
Menangis ternyata cukup menguras tenaga. Setelah puas menangis dalam pelukan Mara, perempuan itu pun melepaskan diri dari pelukan teman yang duduk di sebelahnya itu. Lalu ia pun kembali menghapus air matanya itu sambil tersenyum kecil kepada Mara yang sedari tadi melihatnya.
"Mara, makasih ya." Ucap perempuan itu.
"Kamu udah puas, ya nangisnya. Mau makan siang dulu, gak? Atau mau langsung pulang aja?" Tanya Mara sambil membantu memperbaiki penampilan perempuan di hadapannya yang terlihat berantakan.
"Aku lelah, Mara. Aku mau tidur saja. Lagipula kalian kan harus balik ke kantor buat kerja."
"Ya udah, kamu sini tiduran dulu, biar Delon yang nanti belikan kita makanan. Berarti kamu makan di rumah aja, ya nanti." Ucap Mara sambil menepuk-nepuk pahanya supaya menjadi alas kepala perempuan itu untuk tidur.
"Delon, nanti makananku samain aja sama kalian, ya. Maaf banget udah ngerepotin." Delon yang mendengar itu pun tersenyum kecil sambil terus mengendarai mobilnya.
Setelah mengatakan demikian, perempuan yang merasa hatinya sudah agak lega itu kini matanya sudah semakin mengantuk. Lalu perempuan itu pun menggeser kan badannya ke ujung kursi bangku belakang, setelah itu ia tidur dengan posisi miring dengan paha Mara sebagai alasnya. Delon pun juga tidak mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga ketika perempuan itu tidak terganggu oleh turbulensi yang dikarenakan polisi tidur. Selagi perempuan itu memejamkan mata dan tertidur, Mara pun mengelusi dengan lembut rambut perempuan yang tengah tertidur pulas itu.
---
"Makasih, ya buat tumpangannya. Sekali lagi maaf merepotkan." Ucap perempuan itu saat Mara dan Delon telah mengantarkan perempuan itu kembali ke rumahnya. Sedangkan Mara dan Delon tersenyum manis mendapatkan ucapan terimakasih itu.
__ADS_1
"Ini, makananmu. Aku tadi belikan dua porsi buat makan siang dan makan malammu. Buat makan malam nanti, kamu panasin aja." Ucap Delon sambil memberikan plastik transparan yang berisi dua porsi makanan. Lalu perempuan itu menerima makanan itu.
"Berapa harganya? Biar aku ganti sekarang?" Tanya Perempuan itu sambil mengeluarkan dompetnya.
"Gak usah diganti. Makan siang kita tadi dibayarin sama kekasih kamu itu. Termasuk makan malam kamu itu." Jawab Delon.
"Tapi aku tadi gak ninggalin uang sepeserpun ke dia."
"Kamu, kan tahu kalau dia itu pemegang saham terbesar di perusahaanku dan Mara. Jadi paling uang makan diambil dari bagian dia saja yang bulan ini." Terang Delon. Dan perempuan itu pun semakin bingung.
"Ah, iya maaf. Tapi ya pokoknya itu yang bayarin kekasih kamu. Terus tadi dia juga ada pesan, katanya kamu kalau ada perlu apa-apa, tinggal bilang ke aku atau Mara. Soalnya selama kamu gak tinggal serumah sama kekasihmu itu, aku dan Mara disuruh jagain kamu." Lanjut Delon.
"Iya, pokoknya nanti sampai kamu tinggal serumah lagi sama kekasihmu itu, kamu kalau ada apa-apa tinggal bilang ke kami, ya. Tadi kekasihmu itu juga udah ngasih nomor kontak kamu ke kita. Nanti kita kirim pesan ke kamu. Kamu save nomor kami, ya." Ucap Mara memberikan pesan.
"Maaf, aku ngerepotin kalian." Ucap perempuan itu yang merasa tidak enak hati.
"Gapapa, kok. Kami malah senang akhirnya bisa akrab sama kamu. Ya sudah, ya. Kami balik dulu. Jaga diri baik-baik, kalau ada perlu apa-apa kabarin saja. Atau kalau bosan di rumah, kamu bisa main ke kantor kami." Ucap Mara. Lalu Mara dan Delon pun masuk ke dalam mobil, dan mobil itu meninggalkan rumah perempuan itu.
