
Setelah urusan administrasi di kantor Dubes itu sudah selesai, waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Lantas perempuan dan pria itu pun pergi ke sebuah bangku taman yang kosong untuk menikmati bekal yang telah dibuat.
Dalam keadaan hening, perempuan itu membuka bekal yang tadi pagi telah disiapkannya. Mata perempuan itu terus saja menatap bekal yang tengah disiapkannya tanpa berani menatap pria di hadapannya itu. Sedangkan pria tersebut hanya diam menatapi perempuan nya yang tertunduk itu.
Acara makan siang pun berjalan dengan cukup canggung. Sedari tadi semenjak berangkat ke Dubes, perempuan dihadapannya sama sekali tidak mengajak pria di depannya mengobrol. Sesungguhnya pria itu ingin sekali mengajaknya mengobrol, tetapi ia masih agak ragu. Jadi, sampai mereka makan siang pun masih saja keadaannya hanya hening. Pria itu bahkan tidak mendengar suara nona nya saat ia menyodorkan gelas kecil dari termos yang berisi teh manis hangatnya itu. Walaupun begitu, perempuan itu menerima minuman pemberiannya.
"Jadi, tinggal dua Minggu lagi, ya?" Tanya perempuan itu yang sambil membereskan tempat makan dan termosnya itu.
"Iya. Dua minggu lagi. Dan aku akan pulang." Jawab pria itu, pria itu menunjukkan ekspresi wajahnya yang senang. Ia senang karena akhirnya nona di hadapannya mengajaknya ngobrol. Walaupun perempuan itu masih menundukkan kepala.
"Kamu pasti bakalan kangen banget, ya sama makanan ini, setelah dua Minggu lagi itu. Kan nanti di negaramu sudah tidak ada aku lagi yang menyiapkan makanan kesukaanmu itu."
"Kamu yakin? Aku gak ngerasa kalau aku bakalan kangen sama masakan buatanmu. Aku justru ngerasa kalau kamu bakalan rutin nyiapin makanan buat aku." Mendengar jawaban optimis dari pria itu, perempuan itu pun sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Perempuan itu masih mengabaikan senyuman pria di hadapannya yang terus tersungging itu.
"Lantas, kenapa juga kamu menolak tawaran untuk tinggal selama dua minggu dari Dubes? Bukannya itu hak kamu?"
__ADS_1
"Aku masih mau menghabiskan waktuku selama dua Minggu di sini bersama kamu. Kayak hari-hari biasanya. Lagipula, di sini kan aku sudah punya tempat tinggal sementara, yaitu rumah kamu."
Melihat perempuannya masih tidak mau menatap wajahnya, pria itu pun kini memegang lembut dagu perempuan yang sedari tadi sudah memasukkan peralatan makan itu ke dalam tas, namun tas itu masih dipeluknya.
Lantas, perempuan itu mau tidak mau harus menatap wajah pria dihadapannya. Sedangkan pria itu melihat wajah perempuannya yang menatapnya dengan sendu.
"Nona, walaupun aku sebentar lagi pulang ke negaraku, bukan berarti itu menandakan hubungan kita akan berakhir. Percayalah, kita pasti akan bertemu lagi." Ucap pria itu dengan senyumnya yang manis.
"Kamu jangan bermimpi. Siapa tahu di sana nanti kamu akan terlalu asik dengan duniamu sendiri. Aku ini paling cuman hinggap sementara di kehidupan mu. Nanti di sana juga kamu pasti bakalan lupa sama aku. Percayalah."
"Karena kamu pasti bakalan sama seperti keluarga kecil itu. Mereka yang begitu manis menerima diriku, namun pada akhirnya mereka juga meninggalkanku. Justru perpisahan seperti itu yang terasa sangat menyakitkan." Lalu mata perempuan itu pun mengeluarkan riak air mata.
"Nona, kamu menangis lagi. Padahal kamu sudah berjanji kalau tidak akan menangis lagi. Lagipula, apakah kamu benar-benar yakin kalau keluarga kecil yang menyambut kehadiran mu dengan sangat manis itu bisa melupakanmu begitu saja?" Mendapatkan pertanyaan itu, perempuan itu hanya diam. Ia sendiri juga tidak yakin apakah jawabannya itu benar atau tidak.
