Karenamu Dan Teh Manis Hangat

Karenamu Dan Teh Manis Hangat
Semua Orang Bisa Berubah


__ADS_3

Wajah pria itu terlihat sangat senang ketika Delon dan Mara telah mengantarkan dirinya ke rumah nona pelukis itu. Sedangkan Mara dan Delon yang melihat ekspresi wajah dari pria itu pun juga ikut tersenyum.


"Jadi ini, ya rumahnya?" Tanya Delon ketika mobilnya sudah terparkir di sebuah rumah minimalis.


Rumah satu tingkat dengan taman yang tidak begitu luas. Walaupun rumah tersebut tidak sebesar rumah Delon dan Mara, namun rumah tersebut terlihat sangat nyaman.


"Iya. Di sini tempatnya." Ucap pria itu mengangguk mantap. "Kalian gak mau mampir dulu?" Tanya pria itu lagi.


"Kapan-kapan saja kita mampir. Soalnya sekarang udah jam 11 malam, gak enak sama tuan rumah kalau kita buat bising malam-malam." Jawab Mara.


"Iya. Sampaikan juga salam dari kami, ya buat nona pelukismu itu. Bilang ke dia kalau kita beneran mau minta maaf ke dia buat kejadian yang lampau. Aku sama Mara ingin sekali memperbaiki hubungan dengan nona mu itu." Ucap Delon.


"Baik, nanti aku sampaikan. Sekali lagi terimakasih, ya sudah mau repot-repot mengantarkan aku pulang. Kapan-kapan kamu boleh, kok main ke rumahku. Ah, atau kapan-kapan aku akan berkunjung ke kantor kalian." Ucap pria itu memberikan salam perpisahan.


"Sebebasmu saja. Tapi nanti kalau kamu sudah bisa pulang ke negaramu, segera berkabar, ya." Jawab Delon yang disertai anggukan oleh pria yang telah pulang itu.


Lantas pria itu pun segera keluar dari mobil, sebelum ia masuk ke dalam rumah, pria itu memastikan mobil Delon dan Mara telah pergi berlalu meninggalkan rumah milik nona pelukis.


---

__ADS_1


Setelah mobil itu telah pergi, pria itu pun masuk ke dalam rumah. Senyumnya tersungging kecil ketika menyadari kalau pintu rumahnya tidak terkunci. Lantas ia pun tanpa kesulitan yang berarti masuk ke dalam rumah.


"Pasti dia lagi emosi banget, ya. Sampai lupa mengunci pintu. Untungnya di komplek perumahan ini tidak ada malingnya." Ucap pria itu sambil tersenyum kecil. Setelah itu ia mengunci pintu rumah dari dalam.


Setelah mengunci pintu, ia pun benar-benar memastikan apakah nona manisnya benar-benar sudah pulang ke rumah atau belum. Ia lantas pergi menuju kamar dan melihat sebuah gundukan di atas tempat tidur. Ketika ia sedikit menyingkap selimut yang menutupi gundukan itu, ia melihat wajah pelukis itu tengah tertidur pulas, namun di wajahnya masih terlihat bekas air mata. Melihat wajah kekasihnya itu, pria itu pun kembali tersenyum sayang. Namun ia urungkan untuk membelai wajah perempuan itu.


Setelah memastikan perempuannya telah aman, pria itu pun pergi menuju studio lukis, di sana ia melihat sebuah kanvas yang telah dilukis setengah jadi terpampang di meja kanvas. Ia lantas melihat secara seksama lukisan tersebut dan menikmati pemandangan tersebut selama beberapa saat.


"Bahkan ketika ia merasa gagal, ia masih mampu membuat lukisan yang indah, ya. Benar-benar bakat melukis yang hebat. Pasti karya lukis ini kalau dijual bisa laku puluhan juta lagi. Dan sepertinya nona itu menuangkan rasa amarahnya di lukisan ini." Monolog pria itu sambil menikmati pemandangan lukisan yang dianggap perempuan itu adalah karya yang gagal.


Pria itu pun sadar kalau ia tidak bisa berlama-lama menikmati karya lukis itu tanpa teh manis hangatnya. Lantas beberapa saat kemudian ia pun segera meninggalkan studio lukis itu untuk membersihkan dirinya, sebelum ia beristirahat dengan pujaan hatinya.


Setelah selesai membersihkan diri, pria itu pun pergi menuju kamar di mana perempuan pujaannya itu tengah tertidur pulas. Dengan pelan-pelan supaya tidak mengganggu nonannya tertidur, ia pun segera merangkak ke tempat tidur. Lantas dengan lembutnya, pria itu pun masuk ke dalam selimut, dan tidur sambil memeluk perempuan itu dari belakang. Dan ketika ia membenamkan kepalanya di rambut perempuan itu, ketika pria itu menghirup aroma rambut perempuan itu sangat menenangkannya, pria itu pun akhirnya tertidur pulas.


