
Pagi menjelang siang. Ketika perempuan dan pria itu sudah bangun tidur, mereka berdua pun mulai melakukan aktivitas masing-masing.
Namun ada yang berbeda dengan hari ini, setelah perempuan itu menyiapkan secangkir teh manis hangat kepada pria yang sedang sibuk membereskan rumah, perempuan itu pun langsung ke luar rumah untuk membelikan satu stel pakaian untuk pria itu.
"Tunggu, kamu sudah tahu ukuran tubuhku?" Tanya pria itu kepada perempuan yang akan pergi ke luar.
"Nanti aku kira-kira saja. Semoga pakaiannya pas. Tapi gak apa-apa, kan kalau kedodoran? Asal gak kekecilan?" Jawab perempuan itu tidak yakin. Lantas pria itu pun langsung menyiapkan data-data ukuran pakaiannya kepada perempuan itu.
"Ini, patokannya ini saja. Kalau dikira-kira nanti jadinya malah gak muat" ucap pria itu tegas. Lantas catatan itu pun perempuan itu baca lalu mengangguk mengerti.
Lalu pria itu pun kembali melakukan rutinitasnya selagi perempuan itu pergi ke luar untuk mencari sarapan dan mencari pakaian yang cocok untuk pria yang tinggal di rumahnya.
"Berdasarkan hasil Rontgen ini, ternyata alasan kamu tidak dapat makan adalah karena penyakit gastritis." Ucap dokter bagian dalam setelah mengecek bagian yang dikeluhkan pria itu.
"Gastritis? Itu apa dok?" Tanya perempuan itu. Mereka berdua baru saja mengetahui kalau penyakit yang diderita pria itu adalah penyakit Yang selama ini tidak diketahuinya.
"Gastritis adalah suatu infeksi pada bagian lambung, akibat adanya benda-benda asing yang berbahaya yang masuk ke dalam bagian tubuh. Sehingga bisa mengakibatkan rasa sakit ketika mengkonsumsi makanan yang mengandung zat yang dapat mengikis enzim bagian lambung." Jelas dokter tersebut. Mendengar penjelasan tersebut, pria yang duduk di samping perempuan itu hanya bisa menundukkan kepala, sedangkan perempuan itu langsung mengangguk-anggukkan kepala, tanda mengerti.
"Kok bisa, sih ada benda asing yang berbahaya masuk ke tubuh kamu? Memangnya sebelumnya kamu ngapain?" Tanya perempuan itu kepada pria yang ada disebelahnya.
"Nanti aku ceritain. Tapi penyakit ini belum kronis, kan dok? Masih bisa disembuhkan?" Tanya pria itu kepada dokter di hadapannya.
__ADS_1
"Bisa disembuhkan, kok. Sebentar saya siapkan resep obatnya, ya. Yang penting makanannya diatur saja. Untuk sementara jangan konsumsi makanan yang dapat mengikis enzim lambung. Kalau mau makan, makan bubur saja dulu. Pokoknya yang lembut-lembut. Biar gak semakin parah." Saran dokter itu.
"Tapi kenapa aku bisa minum teh manis hangat, ya? Padahal gak bisa makan makanan lain?"
"Karena teh manis hangat tidak merusak lambung. Asal dikonsumsi dengan baik. Jadi, kamu harus rutin minum obat ini, ya. Kalau obatnya habis tapi masih gak bisa konsumsi makanan, balik lagi ke sini." Jawaban dokter itu pun direspon dengan anggukan kepala.
Usai dari dokter bagian dalam, pria dan perempuan itu pun langsung menuju ke ruang psikiater, tentunya setelah melakukan janji bertemu dulu. Walaupun pria itu sama sekali tidak keberatan kalau ia tetap terus terjangkit penyakit yang sesungguhnya merasa agak aneh ketika ia kembali berpakaian, namun tidak dengan perempuan itu.
"Selamat siang dok, ini kami yang tadi sudah melakukan perjanjian ketemuan" ucap perempuan yang disusul pria itu yang memasuki ruangan seorang psikiater.
"Oh, jadi yang mana yang ingin melakukan sesi konsultasi? Nona? Atau pria yang disebelahnya? Atau mau lakukan konseling masalah pernikahan?" Tanya psikiater itu yang membuat perempuan itu gelagapan dan pria di sebelahnya hanya tersenyum malu. Mereka berdua kaget mendengar pertanyaan konseling pernikahan.