__ADS_1
Perempuan itu memandangi mobil tersebut yang semakin lama semakin jauh meninggalkan rumah perempuan itu. Setelah mobil itu menghilang dari pandangannya, perempuan itu pun kembali melihat bungkusan makanan yang sedari tadi digenggamnya.
"Dia masih mikirin aku? Dia masih menganggap kalau dia tidak meninggalkan aku. Memangnya benar akan ada saatnya pria itu akan datang lagi kepadaku? Kenapa dia sebegitu yakin? Palingan nanti di negaranya dia akhirnya bertemu dengan seseorang yang sepadan dengannya, lalu aku dilupakan." Ucap perempuan itu dalam batin.
Lantas ia pun membuka pintu pagar rumahnya lalu menutupnya, membuka pintu masuk rumahnya, setelah masuk ke dalam rumah, pintu itu ia kunci dari dalam. Ia pun bertindak sebegitu hati-hatinya semenjak mengingat pria itu tetap bisa masuk ke dalam rumah ini, padahal waktu itu ia tinggalkan begitu saja di gedung pameran. Ia pun juga masih mengingat pesan pria itu di kala itu. Kalau-kalau dia kelupaan menutup pintu, siapa tahu akan ada maling masuk ke rumahnya.
Sesampainya di dalam rumah dan seusai menyiapkan makan siangnya, ia pun bersantap makan siang sambil iseng-iseng browsing di internet, mencaritahu siapakah sebenarnya sosok pria yang selama ini selalu memanggilnya nona manis. Sosok pria yang dengan bangganya mengaku kepada semua orang kalau ia adalah kekasih dari dirinya. Sosok misterius yang tiba-tiba muncul di kehidupannya.
Setelah ia membaca beberapa artikel yang ditulis oleh berbagai media yang khusus membahas masalah ekonomi, ia melihat betapa sempurnanya pria misterius. Sampai-sampai para pengusaha dan orang-orang yang begitu terpandang di dunia bisnis, semuanya mengakui betapa besarnya pengaruh pria itu bagi perekenomian dunia, terutama perekonomian di negaranya.
Ya, walaupun perempuan itu tidak mengerti tentang apa yang dibahas, namun setidaknya ia tahu sedikit. Apalagi, ternyata kasus menghilangnya pria itu pada dua tahun yang lalu ternyata telah diberitakan secara besar-besaran dari berbagai media, bukan hanya media ekonomi itu. Tetapi berbagai media lainnya yang di luar ekonomi juga membahas kasus itu. Lantas, dari berita yang baru saja ia baca itu pula, perempuan itu baru sadar kalau dirinya ternyata sudah begitu nyaman dengan dunia imajinasinya sendiri. Sehingga ia sama sekali tidak tahu perkembangan di dunia luar semenjak beberapa tahun yang lalu.
Dan apabila para media menyadari kalau pria itu kini sudah kembali ke negaranya dengan selamat sentosa, apakah berita ditemukannya itu akan seheboh berita kehilangannya? Perempuan itu sama sekali tidak ambil pusing.
Lantas juga, apabila pada saat setahun yang lalu ternyata perempuan itu sudah tahu siapakah pria yang saat itu dalam keadaan telanjang bulat pingsan di depan pintu rumahnya, apakah ia akan bersikap heboh? Ia sama sekali tidak tahu dan tidak membayangkan. Yang jelas baginya itu semua hanyalah sebuah kebetulan.
Lagipula, ia menganggap kalau kisahnya dengan pria itu sudah berakhir hari ini. Biarkan saja kehadiran pria itu adalah sebagai penawar sakit hati dan kesendiriannya. Ia menganggap kalau pria itu hanyalah selingan di kehidupannya yang sehari-hari hanya dipenuhi dengan aktifitas melukis. Jadi saat kisah itu sudah selesai, ia akan kembali ke rutinitasnya, seperti biasa, seperti saat dirinya belum berjumpa dengan pria itu.
__ADS_1