Karenamu Dan Teh Manis Hangat

Karenamu Dan Teh Manis Hangat
Rencana Pulang


__ADS_3

Semenjak ciuman di pagi hari itu, hubungan antara pria dan perempuan itu semakin hari justru menjadi semakin mesra. Walaupun begitu, perempuan itu masih sangat enggan untuk melakukan hubungan terlalu intim kepada pria yang tinggal di rumahnya.


Pria itu memaklumi, karena perempuan yang kini benar-benar menjadi pujaan hatinya itu masih menjungjung adat ketimuran. Jadi walaupun mereka saat ini telah tidur seranjang, pria itu sama sekali tidak melakukan hubungan kontak fisik lebih dari sekedar memeluk ataupun berciuman.


Dan setelah hampir setahun lamanya, baru kali itu pria itu berhasil mengecup bibir perempuannya. Walaupun begitu, pria itu tetap semakin bersifat manis dan manja kepada perempuannya. Bahkan saking manjanya, ia sampai-sampai tidak mau memakan makanan apapun apabila bukan masakan yang diciptakan oleh perempuan itu.


Bahkan, demi memenuhi permintaan pria kaum elit yang kini bersikap layaknya anak kecil itu di hadapannya, mau tidak mau perempuan itu pun harus belajar membuat kue kesukaan pria itu. Yaitu kue nona manis.


Lantas setelah beberapa saat mencari berbagai alat dan bahan yang diperlukan, perempuan itu pun kembali ke dalam rumah dan segera belajar membuat kue basah itu. Dan berhubung ia baru pertama kali belajar membuat kue itu, perempuan itu pun hany bisa kelabakan.


"Nona. Sedang apa?" Tanya pria itu yang sudah selesai membereskan rumah dan membersihkan diri itu. Ia lantas melihat nona manisnya itu yang kebingungan melihat bahan makanan yang terpampang dihadapannya.


"Ni. Aku harus membuatkan sarapan untukmu. Kamu kan sebenarnya sosok yang sangat berkelas, kenapa malah meminta aku membuat kue ini, sih? Kue nona manis?" Jawab perempuan itu gusar. "Kenapa gak kamu aja yang buat?"


"Aku berkelas? Ah jangan karena aku sudah biasa bergaul dengan para pebisnis itu kamu bisa menyimpulkan demikian. Aku ini hanya manusia biasa yang sedang terlantar."


"Iya. Kamu sengaja berkata seperti itu supaya aku mau dekat-dekat denganmu, kan?" Tanya nona itu ketus, lalu pria itu pun kembali memeluk perempuan itu dari belakang.


"Jangan ketus-ketus gitu, dong. Yang ada kamunya malah makin manis, lho. Katanya gak suka digombalin gitu? Kalau kamu masih bersikap kayak gini terus, yang ada malah bikin kamu terlihat manis." Lantas pria itu pun langsung mengecup pipi perempuan yang saat itu sedang bersungut-sungut itu.


"Kalau gitu. Mendingan kamu aja yang belajar bikin kue kamu itu. Toh ujungnya kamu juga yang makan."

__ADS_1


"Nope. Aku gak mau bikin kue itu. Aku maunya kamu yang bikinin kue itu buat aku. Kan sebagai gantinya aku yang selalu membereskan rumah. Atau kamu mau aku bantuin bikin?"


"Gak usah. Biar aku aja yang ngerjain. Kamu mendingan duduk manis aja di sofa sana." Lantas perempuan itu pun segera membuka handphone nya dan melihat tutorial cara membuat kue nona manis. Sedangkan pria itu menuruti permintaan nona manisnya itu.


---


Setelah cukup lama bergelut di dapur demi dapat membuat kue nona manis, akhirnya perempuan itu berhasil membuat makanan permintaan pria itu. Lantas, sambil membawa nampan yang berisi sepiring kue nona manis dan dua buah cangkir berisi teh manis hangat, perempuan itu pun segera menuju sofa tersebut yang sudah terlihat pria itu duduk menunggunya.


Melihat makanannya sudah sampai, wajah pria itu pun terlihat semakin sumringah. Pria yang sudah tidak sabar itu segera mengambil teh manis hangatnya dan menikmati kue kesukaannya bersama perempuan itu.