"Habisnya kalian terlihat cocok, jadi kukira kalian sudah menikah." Ucap dokter itu. "Lantas kalau bukan konseling pernikahan, siapa yang yang mau konsultasi? Nona? Atau pria seksi di sebelah nona?" Tanya psikiater itu.
"Pria ini yang harus menerima sesi konsultasi, dok. Ada yang aneh dengan perilakunya." Jawab perempuan itu.
"Aneh kenapa?" Tanya dokter itu.
"Kamu mau jawab? Atau aku saja yang wakilkan?" Tanya perempuan itu kepada pria yang baru saja dibilang seksi oleh psikiater itu.
"Aku saja dok yang cerita. Nona itu merasa aku perlu melakukan konseling ke dokter." Jawab pria itu dengan suaranya yang rendah dan lembut, sehingga terdengar sangat seksi.
__ADS_1
Lantas setelah mendapatkan posisi yang nyaman di atas sofa, psikiater itu pun duduk di bangku depan sofa tersebut sambil membawa clipboard yang sudah terdapat kertas, dan juga ia membawa sebuah pulpen. Sedangkan perempuan itu duduk di sebelah psikiater itu sambil memandangi pria yang kini duduk di sofa.
"Lantas, apa kabarmu?" Tanya psikiater itu menanyakan kabar yang saat ini tengah diderita oleh pria di hadapannya.
"Dok, seperti yang nona itu telah tahu tentang saya dari pertama kali bertemu, saya kini merasa kalau telanjang bulat di tengah umum itu sudah menjadi suatu hal yang lumrah bagi saya. Jujur saja, bahkan untuk pergi ke rumah sakit ini saya tadinya berpikir untuk apa saya harus mengenakan pakaian?"
"Maksud telanjang bulat di sini maksudnya benar-benar tidak memakai pakaian apapun? Bahkan sampai pakaian dalam seperti singlet atau ****** *****?" Pertanyaan psikiater itu dijawab anggukan oleh pria itu.
"Iya, dok. Asalnya saya memang sudah kebiasaan dari kecil untuk tidak memakai pakaian dalam, tapi di tahun ini, mungkin, saya sudah terbiasa tidak memakai pakaian. Benar-benar telanjang bulat. Bahkan nona itu yang padahal baru kemarin bertemu denganku, aku sama sekali tidak merasa risih ketika ia melihat tubuhku dengan penuh nafsu. Aku benar-benar bingung kenapa orang lain kalau ditatap dengan nafsu seperti itu justru merasa terganggu, tersinggung, atau marah. Karena saya sama sekali tidak merasa seperti itu."
"Dok, aku masih normal, dan kuakui tubuh pria itu sangat seksi. Pokoknya semua yang ada di dia itu sangat seksi, dok. Dia punya *** appeal yang sangat tinggi." Ucap perempuan itu berbisik ke psikiater di sebelahnya. Lantas psikiater itu mengangguk.
"Berarti kalau dokter meminta kamu membuka pakaian yang melekat di tubuhmu dan telanjang bulat di depan kami, kamu tidak tersinggung?" Tanya psikiater itu.
"Sama sekali tidak tersinggung, dok. Bahkan dokter walaupun perempuan juga boleh memegang alat kelamin saya, dok. Dokter mau lihat saya telanjang sekarang?" Tanya pria itu sambil mulai membuka bajunya.
"Senyaman kamu saja. Lagipula kalau kamu benar-benar lebih senang telanjang bulat daripada berpakaian, kamu boleh menanggalkan seluruh pakaian yang kamu kenakan itu. Karena di sini yang ada hanya kita bertiga, di sini privasi sangat dijaga." Jawab psikiater itu, lantas tidak lama kemudian pria itu langsung menanggalkan seluruh pakaiannya tanpa adanya rasa malu. Lantas apa yang diucapkan perempuan itu kepada psikiater mengenai bentuk tubuh pria itu memang benar adanya. Namun psikiater itu tetap bersikap profesional.
"Ternyata benar, kamu memang punya penyakit psikologi yang harus disembuhkan. Kalau tidak, bisa membahayakan bagi diri kamu sendiri." Ucap Dokter itu memberikan kesimpulan." Kamu sekarang ternyata mengidap penyakit eksbisionistik."
lantas setelah mendapatkan penjelasan dari dokter tersebut, pria itu pun bercerita bagaimana asal mula dirinya mendapatkan kejadian terburuk di hidupnya sehingga mendapatkan penyakit psikologis tersebut.
Hingga pada ujung ceritanya, ia pun bercerita bagaimana dirinya bisa bertemu dengan seorang perempuan yang sampai saat ini masih ia panggil Nona Manis.
__ADS_1