---


Sadar kalau waktu sudah menunjukkan pagi hari, perempuan itu pun dengan malas bangun dari tidurnya, tapi ia masih malas beranjak dan memilih tiduran sebentar karena masih sangat mengantuk.


Lantas ketika ia mau menguap, ia pun tersadar kalau lengannya seperti sedang ditahan oleh seseorang. Lantas dengan malas ia pun menyingkap selimutnya dan ia pun melihat ada sepasang lengan yang berotot dan atletis itu tengah memeluk dirinya. Karena perempuan itu masih malas bergerak, ia pun biarkan saja sepasang lengan itu memeluk dirinya. Namun beberapa saat ia pun melotot.

__ADS_1


"Gak mungkin, kan!?" Jerit perempuan itu dalam hati. Ia pun lantas membalikkan badannya untuk mencaritahu siapakah sosok yang memeluk dirinya. Dan ketika dilihatnya, ternyata pria misterius yang sangat disegani oleh para kaum elit itu tengah tertidur sambil memeluk dirinya.


"Jadi dia tidak dibawa pergi oleh Mara dan Delon? Kok dia bisa balik lagi ke sini? Bukannya di pameran itu aku udah ninggalin dia?" Tanya perempuan itu dalam hati.


Lantas tanpa membuang waktu lagi, ia pun dengan pelan-pelan berusaha meloloskan diri dari pelukan pria itu dan beranjak dari tempat tidur. Perempuan itu meyakini kalau dirinya pasti masih dalam mode bermimpi.


"Aku pasti masih ngimpi. Ini pasti hanya mimpi." Ucap perempuan itu sambil berusaha melepaskan pelukan itu diam-diam. Namun apa daya, semakin ia berusaha melepaskan diri, pelukan itu justru terasa semakin kencang. Seolah-olah pria itu tidak membiarkan perempuannya itu lolos.


"Bukan mimpi, kok."Ucap pria itu masih tertidur pulas tanpa melepaskan pelukannya.


Lantas mau tidak mau perempuan itu merelakan dirinya untuk dipeluk saat itu juga, perempuan itu pun kini duduk tanpa melepaskan pelukan itu. Dan kini kepala pria itu pun berbantalkan kedua paha milik perempuan yang dipeluknya itu.


"Kamu kenapa bisa pulang ke sini? Kok kamu bisa masuk ke dalam rumah ini?" Tanya perempuan itu sambil mengelus-elus rambut pria yang tertidur di pahanya itu. Hal itu rupanya membuat pria tersebut merasa semakin nyaman.


"Kamu tidak mengunci pintu rumah. Makanya aku bisa masuk. Tadi aku pulang juga diantar oleh Delon dan Mara. Aku bisa pulang ke rumah ini berkat mereka. Lain kali kamu jangan tinggalkan aku seperti kemarin malam, ya. Aku sangat ketakutan." Ucap pria itu lalu membuka matanya. Terlihat wajahnya yang berubah menjadi sendu.


"Maafkan aku. Aku kira kamu akan lebih nyaman bersama mereka daripada aku. Aku gak tau kalo di pameran itu kamu berubah jadi ketakutan. Aku juga mengira kalau Mara dan Delon akan merebut dirimu dari aku." Ucap perempuan itu.


"Kamu tahu Nona. Memang waktu dulu Mara dan Delon sangat jahat kepadamu, sehingga mereka telah menorehkan luka yang sangat mendalam di hatimu. Dan sepertinya perlakuan mereka itu juga yang membuatmu tidak dapat menerima orang lain yang berusaha mengetuk pintu hatimu." Ucap pria itu.

__ADS_1


Lantas pria itu pun bangkit dari tidurnya namun tidak melepaskan pelukannya. "Tapi yang kamu harus tahu nona, Mara dan Delon yang kamu lihat kemarin malam itu bukanlah Mata dan Delon saat mereka masih menginjak masa SMA. Mereka sudah berubah menjadi lebih baik. Dan mereka benar-benar tulus ingin mendapatkan maaf darimu. Mereka juga ingin supaya dapat memperbaiki hubungannya dengan mu. Semua orang bisa berubah, nona."


Mendengar pernyataan tersebut, perempuan itu pun diam. Lantas pelan-pelan pria itu pun mendekatkan wajahnya ke nona manisnya sedangkan tatapan matanya terus menatap dalam-dalam mata nona manis itu, lama-lama bibir pria itu pun mendekat, dan mereka berdua akhirnya berciuman.


__ADS_2