
Pria itu baru saja selesai mandi ketika wanita pemilik rumah masih sibuk mengurusi sarapan. Lantas, setelah selesai mengeringkan badannya, ia menghampiri wanita yang masih sibuk di dapur itu.
"Masih sibuk, ya? Mau kubantu?" Tanya pria itu yang berdiri tepat di samping wanita.
"Nanti aja, kita makan di sofa ruang tengah aja, kali ya. Tunggu sebentar" kata wanita itu yang masih sibuk. Lantas beberapa saat kemudian mereka suda sampai di sofa tersebut sambil membawa sarapan masing-masing.
Wanita yang kini duduk di samping pria itu makan makanannya dengan lahap. Lantas, ketika pria tersebut juga mencoba sarapannya, ia tiba-tiba merasakan nyeri di perutnya.
Lantas dengan gemetar pria tersebut berusaha meletakkan makanannya di atas meja, wanita yang melihat kejadian tersebut segera membantu pria yang mempunyai tubuh yang sangat indah itu.
"Kamu kenapa?" Tanya wanita itu sambil memapah tubuh pria di sampingnya. Supaya ia dan makanan di piringnya yang masih banyak itu tidak jatuh.
"Perutku sakit. Seperti ada yang menyayat dan melilit" kata pria tersebut yang masih meringis kesakitan.
Setelah mereka berhasil meletakkan piring itu di meja, pria tersebut berusaha mencoba berdiri sendiri. Ia menahan dirinya dengan kedua tangan yang ia topang di atas meja. Wajahny terlihat sangat kesakitan dan lalu salah satu tangannya memegangi perutnya menahan sakit.
"Kamu mau istirahat di sofa atau tempat tidur? Kamu gak bisa aku biarin diri gini terus" Tanya wanita panik, namun pria tersebut masih berfokus dengan rasa sakitnya sehingga pertanyaan wanita di sampingnya tidak ia hiraukan.
Tidak kunjung mendapatkan jawaban, wanita yang terus-terusan kuatir itu justru berinisiatif membawa orang tersebut ke sofa. Dengan langkah yang pelan-pelan supaya tidak terjatuh.
Setelah membaringkan pria tersebut di sofa, lalu wanita tersebut segera pergi lagi ke dapur untuk membuat teh manis hangat.
__ADS_1
"Ini, minum dulu" ia pun berusaha mengubah posisi pria yang tertidur itu menjadi duduk. Setelah itu ia memberikan teh manis hangat yang baru saja dibuatnya.
Ketika pelan-pelan pria tersebut meminum minuman itu, entah mengapa perutnya jadi merasa mendingan. Tidak hanya itu, namun perasaanya entah mengapa jadi jauh lebih tenang dan aman. Terlebih wanita pujaannya masih terus memandangi dirinya dengan penuh kuatir.
Sambil terus memegangi perutnya, gelas yang masih tersisa separuh teh manis hangat itu ia taru di atas meja depan sofa. Setelah itu, ia pun duduk bersandar dengan perasaan lega.
"Kamu punya riwayat maag, ya?" Tanya wanita yang masih terus memandangi pria di sebelahnya. Namun pria tersebut malah menggeleng kepala.
"Gak. Aku gak punya penyakit maag. Makanku teratur. Hanya saja..." Pria itu pun memandangi langit dengan tatapan kosong.
"Kamu kayaknya perlu diperiksa ke dokter, deh. Kalo gak karena maag, terus apa? Masa masuk sarapan dikit aja kamu langsung kesakitan?" Tanya wanita tersebut. Namun wajahnya tiba-tiba memerah ketik tangan pria tersebut merah tangannya dan meletakkannya di atas perut yang ia bilang sakit.
Entah mengapa sentuhan wanita itu lagi-lagi membuatnya semakin nyaman, jadi ia abaikan wajah wanita di sebelahnya yang semakin memerah, dan ia tetap tahan tangan yang sedari tadi mengelusi otot perutnya. Dan ia pun kembali memejamkan matanya.
