
"Sayang, ini indah sekali. Karya siapa ini?" Tanya seorang wanita berparas seperti ibu-ibu yang mempunyai seorang anak kecil. Wajahnya yang begitu anggun sedangkan matanya yang tidak mau berhenti menikmati beberapa gambar yang berada di buku sketsa yang diperlihatkan oleh suaminya.
"Lihatlah, perempuan di sana" ucap bapak-bapak yang menunjuk seorang perempuan yang memakai tas ransel besar sedang menikmati sebuah karya lukisan. "Dia yang menciptakan gambar-gambar yang kamu kagumi".
"Aku ingin berbicara kepadanya. Baru kali ini aku menemukan seseorang yang benar-benar menciptakan karya yang bagus ini di depan mataku." lantas ibu itu sambil menggenggam tangan anaknya itu menuju perempuan tersebut.
"Hei nona, apakah benar buku sketsa ini milikmu. Dan gambar-gambar di buku ini apa benar kamu yang buat?" Tanya ibu tersebut.
"Oh, iya, Bu. Ini memang punya saya. Maaf tadi buku itu saya perlihatkan ke bapak yang berdiri di sebelah ibu. Apakah ibu menyukai gambar-gambar buatanku?" Tanya perempuan tersebut kepada ibu yang sedari tadi tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya.
"Oh, iya. Ini suamiku. Kata suamiku kamu sekarang sedang tidak punya tempat bernaung, ya?" Tanya ibu tersebut berhati-hati.
"Iya, benar bu." Jawab perempuan tersebut. Perempuan tersebut sudah memutuskan untuk bersikap tegar menghadapi kejamnya dunia ini. Sehingga aib itu tidak lagi terasa sakit untuk dirinya.
"Ah, kenapa kamu tidak tinggal bersama kami saja? Setidaknya sampai kamu bisa berpenghasilan dan mampu berdiri sendiri. Lagipula, aku juga ingin melihat bagaimana proses kamu menciptakan karya-karya tersebut. Ya, kan nak?" Lantas anak kecil yang mendengar pernyataan ibunya itu mengangguk mantap.
"Gambar kakak terlihat sangat bagus. Lagipula aku juga ingin mendapatkan lukisan potret keluargaku, kak. Kakak bisa?" Tanya anak kecil itu.
"Ah iya. Hitung-hitung sebagai tanda terima kasihku karena kalian memperbolehkan aku tinggal sementara waktu di rumah kalian. Tapi apakah kalian mempunyai alat-alat melukis?" Tanya perempuan tersebut.
__ADS_1
"Tenang saja, anak kami ini juga senang melukis. Jadi kamu bisa menggunakan studio di rumah kami untuk menciptakan karya itu." Ucap bapak-bapak yang tadi sempat berdiskusi mengenai psikologi lukisan.
---
Perempuan itu sama sekali tidak menyangka, kalau ucapan keluarga itu mengenai rumah mereka yang mempunyai banyak sekali kamar kosong dan juga mempunyai studio lukis itu tidak isapan jempol belaka.
Setelah diantarkan ke salah satu kamar kosong yang akan menjadi kamar pribadinya, setelah selesai membongkar barang-barang pribadinya, perempuan itu pun mulai tidak sabar untuk segera menuju studio lukis tersebut.
Tentu saja, anak lelaki satu-satunya di rumah tersebut dengan senang hati mengantarkan perempuan tersebut ke studio lukis, tempatnya banyak menghabiskan banyak sekali waktu. Tidak lupa, pasangan suami istri yang melihat tingkah anaknya yang sangat antusias itu terlihat rasa senang dan bahagianya dari wajahnya.
Lantas ketika perempuan tersebut menyadari kalau studio lukis itu mempunyai peralatan melukis yang lengkap, ia pun semakin tidak sabar untuk langsung mulai melukis. Lantas, perempuan tersebut pun sambil memegang kuas dan palet yang sudah berisi cat air, ia segera menuju sebuah kanvas kosong yang berdiri di sebuah meja kanvas.
Sudah beberapa jam berlalu, perempuan tersebut dengan wajahnya yang belepotan kuas itu masih terlihat serius dengan kanvas di depannya. Sedangkan anak kecil itu sesekali mengambil sikap duduk tanpa matanya mampu beralih dari pemandangan pelukis di depannya yang sedang melukis itu.
