
"Nona, bolehkah aku membuka pakaianku sekarang? Seharian berada di luar rumah dengan pakaian seperti ini membuatku sangat gerah." Ucap pria itu yang terlihat sangat kepanasan sambil mengipas-ngipas bajunya. Ia terlihat sangat tidak nyaman.
"Iya, boleh, kamu sudah boleh membuka pakaianmu sekarang. Lagipula kamu memang perlu membersihkan diri. Setelah kamu mandi, aku akan mandi. Kusiapkan bajumu sekarang, ya." Ucap perempuan itu sambil membongkar beberapa stel pakaian seusai mereka tadi belanja.
"Nona, haruskah aku kembali berpakaian?" Tanya pria itu kembali memelas, sedangkan perempuan itu masih sibuk dengan belanjaannya dan tidak peduli.
"Tadi kamu bilang gak mau ke psikiater itu, trus mau aku yang menerapi kamu, dan kamu mau menuruti segala perintahku, kok aku minta berpakaian setelah mandi tidak mau?" Tanya perempuan itu.
"Ini demi kesembuhanmu, aku gak mau kamu kenapa-napa. Setidaknya selama kamu ada disisiku. Kalau kamu sudah tidak tinggal bersamaku lagi, kamu boleh kok bertelanjang bulat kapanpun kamu mau." Ucap perempuan itu sambil menghampiri pria yang kembali bertelanjang bulat dan terus memandangi perempuan di depannya.
"Maksudmu?" Tanya pria itu ketika tubuh mereka berdua saling berhadapan. Pria itu menatap mata perempuan itu dalam-dalam.
"Aku berencana membantumu pulang ke negaramu. Tapi sebelum itu, kamu harus bisa menghilangkan kebiasaan mu ini. Kebiasaan mu ini tidak baik."
"Kamu berniat untuk melepaskanku? Dan kamu akan kembali kesepian?" Perempuan itu pun mengangguk.
"Seperti yang sebelumnya aku bilang, suatu pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Akan ada kehilangan, baik itu dengan cara yang baik-baik, maupun dengan cara yang keji. Aku berharap supaya ketika kita berpisah nanti, kamu dalam keadaan baik-baik saja, sehingga kamu bisa menjaga diri." Ucap perempuan itu dengan suara yang bergetar.
Pria itu melihat kedua mata yang ditatapnya dengan dalam-dalam itu bergetar dan berkaca-kaca. Sedangkan tubuh perempuan yang menurutnya sangat manis itu pun tergetar. Lantas pria itu pun memeluk tubuh perempuan itu dan perempuan itu sama sekali tidak menolak.
__ADS_1
Perempuan yang dipeluk itu menyadarkan kepalanya di dada bidang nan indah milik pria didepannya. Dalam pelukan pria itu, perempuan itu pun menangis sesegukan sedangkan kepala perempuan itu kembali dielus-elus oleh pria yang memeluknya.
"Apa kamu benar-benar yakin kalau kita tidak bisa selamanya bersama? Bagaimana kalau sesungguhnya kamu memang buatku? Nona manis?" Tanya pria itu berbisik sambil terus memeluk hangat perempuan yang mampu menenangkan dirinya ini. Sungguh sebenarnya pria itu sama sekali tidak mau berpisah dengan perempuan dalam dekapannya ini. Ia ingin sekali terus-menerus hidup bersama perempuan ini.
Mendengar pertanyaan tersebut, perempuan yang sedang berlindung dalam dekapan pria sempurna itu hanya diam. Ia ingin menjawab kalau mungkin dirinya memang tidak pantas bersanding dengan pria ini. Namun entah mengapa, jawaban itu sama sekali tidak terucap secara langsung. Mulutnya entah mengapa tidak mau mengeluarkan jawaban itu, tetapi yang keluar hanyalah suara sesegukan.
"Kamu, mandilah. Katanya tadi gerah." Ucap perempuan itu setelah puas merasakan dekapan pria di hadapannya. Lantas setelah melepaskan diri, ia pun segera menghapus air matanya.
