Tanya perempuan itu dengan tatapan cemburu.
"Aku habis berbalas pesan dengan Delon. Aku bilang kalau besok aku dan kamu akan menemuinya dan Mara di kantornya." Ucap pria itu yang kembali membelai rambut perempuan di sebelahnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah janjian kayak gitu!?" Lantas perempuan itu pun menjadi kesal dan bangun dari tidurnya. Lantas pria itu pun juga ikutan terbangun dari tidurnya.
"Benar, kan apa yang kukira. Memang ada sesuatu masa lalu yang tidak bisa kamu lupakan. Apakah kamu betah selama bertahun-tahun menyimpan akar pahit itu? Nona, tolong ceritakan sejujurnya apakah kamu mengira kalau diriku direbut dari genggamanmu setelah kamu tahu kalau aku punya hubungan akrab dengan sepasang pengusaha itu?" Tanya pria itu membujuk.
Pria itu pun kini kembali meraih dagu perempuan di sebelahnya dan membuat wajah perempuan itu kini kembali menatap wajahnya. "Apakah itu yang selama ini kamu rasa?"
"I...Iya." Jawab perempuan itu setelah diam beberapa saat. Lantas pria itu pun melepaskan genggamannya dari dagu perempuan itu. Perempuan itu pun kini menunduk dan tangannya memainkan ujung selimut yang menutupi bagian bawah tubuh pria dihadapannya. Perempuan itu melihat bagian perut dan pinggul pria di hadapannya itu masih terpahat dengan sempurna, namun perempuan yang kembali lagi sedang merasa sendu itu sama sekali tidak bernafsu melihat pahatan indah tersebut.
Melihat ekspresi wajah perempuan itu yang selalu merasa sendu itu, pria itu pun hanya bisa tersenyum ramah. Ia memang tahu bukan suatu hal yang sederhana yang membuat perempuan dihadapannya hampir tidak pernah tersenyum. Semenjak ia pertama kali bertemu dengannya dan menghabiskan hari bersamanya. Tapi memang trauma yang tidak kunjung usai yang telah merenggut ekspresi senyum lepasnya yang mungkin kalau telah kembali membuat wajah perempuan di hadapannya ini akan semakin manis.
"Nona. Besok kita akan bertemu dengan Delon dan Mara. Mereka akan sangat senang bertemu denganmu. Untuk kali ini, tolong jangan kabur ketika bertemu dengan mereka berdua. Mereka tidak akan tega merebutku dari genggamanmu. Mereka sudah tahu bagaimana perasaanku kepadamu."
"Tapi bagaimana kalau kamu justru akan tertarik dengan salah satu partnernya? Lalu kalian akan menikah di atas urusan bisnis." Tanya perempuan itu.
"Itu tidak akan terjadi. Masa lalu yang merebut kebahagiaanmu itu sudah cukup membuat mereka merasa sangat menyesal. Mereka tidak akan merebutku dan mereka tidak mau lagi menghancurkan kebahagiaanmu. Mungkin kamu melihat keadaan mereka saat ini dengan rasa penuh ketidakadilan karena mereka yang melakukan perundungan kepadamu justru kini hidup sukses. Tapi kamu tidak akan pernah tahu, rasa derita apa yang mereka simpan dalam-dalam di lubuk hati mereka ketika mereka sudah lama tidak menyelesaikan permasalahan perundungan yang menjadikan dirimu korban di saat itu."
__ADS_1
"Jadi percayalah. Jika kamu bisa memaafkan dan menerima perbaikan hubungan dari mereka, itu bukan berarti kamu kalah. Tapi itu menunjukkan kalau kamu adalah manusia yang hebat. Masa lalu memang sudah tidak bisa diperbaiki. Namun tidak ada salahnya jika kamu mau memaafkan dan menerima dengan lapang dada apa yang telah terjadi kepadamu."