"Ah, dik. Permintaan mu sudah selesai" ucap perempuan itu bangga dengan karya ciptaan nya yang pertama di rumah keluarga itu.
Lantas, betapa terpukaunya anak kecil tersebut ketika ia melihat sebuah karya lukisan yang sangat bagus di depan matanya. Yang baru saja diciptakan oleh perempuan pelukis tersebut. Lukisan tersebut terlihat sangat indah, tidak kalah dengan berbagai lukisan yang tadi ia lihat di galeri seni barusan.
Lukisan itu menggambarkan potret keluarga yang menampung perempuan pelukis itu. Dengan background berwarna hitam, seorang ibu yang terlihat anggun dan berwajah cantik itu duduk di atas sebuah bangku, sedangkan anak kecil itu berdiri di sebelah kiri dengan wajahnya yang manis, dan bapaknya berdiri di sebelah kanannya dengan menunjukkan sikap wibawanya.
__ADS_1
Keluarga yang dilukiskan di potret tersebut memakai pakaian formal, ibunya memakai gaun kebaya berwarna merah dengan rambut yang disanggul, juga dengan memakai selendang berwarna sama. Sedangkan kedua pria di sebelah kiri dan kanannya memakai tuksedo. Sehingga tiga sosok di lukisan tersebut terlihat sangat berkelas dan elegan.
"Mama papa harus lihat ini! Kakak jangan kemana-mana!" Seru anak kecil itu setelah beberapa saat tidak mampu berhenti mengagumi lukisan di depan matanya. Lalu ia secara tidak sabar terburu-buru meninggalkan studio lukis itu untuk memanggil kedua orangtuanya.
Ketika perempuan itu ditinggal sendirian, ia pun kembali memandangi lukisan yang barusan ia buat yang catnya masih basah itu. Ia yang sambil menikmati karya lukisnya yang telah diciptakannya dari beberapa jam yang lalu pun akhirnya kembali merenung. Melihat potret keluarga yang dibuatnya begitu elegan dan berkelas. Namun di kehidupan yang ia lihat dari keluarga ini, ia justru merasakan kalau ketiga orang yang di potret itu mempunyai sifat yang sangat hangat dan harmonis.
Ayah ibunya yang terlihat sangat romantis dan mesra, juga anak kecil yang periang dan begitu antusias sehingga bertekad untuk menjadi seorang pelukis terkenal. Apa yang keluarga ini lakukan membuat perempuan tersebut merasa telah diterima.
Sayangnya, kasih sayang itu justru kini ia dapatkan dari keluarga orang lain. Keluarga yang sama sekali tidak ia kenal seluk beluknya. Apakah mereka hidup dari nafkah yang bersih atau tidak, apakah mereka berpura-pura harmonis di depannya atau tidak. Apakah mereka sebenarnya mempunyai masalah hidup, ataukah mereka memang menerima keadaan mereka saat ini atau tidak.
"Aku sudah menyangka kalau kamu memang benar-benar mempunyai bakat di seni rupa." Ucap seorang bapak. Bapak tersebut dan ibu beserta anaknya yang kini sudah kembali ke studio lukis. Mereka bertiga terlihat sangat terpukau oleh hasil karya cipta dari perempuan pelukis itu.
"Terimakasih, pak, bu, dik atas pujiannya. Aku juga sama sekali tidak menyangka kalau kalian ternyata menyukai karya ini" ucap perempuan itu tersipu.
"Kamu tahu, nak?" Tanya ibu itu sambil menyentuh bahu perempuan tersebut."lukisan ini kalau dijual bisa laku puluhan juta rupiah. Kami mau membeli lukisan ini. Kamu mau menjualnya untuk kami?" Tanya ibu itu yang ternyata adalah kolektor lukisan berkelas.
"Bu, lukisan ini aku serahkan kepada kalian, sebagai bentuk terimakasih karena telah mengijinkan aku untuk tinggal sementara waktu di rumah ini." Ucap perempuan itu bangga akan hasil karyanya.
"Kalau begitu, nak, bagaimana kalau kamu mulai bekerja sebagai pelukis saja? Aku tahu tempat yang pantas untuk memamerkan karya-karya lukisan milikmu. Kamu bisa berdiri sendiri dengan bakatmu itu. Bapak hanya meminta supaya kamu tidak berhenti melukis dan tunjukkan karya indahmu ke semua orang" ucap bapak itu, kepala rumah tangga tersebut. Yang disetujui oleh anggota keluarga lainnya.
__ADS_1