
Setelah pria itu sudah kembali ke negara asalnya, kehidupan perempuan itu pun kembali ke kehidupan yang normal. Kehidupan normal seperti biasa, saat ia masih belum mengenal pria misterius yang telah menghabiskan waktu satu tahunnya bersama dirinya di rumah ini. Pria yang selama satu tahun selalu menjadi penghangat di dalam hatinya yang sudah sedingin es yang membeku dalam gelapnya malam.
Saat ini, sudah seminggu lebih, bahkan sudah sebulan hari-harinya dipenuhi dengan kekosongan. Dengan kedinginan yang membeku sehingga mati rasa. Walaupun semenjak ia bertemu dengan Mara dan Delon, perempuan itu tidak benar-benar merasa terasingkan dan kesepian, juga sendirian. Mara dan Delon seringkali menghubungi dirinya hanya untuk sekedar menanyakan kabar, bahkan apabila mereka sedang senggang, mereka berdua alih-alih berkencan berduaan, tetapi mereka justru membawa dirinya jalan-jalan ke berbagai tempat.
Bahkan, Mara dan Delon benar-benar memenuhi janjinya yang selalu siap sedia apabila dirinya memerlukan bantuan mereka. Mara dan Delon ia akui sudah berubah, berubah ke arah yang lebih baik. Walaupun sampai sekarang pun ia masih belum tahu apakah perubahan di diri Mara dan Delon benar-benar murni dari dalam hati mereka, atau karena mereka mengetahui kalau dirinya ternyata berhubungan dekat dengan pria investor yang sangat disegani oleh para pebisnis di dunia itu.
Walaupun ia masih belum tahu, dan mungkin tidak akan pernah tahu, namun ucapan pria itu yang mengatakan kalau semua orang bisa berubah memang benar adanya.
Perempuan itu yang sedang bersiap-siap melukis masih diam merenung di sofa studio itu. Dalam cangkir gelas di genggamannya, ia melihat masih ada teh manis hangat yang sisa separuh di genggamannya. Ia sedikit menyesap teh manis hangat itu, dan ia pun mulai merenungi kalau minuman ini adalah minuman kesukaan pria itu. Lantas ketika ia melihat isi cangkir itu, ia pun kembali tersenyum kecil. Walaupun begitu, itu adalah hal yang lalu, nampaknya ia masih belum bisa meninggalkan kenangan manis itu.
__ADS_1
Perempuan pelukis itu pun juga ingat kalau beberapa bulan lagi pameran dan pelelangan lukisannya akan diadakan kembali. Dan sebagian lukisan yang harus ia setor kepada pihak penyelenggara untuk dipamerkan dan dilelangkan sudah selesai ia buat. Masih ada sekitar 10 lukisan lagi yang harus ia buat. Sebelum acara pelelangan itu. Dan kini ia pun masih mencari inspirasi sambil duduk bersandar di sofa sambil matanya terus menatap langit.
Beberapa saat kemudian, sesuatu ingatan itu kembali lagi. Ia ingat pada rasa sakit hatinya ketika ia mengetahui sosok asli dari pria misterius yang bersikap sangat manis dan manja itu kepada dirinya. Ia sama sekali tidak menyangka, di balik sosoknya yang dikenal dunia memiliki aura yang sangat disegani, ternyata aura disegani itu sama sekali tidak ia rasakan ketika sedang berdua saja dengan pria itu. Mungkin itu kah sebabnya ia bersikap biasa saja saat berada di pameran lukisan itu? Karena sebenarnya ia mengenal semua tamu undangan, dan tidak mau menarik perhatian para tamu undangan.
Lantas sambil tetap memandangi langit kamar studionya, perempuan itu kembali tersenyum ringan. Ia masih ingat betapa rasa sakit hatinya ketika pria itu ternyata sangat mengenal Mara dan Delon. Ketika ia justru merasa terasingkan ketika mereka bertiga membicarakan suatu topik yang sama sekali tidak ia mengerti. Ia mengingat akan ingatannya yang mengatai dirinya sangat bodoh karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Bahkan yang membuatnya semakin merasa bodoh, ia masih ingat kalau dirinya ternyata begitu posesif dan merasa kalau pria itu hanyalah miliknya. Bukan milik orang lain, oleh sebab itu, ia pun merasa sangat tersaingi dan merasa tidak aman karena pria yang dalam hatinya sudah diakui adalah miliknya itu di saat itu juga direbut oleh Mara dan Delon. Sehingga pria itu pasti akan meninggalkannya.
Namun yang sebenarnya membuatnya berpisah adalah karena kenyataannya yang mengharuskan pria itu untuk pulang ke negaranya. Walaupun kini sudah ada Mara dan Delon yang kini menggantikan posisi pria itu di hidupnya, namun tetap saja hidupnya hampa.
__ADS_1
Perempuan itu memang sudah merelakan kepergian pria yang sudah satu tahun menjadi penghangat di pintu hatinya dan pintu kehidupannya. Namun nyatanya pria itu hanyalah sementara di hatinya dan ia pun sudah merelakan kepergian pria itu. Ya, walaupun sudah satu bulan ia tidak mampu juga menemukan sosok penggantinya. Sosok pengganti yang mampu memberikan kehangatan di hatinya, sosok yang mampu memberikan kehangatan dan rasa dicintai dari kehidupannya. Juga sosok yang lucunya menjadi idola para tetangga di rumahnya karena parasnya yang sangat rupawan dan tubuhnya yang terlalu sempurna.
Lucunya, semenjak pria itu sudah tidak lagi tinggal di rumahnya, kini para tetangga sudah berhenti melirik-lirik lagi ke jendela rumah ini. Bahkan para tetangga pun juga sudah berhenti mengunjungi rumah ini dengan berbagai alasan. Sungguh sangat berbeda ketika para tetangga itu mengetahui kalau ada pria seksi itu yang tinggal serumah dengan dirinya. Ya walaupun masih terdapat berita miring mengenai dirinya yang masih dianggap bukan wanita baik-baik karena bisa membuat pria itu tinggal di dalam rumahnya. Sangat terlihat jelas kalau sebenarnya mereka iri.
Selesai merenung, perempuan itu punĀ langsung menghabiskan sisa teh manis di cangkirnya. Setelah itu ia ke dapur sebentar untuk mencuci cangkir itu dan kembali bekerja melukis berbagai macam objek.
Setelah ia berada di depan kanvas, dengan kedua tangannya yang masing-masing memegang kuas dan palet, perempuan itu pun masih memandangi kanvas kosong di depannya. Ia pun merenung sesaat sambil tangannya yang memegang kuas itu menggambar-gambar di udara. Memikirkan akan menggambar apa.
Tidak lama inspirasi itu muncul. Ia ingat kala depresi nya waktu itu, perempuan itu melukis sebuah ruangan kosong. Namun ia menghancurkan sendiri lukisan itu karena sebuah kesalahan kecil yang sebenarnya bisa ia improvisasikan sehingga tidak terlihat salah. Namun karena emosinya yang bertubi-tubi dan tidak dapat dikendalikan, ia justru menghancurkan lukisan yang setengah jadi itu.
__ADS_1
Lantas, ia pun mulai kembali melukis ruangan kosong itu. Namun kini ia yang sudah merelakan apa yang telah terjadi di kehidupannya tidak akan melampiaskan kekesalannya kepada lukisan itu ketika ia menemukan kesalahan. Kini ia melukis dengan tenang, dengan serius, dan kini cat-cat air itu menghiasi kanvas di depannya dan cipratannya sesekali menodai wajah cantiknya.