Wanita yang tangannya terus-menerus ditahan itu pun menyadari kalau pria di sampingnya telah terlelap, pelan-pelan ia menyingkirkan tangannya lalu tangan tersebut pun kini dengan lembut menyentuh ke salah satu bagian dada pria tersebut. Sedangkan tangan satu lagi pun mengelusi rambut pria yang tertidur pulas itu sedangkan matanya melihat wajah yang terlelap dengan tatapan kasihan dan penuh tanda tanya.
"Kamu sebenernya siapa? Dan kamu kenapa?" Tanya wanita itu pelan. Setelah itu ia pergi mengambil selimut dan menyelimuti tubuh pria yang masih bertelanjang bulat itu.
Melihat pria di sampingnya tertidur pulas, wanita itu pun menjadi merasa sangat ngantuk dan pusing. Ia baru menyadari kalau jam tidur ia hari ini kurang cukup, jadi ia pun memutuskan untuk lanjut tidur dengan bahu pria tersebut sebagai sandarannya.
Setelah beberapa saat merasa tenang dan menyadari bahwa dirinya tertidur, pria yang menyadari ada sesuatu yang berat di bahunya melihat kalau wanita yang tadi merawatnya tengah tertidur di sampingnya. Lantas ia pun berbagai selimut dengan wanita itu dengan pelan-pelan supaya orang di sebelahnya itu itu tidak terganggu di tidurnya yang lelap.
__ADS_1
"Kamu kayaknya capek banget. Makasih, ya udah ngerawat aku" ucap pria tersebut setelah itu mencium kening wanita tersebut dan kembali tidur.
---
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore ketika wanita tersebut menyadari kalau dia telah tertidur selama 6 jam. Lantas sekarang waktu istirahatnya telah cukup dan sekarang adalah waktunya untuk bekerja.
Namun niatan wanita untuk bekerja itu sepertinya tertunda. Ketika ia melihat sosok pria yang juga sedikit mengumpulkan nyawa setelah tertidur itu. Ia berencana membawanya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Ia merasa ada suatu hal aneh yang telah menyiksa organ bagian dalam di tubuh pria itu.
"Hei. Gimana perut kamu? Mendingan?" Tanya wanita itu sambil menyentuh bagian perut yang tadi pagi pria rasakan itu sakit.
"Mendingan. Makasih, ya buat yang tadi." Jawab pria itu sambil menahan tangan wanita yang menyentuh perutnya. Sedangkan tangan lainnya menyibak selimut yang menutupi dirinya dan wanita di sebelahnya.
Lantas, tangan pria yang sedari tadi memegang tangan wanita itu menuntunnya menggosok-gosok area perutnya.
Wanita yang merasakan tangannya mengelusi bagian perut yang keras dan bergelombang itu pun menjadi sangat malu, sedangkan pria itu tidak peduli dengan ekspresi wanita di sebelahnya. Matanya terus memandangi perutnya yang sedari tadi dielus-elus. Wajahnya terlihat sangat tenang, seolah-olah tidak ada suatu hal yang menurutnya pantas dikawatirkan.
"Kamu harus ke rumah sakit. Aku kuatir kalau sebenarnya ada suatu hal buruk yang telah terjadi pada tubuhmu. Mau sekarang aja atau besok saja?" Tanya wanita itu yang masih membiarkan tangannya menyentuh tubuh pria di sampingnya.
"Kalau hari ini mending jangan. Aku tidak punya pakaian" jawab pria itu. "Mungkin besok bisa" jawab pria itu sambil menengok wanita di sampingnya.
"Baiklah" ucap wanita itu sambil melepaskan tangannya dari tubuh pria di sampingnya. Pria tersebut pun merasa tidak terima ketika tubuhnya terlepas dari jangan wanita di sebelahnya. "Aku harus bekerja. Kamu tetap istirahat saja di sini." Ucap wanita itu menjelaskan.
__ADS_1
"Bekerja, ya? Melukis?" Lantas pertanyaan tersebut dijawab anggukan dari wanita itu.
"Iya. Jam segini memang waktuku bekerja. Aku tinggal, ya" lalu wanita itu berdiri dari sofa. "Kamu habiskan saja teh manis mu itu." Lalu wanita itu meninggalkan pria yang masih duduk di sofa.