"Bagaimana? Tidak sulit, kan membuatnya?" Tanya pria itu yang langsung memakan kue berisi Fla itu.


"Kok rasanya manis banget? Lebih manis daripada yang biasa kamu beli?" Tanya pria itu.


"Lho. Padahal aku sudah ikutin takarannya, lho. Ini aja menurutku rasanya sama aja kayak yang biasa aku beli." Bela perempuan itu.


"Bukan. Bukan karena takarannya. Takarannya gak salah. Tapi yang bikin kue ini tambah manis karena yang buat adalah nona manis." Lagi-lagi pria itu kembali menggombalnya membuat perempuan itu kembali ketus.


"Sudah selesai ngegombalnya? Ada hal serius yang mau aku omongin, nih. Terutama soal semalam." Ucap perempuan itu tegas, dan lalu pria itu menoleh ke arahnya.


"Semalam? Ada apa dengan semalam?"

__ADS_1


"Kukira kamu sudah beneran hilang dari traumamu sampai tidak mau dibawa ke psikiater, kenapa kamu malah pucat pasi pas aku tinggal? Kalau kayak gitu terus, gimana nanti kalau kamu pulang ke negaramu?"


"Kamu serius mau mulangin aku?" Lantas pria itu dalam satu lahapan langsung menghabiskan kue yang dipegangnya lalu kembali menyesap teh manis hangatnya.


"Iya. Kalau aku lihat semalam, aku yakin kalau kamu memang sebenarnya bukan orang sembarangan. Semua pebisnis yang diundang itu ternyata semuanya pada tahu kamu dan mereka semua segan kepadamu. Jadi seharusnya kamu kembali ke kehidupan awalmu sebagai seorang investor yang sangat kaya raya."


"Tapi kalau kamu gak ada disisiku, nanti akunya gimana? Yang ada nantinya aku ketakutan terus, lho." Pria itu pun menghadapkan wajahnya ke perempuan yang duduk di sebelahnya dengan wajah yang memelas.


Melihat ekspresi wajah pria itu, perempuan itu hanya bisa menghela nafas. Ia sama sekali tidak menyangka kalau trauma pria itu belum menghilang sepenuhnya.


"Bagaimanapun, kamu harus pulang. Aku juga gak enak lama-kelamaan menyelundupkan orang yang sebelumnya tidak aku kenal masuk ke rumah ini. Kamu tahu sendiri, kan tetangga di sini paling tidak senang apabila ada sosok pria dengan fisik sempurna malah tinggal serumah denganku. Gimana kalau mereka tahu kamu itu siapa, yang ada malah kamu bakalan direbut sama mereka. Emangnya kamu mau, ya sama salah satu dari mereka?" Pria itu pun menggelengkan kepalanya.


" Tidak. Aku maunya sama kamu saja. Gak mau sama yang lain."


"Tapi gimana dengan segala aset yang ada di negaramu itu. Memangnya tidak kamu urus?" Mendengar pertanyaan itu pria itu kembali tersenyum ramah. Pria itu baru menyadari kalau perempuan pujaan hatinya sepertinya tidak mengerti akan dunianya.


"Nona manisku, memang aku punya aset di mana-mana. Termasuk saham yang telah kutanam di perusahaan milik Mara dan Delon. Tetapi, aku bisa tinggal di tempat di mana aku tidak berdekatan dengan asetku berada. Karena itu semua sudah ada yang urus. Jadi aku hanya terima hasil. Kehidupanku itu jauh lebih bebas daripada kehidupan pebisnis yang bekerja hampir 24 jam."


"Tapi negaramu gimana? Katanya waktu itu kamu beneran mau pulang ke negaramu?"


"Aku benar-benar ingin pulang itu sewaktu aku belum bertemu kamu. Namun apabila kamu memang punya niat baik memulangkanku ke negara asalku, aku tidak keberatan. Toh kamu memang benar, aku harus mencoba supaya dapat hidup berpisah denganmu tanpa rasa takut. Aku harus bisa menghilangkan traumaku. Lagipula, kalau kamu memang jodohku, kita nanti pasti akan bersatu lagi." Ucap pria itu sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2