"Oh, iya nona. Tadi aku ada membeli sebuah kue basah untuk kamu. Entah mengapa kue itu memang cocok sekali dengan kepribadianmu." Ucap pria itu tersenyum manis.
"Maksudmu kue ini?" Tanya perempuan itu yang sambil mengeluarkan plastik transparan yang di dalamnya terlihat sebuah kue basah berbentuk cup dan pinggirannya berwarna hijau pandan.
"Iya kue itu. Besok-besok kalau ada jika kamu sedang belikan sarapan, aku boleh dibelikan kue itu?" Tanya pria itu dengan senyum manisnya.
"Kue ini namanya sangat mirip dengan kepribadianmu, nona."
"Apa? Kutu buku? Perempuan culun? Gak punya kehidupan?" Pria itu hanya menggeleng. Jawabannya tidak ada yang benar.
"Kue itu namanya Nona Manis. Sangat sesuai denganmu, bukan?" Jawab Pria itu yang masih saja menyebarkan senyum manisnya. Lantas perempuan itu pun langsung menekukkan wajahnya.
__ADS_1
"Kapan kamu berhenti menggombal? Segitunya kamu berusaha membuatku melayang?"
"Sampai kamu pun menyadari betapa manisnya dirimu." Setelah mengucapkan kalimat itu, pria itu pun segera berlalu dan hendak mandi. Sedangkan perempuan yang masih memegang kue nona manis yang belum habis itu matanya masih menatap pria yang senang sekali menggombali dirinya berjalan menjauh.
"Segitunya, ya. Memangnya selama petualangannya dia itu gak pernah menemukan perempuan yang jauh lebih sempurna daripadaku? Lagian juga mungkin suatu saat nanti dia akan bertemu seseorang yang lebih baik." Ucap perempuan itu membatin.
Selesai membatin, perempuan itu kembali menikmati kue pemberian pria itu. Rasanya memang sangat manis, manis pandan dan vla yang sangat lembut, Semanis penampilannya. Mungkin sebab itu namanya jadi kue nona manis.
"Untungnya dia membeli beberapa, jadi aku bisa menikmati sepuasnya." Ucap perempuan itu sambil berniat menikmati beberapa potong kue nona manis itu. Namun ia juga menyisakan beberapa buah untuk pria itu.
"Oh, kue ini akan lebih nikmat apabila ada teh manis hangat. Aku buatkan dulu dua cangkir, kali ya? " Ucap perempuan itu ketika melihat ada yang kurang.
Lantas perempuan itu pun pergi ke dapur untuk mengambil piring buat kue tradisional asal Kalimantan itu, sekalian juga membuat dua cangkir teh manis hangat untuk dirinya dan pria itu. Setelah menaruh kue-kue itu ke piring dan selesai menyediakan dua cangkir teh manis hangat di meja, perempuan itu pun kembali menikmati sepotong kue nona manis, ternyata pria itu sudah selesai mandi dan mengeringkan badan.
"Ah, disini kamu rupanya" Ucap pria itu melihat perempuan itu sedang duduk di sofa sambil menikmati sepotong kue basah itu. Lantas pria itu pun menghampiri perempuan itu.
"Iya. Aku juga sudah menyiapkan teh manis hangat juga. Sini, makan sama-sama. Rasanya manis sekali, dan ini juga sepertinya baik untuk lambungmu. Kamu bisa memakannya."
"Tapi aku belum berpakaian, tidak apa-apa aku telanjang bulat seperti ini?"
__ADS_1
"Untuk sekarang tidak apa-apa, deh. Lagian juga habis ini aku harus mandi dan kamu bisa memakai pakaianmu. Lagi pula, aku sebentar lagi harus melukis. Jadi tidak salahnya kita makan malam dulu?"
Mendengar jawaban itu, dengan senyum sumringah pria itu duduk di samping perempuan yang menikmati makanan yang namanya sangat sesuai dengan karakter perempuan itu. Lantas, mereka berdua pun menikmati betapa manisnya kue-kue itu bersama-sama. Dan entah mengapa, menikmati kue tersebut sambil menyaksikan senyum penuh kesenangan di wajah perempuan dihadapannya itu membuat kue yang pria itu nikmati rasanya jauh lebih manis.