"Nona, orang-orang yang datang ke kehidupanmu itu ada yang sementara, ada yang untuk selamanya. Ada yang datang langsung melupakanmu begitu saja ketika berpisah, namun ada juga yang walaupun berujung berpisah, kenangan manis tetap ada, sehingga mereka tetap akan selalu mengingat. Jadi, bukan berarti suatu perpisahan itu berarti hubungan akan selesai begitu saja." Kini tatapan pria itu menjadi lembut.
__ADS_1
"Seperti masalah Delon dan Mara. Walaupun kamu telah berpisah selama bertahun-tahun, bahkan sampai putus kontak, apakah mereka melupakanmu? Tidak nona. Walaupun kalian berpisah dengan cara yang memang keji, mereka bahkan masih mengingat dirimu. Padahal kalian sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Bahkan, mereka juga sangat ingin tahu, apa kabarmu saat ini. Itu berarti mereka tidak lupa."
"Selain itu setelah efek yang begitu sangat baik yang kamu berikan kepada keluarga kecil itu, bahkan kamu pun bisa menjual lukisan-lukisan karyamu ke pameran itu, apakah itu berarti ayah dari keluarga kecil itu melupakanmu? Tidak mungkin, nona. Pihak penyelenggara juga sudah pasti berhubungan erat dengan bapak pengusaha itu. Dan ibu dari keluarga itu, ia pasti akan selalu mengingat dirimu melalui berbagai lukisan yang telah kamu berikan kepadanya. Sedangkan anak kecil yang saat itu mendapatkan berbagai pelajaran berharga mengenai dunia lukis secara cuma-cuma darimu, apakah kamu yakin kalau anak itu bisa melupakan guru lukis terhebat sepertimu? Ku rasa tidak mungkin. Dan bahkan mungkin namamu akan terus terpatri di hatinya ketika ia dengan bangga telah mengakui kalau dirinya telah menjadi seorang pelukis terkenal, seperti yang dulu dicita-citakan."
"Jadi, nona. Jangan kamu anggap kita berpisah karena tinggal berbeda negara itu menandakan kalau hubungan kita berakhir." Lantas pria itu pun langsung menghapus air mata yang saat ini mengalir di pipi perempuan itu. "Kalau memang kita ditakdirkan bersama, akan ada caranya ketika kita memang ditakdirkan untuk bertemu lagi. Percaya saja."
"Lantas, kalau memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama, apakah kamu yakin kalau kita tetap akan berjumpa? Setelah semua hal yang tidak begitu penting di kehidupan mu ini telah kamu habiskan selama satu tahun denganku."
"Nona, mengapa pemikiranmu begitu pesimis? Cobalah untuk berpikir positif. Walaupun kini akhirnya kamu mengetahui siapakah aku, yang nyatanya memang kamu masih kurang mengerti akan duniaku, apakah itu berarti satu tahun yang kujalani bersamamu itu adalah hal yang sia-sia bagiku? Tidak, nona. Sama sekali tidak."
"Tapi, aku sama sekali tidak mengerti. Pasti di dalam hatimu, aku ini hanya seorang perempuan idiot yang tidak mengerti apa-apa. Selain itu, perekonomian di negara asalmu itu jauh lebih membutuhkanmu, daripada aku. Jadi seharusnya memang kamu pulang saja ke negaramu dan selamatkan nasib banyak orang di sana."kini air mata perempuan itu kembali menetes.
"Nona, apakah dengan kamu tidak mengerti soal ekonomi dan bisnis itu berarti kamu itu adalah perempuan idiot?" Perempuan itu pun mengangguk mantap. Ia masih ingat bagaimana dirinya hanya bisa terbengong ketika pria di hadapannya itu dapat berbicara dengan sangat lancar mengenai dunia itu kepada Mara, Delon, dan administrator itu.
Melihat jawaban dari perempuan itu, pria itu pun hanya tersenyum ringan. Lantas pria itu pun langsung memeluk perempuan dihadapannya.
__ADS_1
"Nona, jawabanmu salah. Kamu tidak mengerti soal ekonomi dan bisnis itu bukan berarti kamu itu perempuan idiot. Karya-karya mu yang luar biasa itu adalah bukti kalau kamu itu memang cerdas, tapi di dunia seni. Aku sama sekali tidak peduli kalau kamu tidak mengerti duniaku. Yang aku pedulikan hanyalah bagaimana rasa nyamanku dan rasa nyamanmu ketika kita sama-sama menjalani hari bersama-sama."